
Masih membahas penyerangan clan Uchiha.
"Bayu san..." ucap Kiyoshi.
"Iya kakek..." ucapku.
" Bayu san akan memeriksa lebih dahulu keadaan sekitar,apakah Bayu san siap?" ucap Kiyoshi.
"Siap kek....." ucapku.
Lalu ku teringat akan sosok bayangan hitam yang membantuku.
"Bu..." ucapku lirih.
"Iya sayang..." ucap ibuku lirih.
"Hemm... Apakah ibu mengajarkan ilmu pada Ayu...?" ucapku untuk memastikan.
"Ilmu apa?" ucap ibuku.
"Ilmu agar bisa bergerak cepat ?" ucapku.
" Nanti ibu akan memjawab setelah rapat ini..." ucap ibuku.
Akupun tak bertanya lagi. Ibuku tetap memelukku dari belakang.
Ada sedikit perdebatan kecil dalam rapat tersebut.
Aku hanya diam saja menyimak. Muncul niatku melakukan ajian Rogoh Sukmo untuk mengecek apakah ke tiga istriku ada di rumah ini.
Baru saja memejamkan mata.
"Baik... Besok kita berangkat...
"Rapat di tutup..." ucap Kiyoshi.
Ku membuka mataku,dan membatalkan niatku untuk melakukan ajian Rogoh Sukmo.
Satu persatu membubarkan diri. Malik datang memghampiriku.
"Bay..." ucap Malik.
"Ya kang..." ucapku.
"Mengapa mereka memberi tugas padamu untuk mengecek kondisi lapangan..?" ucap Malik.
"Nanti juga kang Malik akan tahu..." ucapku,sengaja membalas ucapannya yang tadi.
"Jancook... Bales iki ceritane..." ucap Malik.
"He eh..." ucapku.
"Waasssuuu..." ucap Malik.
20 menit kemudian.
Aku berada dalam kamar yang di tempati oleh ibuku.
Ku melihat kamar itu tak ada siapapun. Biasanya ada Melisa yang menemani ibuku.
"Mel mana bu? " ucapku penasaran.
" Mel ada di tempat keluarga Hatake sayang....
"Oh iya... Apakah sayang ada memberi tahu ke kakek" ucap ibuku.
" Memberi tahu apa bu?" ucapku.
"Tentang penyerangan dan juga pembalasan ini" ucap ibuku.
"Enggak ada bu.. Bayu juga heran,mengapa kakek bisa tahu...
"Apakah ibu ada memberi ilmu pada Ayu bu?" ucapku.
"Iya... Ibu mengajarinya...
"Ibu melihat dia seperti ibu masih muda dulu...
"Mau belajar dan berusaha agar menjadi kuat..
"Melindungi keluarga dan teman - teman yang di sayang...
"Emangnya kenapa sayang? " ucap ibuku.
" Kemarin malam muncul sosok bayangan hitam.
"Gerakannya sangat cepat..
"Bayu menduga itu ibu..
"Lalu Bayu tepis dugaan itu...
"Karena tingginya gak sama dengan ibu.." ucapku.
" Ayu...." ucap ibuku.
"Apakah Ayu juga ada di sini bu...?" ucapku.
"Gak ada sayang...
" Ke tiga istri sayang ada di tempat keluarga Ayu..." ucap ibuku.
"Asem....
"Malam ini aku tidur sendirian lagi dong..." ucapku dalam hati.
"Kenapa?
"Sayang pengen kelonan ta?" ucap ibuku.
"Asem.... Tahu aja ibuku ini jika aku pengen kelonan dengan para istriku " ucapku dalam hati.
"Iya bu..." ucapku.
" Tidur sama ibu ya..." ucap ibuku.
"Bayu tidur sendiri aja bu..." ucapku. Aku takut tanganku bergerilya lagi mencari gunung kembar milik ibuku di saat aku terlelap tidur.
" Ya sudah kalau gitu.." ucap ibuku.
---***---
Indonesia. Kota Surabaya.
Pesawat yang di tumpangi Paijo mendarat di Bandara Juanda Surabaya.
Setelah mendarat dan berhenti di tempat yang telah di tentukan.
Paijo,bu Intan dan para pengawal keluar dari pesawat.
"Alhamdulilah... Akhirnya sampe..." ucap Paijo dalam hati.
Di saat mereka melewati pintu keluar,salah satu pengawal menelpon.
Seorang pria dewasa menghampiri pengawal yang sedang menelpon itu,lalu menaruh hapenya,karena orang yang di cari sudah ketemu.
