
" Dan untuk kursi kepemimpinan.."
" Aku serahkan kepada......" ucap Kakashi.
Kakashi membalik kertas mencari kelanjutan tulisan surat tersebut.
" Aku bingung,antara adikku,putraku dan Bayu-chan..."
" Aku melihat,Bayu - chan pandai dalam mengatur bisnisnya..."
" Meskipun hanya sebuah restoran..."
" Para pengawalnya pun rata - rata memiliki senjata api.."
" Jadi aku putuskan yang memimpin clan Hatake adalah..."
Kakashi membalik kertas lagi.
" Adikku Naruto.... "
" Kakak mohon terimalah.."
" Jika saja Bayu lahir di keluarga Hatake..Aku akan menyerahkan kepempinan ini kepada Bayu..."
"Sudah itu saja surat yang aku buat..Nanti aku buat lagi jika sudah kembali ke Jepang.."
" Jika aku sudah kembali ke Jepang maka surat ini akan aku bakar" ucap Kakashi.
Kakashi menunjukkan tanda tangan Kakashi serta stempel clan Hatake kepada keluarganya.
" Aku tak bisa menerimanya..." ucap kakek Naruto.
" Kenapa ayah tidak mau?" ucap Akiro.
" Ayah tidak bisa mengatur keuangan bahkan bisnis keluarga kita..." ucap Naruto.
" Keputusan ayah adalah mutlak tak bisa di ganggu gugat paman..." ucap Kakashi.
" Iya paman tahu itu...."
" Sebelum ayahmu meninggal,kita sempat membicarakan tentang siapa pengganti ayahmu.."
" Ayahmu sebenarnya memilih Bayu sebagai pemimpin clan Hatake,karena telah berhasil menumpas clan Uchiha..."
" Tapi..."
" Kakeknya Bayu juga mencalonkan Bayu sebagai penerusnya..." ucap Naruto.
" Baiklah...Kita lanjut nanti saja soal ini..."
" Hari ini kita masih berduka..." ucap Kakashi.
Bayu teringat akan ucapan pria tua bernama Asnawi.
"Akan tiba saatnya pak kyai akan mempertemukan saudara pak kyai dengan saudara kyai lain yang tak pernah bertemu...Tapi itu akan membuat pak kyai terluka..."
" Perasaanku terluka,.."
" Siaaal....."
" Seandainya saja aku dapat menemukan pak Asnawi....Jadi aku gak bingung seperti orang gila..."
" Tunggu dulu...Aku hapal Al Qur'an dan hadist,beliau juga..."
" Jika aku gila karena banyak pikiran...Berarti beliau juga seperti itu..."
" Jiangkreeeek....Wasssuuuuu....."
" Semoga saja mereka tidak memilihku jadi pemimpin.." ucap Bayu dalam hati.
Bu Hana muncul dari dalam.
" # Maaf saya mengganggu kalian..."
" # Makanan telah siap..Ayo kita makan bersama.." ucap bu Hana.
Keluarga Hatake satu persatu berdiri lalu berjalan ke dalam.
Sedangkan Bayu tetap duduk menundukkan kepala menatap karpet kain.
Bu Hana memghampiri Bayu.
" Sayang...Ayo kita makan...Tadi sayang belum ada makan.." ucap bu Hana.
" Iya seh...Tadi aku belum makan nasi..."
" Cuman makan Choki - choki aja.." ucap Bayu dalam hati.
Bu Hana duduk di samping Bayu yang tetap menunduk,lalu menyentuh pundak Bayu.
" Sayang...." ucap bu Hana.
Bayu menoleh ke ibunya.
" Bu...Bayu teringat ucapan pak Asnawi.."
" Bayu akan terluka... Apakah ini maksudnya pak Asnawi bu..." ucap Bayu.
" Ibu tidak bisa mengatakan iya atau tidak sayang..." ucap bu Hana.
