
Pagi hari.
Semalam Bayu bercerita kepada ke tiga istrinya mengenai pertemuannya dengan Kumala Sari.
Nampak Bayu bersama keluarganya bersiap siap pergi ke Jawa timur.
Mereka menggunakan kereta api kelas bisnis. Agar lebih cepat sampainya.
Bayu dan ketiga istrinya masuk dalam 1 mobil. Kemudian Melisa berada dalam 1 mobil terpisah dari kakek dan nenek Ayu.
Satu persatu mobil meninggalkan rumah ki Kartolo.
Setelah sampai di stasiun. Mereka turun dari mobil. Seorang pengawal berjalan ke loket tiket,untuk membeli tiket.
" Apakah di sini ada kereta Shinkansen Bayu - chan..?" ucap kakek Naruto.
" # Tidak ada kakek...Hanya kereta api biasa saja...." ucap Bayu.
Mereka berjalan masuk ke dalam stasiun. Nampak pedagang asongan menghampiri mereka menawarkan dagangannya,
"Aqua...Aqua...Kopi...Kacang....."" ucap seorang ibu - ibu membawa dagangan.Namun di tahan oleh pengawal.
" Mengapa di sini pedagang bebas berkeliaran, apakah tidak ada petugas keamanannya? " ucap nenek Fumeko heran melihat banyak pedagang asongan bebas berkeliaran,tak seperti di Jepang.
"# Entahlah nenek. Soalnya bukan Bayu yang mengurus kereta api di sini" ucap Bayu.
Setelah menunggu hampir 1 jam,akhirnya kereta api yang di tunggu muncul.
Lalu mereka naik kereta api tersebut dalam 1 gerbong.
Tak lama kemudian,kereta api yang mereka tumpangi bergerak,meninggalkan stasiun.
Awalnya berjalan pelan,makin lama makin cepat.
Di perbatasan gerbong kereta,ada seorang pengawal yang berjaga. Nampak seorang pria hendak masuk ke dalam gerbong kereta yang di tempati Bayu.
" Maaf...Anda di larang masuk ke dalam gerbong ini" ucap pengawal menahan pria itu.
" Kok tidak boleh..Emangnya kenapa? " ucap pria itu.
" Di dalam ada pak mentri.."
" Bila anda bersikeras masuk..Maka saya akan menahan anda.." ucap pengawal.
Pria itu membalik badannya lagi ke arah tempat duduknya.
Tak lama kemudian muncul 2 orang,mereka adalah petugas kereta api untuk mengecek apakah para penumpang memiliki tiket atau tidak. Satu persatu di minta menunjukkan tiketnya. Setelah selesai memeriksa,2 petugas itu berjalan ke arah gerbong yang di tempati oleh Bayu dan keluarganya.
Pengawal yang berjaga di pintu perbatasan gerbong memberi tahu ke rekannya melalui radio.
Di saat 2 petugas itu masuk di gerbongnya Bayu. Seorang pemgawal menunjukkan setumpuk tiket.
" Ini tiket kami...Kalian jangan periksa orang - orang di sini.." ucap pengawal sambil menyodorkan tiketnya.
Petugas itu memeriksa tiket tersebut.Setelah itu berjalan melewati rombongan Bayu tanpa memeriksa tiket. Para pengawal bersiaga ketika 2 petugas kereta api berjalan melewati keluarga Bayu.
Ki Kartolo mengenakan pakaian tradisional Jogja warna hitam coklat bergaris,di kepalanya terdapat blankon berdiri,lalu berjalan menuju penghubung gerbong. Setelah sampai,ia mengeluarkan rokok kesayangannya.
" Rokok lee..." ucap ki Kartolo menawarkan rokok kepada pengawal yang berjaga.
" Tidak pak..Terima kasih.." ucap pengawal.
Ki Kartolo membakar rokoknya lalu menghembuskan asap di dalam mukutnya.
" Kowe kerjo wes pirang tahun?" ucap ki Kartolo.( kamu kerja sudah berapa tahun)
" Maaf pak...Saya tidak mengerti bahasa jawa.." ucap pengawal.
" Berapa lama kamu kerja.." ucap ki Kartolo.
" Sudah 5 tahun pak.." ucap pengawal.
Setelah menempuh perjalanan,akhirnya mereka tiba di salah satu kota yang berada di Jawa timur.