Pria itu menuntun rombongan Paijo ke mobil yang sudah siap,ada sebuah mobil Patwal milik Polisi. Lalu pria itu memberi kunci dan STNK mobil yang akan di bawa. Ada 4 kunci mobil yang di berikan.
Paijo dan bu Intan masuk ke mobil urutan ke tiga. Tak lama kemudian,ke empat mobil itu perlahan meninggalkan bandara Juanda.
Mobil Patwal Polisi mengawal rombongan Paijo menuju Kediri.
"Gendeng.....
"Koyo pejabat wae pake kawalan Polisi...
"Yen wes tekan omah langsung geger iki.." ucap Paijo dalam hati.( kalau sudah sampe rumah langsung heboh ini)
Rombongan mobil yang di tumpangi Paijo bergerak cepat di jalan aspal. Mobil yang ada di depan mobil Patwal otomatis memberi jalan kepada rombongan Paijo karena mendengar suara sirine mobil Polisi hingga sampai di tempat tujuan.
Begitu rombongan mobil itu sampai di rumah Paijo,suasana saat itu sudah malam hari.
Tetangga Paijo keluar rumah karena melihat mobil polisi masuk ke desa Sonorejo. Warga mengira ada kejahatan di desanya,sehingga ada mobil Polisi datang ke desa Sonorejo.
Paijo dan bu Intan keluar dari mobil.
"Tenan too... Heboh sak kampung..." ucap Paijo dalam hati.
Nampak keluarga Paijo keluar rumah,karena di depan rumah sangat ramai dan juga ada mobil Polisi.
Ibunya Paijo melihat putranya keluar dari mobil langsung menghampiri Paijo,ibunya Paijo berpikir jika Paijo berurusan dengan Polisi.
Tak hanya ibunya Paijo,Ayahnya dan juga saudara Paijo juga berjalan menghampiri Paijo.
"Le... Kowe kenopo le... Opo kowe gawe perkoro nang kono?" ucap ibunya Paijo panik. ( Nak.. Kamu kenapa Nak... Apa kamu buat masalah di sana?).
"Mboten mbok... Iki polisi ngawal aku..." ucap Paijo lalu mencium tangan ibunya.
Ibunya Paijo melihat ke arah bu Intan.
Penampilan bu Intan terbilang wah. Karena terlihat cantik,berpakain menarik,rambutnya terurai yang panjangnya sepunggung,Kulitnya putih dan memakai kaca mata. Meskipun begitu,kulitnya masih kencang.
"Iki sopo lee?" ucap ibunya Paijo menunjuk bu Intan.
Bu Intan menghampiri ibunya Paijo lalu menyodorkan tangannya.
"Saya Intan mbak... Ibu mertua dari Bayu.." ucap bu Intan.
Ibunya Paijo menerima uluran tangan bu Intan.
__ADS_1
"Bayu... ? Bayu putrane bu Hana?" ucap ibunya Paijo.Ibunya Paijo tahu Bayu dari Paijo. Meskipun belum pernah bertemu.
"Enggeh bu..." ucap bu Intan.
"Oalah....Yo...Yoo...
"Aku Srikanah... Ibuk e Paijo...
"Iki Slamet bojoku.. Terus iki Fitri terus kuwi I'im...
"Lapo gak kondo yen ape rene le... Gowo wong akeh maneh" ucap ibunya Paijo memperkenalkan keluarganya.(Kenapa gak bilang kalau mau kesini nak).
"Dadak mbok..." ucap Paijo.
"Ayo masuk mbak..." ucap Srikanah.
Mereka kemudian masuk kedalam rumah. Sementara para pengawal berjaga di teras rumah. Mobil Patwal Polisi berjalan menjauhi rumah Paijo.
Para tetangga Paijo masih ada yang melihat ke arah rumah Paijo,karena baru kali ini melihat beberapa orang menenteng senjata laras panjang berdiri di teras rumah Slamet.
Salah satu pengawal memberi tahu ke warga jika tak ada kejadian kejahatan dan di minta membubarkan diri.
Bu Intan,Paijo, dan Slamet duduk di kursi tamu,sementara ibunya Paijo bersama ke dua putrinya berada di dapur.
"Tak pikir mahu kowe berurusan karo polisi Jo... " ucap Slamet. ( Aku pikir tadi kamu berurusan dengan Polisi Jo)
"Mboten pak...
"Sakjane aku pengen dewean ape rene..(Sebenarnya aku ingin sendirian mau ke sini).
"Tapi Mama Intan pengen melu..." ucap Paijo.