" Lalu...Bayu memepertemukan keluarga yang lama tidak bertemu..."
" Apakah keluarga Ayu bu...?" ucap Bayu.
" Entahlah..."
" Ibu juga bingung sayang ..." ucap bu Hana.
Bu Hana menatap plafon.
" Ibu sudah makan?" ucap Bayu.
" Sudah tadi pagi...Cuman sedikit saja ibu makannya..." ucap bu Hana.
Dewi muncul dari dalam.
" Maaf bu...Di tunggu keluarganya Ayu..." ucap Dewi.
" Ayo sayang kita makan dulu.." ucap bu Hana.
" Iya bu..." ucap Bayu.
Mereka kemudian berjalan ke dalam menuju ruang keluarga,karena ruang makan tak muat menampung semua keluarga Hatake.
Bayu melihat tak ada Ayu di ruang keluarga tersebut.
" Ayu mana bu...?" ucap Bayu.
" Mungkin di kamar sayang..." ucap bu Hana.
" Bayu panggil Ayu dulu bu.." ucap Bayu.
Bayu berjalan menuju kamar Ayu.
Setelah sampai di lantai 2,Bayu melihat Melisa.
" Mel..." ucap Bayu sambil memghampiri Melisa.
" Iya kak..." ucap Melisa.
" Lihat Ayu gak?" ucap Bayu.
" Ada di kamar kak Putri kak..." ucap Melisa.
" Makasih ya Mel..." ucap Bayu lalu berjalan ke kamar Putri.
Tok....Tok...Tok... ( Bayu mengetuk pintu)
" Dek..." ucap Bayu agak nyaring.
" Iya mas..." suara Putri.
Ceklek.....Kriiieeet...
" Ada Ayu dek?" ucap Bayu.
" Ada mas...." ucap Putri.
Bayu masuk ke dalam menghampiri Ayu yang duduk di tepi ranjang. Putri menutup pintu tak lupa mengunci pintu.
" Yomesan..." ucap Bayu lalu duduk di samping Ayu.
" Iya shujin..." ucap Ayu.
" Jangan bersedih terus ya sayang....Nanti kakek tidak tenang di sana..."
Bayu mencoba memghibur Ayu.
" Ayo kita turun, di tunggu ibu dan ayah..."
Ayu mengeluarkan surat,lalu memberikan kepada Bayu.
" Surat apa ini yomesan..." ucap Bayu.
Bayu melihat tulisan nama lengkap Hinata di amplop surat itu serta gambar stempel dan tanda tangan.
" Ini dari kakek Kiyoshi shujin...Nenek yang memberikan ini padaku..." ucap Ayu.
" Simpan saja dulu yomesan..."
" Ayo kita ke bawah ..."
" Dek...Adek juga ikut ya " ucap Bayu.
" Maaf mas...Bukannya adek gak mau...Ade sungkan...Adek di kamar saja..." ucap Putri.
" Ayolah sayang...."
" Kalau adek gak ikut,mereka akan berpikir yang aneh - aneh.." ucap Bayu.
" Baiklah..." ucap Putri.
Mereka kemudian berjalan menuju ruang tamu.
***
Setelah selsai shalat Isya'
__ADS_1
Bayu duduk bersama keluarga dan teman - temannya di ruang untuk melakukan membaca surah Yasin bersama.
Kakek Naruto juga ikut,meskipun tak tahu apa yang di lakukan oleh Bayu.
" Bay...Apa cuman kita aja?" ucap Lukman.
" Iya...Apa perlu ku panggilkan keluargaku?"
" Tapi mereka gak bisa baca Al Qur'an..." ucap Bayu.
" Gak usah Bay....Kita aja sudah cukup.." ucap Bimo.
Mereka pun membaca surah Yasin,dengan bacaan yang sedang,tidak terlalu cepat.
Baru membaca suarah Yasin ayat ke 70.
LDatang seorang pengawal mengampiri.
