SANG PENERUS.

SANG PENERUS.
BAYUU.


__ADS_3

Ku berada dalam kamar Diana menggendong Imam,sebab Ayu sedang mandi. Jadi aku menjaga Imam dan Bintang


Diana sedang mengeluarkan rempah - rempah yang di berikan oleh Kumala Sari.


Entah kenapa,semenjak bertemu dengan Sekar. Aku tak mempunyai rasa dendam lagi. Yang sebelumnya,aku merasakan dendam membara di hatiku. Ingin menghancurkan keluarga Jati. Tak peduli masih bayi ataupun sudah sepuh,pasti ku bunuh sampai habis. Aku gak mau keluargaku celaka lagi.


" Bi...Besok pagi panggilkan kanjeng ratu ya..."


" Aku mau mencoba rempah - rempah ini.." ucap Diana. Sebab Kumala Sari akan membacakan mantra saat di gunakan. Jika tidak,tak akan berhasil.


" Iya umi.." ucapku.


" Ternyata dia sangat cantik ya bi.." ucap Diana.


" Namanya juga wanita mi.."ucapku.


Diana masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa handuk.


Ku letakkan Imam di samping Bintang.


Nampak Bintang berbicara ke Imam dengan bahasa yang tak ku pahami. Lalu Imam pun membalasnya.


" Kalian ngomong apa seh..Abi gak paham neh..." ucapkku sambil menggaruk - garukkan kepala melihat kedua anakku seperti mengobrol.


Tak lama kemudian Diana selesai mandi.


" Bi..."


" Orang - orang yang mencelakai keluarga kita kan sudah di tangkap.."


Diana membuka lemari lalu mengambil pakaian.


" Bagaimana jika kita tinggal di sini saja bi.." ucap Diana.


" Hemmmm...."


" Gimana ya..."


" Aku ingin hidup sederhana mi.."


" Jika anak - anak kita sudah besar,takutnya mereka terlena dengan dunia,dan tak mau mengejar akhirat.." ucapku.


" Tapi jauh bi..."


" Agar aku bisa mengunjungi mamahku.." ucap Diana.


" Nanti ku pikirkan lagi ya sayang...Sebab mbah juga mencari lahan yang ku inginkan.." ucapku.


---0.0.0---


Malam harinya.


Aku berkumpul bersama teman - temanku di balkon lantai dua setelah selesai aku makan.


" Bay...Urusan ibune Alvin piye..?" ucap Lukman.


" Sampun kelar Man.." ucapku.


" Kelar piye Bay? Wes mbok endangi kah" ucap Bimo.( Selesai gimana Bay? Sudah kamu datangi kah)


" Sampun Bimo..Wes tak cekel wonge,terus di lebokke nang penjara." ucapku.( Sudah Bimo..Sudah ku tangkap orangnya,terus di masukkan ke penjara).


" Syukurlah...Dengan begitu gak ada lagi orang yang menyakiti keluargamu.." ucap Bimo.


"Wes ngebel kah Bim?" ucapku.


" Wes Bay...Jarrene ngenteni tonggo,tanggal ro las ono acara...." ucap Bimo. ( Sudah Bay..Katanya nungguin tetangga,tanggal 12 ada acara)


" Acara apa Bim?" ucapku.


" Tonggoku anak e sunnnatan.." ucap Bimo.


" Awakmu gak melu sisan Bim" ucap Paijo


" Melu opo kang?" ucap Bimo.


" Jarene pengen sunnat maneh.." ucap Paijo.


" Iyo Bim..Melu wae...Di bentuk bengkok ngono loh..Opo gak di gawe ngepang" ucap Lukman.


" Diamput.." ucap Bimo.


Ha....Ha....Ha...Ha....Ha...Ha...Ha...Ha... Teman - temanku menertawakan Bimo.


" Ngene wae Bim.. manukmu di ganti manuk jaran Bim. Ben klepek - klepek Clarane.." ucap Lukman.( Begini saja Bim.. Burungmu di ganti burung kuda Bim..Biar klepek-klepek Claranya)


"Jancook...Waasssu.." ucap Bimo.