Bayu dan rombongannya keluar dari gerbong kereta,lalu berjalan keluar.
Sesampai di luar,mereka naik mobil yang di sewa oleh kakek Zhang. Satu oersatu mobil sewaan itu meninggalkan stasiun. Mereka berjalan beriringan.
Hape Bayu berdering nada panggil. Bayu mengecek hapenya.
Nampak panggilan dari Rahman.
" Assalam mu'alaikum kang..." ucap Bayu.
" Wa'alaikum salam...Sudah sampai kah Bay?" suara Rahman.
" Iya...Ini dalam perjalanan ke pondok pesantren kang... Setelah itu aku mau ziarah ke makam mbahku...Setelah ziarah,aku akan meluncur ke sana .." ucap Bayu.
" Oke... Hati - hati ya... Kalau meluncur kesini hubungi aku.." suara Rahman.
" Iyo kang...Assalam mu'alaikum..." ucap Bayu.
" Wa'alaikum salam..." suara Rahman.
1 Jam kemudian.
Rombongan Bayu sampai di sebuah pondok pesantren.
Para pengawal keluar dari mobil lalu mengamankan area sekitar,sebagian membuka pintu mobil untuk keluarga Bayu.
Nampak pak KH. Mustafa bersama keluarganya berdiri menyambut kedatangan Bayu.
Bayu bersama keluarganya berjalan ke arah keluarga pak KH. Mustafa.
" Apakah ini asrama Bayu - chan.." ucap kakek Naruto.
" # Iya kakek...Ini tempat untuk belajar agama islam,dan juga belajar ilmu lainnya.." ucap Bayu.
" Assalam mua'laikum..." ucap Bayu.
" Wa'laikum salam..." ucap keluaraga pak KH. Mustafa.
Bayu bersalaman ke tak lupa cium tangan.
Sedangkan ke wanita,Bayu menangkupkan kedua telapak tangannya.
" Apakah mereka keluargamu pak kyai...?" ucap pak KH. Mustafa melihat kakek dan neneknya Ayu.
" Iya pak kyai...Mereka keluarga Bayu dari Jepang. Dan mereka telah masuk islam.." ucap Bayu.
" Ooo...Begitu..." ucap pak KH. Mustafa.
" Musang...Aku gak mbok kon melebu ta....Yen enggak,aku langsung muleh." ucap ki Kartolo.
" Oh iyo...Lali aku...Mari masuk..." ucap pak KH. Mustafa.
" Pikunmu kok nemen to Sang( musang)..." ucap ki Kartolo.( Lupamu kok parah to Sang).
" Namanya juga sudah tua..." ucap pak KH.Mustafa.
Mereka kemudian duduk di kursi sofa. Sementara ketiga istri Bayu,Melisa dan kedua nenek Ayu berada di ruang khusus wanita.
" Kok kita gak duduk bersama kak Bayu?" ucap Melisa heran.
"Emang begitu.. Ini pondok pesantren Mel.Jadi di pisah.." ucap Diana.
" Gak seru..." ucap Melisa lalu berjalan ke arah tempat Bayu berada.
" Mau kemana Mel?" ucap Putri.
" Nyusul kak Bayu..." ucap Melisa tanpa menoleh.
Di sisi Bayu.
" Gimana kabar ibumu nak..." ucap pak KH. Mustafa.
" Alhamdulilah sehat pak kyai..."
Bayu mengeluarkan sebatang emas batangan,lalu menyerahkan ke pak KH. Mustafa.
__ADS_1
" Pak Kyai...Saya ada sedikit rejeki... Ini untuk pesantren pak kyai.." ucap Bayu sambil memberikan emas batangan.
" Opo iki?" ucap pak KH. Mustafa.
" Emas murni pak Kyai.. Kalau gak salah 5 KG beratnya. " ucap Bayu.
" Terima kasih nak..Semoga niatmu ini di terima oleh Allah SWT sebagai amal jariyah. " ucap pak KH. Mustafa menerima emas tersebut.
" Amiiin..." ucap Bayu.
" Iki mung hiasan wae kah Sang.." ucap ki Kartolo menunjuk meja yang tersaji minuman dan makanan ringan. ( ini hanya hiasan saja kah Sang). Ki Kartolo berkata seperti itu karena pak KH. Mustafa belum ada menyuruh untuk minum.
" Maaf kang....Lali aku..."
