
Di Cafe.
Sebelum Zhang dan Hana tiba di cafe.
Para wartawan yang meliput di depan Cafe di kumpulkan menjadi satu tempat oleh pak Adi dan anak buahnya di dampingi 10 polisi.Ssrta para warga yang merekam tempat kejadian juga di kumpulkan.
"Maaf ... Demi menjaga kenyamanan dan keamanan,serahkan alat rekam anda..." ucap pak Adi yang memakai pakaian seperti Brimob.
Pak Adi mendapat perintah dari Zhang untuk mengumpulkan semua wartawan,lalu menghapus semua rekaman kemudian di usir. Agar peristiwa itu tak muncul di media cetak maupun media elektronik.
Para wartawan dan warga menolak untuk menyerahkannya,karena mereka berkata itu adalah kebebasan press untuk meliput sebuah berita kriminal.
"Baiklah...Saya sudah meminta baik - baik,tapi kalian tidak mau menyerahkannya...Ambil alat rekam mereka" ucap pak Adi.
"Siaap...." ucap anak buah pak Adi dan juga polisi.
Seorang wartawan protes kameranya di ambil paksa.
"Jika anda mau melapor,silahkan...Sebab sudah kami beritahu" ucap seorang polisi yang merampas kamera panggul.
"Jika kalian menyiarkan di kantor kalian,maka kami akan menutup usaha kalian,dan kalian akan kami tangkap..." ucap pak Adi.
Seluruh anak buah pak Adi memeriksa semua orang, Semua peralatan untuk merekam di ambil semua,lalu di periksa satu persatu. Begitu ada rekaman mengenai Bayu,langsung di hapus. Ada salah satu hape dari wartawan yang merekam aksi saat massa belum menyerang Bayu,kartu memorinya di cabut lalu di amankan.
Setelah selesai memeriksa,peralatan mereka di kembalikan
"Silahkan pergi dari sini...Dan ingat....Jangan meliput atau pun sembunyi - sembunyi mengambil gambar ataupun merekam... Kami tidak akan tinggal diam..."ucap pak Adi tegas.
Para wartawan dan warga itu pergi dengan perasaan kecewa,marah..,Sebab peristiwa itu begitu penting bagi mereka.
Muncul 5 mobil truk TNI dan 5 truck Polisi 2 mobil patwal 4 moge polisi.
Para polisi dan tentara menjaga area itu dalam radius 600 meter dari Cafe.Arus lalu lintas di alihkan.Tak ada yang boleh melintasi jalan yang menuju arah Cafe.
Mobil rombongan Zhang dan Hana datang di kawal polisi setelah wilayah sekitar Cafe steril dari wartawan.
Pengunjung dari warung makan hendak memfoto,lalu di tegur oleh polisi yang tak jauh dari situ.
"Jangan ada yang memfoto atau merekam,bila kalian melakukan itu,maka kami tidak tinggal diam akan menyitanya.." ucap polisi yang menegur tadi.
Zhang mendapat laporan dari anak buahnya,Jika Bayu membunuh puluhan orang dari salah satu Laskar yang ada di jakarta,lalu Zhang menghubungi salah seorang staf di TNI untuk mengamankan wilayah Cafe agar tidak terjadi bentrok susulan,kemudian Zhang juga menghubungi Mabes Polri untuk mengamankan wilayah sekitar Cafe.Lalu Zhang menghubungi Adi untuk mengumpulkan para wartawan dan warga yang merekam dan meliput kejadian itu.
Para Petinggi TNI dan Polri segera melakukan permintaan Zhang. Sebab Zhang memiliki kontribusi yang besar dalam kesatuan mereka.
Zhang dan Hana keluar dari mobil. Mereka melihat banyak darah tercecer di mana - mana. Lalu mereka masuk ke dalam Cafe.
Nampak para Preman dan para pengawal Bayu mengelilingi Bayu.
Zhang dan Hana berjalan mendekati Bayu.
"Malik ada di mana?" ucap Zhang pada pengawal Bayu.
"Ada di bangunan itu bos besar..." ucap pengawal.
"Ngapain dia di sana?" ucap Zhang.
"Sedang memeriksa rekaman kamera CCTV bos besar..." ucap pengawal.