" Ha...Ha...Ha...Ha...Ha...Ha...Lukman tertawa.


" Kalau mau kuat dan tahan lama..Aku punya resepnya Bim.." ucapku.


" Opo kuwi Bay.." ucap Bimo.


" Tuku Kratingdeng sak botol terus timun .." ucapku.


" Serius Bay..Iso tahan lama?" ucap Bimo.


" He eh...Aku serius.. Kratingdeng mbok ombe sak durunge main.."


" Terus timunne mbok lebokke nang Clara.." ucapku.


" Jancook...Tiwas aku nyimak tenanan,malah guyon.." ucap Bimo.


" Loh..Tahan lama loh itu Bim..Sampe isuk gak bakalan lemes timunnya.." ucapku.


" Saran yang menyesatkan.." ucap Bimo.


" Ha....Ha...Ha...Ha...Ha...Ha..." aku tertawa melihat ekspresi Bimo yang ku kerjain.


Ku mendengar suara langkah kaki mendekatiku,lalu ku menoleh ke arah suara kaki tersebut. Rupanya Melisa.


" Kak..."


"Di panggil sama kak Ayu di ruang keluarga kak.." ucap Melisa.


" Ku tinggal dulu.." ucapku.


Aku berdiri lalu berjalan,Melisa mengikutiku,ia berjalan di sebelah kananku.


" Kak..Kenapa di sana Mel lihat sore terus ya kak..Terus gitu gak ada mataharinya.." ucap Melisa.


" Aku gak tahu sayang..." ucapku.


" Harus tahu dong kak..." ucap Melisa.


Ku letakkan tangan kananku di pinggang Melisa.


" Namanya juga alam ghaib Mel...:


" Mungkin emang dari sananya begitu.." ucapku.


" Heemm..."


" Kalau cerita tentang ratu pantai selatan itu gimana kak? Apakah dia benar - benar ada?" ucap Melisa.


" Menurut pengakuan Kumala Sari.."


" Dia pernah bertemu dan berperang Mel.." ucapku.


" Serius kak? Terus siapa yang menang?" ucap Melisa.


" Serius sayang.."


" Yang menang ratu pantai selatan.." ucapku.


" Apakah kak Bayu pernah ke istana ratu pantai selatan?" ucap Melisa.


" Belum.." ucapku.


"Kak..Besok kita ke Mall ya...Dah lama Mel gak ke sana.." ucap Melisa.

__ADS_1


" Hemmm... Sayang mau belanja?" ucapku.


" Iya..Mau beli baju..Baju Mel yang lengan panjang hanya sedikit aja kak..Ya kak ya..." ucap Melisa.


" Iya sayang.." ucapku.


Ku melihat semua istriku berkumpul di ruang keluarga,ada pula ibuku. Lalu aku duduk.


Diana menyerahkan tumpukan kertas kepadaku,ku terima tumpukan kertas itu lalu melihatnnya.


Nampak ada tulisan serta gambar foto pemandangan.


" Itu foto lahan pemberian dari kakek bi.." ucap Diana.


Ku balik kertas itu.Nampak ada foto - foto lainnya.


" Tempat itu gak jauh dari Jakarta sayang..."


" Ada yang dekat dengan pantai,ada pula yang jauh dari pantai.." ucap ibuku.


Iya seh,emang jauh dari laut,sebab ku lihat di foto hanya bukit yang di tanami kebun teh,lalu rumah.


" Itu perkebunan teh keluarga kita bi.." ucap Diana yang berada di sampingku.


" Kalau tinggal di kebun teh,aku mau mancing jauh.."


" Oh iya..Aku kan bisa menghilang..Jadi."


" Aku bangun gudang dekat pantai,jadi aku mancing gak repot - repot pergi mancing tinggal memghilang aja,selesai mancing masuk gudang lalu kembali deh.." ucapku dalam hati.


" Di sana juga dekat dengan pondok pesantrennya bi...Kurang lebih 30 menit"


" Suasana di sana sejuk.. " ucap Diana.


" Iya sejuk..Tapi jauh dari Mall kak.."


" Mending tinggal di dekat pantai saja kak,dekat Mall.."ucap Melisa.


