
"Dulu, ayah mu itu sering banget bantu ibu cuci piring kayak gini. Walaupun sesibuk apa pun, pasti malam harinya ayah mu membantu ibu cuci piring," ucap ibu ku saat kami mulai mencuci piring.
"Aku juga sedikit-sedikit ingat itu kok Bu hehehe. Namun, cuma di ingatan ku saja atau bagaimana, seingat ku ayah itu hanya bantu ibu mencuci piring saja kan bu? Sementara pekerjaan rumah lainnya ayah sama sekali tidak membantu," ucap ku sambil mengingat-ingat kembali.
"Hihihihi ya begitulah. Ayah mu memang cuma membantu kalau soal cuci piring saja. Namun, walaupun hanya dengan itu, ibu sudah merasa sangat senang," ibu tersenyum tulus.
***
Selasa, 30 Agustus, suasana kelas pada saat istirahat kedua seperti biasa ramai. Ahsan dan Ruben sedang pergi ke kantin, sementara aku hanya sedang duduk di kelas sambil membaca sebuah novel.
"Ini Lang, buku yang waktu itu," tiba-tiba Cindy datang ke meja ku dan menyodorkan sebuah buku.
"Oh buku ini, iya. Makasih Cin... Kamu udah bener-bener selesai membaca buku ini?" ucap ku saat akan menerima buku yang tadi disodorkan Cindy.
"Udah kok Lang," jawab Cindy.
"Oh ya udah, aku pinjam dulu ya Cin..." aku mengambil buku yang berjudul Candramawa itu.
Setelah itu, Cindy kembali lagi duduk di mejanya yang terletak persis di samping kanan ku. Dia terlihat langsung mengeluarkan sebuah buku lagi dari dalam laci mejanya.
Tak lama berselang, Ahsan dan Ruben kembali ke dalam kelas. Mereka kembali dengan membawa cukup banyak makanan. Tidak biasanya mereka membawa begitu banyak makanan seperti itu.
"Ini Lang untuk mu," Ruben memberikan sebuah snack jagung untuk ku.
"Eh ini untuk ku? Tapi kenapa?" tanya ku cukup heran.
"Sudah lah jangan banyak tanya. Cepat makan saja," ucap Ruben lagi yang kini bergerak ke arah meja milik Cindy.
"Ini Cin, untuk mu," Ruben memberikan sebuah cokelat untuk Cindy yang tengah asik membaca.
Ruben dan Ahsan lalu terlihat membagikan makanan yang mereka bawa tadi ke seluruh isi kelas. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan kenapa mereka membagi-bagikan makanan seperti itu.
__ADS_1
"San, kenapa kalian membagi-bagikan makanan seperti ini? Ada apa?" tanya ku pada Ahsan yang kini sedang duduk di kursinya setelah selesai membagi-bagikan makanan tadi.
"Sebentar lagi kau akan mengetahuinya, lihat tuh ke depan," Ahsan menunjuk ke arah depan kelas.
Di depan kelas, kini sudah ada Ruben. Sepertinya Ruben akan mengatakan sesuatu di depan sana.
"Permisi teman-teman," ucap Ruben di tengah kelas yang sedang cukup ramai. Setelah Ruben berbicara, suasana kelas tiba-tiba langsung menjadi hening. Semua penghuni kelas kini tertuju pada Ruben yang sedang berada di depan kelas itu.
"Kalian pasti bingung yah kenapa bisa dapetâ…˜ makanan seperti itu? Jujur saja, aku juga bingung. Tadi di kantin entah kenapa aku dan Ahsan di suruh untuk mengambil banyak makanan untuk dibagikan ke teman sekelas sama Bu kantin. Karena sesak, aku jadi tidak bisa menanyakan kenapa. Jadi, kalau kalian tanya pada ku atau Ahsan, kami berdua juga tidak tahu apa-apa hahahaha. Yang terpenting sekarang adalah nikmati saja makanan yang ada di depan kalian. Terima kasih," Ruben lalu pergi kembali ke tempat duduknya.
Setelah Ruben kembali, suasana kelas pun kembali menjadi ramai seperti biasanya. Sejujurnya aku sedikit tidak puas dengan penjelasan Ruben tadi, tapi apa boleh buat, Ruben dan Ahsan pun juga tidak tahu apa-apa soal makanan itu. Mereka hanya membawakan makanan saja.