"Ooo... Begitu,.." ucap Zhang.
Zhang mendengarkan penjelasan dari Bayu saat Hana menanyakan mengapa Bayu bisa membantai mereka.
Tak lama kemudian muncul Mei Lien,Daniel,Malik,2 orang polisi dan para 4 pengawal.
Salah satu polisi menyodorkan tangan ke arah Zhang,Zhang menyambutnya. lalu melepaskan jabatan tangan.
"Apakah rekaman itu sesuai dengan apa yang terjadi di sini?" ucap Zhang pada polisi yang berpangkat AKBP.
"Sesuai pak.. Mereka lebih dulu yang memulainya. Dan mereka sepertinya terhasut oleh 3 orang itu." ucap polisi.
"Segera tangkap mereka... " ucap Zhang.
"Siap pak...Kami akan menangkap mereka.. " ucap polisi itu lalu pergi.
"Taruh 12 orang berjaga di sini bersenjata lengkap..." ucap Zhang pada Malik.
"Siap pak..." ucap Malik sambil menegapkan badannya.
Zhang melakukan itu agar tak terulang lagi kejadian itu.Ia merasa bangga pada Bayu, karena Bayu mampu melindungi orang - orang di sekitarnya,dan membelanjakan uang pemberianya untuk hal - hal yang positif. Tidak seperti anak orang kaya lainnya yang suka menghamburkan uang untuk hal - hal negatif.
Mereka kemudian pergi dari Cafe di kawal mobil polisi dan moge polisi.
Polisi juga memeriksa di sekitar apakah ada kamera CCTV di tempat lain yang mengarah ke TKP. Setelah memeriksanya,tak ada kamera yang mengarah ke TKP.
2 unit pemadam kebakaran tiba,lalu menyemprot darah yang menempel di lantai.
Cafe itu di jaga 12 pengawal dan 4 orang polisi.
Para TNI dan Polri yang mengamankan lokasi kemudian pergi setelah depan Cafe sudah bersih dari darah.
Para warga sekitar nampak kebingungan,apa yang sebenarnya terjadi,ada yang mengira bahwa presiden akan melewati jalan itu,ada pula yang bilang ketua MPR.
Pria yang mengawasi dari kejauhan menjauh dari lokasi itu menggunakan sepeda motor.Karena di suruh pergi oleh seorang polisi. Pria itu berhenti di suatu tempat. Kemudian mengambil hapenya lalu menekan panggilan terakhir.
Tuuuut....Tuuuut...Tuuut...
"Ada apa Sep(Asep)?" suara pria.
"Rencana berhasil sukses bos...Tapi saya tidak tahu mereka melawan siapa,soalnya saya lihat seorang pemuda berkulut putih,memakai masker dan kaca mata bos..." ucap pria itu bernama Asep.
"Bagus... Apakah dia memakai baju Alamameter kampus?" suara pria.
"tidak bos...Hanya memakai celana kain hitam,baju kemeja putih saja bos..." ucap Asep.
"Ooo.. Begitu..Apakah dia tewas?" suara pria.
"Saya tidak tahu bos...Soalnya polisi datang,kemudian datang lagi truck tentara dan polisi memgamakan area itu,ini aja saya di usir bos.." ucap Asep.
"Ya sudah... Lu minta ke mereka untuk membalas dendam karena teman - temannya di bunuh oleh preman itu." suara pria.
"Siap bos..." ucap Asep..
"Duit lu sudah gue transfer..." suara pria.
"Terima kasih bos..." ucap Asep..
Panggilan berakhir.
Lalu Asep menaruh hapenya di kantong jaket kemudian menjalankan motornya.
----***----
Di rumah Bayu.
Pukul 16.00.
Di Halaman rumah.
Nampak Bayu,Hinata,Sulis,Bimo,Lukman,daniel dan Paijo mengikuti gerakan pelatih bela diri di halaman rumah.
Mei Lien memutuskan untuk mendatangkan pelatihnya ke rumah Bayu,karena Bayu selalu tak sempat pergi ke tempat latihan di hari libur.
Setelah shalat Ashar mereka melanjutkan latihan beladiri. Mereka memakai pakaian khusus untuk melakukan latihan bela diri.