"Lah... Terus kuwi seng nang ngarep kuwi sopo... Kok gowo bedil barang..." ucap Slamet. (Lalu itu yang di depan itu siapa.. Kok bawa senjata api segala).
"Niku pengawal keluarga Bayu pak..." ucap Paijo.
"Ediyaaaaaan...... (Gilaa).
"Sentongnge gak cukup lee..." ucap Slamet.(Kamarnya gak cukup lee..).
"Turu nang ngarep tivi wae pak..." ucap Paijo.
Ibunya Paijo datang,lalu duduk.
"Seng nang ngarep kuwi lapo gak di kon mlebu..?" ucap Srikanah.
"Mereka berjaga di luar mbak..." ucap bu Intan.
"Hem... Le...
"Engko kowe turu amor adekmu yoo..." ucap Srikanah.( Nanti kamu tidur bareng adikmu ya).
"Enggeh mbok..." ucap Paijo.
Muncul ke dua adik Paijo membawa makanan dan minuman.Kemudian menaruh di meja.
"Kamu punya adik cantik - cantik Jo..." ucap bu Intan.
"Iya ma..." ucap Paijo.
"Kenapa gak cerita ke mama,tahu gitu mama belikan oleh - oleh untuk adik - adikmu.." ucap bu Intan.
"He...He....He...He.....Paijo cengengesan saja sambil mengaruk - garuk rambutnya meskipun tak gatal.
Setelah menaruh makanan ringan berupa biskuit dan minuman teh,ke dua adik Paijo kembali ke dapur.
" Bayune lapo gak di jak rene le?" ucap Srikanah.
"Bayu lagi ke Jepang mbok..." ucap Paijo.
"Oalah... Ke jepang to... Aku pengen petuk an Bayu,rupane koyo opo.. (Aku ingin bertemu Bayu,parasnya bagaimana)
"Monggo di sambi mbak... Sepurane iki opo enek e... " ucap Srikanah.
"Iyo mbak..." ucap bu Intan.
"Sampeyan iso boso jowo.. Jowone endi mbak?" ucap Slamet.
"Saya bukan orang jawa kang,saya orang Manado.." ucap bu Intan.
"Kok iso boso jowo..?" ucap Srikanah.
"Saya sempat tinggal di Jogja,jadi saya bisa bahasa jawa...
"Akan tetapi tidak semua saya bisa.." ucap bu Intan.
"Ooo... Begitu.." ucap Slamet.
" Tadi pagi Paijo bilang mau pulang ke rumah..
"Jika Paijo pulang.. Otomatis rumah jadi sepi..
"Jadi...
"Saya putuskan untuk ikut...
"Saya juga penasaran dengan Kediri itu seperti apa.." ucap bu Intan.
"Ya seperti inilah Kediri mbak...
"Tak seramai di ibukota Jakarta...
"Oh iya... Ngomong - ngomong suami mbak ke mana? Kok gak ikut" ucap Slamet.
"Suami saya sudah meninggal kang.." ucap bu Intan.
"Innalillahi....." ucap Slamet.
Muncul ke dua adik Paijo membawa makanan dan minuman untuk di berikan ke pengawal yang berjaga di teras rumah.
" Jo..." ucap bu Intan.
"Iya ma..." ucap Paijo.
"Kalau gak salah rumahnya pak Arif di Kediri ya Jo?" ucap bu Intan.
" Iya ma..." ucap Paijo.
"Kamu tahu rumahnya gak Jo?" ucap bu Intan.
"Enggak tahu ma..." ucap Paijo.
Bu Intan mengambil hapenya hendak menghubungi Fitri istri dari Arif.
Namun mengurungkan niat tersebut,karena sudah larut malam.
"Mama mau ke sana?" ucap Paijo.
"Iya...
"Kalau gak salah waktu itu ibunya Cintya bilang mau pulang ke Kediri...
"Jika mereka masih di sini ya mama mau jalan ke sana..." ucap bu Intan.
"Besok pagi aja ma kita kesana... " ucap Paijo.
"Oke... Besok kita ke sana..." ucap bu Intan.
Tak lama kemudian,mereka beranjak ke kamar tidur. Bu Intan tidur di kamar Paijo.
30 menit sebelum shalat Subuh.
Paijo terbangun dari tidurnya. Paijo tidur di lantai beralaskan tikar. Sedangkan ke dua adiknya tidur di tempat tidur. Lalu Paijo membangunkan ke dua adiknya.
"Fit..... Im.... Banguun...." ucap Paijo.
"Masih ngantuk mas..." ucap Fitri.