" Monggo - monggo di sambi.." ucap pak KH.Mustafa.
" Jancook...Pikunmu malah nemen..." ucap ki Kartolo.
" Lah piye maneh toh Kar...Jenenge lali yo ora eling..." ucap pak KH. Mustafa.( Lah..Gimana lagi Kar...Namanya lupa ya tidak ingat.)
Ki Kartolo mengambil kopi lalu meminumnya.
Nampak Melisa muncul lalu berjalan ke arah Bayu.
" Anakmu wes piro Sang..?" ucap ki Kartolo tak memanggil kyai ke pak KH. Mustafa. Sebab mereka sudah lama berteman.
Melisa duduk di pangkuan Bayu,sebab kursi tamu terisi penuh.
Nampak putra pak KH. Mustafa melihat ke arah Melisa yang mengenakan rok selutut,pakai baju kaos di padu jaket duduk di pangkuan Bayu. Paha mulus Melisa terlihat jelas.
" enem anakku...Kowe dewe wes piro?" ucap pak KH. Mustafa.
" Mel...Kenapa ke sini?" ucap Bayu.
" Di sana cewek semua kak...Gak seru.." ucap Melisa.
" Kalah kowe... Aku akeh..." ucap ki Kartolo.
" Mosok... Jarene ono telu ..." ucap pak KH. Mustafa.
" Iku biyen(itu dulu)... Sak iki ono wolu (8).." ucap ki Kartolo.
" Oh iya..Aku dengar dari temanku..Bila nak Bayu bangun mesjid,apakah itu benar?" ucap pak KH. Mustafa.
" Leres pak kyai..." ucap Bayu.
" Sudah sampai mana pembangunannya?" ucap pak KH. Mustafa.
" Baru 90 % pak kyai..." ucap Bayu.
" Kak...Ayo kita ke makam kakek..." ucap Melisa.
" Sabar Mel...Baru aja sampai.." ucap Bayu.
Melisa mengambil gelas berisi teh lalu berjalan ke teras rumah.
" Bayu - chan...Kakek penasaran dengan tempat ini.. Kakek ingin sekali melihat - lihatnya.." ucap kakek Naruto.
"# Sebentar kakek..."
" Pak kyai...Bayu minta izin untuk berkeliling di pesantren ini..Kakek saya ingin melihat - lihat karena penasaran." ucap Bayu.
" Boleh...Boleh...Silahkan..."
" Mari bapak antar..." ucap pak KH. Mustafa.
Mereka kemudian berjalan menuju asrama pondok pesantren,dan juga tempat belajar.
Melisa mengikuti Bayu.
Nampak para santri pria melihat pimpinan pondok pesantren tak berani lewat di dekat mereka.
Namun,Melisa menjadi pusat perhatian para santri. Karena tidak ada gadis cantik masuk ke asrama pria memakai pakaian yang minim.
" Kenapa di sini hanya ada pria saja..? Di mana wanitanya" ucap kakek Naruto.
" # Pria dan wanita di pisah kakek..."
Tak terasa waktu akan memasuki shalat Dzuhur.
" Sudah mau Dzuhur...Mari kita ke mushalla dulu.." ucap pak KH. Mustafa.
Mereka kemudian ke mushalla.
Sementara Melisa duduk di bawah teras di jaga 4 orang pengawal.
Seorang ustadz datang menghampiri Melisa.
" Maaf mbak,mengapa mbak ada di sini?" ucap ustadz.
" Lagi jalan - jalan.." ucap Melisa tak melihat ke ustadz tersebut.
" Tolong mbak keluar, di sini untuk pria.." ucap ustadz yang tak ingin para santri melihat aurat Melisa yang kelihatan tersebut.
" Aku tidak mau..." ucap Melisa.
" Maaf...Nona kami menunggu tuan kami.." ucap salah satu pengawal.
Terdengar suara Bayu mengumandangkan adzan.
" Di sini ada peraturannya pak...Di tambah mbaknya ini tidak memakai pakaian tertutup.." ucap ustadz.
" Kalau ada suara adzan,gak boleh bicara...Gue yang bukan islam aja tahu...Maka lu gak tahu.." ucap Melisa.
Ustadz itu terdiam mendengar ucapan gadis tersebut. Mau gak mau ia menunggu selesai adzan.
" Sialan ini cewek..."