Hinata dan Sulis tetap memakai jilbabnya saat ikut latihan,Hinata ikut latihan itu untuk menambah ilmu beladirinya meskipun dirinya bisa bela diri.
Pukul 17.10
Mereka memtuskan untuk menyudahinya, karena sebentar lagi akan magrib.
Mereka memberi hormat pada pelatih. Kemudian masuk ke dalam rumah untuk mandi.
__ADS_1
Bayu meminta pada pengawalnya membelikan buku IQRA untuk para preman yang tinggal di Cafenya itu.
---***---
Malam harinya.
Asep yang mengawasi Cafe itu nampak lari dari markas Laskar. Karena markas itu di datangi puluhan polisi dan beberapa orang berpakaian hitam.
Pria itu di kejar oleh polisi.
"BERHENTI....." teriak Polisi.
Asep tak menghiraukan teriakan polisi,ia terus berlari.
Dor....Dor....Dor... Suara letusan senjata api.
"Bajingaan....." ucap Asep terus berlari.
Door..... Suara letusan senjata api.
"Aaaaarrrgghhh... Asep mengerang kesakitan,karena kakinya terasa panas dan sakit.
Rupanya,polisi yang mengejar itu memgarahkan senjata ke kaki Asep tepat di paha.
Nampak Asep terduduk sambil memegang pahanya.
"Sudah saya beri peringatan tetap berlari..." ucap polisi saat tiba di dekat Asep.
Polisi itu memborgol tangan Asep karena nongkrong bersama anggota Laskar. Lalu di bawa ke mobil polisi.
Anggota yang berkumpul tadi di bawa ke kantor polisi.Agar anggota itu tidak membuat onar dan juga di mintai keterangan.
Setelah mereka pergi.1 jam kemudian anak buah Malik datang,lalu merusak dan membakar markas itu,lalu pergi dari sana. Mereka tak asal membakar,bila Markas itu tak berdekatan dengan rumah warga,maka mereka membakarnya,bila dekat,maka mereka merysaknya saja.
Sesampai di kantor polisi. Mereka di periksa satu persatu.Saat Asep di tanya,jawabanya tak sama seperti anggota Laskar lainnya.
Lalu Asep di introgasi lebih dalam.
"Siapa yang menyuruhmu?" ucap polisi yang mengintrogasi.
"Tak ada menyuruhku..." ucap Asep berbohong.
Polisi itu melihat gestur wajah Asep.
"Periksa pakaian dia..." ucap polisi pada temannya yang berdiri di belakang Asep.
"Siap komandan..." ucap Polisi yang berdiri di belakang Asep.
Polisi itu memeriksa pakaian Asep. Polisi itu mengeluarkan dompet,hape dan kunci motor,satu bungkus heroin seberat 10 gram. Lalu polisi itu berdiri lagi di belakang Asep.
"Saya tanya lagi.Jika tak mau mengakui maka kamu akan saya jadikan tersangka sebagai bandar narkoba.Dan kamu bisa terancam hukuman penjara hukuman seumur hidup atau hukuman mati..
Polisi itu hanya menakut - nakuti agar Asep mengakui perbuatannya.
"Siapa yang menyuruhmu...?" ucap Polisi.
Asep nampak ketakutan,ia tak mau di penjara seumur hidup atau mati.
"Sa...Sa..Saya di suruh pak.."ucap Asep ketakutan.
"Siapa yang menyuruhmu?" ucap polisi.
"Mr.Black pak...." ucap Asep.
"Apakah kamu di bayar untuk melakukan ini?" ucap polisi.
"I...I...Iya pak.." ucap Asep.
"Di bayar Cash atau transfer?" ucap polisi.
"Trans...Transfer pak..." ucap Asep.
"Baik...Berapa nomor rekeningmu..." ucap polisi.
"Bawa dan kurung dia..." ucap Polisi pada anak buahnya.
"Siap komandan." ucap polisi yang di belakang Asep.
---***---
Esok paginya.
Nampak di tivi memberitakan kebakaran dan kerusakan markas salah satu Laskar di jakarta.Mereka tak berani memberitakan tentang penyerangan di Cafe itu.
Ada salah satu media cetak memuat berita tentang kejadian di Cafe. Kemudian kantor media itu di santroni 1 mobil Pajero yang di kawal mobil patwal.