" Hemmm..."


" Ke Mall kan gak setiap hari Mel.." ucap Bayu.


" Dekat pantai aja kak..Jadi Mel kalau suntuk bisa mancing.." ucap Melisa.


" Mel suka mancing?" ucap ibuku.


" Suka bu...Kalau Mel suntuk,Mel pergi mancing atau gak ke Mall bu.." ucap Melisa.


" Saye sutuju dengan ucapan Melisa. Kite tinggal di dekat pantai saje."


" Bisa lihat ombak untuk menghilangkan penat.."ucap Aisyah.


" Lis..Awakmu pilih seng endi? Kebon teh opo cedak pantai.." ucapku.


" Pantai aja mas.." ucap Sulis.


" Yomesan..?" ucapku.


" Pantai shujin .." ucap Ayu.


" Sayang..?" ucapku.


" kebun teh.." ucap Diana.


" Sebenarnya aku pilih kebun teh,tapi. Berhubung suara terbanyak adalah pantai,maka.."


" Kita tinggal dekat pantai saja..." ucapku.


" Apakah kita akan kembali ke Sragen bi?" ucap Ayu.


" Senin aku berencana ke sana.."ucapku.


" Aku ikut ya mas...Sekalian mau menemui mamahku.." ucap Sulis.


" Iya.." ucapku.


" Aku gak ikut bi,kasian Bintang. Kalau di ajak perjalanan jauh rewel." ucap Diana.


" Iya... Jadi siapa yang mau ikut ke Sragen?" ucapku.


" Mel gak ikut kak..." ucap Melisa.


" Saye boleh ikut?" ucap Aisyah.


" Boleh.."


" Terus...Barang - barang yang di sana di apain jika kita tidak tinggal di sana?" ucapku.


" Biarkan saja dulu di sana bi.."


" Nanti kalau rumah di dekat pantai sudah jadi,baru di angkutin.." ucap Diana.


" Semuanya?" ucapku.


" Iya bi...Kalau yang jelek gak usah di bawa bi.." ucap Diana.


" Ya sudah..." ucapku.


---0.0.0---


Pukul 3.50.


Ku baru selesai membaca Al Qur'an setelah selesai shalat tahajud. Aku bingung mau ngapain. Sebab jika mau makan sahur,nanti jalan - jalan ke Mall,terus ke restoran untuk makan. Jika aku gak ikut makan,istri - istriku ngedumel.


Tiba - tiba aku kepikiran tempat kos - kosan anak buahku.


" Kesana sajalah.." ucapku dalam hati.


Ku pejamkan mataku,lalu memgucapkan mantra ajian Rogoh Sukmo


---0.0.0---


Kos - kosan dekat Cafe Mantan.


Aku muncul di depan Kos - kosan,lalu ku segera masuk untuk melihat - lihat. Apakah mereka menjani peraturan yang ku buat,yakni tidak boleh laki - laki dan perempuan tidur sekamar,dan yang sudah berkeluarga tidak boleh tinggal . Harus mencari tempat lain. Sebab aku bangun kos - kosan itu untuk yang masih jomblo.


Ku masuk kamar pertama. Ku lihat ada 4 orang pria tidur. Dalam 1 kamar terdapat 2 ranjang bertingkat. Lalu ada 2 lemari pakaian.


Kemudian ku beralih ke kamar satunya. Hasilnya pun sama.


Beberapa orang sudah terbangun,mereka melakukan aktifitasnya


" Syukurlah...Mereka mematuhi peraturan yang ku buat,jika melanggar. Aku akan mengusirnya.." ucapku.Lalu ku putuskan kembali setelah selesai memeriksa semua kamar tidur.


---0.0.0--


Pukul 8.30.


Aku menjaga Imam dan Bintang di ruang keluarga. Menunggu istri - istriku selesai berdandan. Kumala Sari berada di sampingku,dia datang untuk membantu Diana memakai ramuan tersebut. Dan hasilnya pun sangat memuaskan. Pruduk kecantikan yang ada di dunia ini kalah. Kulit Diana menjadi halus dan lembut,serta wangi


Ku lihat Aisyah datang memghampiriku.Lalu duduk di sampingku. Tercium aroma parfum yang ia pakai.