" Siapa seh sebenarnya dia ini,kenapa dia ada di sini bersama 4 orang pria.." ucap ustadz itu dalam hati.
Setelah selesai adzan.
" Tolong mbaknya keluar..." ucap ustadz.
" Gue tidak mau...Titik..." ucap Melisa.
" Tapi mbak..." ucap ustadz.
Melisa melihat ke arah ustadz tersebut.
" Gue bilang tidak mau kenapa lu masih maksa gue?"
"Lu mau di pukul atau di tembak...?"ucap Melisa.
" Maaf pak...Tolong biarkan nona kami di sini.."
" Jika nona kami memerintahkan memukul,jangan salahkan kami memukul anda..Atau menembak anda.." ucap pengawal.
Ustadz tersebut pergi meninggalkan Melisa.
Tak lama kemudian ustadz itu datang kembali bersama 4 orang.
" Ini dia orangnya.." ucap ustadz kepada 4 orang tersebut.
" Maaf pak...Mbaknya ini adalah tamunya pak kyai...Jadi kami tidak berani mengusirnya.." ucap salah satu pria yang di bawa oleh ustadz.
" Kenapa mengurusi kami,urus aja dirimu sendiri... Sudah tidak ikut shalat berjamaah.. Senangnya ngurusi orang yang tidak shalat..."
Mendengar ucapan gadis yang duduk tersebut,dirinya merasa dongkol dan marah.
4 orang yang bersama ustadz tersebut berjalan meninggalkan ustadz itu.
Melisa kembali melihat ustadz tersebut.
" Pak kyai saja tidak berani mengusir gue... Lu bukan kyai malah mengusir gue... "ucap Melisa.
Kemudian Melisa melihat ke arah lain.
" Pak...Jangan ganggu nona kami...Tolong pergi dari sini.." ucap pengawal.
__ADS_1
Tak lama kemudian Bayu dan yang lainnya datang.
" Kenapa Mel?" ucap Bayu melihat ada seorang pria di dekat pengawal.
" Gakpapa kak...Ayo kita ke makam kakek.." ucap Melisa,lalu menghampiri Bayu.
Ustadz itu melihat ke arah pemuda yang memakai pakaian kemeja lengan pendek,celana panjang. Kulit putih,mata agak sedikit sipit.
" Pak kyai...Mengapa pak kyai mengizinkan orang kafir masuk ke pondok pesantren dan masuk ke mushalla.." ucap ustadz.
" Siapa yang kamu sebut kafir itu..." ucap Bayu.
" Siapa lagi kalau bukan kamu dan perempuan ini..." ucap ustadz.
Bayu menghampiri ustadz itu,lalu menendang perutnya.
Buuugggghhh...... Ustadz itu terpental ke belakang lalu menabrak tembok.
" Jaga ucapanmu...."
" Kalau ingin kamu selamat..." ucap Bayu.
Nampak para santri yang melihat kejadian itu langsung berkerumun.
Ustadz itu mencoba berdiri.
" Pak Lukman...Bayu ini seorang hafidz Al Qur'an, dia hapal 30 juz,dan ratusan hadits juga beragama Islam...Jadi...Jangan asal menuduh tanpa bukti...Itu bisa menyebabkan fitnah.." ucap pak KH. Mustafa.
Melisa melesat ke ustasdz itu lalu memutar tubuhnya sambil mengarahkan kakinya .
Buuuugghh... Ustadz itu terkena tendangan di kepalanya,lalu ambruk ke lantai.
Melisa mengeluarkan pistolnya yang berada di balik punggungnya, lalu mengarahkan di kepala ustadz itu.
" JANGAN MEL..." teriak Bayu lalu cepat - cepat menghampiri Melisa.
" Dia sudah menghina kita kak.."
" Mel gak ingin orang ini hidup kak.." ucap Melisa.
Bayu mengambil pistol di tangan Melisa.
Doooooorrrr..... Tak sengaja Melisa menekan pelatuknya. Karena posisi pistol itu tidak terkunci.
Orang - orang mendengar letusan senjata api kaget.
Pyaaaarrr.....Peluru mengenai kaca.
Bayu berhasil merebut pistol dari tangan Melisa,lalu mengunci dan mengantongi pistol tersebut.
" Sabar ya Mel..." ucap Bayu.
Melisa menginjak wajah ustadz tersebut.
Buuugghh.....