Penumpang mobil Pajero lantas turun dan masuk ke kantor media cetak tersebut sambil di kawal 2 orang polisi.
Para karyawan yang melihat kedatangan 4 orang memakai jas hitam dan 2 polisi nampak heran.
"Di mana ruangan manajer kalian...?" ucap salah satu pria memakai jas hitam.
Karyawan itu memberi tahu letaknya.
Lalu mereka berjalan menuju ruangan Manajer.
Setelah sampai,mereka langsung masuk.
Nampak seorang memakai Jas dan dasi nampak terkejut melihat kedatangan mereka.
"Ada apa ini pak? ucap Manajer bingung dan heran.
Salah satu pria meletakkan koran di depan manajer.
"Siapa yang menulis berita ini?" ucap pria yang meletakkan koran.
Manajer itu mengambil dan melihat tulisan yang di tunjuk pria yang memakai jas hitam.
"Hem...Ini karyawan saya pak..." ucap Manajer.
"Panggil dia kemari,karena kita sudah peringatkan untuk tak memuat berita itu,jika berani memuatnya,maka kami akan menyegel perusahaan ini..." ucap pria itu lagi.
"Maaf pak...Atas dasar apa bapak mau menyegel kantor saya?" ucap Manajer tak terima.
"Atas dasar berita yang anda muat dan di sebarkan...Cepat panggil karyawanmu sekarang..." ucap pria itu lagi.
"Anda tidak bisa begitu pak...Itu namanya melanggar hak kami sebagai wartawan.." ucap Manajer.
"Baiklah...Jika anda tidak mau menurut...
Pria itu mengeluarkan pistolnya lalu mengarahkan ke manajer.
"Saya beri peringatan terakhir,panggil karyawanmu kesini atau ku tembak kepalamu.." ucap pria itu lagi.
Manajer itu nampak ketakutan.
"Ba...Ba...Baik...Saya akan memanggil karyawan saya" ucap Manajer.
Manajer itu menghubungi anak buahnya untuk menanyakan karyawannya yang bekerja di lapangan yang meliput berita di Cafe tersebut. Kemudian ia menyuruh anak buahnya untuk menyuruhnya datang menemui dirinya,lalu Manajer itu menutup telponnya.
1 jam 20 menit.
Yang di tunggu akhirnya datang di ruangan manajer.
Nampak ia terkejut melihat 4 orang memakai jas hitam dan 2 orang polisi.
"Kamu kemarin yang aku beri tahu itu kan,agar tak memuat berita tentang kejadian di depan Cafe ?" ucap salah satu pria berjas hitam.
"I...I. Iya...Ma...Ma..Maaf... pak" ucap pria yang baru datang berprofesi sebagai wartawan ketakutan. Ternyata ancaman itu benar - benar terjadi,ia pikir ancaman itu hanya bualan semata.Sehingga dirinya berani menulis berita itu.
Pria berjas hitam lainnya memukul perut wartawan itu.
__ADS_1
Buuuughhh....
Buugghhh....
Buuuggghh....
Buuuggghhhh...
Buuugghhh....
Buuugghh...
Buugghhh...
Hoooeeek.... Wartawan itu memuntahkan darah.
"Sudah saya ingatkan jangan di muat dalam berita kalian,kenapa tidak menuruti ucapanku.." ucap pria yang tadi bicara tadi.
"Tempat ini saya segel dalam waktu Setahun. perintahkan karyawanmu untuk pulang semua.. Bila tak menurut,aku akan membunuh semua keluargamu.." ucap pria itu lagi pada Manajer.
"Ba...Ba..Baik..." ucap Manajer.
Manajer itu memerintahkan karyawannya untuk segera pulang.
Setelah para karyawannya pulang,mereka keluar ruangan.
Kantor media cetak di pasang gembok,Lalu di tempel stiker,bahwa perusahaan itu di sita oleh Bank.
Lalu wartawan tadi di bawa oleh mereka.
---***----
Di salah satu Bank di Jakarta.
Nampak 2 orang polisi memasuki Bank itu.
Kemudian mendatangi salah satu karyawan untuk meminta bertemu dengan manajer Bank tersebut.