***
Sepulang sekolah, kami lagi-lagi akan mengadakan rapat. Rapat hari ini dimulai di waktu yang sama seperti rapat kemarin. Hanya saja, hari ini mungkin yang ikut rapat akan lebih sedikit karena beberapa siswa mungkin ada yang ikut ekstrakulikuler. Ekstrakulikuler di SMA ini memang dimulai dari hari Selasa sampai Jumat. Entah kenapa tidak ada ekstrakulikuler apa pun di hari Senin.
Masih ada sekitar 15 menit lagi hingga rapat hari ini di mulai. Aku pun menghabiskan waktu dengan mulai membaca buku yang aku pinjam dari Cindy berjudul "Candramawa". Candramawa sendiri artinya adalah hitam bercampur putih.
"Oi Lang lagi baca apa kau?" tiba-tiba Ruben menepuk pundak ku dari arah belakang.
"Candramawa? Apa artinya itu? Aku baru dengar kata itu," ucap Ruben agak keheranan.
"Hitam bercampur putih," jawab ku yang sambil terus membaca buku.
"Hmmm... Sepertinya menarik," kata Ruben.
"Kau mau baca juga?" tanya ku.
"Enggak sih hahahaha, tapi kalau ada filmnya pasti aku nonton," Ruben tertawa.
"Percuma Lang kau tanyakan Ruben mau baca atau tidak. Sudah pasti jawabannya tidak. Bahkan, saking malasnya membaca, Ruben sering mengetuk pintu toko yang didepannya tertulis 'Tutup'. Kau mungkin tidak akan pernah tahu sebodo* apa Ruben itu. Jangankan kau, aku saja mungkin masih belum paham betul sampai mana tinggkat kebodo*annya itu," ucap Ahsan.
__ADS_1
"Haaa? Apa kau bilang???" ucap Ruben agak kesal.
"Percuma aku jelaskan, ujung-ujungnya kau pasti tetap tidak akan mengerti," jawab Ahsan.
"Cihhh," Ruben kembali ke tempat duduknya.
Ayu kini terlihat berjalan maju ke depan. Sepertinya Rapat akan segera dimulai. Aku pun memasukkan buku yang sedang aku baca ini ke dalam tas.
"Selamat sore teman-teman. Agenda kita pada sore hari ini adalah melanjutkan membahas persiapan lomba-lomba. Meskipun sore hari ini cukup banyak yang tidak bisa hadir, tapi saya harap bisa berjalan sesuai apa yang kita harapkan. Jadi, tanpa berlama-lama lagi, kita mulai rapat pada sore hari ini," ucap Ayu.
"Yang pertama pada hari ini adalah lomba Bulu Tangkis Tunggal Putra. Apakah ada yang ingin mewakili kelas ini?" lanjut Ayu.
Ahsan dan Aji terlihat mengangkat tangan. Keduanya terlihat bersungguh-sungguh untuk mengikuti lomba Bulu Tangkis Tunggal Putra ini.
"Wah, kita punya dua anak yang mau nih, tapi yang mewakili Bulu Tangkis Tunggal Putra ini hanya diperbolehkan satu saja. Kira-kira siapa yah? Atau mungkin Ahsan dan Aji sendiri saja yang menentukannya?" ucap Ayu.
"Bagaimana kalau kita bagi saja. Satu mengikuti lomba Bulu Tangkis Tunggal Putra, satu lagi ikut yang Ganda Campuran, bagaimana?" usul Aji.
"Ide bagus tuh... Ahsan gimana? Setuju?" tanya Ayu.
"Aku setuju-setuju aja. Terus yang ikut yang ikut Tunggal Putra siapa? Yang ikut Ganda Campuran siapa?" ujar Ahsan.
"Gimana Ji?" Ayu menatap ke arah Aji.
"Kalau kau mau ikut yang mana San?" Aji melihat ke arah Ahsan.
"Hmmm... Kalau begitu aku ikut yang Ganda Campuran saja bagaimana?" ucap Ahsan.
"Boleh... Kalau begitu aku yang Tunggal Putra," timpal Aji.
"Berarti sudah fiks yah. Aji ikut Tunggal Putra, Ahsan ikut Ganda Campuran," ucap Ayu.
__ADS_1
***
Bersambung