"Ada banyak orang loh di rumah kita... Nanti kalian gak bisa mandi..." ucap Paijo.
Kedua adik Paijo langsung terbangun.
"Nyopo gak ngomong mas... " ucap I'im.( Kenapa gak bilang)
"Aku wes ngomong kok...." ucap Paijo.
Paijo keluar kamar menuju kamar yang di tempati bu Intan.
Di saat Paijo berjalan ke kamarnya,ia melihat pengawal tidur di depan tivi.
Tok....Tok....Tok....
"Maaa.... " ucap Paijo.
Paijo sering membangunkan bu Intan di kala menjelang subuh.
"Iya Jo...Mama sudah bangun..." suara bu Intan.
Tak lama kumudian,Paijo dan bu Intan pergi ke mesjid berjalan kaki di kawal pengawal.
"Apa nama desa ini Jo?" ucap bu Intan sambil berjalan.
"Desa Sonorejo sumber towo ma..." ucap Paijo.
" Sumber towo?" ucap bu Intan.
"Iya ma...
"Di sini terdapat beberapa sumber air,jika musim kemarau..
__ADS_1
"Sumber tersebut masih mengalir..." ucap Paijo.
"Ooo...Begitu.." ucap bu Intan.
"Salah satu tempatnya ada di depan mesjid ma..."ucap Paijo.
Tak lama kemudian mereka akhirnya sampai di mesjid,lalu masuk kedalam.
Sebagian pengawal ikut masuk kedalam untuk ikut shalat Subuh.
Orang - orang yang berada di Mesjid heran dan penasaran melihat para pengawal membawa senjata laras panjang tersebut.
Setelah selesai shalat Subuh,para pengawal yang belum shalat masuk ke dalam untuk shalat Subuh.
Paijo dan bu Intan duduk di teras menunggu pengawal yang sedang shalat Subuh.
" Dingin ya di sini..." ucap bu Intan.
"Kalau subuh memang dingin di sini ma...." ucap Paijo.
"Sumbernya ada di mana Jo?" ucap bu Intan.
"Ada di situ ma..." ucap Paijo sambil menunjuk tempat sumber Towo tersebut.
"Ooo... Di sana..." ucap bu Intan.
"Mama mau lihat?" ucap Paijo.
"Hem.... Ayo...
"Mama penasaran...." ucap bu Intan.
Setelah pengawal yang shalat Subuh keluar dari mesjid,mereka pun berjalan ke arah sumber Towo tersebut.
Ada beberapa gadis remaja melihat mereka berjalan menuju sumber Towo.
"Kok banyak sekali anak gadis di sini Jo?" ucap bu Intan.
" Di sini pesantren ma...
"Mereka mondok di pesantren ini..." ucap Paijo.
"Oooo... Pesantren... Pantesan..." ucap bu Intan.
Mereka berjalan di jalan setapak. Terdapat beberapa pohon besar. Para pengawal menyalakan senter untuk menerangi.
Nampak sebuah bangunan bentuknya persegi,di dalamnya ada air yang sangat bening mengalir ke area persawahan. Perlahan sinar matahari menyinari tempat tersebut.
Bu Intan masuk kedalam kolam,airnya tak dalam. Hanya sebatas lutut.
" Hati - hati ma...." ucap Paijo langsung membantu bu Intan.
Paijo was - was jika bu Intan kepleset dan membentur batu. Jika itu terjadi,maka ancaman kakek buyut Bayu menjadi kenyataan untuk dirinya.
"Sejuk di sini Jo..." ucap bu Intan.
"Namanya juga desa ma..." ucap Paijo.
20 menit kemudian,bu Intan naik kembali dan memutuskan untuk pulang kerumah Paijo.
"Mama lihat sekarang kamu jarang merokok Jo?" ucap bu Intan sambil berjalan.
"Aku mencoba berhenti merokok ma...." ucap Paijo.
" Bagus itu....
"Almarhum papanya Putri juga tidak merokok..
"Dulunya perokok,lalu ku bilang untuk berhenti merokok jika memang benar - benar mencintaiku...
"Apakah ini ada hubunganya dengan pacarmu Jo?" ucap bu Intan.
"Iya ma...." ucap Paijo.
"Siapa pacarmu Jo?" ucap bu Intan.
"Kasih tahu gak ya..." ucap Paijo dalam hati.
" Fitri kah?" ucap bu Intan.
"Lain ma...." ucap Paijo.
Warga sekitar melihat rombongan Paijo yang sedang berjalan kaki.