Setelah menunggu sejam,akhirnya ke dua polisi itu menemui Manajer tersebut. Setelah bertemu,mereka memberikan surat perintah itu pada Manajer.
Manajer membuka surat itu lalu membacanya.
"Baik pak... Mohon di tunggu..." ucap Manajer Bank.
Manajer Bank memeriksa nomor rekening tersebut. Setwlah itu memveri tahu bahwa yang mentransfer memakai bank Lain. Lalu Manajer itu menulis nomor rekening yang mentransfer ke rekening Asep,ia tak bisa mengakses data rekening itu lebih lanjut,karena di luar kewenangannya. Lalu manajer itu membekukan tabungan Asep.
Salah satu polisi melaporkan itu pada komandannya.
Lalu ke 2 polisi itu pergi meninggalkan ruangan itu.
Komandan polisi yang mendapat laporan daribanak buahnya segera membuat surat untuk mengecek biodata pemilik rekening itu. Lalu memberikan pada anak buah.
Anak buahnya segera bergerak.
Setelah sampai di Bank.
Polisi itu menemui manajer Bank tersebut.
Manajer Bank memberi tahu identitas pemilik rekening itu dan juga fotonya. Pemilik rekening itu adalah Vino Ferdinand Hutomo. Kakak kandung Sebastian.Kemudian Manajer itu mengeprint identitas Vino,Fotonya dan bukti transaksinya kemudian membekukan sementara tabungan Vino.
Polisi itu lantas keluar ruangan setelah urusannya selesai,kemudian kembali ke markas.
Setelah polisi itu kembali ke markas,ia mendatamgi komandannya untuk menyerahkan identitas Vino.
Komandan polisi segsra membuat surat penangkapan untuk menangkap Vino.
---***---
Rumah Vino.
Pukul 15.50
Nampak Vino bersantai bersama anak dan istrinya di ruang keluarga sambil nonton tivi.
Marilah seluruh rakyat Indonesia 🎶
Arahkan pandanganmu ke depan🎶
Raihlah mimpimu bagi nusa bangsa🎶
Satukan tekadmu 'tuk masa depan🎶
Pantang menyerah🎶
Itulah pedomanmu🎶
Entaskan kemiskinan cita-citamu🎶
Rintangan 'tak menggentarkan dirimu🎶
Suara tivi.
Tiing...Toong..... Suara bel rumah.
"Biiik..." ucap istri Vino.
Seorang pembantu rumah tangga datang.
"Iya bu..." ucap wanita itu.
"Bukain pintu pagar depan biik..." ucap istri Vino.
"Baik bu..." ucap wanita itu lalu berjalan ke depan.
Tak lama kemudian pembantunya datang.
"Maaf bu...Pak...Di depan ada polisi mencari bapak.." ucap pembatu.
"Polisi....!!!??? ucap Vino dan istrinya terkejut.
Kemudian Vino dan istrinya berjalan ke depan rumah.
Nampak 3 orang polisi berdiri di depan pintu.
"Selamat siang Pak... Ibu...Saya dari kepolisian membawa surat perintah penangkapan atas saudara Vino Ferdinand Hutomo." ucap Polisi 1 sambil memyerahkan surat penangkapan.
"Salah saya apa pak?" ucap Vino.
"Anda telah terlibat dalam pembunuhan...
"Bawa dia..." ucap polisi 1 pada rekannya.
"APAA...!!!??? Membunuh..?" ucap istri Vino terkejut.
"Siap " ucap polisi 2.
"Tu...Tu...Tunggu dulu pak...Saya tidak ada membunuh." ucap Vino memyangkalnya.
"Anda bisa menjelaskan di persidangan nanti.." ucap polisi 1.
"Benar itu pak,suami saya tidak ada membunuh orang..." ucap istri Vino.
Tangan Vino di borgol.
"Maaf...Kami hanya menjalankan perintah." ucap polisi 1.
"Saya tidak bersalah pak,dan saya tidak pernah membunuh.." ucap Vino
"Benar itu pak...Lepaskan suami saya..." ucap istri Vino.
"Kami mempunyai buktinya... Bawa dia kemobil." ucap polisi 1.
__ADS_1
"Siap pak..." ucap polisi 2.
Polisi itu kemudian pergi dengan membawa Vino.