" Maaf bos...Ada pak haji Ridwan bersama warga datang..." ucap pengawal.
Bayu menoleh ke teman - temannya.
" Assalam mu'alaikum " suara orang dari bawah.
" Wa'alaikum salam warah matullah..." ucap Bayu dan yang lainnya.
" Bukan aku loh Bay..." ucap Paijo.
" Sama...Aku juga enggak..." ucap Lukman.
Mau gak mau Bayu menghentikan sementara.
" Terima kasih pak...." ucap Bayu lalu berdiri.
Bayu berjalan ke ruang tamu.
muncul pak H. Ridwan di antar orang - orang.
" Maaf nak...Bapak bawa pasukan kesini..." ucap pak H. Ridwan.
" Gakpapa pak haji...Aku senang sekali pak haji dan yang lainnya datang ke sini.."
" Sebentar dulu pak..."
Bayuenoleh ke pengawal yang berada di belakangnya.
" Maaf pak,tolong bantu pindahkan kursi ke belakang...Dan ambil karpet kain di belakang,minta bantuan ke yang lainnya" ucap Bayu.
" Siap bos..." ucap pengawal.
Bayu memindahkan kursi sofa ke dalam bersama pengawal.
Lalu warga menteng yang hadir ikut membantu.
Para pengawal datang bersama keluarga Hatake yang menginap di rumah Bayu membawa karpet kain,lalu di hampar ke ruang tamu.
Datang teman - teman Bayu ikut membantu.
Setelah karpet kain selesai di hampar,para tamu duduk.
" Maaf bapak - bapak...."
Bimo dan Lukman membawa dus berisi air mineral,lalu di letakkan di depan para tamu yang hadir.
" Saya tidak tahu jika bapak - bapak datang ke sini..."ucap Bayu.
" Gakpapa Bayu...Kami datang ke sini atas usulan teman - teman.." ucap salah satu pria dewasa.
Nampak sebuah tas di berikan secara estafet,tas itu berisikan buku Yasin. Orang yang menerima tas itu mengambil satu buku,lalu di berikan lagi ke sebelahnya yang belum mengambil,begitu seterusnya.
" Man.. Panggilkan kakek Naruto...Kita ngaji di sini.." ucap Bayu.
" Aku gak iso boso Jepang Bay..." ucap Lukman.
" Biar Ayu yang ngomong.." ucap Bayu.
" Siap " ucap Lukman lalu berdiri dan berjalan.
Tak lama kemudian kakek Naruto datang lalu duduk.
" Baiklah...Mari kita mulai pengajian ini.." ucap pak H. Ridwan.
Pengajian pun di mulai,pak H. Ridwan yang memimpin pengajian tersebut.
Namoak sebagian keluarga Hatake melihat pengajian tersebut. Mereka bingung apa yang di lakukan oleh orang - orang yang berada di ruang tamu. Lalu Fumeko menanyakan hal itu kepada bu Hana.
" Maaf Hana - san...Apa yang mereka lakukan?" ucap nenek Fumeko.
"# Mereka sedang membacakan surah Al Qur'an untuk ayah Kiyoshi bu..."
"# Kami memiliki tradisi,bila ada yang meninggal,maka malamnya kami membaca surah Yasin.."ucap Bu Hana.
Kemudian bu Hana menyuruh bu Yuli untuk menyiapkan kue kering dan teh.
Setelah selesai pengajian,bu Hana mendekati Lukman dan Bimo yang duduk bagian penghubung ruangan.
" Nak Bimo dan Lukman...tolong ambilkan kue dan minuman di belakang." ucap bu Hana.
" Baik bu..." ucap Bimo dan Lukman.
Di sisi Bayu.
" Pak Haji...Kenapa gak memberi tahu Bayu jika mau kesini membawa pasukan..." ucap Bayu.
Muncul Bimo dan Lukman membawa minuman teh.