"Jika Bayu juga ikut ke sini,pasti heboh lagi ini.." ucap Paijo dalam hati.
Sebab pengawal Bayu jumlahnya sangat banyak,di bandingkan pengawal bu Intan. Karena yang di jaga tak hanya Bayu saja. Melainkan ketiga istri dan juga Melisa yang selalu ikut bersama Bayu.
"Bayu ada hubungi kamu gak Jo?" ucap bu Intan.
"Belum ada ma....
Paijo melihat ke arah bu Intan.
Nampak bu Intan sedang memikirkan sesuatu.
"Mereka akan baik - baik saja ma....
"Mama gak usah khawatir..." ucap Paijo.
"Mama masih kepikiran Jo...
"Jika saja mama bisa menghubungi,pasti mama gak khawatir Jo..." ucap bu Intan.
Mereka pun akhirnya sampai di rumah.
2 Jam kemudian.
Paijo dan bu Intan bersiap - siap pergi kerumah pak Arif. Paijo sudah mendapatkan alamat rumah dari Rahman,lalu memberi tahu ke pengawal.
"Jo... " ucap Slamet.
" Dalem..." ucap Paijo.
"Yen Bayu rene... Opo dek e gowo wong akeh koyo ngene?" ucap Slamet. ( Jika Bayu ke sini.. Apakah dia membawa orang banyak seperti ini?).
"Enggeh pak... Iki emperan ra bakalan muat nampung mobil lan pasukanne Bayu..." ucap Paijo.
"Gendeng...." ucap Slamet.(Gila)
Tak lama kemudian,Paijo dan bu Intan masuk ke dalam mobil,lalu rombongan Paijo perlahan meninggalkan rumah Slamet menuju rumah Arif.
"Jo..." ucap bu Intan yang duduk di samping Paijo.
"Iya ma...." ucap Paijo.
"Jika Bayu berkunjung kerumahmu...
"Bisa penuh itu rumahmu Jo...
"Sedangkan ibu yang berkunjung kerumahmu saja sudah penuh.. Apa lagi bersama Bayu..." ucap bu Intan.
"Nah itu dia ma...
"Mama datang aja sudah heboh tetanggaku.. Apa lagi Bayu datang kesini. Belum lagi keluarga besarnya juga ikut..." ucap Paijo.
"Di perluas aja rumahmu Jo..." ucap bu Intan.
Setelah menempuh perjalanan. Akhirnya rombongan Paijo sampai di rumah pak Arif.
Keluarga besar pak Arif menyambut kedatangan rombongan Paijo.
Paijo dan bu Intan keluar dari mobil lalu berjalan kerumah.
"Assalam mu'alaikum..." ucap Paijo.
"Wa'alaikum salam..." ucap keluarga besar pak Arif.
Paijo bersalaman tak lupa mencium tangan.
"Kok kamu gak bilang mau ke sini?" ucap Cintya.
"Kejutan...." ucap Paijo.
---***---
Jepang.
Nampak Bayu bersama yang lainnya bertolak menuju kediaman clan Uciha. Mereka memakai penutup wajah.
Bayu duduk bersama ibunya dalam 1 mobil menuju stasiun kereta api.
Setiba di stasiun,Bayu mengamati sekitar dan menghapal semua wajah orang - orang yang ia temui. Hingga akhirnya Bayu naik kereta cepat yang menjadi ikon negara Jepang.
Di saat Bayu berada di gerbong kereta,Bayu menggunakan ajian Rogoh Sukmo untuk memeriksa orang - orang yang masuk dalam kereta. Bayu memastikan tak ada mata - mata musuh yang mengikuti.
Sebelum Bayu tiba di stasiun,beberapa anak buah Kakashi sudah berada di stasiun untuk mengamankan stasiun kereta api,agar tak ada mata - mata musuh.
"Hemm.... Gak ada yang mencurigakan.."ucapku saat memeriksa penumpang.
Aku pun memutuskan untuk kembali ke ragaku.
Di saat aku baru melewati gerbong selanjutnya,ku melihat seorang pria sedang mengeluarkan ponselnya. Aku pun curiga dengan pria tersebut.Lalu aku mendekati pria itu.
Dan benar saja, pria itu menghubungi seseorang memberi tahu bahwa keluargaku sedang dalam kereta api. Aku langsung melesat ke ragaku.
Begitu sukmaku menyatu dengan ragaku,langsung ku beri tahu pada ayah mertuaku mengenai pria tersebut.
Kakashi yang mendapat informasi dariku langsung memerintahkan ke anak buahnya untuk membunuh mata - mata itu.
__ADS_1