Namun saat akan menginjak lagi,Bayu segera menarik Melisa.
" Anjeeng...Bangsat lu...."
" Gue akan membunuh lu...."
" Hajar dia..Dan bunuh dia.." ucap Melisa kepada pengawalnya.
Ke 4 pengawal segera menghampiri ustadz itu.
" Berhenti...." ucap Bayu.
4 pengawal itu berhenti,mereka bingung antara menerima perintah dari Melisa atau Bayu.
" Bawa ustadz Lukman menjauh,sebelum dia tewas..." ucap pak KH. Mustafa kepada para santri.
Para santri menghampiri ustafz Lukman lalu membawanya pergi.
" Maafkan kami pak kyai...." ucap Bayu.
" Kak lepasin Mel kak...Mel ingin membunuh si bangsat itu..." ucap Melisa meronta - ronta dalam dekapan Bayu.
" Sudah Mel....Nanti biar pak kyai yang menghukum orang itu...Ya kan pak kyai.." ucap Bayu.
" Iya itu benar..." ucap pak KH. Mustafa.
Melisa nampak tidak meronta - ronta lagi.
Kemudian Bayu menggendong Melisa. Ia takut jika Melisa mengejar pria itu lagi.
" Kak....Turunin Mel..." ucap Melisa.
" Emmmoh....Nanti Mel ngejar dia lagi.." ucap Bayu.
" Kok kak Bayu tahu...?" ucap Melisa.
" Kamu kan adikku yang paling cantik...Jadi ya tahu lah..." ucap Bayu.
" Kenapa di sini tak sama dengan pesantrennya pak kyai Syukron kak?" ucap Melisa.
Melisa pernah berkunjung ke pesantrennya KH. Syukron. Mereka diam saja saat Melisa berada di asrama putra. Mereka memganggap Melisa tidak ada. Karena tahu wanita yang bersama Bayu adalah keluarga Bayu.
" Mereka sudah lama mengenal kakak,jadi mereka paham ketika Mel.." ucap Bayu.
" Sadis juga keluarganya Bayu...Gak segan - segan bunuh orang.." ucap pak KH. Mustafa dalam hati,lalu berjalan mengikuti Bayu.
***
Ketiga istri Bayu menghampiri Bayu yang sedang menggotong Melisa.
" Tadi ku dengar ada suara letusan,seperti senjata api...Apakah itu suara tembakan sayang?" ucap Diana.
" Kenapa Mel di gendong mas...?" ucap Putri.
" Tadi ada sedikit insiden....Tapi sudah selesai kok..." ucap Bayu.
" Belum...Mel ingin membunuh pria itu...Karena dia menghina keluarga kita..." ucap Melisa.
" Siapa yang menghina keluarga kita sayang?" ucap Diana.
" Masa Mel dan kak Bayu di bilang kafir..." ucap Melisa.
" Mana orangnya Mel...Biar aku yang mengurusnya..." ucap Diana terpancing emosinya.
" Sudah sudah....Jangan di besar - besarin...Orang itu sudah di tangani oleh pihak pesantren.." ucap Bayu.
40 menit kemudian.
" Ayo kak,kita ke makam kakek.." ucap Melisa.
" Iya Mel..."
" Pak Kyai...Kami pamit mau lanjut lagi..." ucap Bayu.
" Iya...Maafkan atas insiden tadi ya nak Bayu..." ucap pak KH. Mustafa.
" Iya pak kyai..."
" Pakde ikut apa enggak"ucap Bayu.
" Pakde gak melu lee...Nangkene disek karo cangkruk'an mbek Musang.." ucap ki Kartolo.
(Pakde gak ikut nak...Di sini dulu sambil nongkrong bersama Musang).
" Yo wes..." ucap Bayu lalu bersalaman tak lupa cium tangan.
Setelah itu Bayu keluar dari rumah pak KH. Mustafa. Ia menunggu ketiga istrinya muncul.
Setelah mereka muncul.
" Kami pulang dulu pak Kyai...Semuanya... Assalam mu'alaikum..." ucap Bayu.
" Wa'alaikum salam warah matullah.." ucap pak KH. Mustafa bersama yang lainnya.
__ADS_1
Bayu dan yang lainnya masuk kedalam mobil,lalu satu persatu mobil rombongan Bayu meninggalkan pesantren menuju makam kakek kandung Bayu yang bernama Changyi Fei Han.