" Bapak di culik nak...."
" Setelah shalat isya' bapak langsung di tarik ke sini..."ucap pak H. Ridwan.
" Kalau menunggu pak haji shalat sunnah,ya kelamaan Bay...Makanya langsung kita tarik setelah baca do'a" ucap seorang pria dewasa.
" Oalaah.... Begitu to..."
" Terus ke sininya naik apa?" ucap Bayu.
" Jalan kaki Bay..." ucap seorang pemuda.
" Ngesot Bay..." ucap pemuda yang lainnya.
" Kalau mau ke sini kan,Bayu bisa mengirim jemputan pak haji..." ucap Bayu.
" Gak usah nak...Bapak gak mau merepotkanmu.." ucap pak H. Ridwan.
"Oh iya.. Silahkan di minum...Maaf adanya itu ...Soalnya aku gak tahu..." ucap Bayu.
Tak lama kemudian,pak H. Ridwan dan yang lainnya berpamitan.
Bayu berdiri dan bersalam kepada warga Menteng yang hadir.
***
Jogjakarta.
Rumah Ahmad.
Sore hari pukul 17.55.
Nampak Ahmad menggendong Ayub di ruang tamu,sementara Sulis berada di dapur.
Ayub kini berusia 34 hari,bila lewat jam 6 sore,maka masuk hari ke 35. Dan itu hari lahirnya menurut penanggalan jawa.
Terdengar suara lantunan ayat - ayat suci Al Qur'an dari Mesjid.
Ahmad mengecek pintu dan jendela,apakah sudah terkunci apa belum.
Setelah selesai mengecek. Ahmad melihat ke arah Ayub.
"Eh.....!!!!???Ahmad terkejut melihat mata Ayub yang berubah merah semuanya.
Ahmad berjalan ke dapur.
" Mi....Umi...." ucap Ahmad sambil berjalan.
" Iya bi..." suara Sulis.
Setelah Ahmad sampai di tempat Sulis.
" Mengapa mata Ayub merah semua? Apakah Ayub sakit mata?" ucap Ahmad.
" Enggak...Coba sini bi.."
Sulis melihat bola mata Ayub nampak normal.
" Enggak merah bi..." ucap Sulis.
Terdengar suara adzan.
Ahmad melihat ke mata Ayub,namun Ayub memejamkan matanya.
Ahmad mencoba membuka mata Ayub,setelah terbuka nampak mata Ayub bewarna hitam semua.
" Mi...Mi...Coba lihat neh...Mata Ayub hitam semua.." ucap Ahmad.
" Iya memang hitam bi...(Sulis mencuci tangannya).. Ayo kita shalat bi..." ucap Sulis.
" Maksudku itu yang bagian putih juga bewarna hitam mi.." ucap Ahmad.
Sulis mendekat,lalu membuka mata Ayub.
" Normal gitu loh Bi..." ucap Sulis melihat mata Ayub kembali normal.
Ahmad berjalan ke kamar,lalu meletakkan Ayub di tempat tidur,sementara Sulis berwudhu.
Setelah Sulis selesai wudhu,gantian Ahmad yang berwudhu.
" Aneh...Tadi aku lihat merah semua lalu hitam semua,tapi kenapa saat Sulis melihat jadi normal ya...Apa itu hanya perasaanku saja.." ucap Ahmad dalam hati sambil berjalan.
Setelah selesai wudhu. Ahmad dan Sulis shalat di dalam kamar.
Selesai Shalat,Ahmad mengajari Sulis mengaji.
Tiba - tiba Ayub menangis. Mau tak mau Sulis menghentikan ngajinya karena Ayub membutuhkan ASI. Lalu melepas mukena dan naik ke tempat tidur.
" Sayang...Cup..Cup....Ibu di sini sayang..."ucap Sulis lalu mengeluarkan susunya untuk menyusui Ayub.
" Masa seh mata Ayub merah dan hitam semua..."
__ADS_1
Sulis yang penasaran lalu membuka mata Ayub.
Nampak mata Ayub merah semua.
"EH.......!!!!??? Sulis terkejut.
" Iya...Merah semua..." ucap Sulis dalam hati.
" Bi.....Ayub benar - benar matanya merah bii.." ucap Sulis.
Ahmad memdekati Sulis.
" Aku pikir hanya perasaanku saja tadi mi..."
" Ayo kita bawa ke dokter mi..."
" Aku takut Ayub kenapa - kenapa" ucap Ahmad.
Sulis mengecek suhu tubuh Ayub.
" Ayub gak panas bi..." ucap Sulis.
Ahmad menyentuh leher Ayub,ia merasakan biasa saja.
" Terus gimana mi...?"
" Aku takut jika Ayub kenapa - kenapa " ucap Ahmad.
" Besok aja bi kita bawa ke rumah sakit.." ucap Sulis.
" iya mi..." ucap Ahmad.
Ke esokan harinya.
Ahmad dan Sulis bersiap - siap menuju rumah sakit untuk mengecek mata Ayub.
Ahmad menggendong Ayub,sementara Sulis memasukkan peralatan Ayub dalam tas. Setelah selesai.
" Ayo bi..." ucap Sulis.
" Gak ada yang ketinggalan kan mi?" ucap Ahmad.
" Gak ada bi.." ucap Sulis.
Ahmad menyerahkan Ayub ke Sulis.Lalu Ahmad membawa tas,lalu mereka berjalan ke depan.
Setelah menempuh perjalanan,akhirnya mereka sampai di rumah sakit.
Baru saja hendak turun,hape Sulis berdering nada panggil.
Sulis mengecek siapa yang menelpon.
Nampak nama ibunya yang menelpon.
" Hallo bu..." ucap Sulis.
" Hallo juga nak...Kamu lagi di mana?" suara ibunya Sulis.
" Baru sampai di rumah sakit bu.." ucap Sulis.
" Siapa yang sakit...?" suara ibunya Sulis.
" Ayub bu...Matanya tiba - tiba berubah bu..Kadang normal terus merah semua,normal lagi,terus menghitam semua normal lagi terus jadi warna warni dan normal lagi bu.." ucap Sulis.
" Ooo... Begitu...Apakah tubih Ayub panas nak" suara ibunya Sulis.
" Enggak bu...Bu..Sulis masuk dulu ya...Mau periksakan Ayub.." ucap Sulis.
" Iya nak...Nanti ibu ke sana.." suara ibunya Sulis.
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah sakit untuk mendaftar lebih dulu.
Namun setelah mendaftar,pihak rumah sakit memberitahukan bahwa dokter spesialis mata tidak ada hari ini,besok hari baru ada jadwalnya. Lalu mereka di sarankan ke rumah sakit lainnya tampat di mana dokter itu berada.
Akhirnya Sulis dan Ahmad memutuskan untuk mendatangi rumah sakit tersebut.
Setelah sampai di tujuan,mereka mendaftarkan Ayub.
Setelah mendaftar,petugas rumah sakit mengarahkan mereka.
Di ruang tunggu.
Nampak orang - orang sedang mengantri untuk di panggil.
Sulis duduk di samping seorang ibu - ibu yang membawa anaknya,karena anaknya terkena peluru pistol mainan.
" Siapa yang sakit?" ucap ibu itu.
" Anak saya bu...Anan ibu kenapa itu kok di perban" ucap Sulis.
" Kena puluru pistol mainan..."
" Di kasih tahu ndablek(keras kepala) jadi ya begini..."
" Anak ibu kenapa?" ucap ibu itu.
" Matanya gak normal bu..." ucap Sulis.
" Gak normal gimana bu.." ucap ibu itu.
" Kadang berubah - rubah warnanya...seperti ini bu..." ucap Sulis lalu membuka mata Ayub.
Nampak mata Ayub menghitam semua,lalu normal lagi.
"Eh.....!!!?? Ibu itu terkejut melihat bola mata bayi yang di gendong wanita muda berjilbab.
" Maaf loh bu...Bukan saya menghina atau menjelek - jelekkan ibu atau anak ibu.."
" Sepertinya anak ibu ada darah genderuwonya..." ucap ibu itu.
" Masa seh bu..." ucap Sulis tak percaya.
" Iya....Apakah suami ibu jarang pulang ke rumah?" ucap ibu itu.
" Suami saya tiap hari pulang kerumah sebelum magrib bu..." ucap Sulis.
" Coba saya lihat lagi bu..." ucap ibu itu.
Sulis membuka mata Ayub. Nampak mata Ayub menjadi warna warni.
" EH....!!!?? ibu itu terkejut.
" Kok bisa begitu bu..?" ucap ibu itu heran.
" Saya tidak tahu bu...Makanya saya bawa ke rumah sakit untuk di periksa.." ucap Sulis.
Tak terasa pukul 11.55.
" Muhammad Ayub.." ucap perawat.
Sulis dan Ahmad berdiri lalu berjalan ke arah ruang dokter.
Setelah sampai dan duduk.
" Kenapa putranya bu..?" ucap dokter.
" Ini dok,mata anak saya kadang normal kadang berubah - ubah warnanya..." ucap Sulis.
Dokter kemudian mendekti Ayub lalu memerika mata Ayub.
Nampak mata Ayub normal,lalu membuka mata satunya,nampak mata Ayub bewarna warni.
" Eh....!!!?? Dokter itu terkejut.
Lalu segera membuka mata satunya.
Mata Ayub yang sebelahnya sama,warnanya warna warni lalu kembali normal.
" Sejak kapan mata putra ibu seperti ini?" ucap Dokter.
" Kemarin sore dok pas mau magrib...Awalnya warna merah semua dok...Saya pikir mata saya sakit,terus normal,lalu menjadi hitam semua,lalu normal lagi" ucap Ahmad.
" Anak saya sakit apa ya dok...?" ucap Sulis.
Dokter kembali ke kursinya.
" Apakah di keluarga ibu atau bapak mempunyai riwayat yang sama tentang penyakit putra ibu?" ucap dokter.
" Gak ada dok..." ucap Ahmad.
Deg..... Sulis baru teringat. Jika Bayu adalah ayah biologisnya Ayub.
" Apakah Bayu juga begitu..." ucap Sulis dalam hati.
Dokter melihat ke arah Sulis yang diam tak menjawab pertanyaannya.
" Apakah keluarga ibu ada riwayat mengenai penyakit mata putra ibu?" ucap Dokter.
" Gak ada dok..." ucap Sulis.
" Anak saya kenapa dok..." ucap Ahmad.
" Kami belum bisa memutuskan tentang..."ucap Dokter.
Jam menunjukkan pukul 12.11.
Dokter berdiri lalu memeriksa mata Ayub kembali.
Nampak mata Ayub sebelah kiri normal. Lalu membuka mata sebelah kanan,mata Ayub terlihat normal.
" Hemm...Normal..." gumam Dokter.
" Putra ibu matanya kembali normal tidak berubah - ubah lagi..." ucap Dokter.
" Masa seh dok..." ucap Ahmad.
Sulis memeriksa bola mata Ayub.
" Iya bi....Mata Ayub normal kembali..." ucap Sulis.
Dokter kembali ke kursinya.
" Nanti...Jika mata putra ibu kembali tidak normal...Datanglah kemari..." ucap Dokter.
" Iya dok..." ucap Ahmad.
Sulis dan Ahmad keluar dari ruangan dokter tersebut.
__ADS_1
Sdtelah Sulis dan Ahmad keluar,sang Dokter memgambil hapenya lalu menghubungi seseorang.