Sebenarnya aku bisa saja menghipnotis istriku agar Aisyah bisa hamil. Namun aku urungkan. Lebih enak hidup alami,agar ada warna tersendiri.


Aku bersyukur sekarang Diana dan Ayu mulai akrab dengan Aisyah,akan tetapi hukumannya tetap berjalan. Dan gak bisa di cabut. Aisyah pun tak mempermasalahkannya. Yang penting bisa akur.


Muncul Sulis bersama Melisa. Mereka tertutup,tak lupa memakai cadar.


" Bintang...Nanti kalau dah besar,jangan lama - lama ya dandannya..." ucapku.


" Kan biar tampil menarik mas..Masa iya kita berpakaian biasa saja..Ya malu lah mas..." ucap Sulis.


" He...He...He...He..."


" Kalian gak dandan juga cantik kok sayang..."


Ku lihat Diana dan Ayu berjalan menuju kemari sambil membawa tas berisi perlengkapan bayi.


" Apakah ada yang tertinggal?" ucapku memgingatkan.


Sebab aku paling malas sudah di dalam mobil tiba - tiba keluar lagi untuk mengambil barang yang tertinggal.

__ADS_1


" Gak ada mas..." ucap Sulis.


" Gak ada bi..." ucap Ayu dan Diana.


" Gak ada kak..." ucap Melisa.


Aku mengambil


" Ayoo...Keburu siang..." ucapku.


Kamipun berjalan ke teras rumah,sesampai di teras,kami masuk ke dalam mobil.


Pengawal menutup pintu mobil. Tak lama kemudian mobil yang kami tumpangi berjalan.


---0.0.0---


Rumah Johan.


Nampak Agus berpamitan mau pulang.


" Nanti mas carikan orang yang bisa menemukan istrimu"


Agus berdiri,Johan juga ikut berdiri.


" Mas pulang dulu.." ucap Agus.


" Iya mas..." ucap Johan.


Agus berjalan ke teras rumah lalu masuk ke dalam mobil. Sang sopir dan pengawal yang melihat Agus keluar dari rumah Johan langsung menuju mobil.


Mobil yang di tumpangi Agus perlahan meninggalkan rumah Johan.


" Maaf pak...Tadi kita mengobrol dengan penjaga,katanya istri pak Johan menghilang secara misterius ya pak..?" ucap pengawal.


" Iya...Aku bingung,baru kali ini menghadapi kasus seperti itu.."


" Apakah kamu punya kenalan seorang dukun?" ucap Agus.


" Kalau dukun pijat saya punya kenalan pak.." ucap penjaga.


" Bukan dukun pijat..Tapi dukun yang bisa mengetahui orang hilang secara mistis..." ucap Agus.


" Gak punya pak.." ucap pengawal.


" Maaf pak menyela.."ucap supir.


" Ya ...Apakah kamu punya kenalan dukun paranormal,yang sakti.." ucap Agus.


" Begini pak...Bapak kan muslim.."


" Alangkah sebaiknya bapak minta tolong ke ustad atau pak kyai. Jika bapak pergi ke dukun itu namanya musrik pak...Allah gak suka" ucap supir.


" Tumben,nasihatmu benar mbang( Bambang) ?" ucap Agus.


" Emangnya usulannya saya sebelumnya selalu salah ya pak..?" ucap Bambang.


" Kadang benar kadang salah,tapi kebanyakan salahnya.."


Agus melihat jam tangannya.


" Singgah ke mesjid..Sebentar lagi magrib.." ucap Agus.


" Iya pak.." ucap Bambang.


Kemudian Bambang mencari mesjid di pinggir jalan. Lalu melihat sebuah mesjid. Bambang pun membelokkan mobilnya.


Sesampai di mesjid,Agus segera ke tempat wudhu.


Adzan magrib berkumandang. Selesai wudhu,Agus berjalan masuk ke mesjid.


Sesampai di dalam ia berdiri di samping orang yang memakai memakai jaket bertudung,dan memakai masker. Pria yang di samping Agus adalah Bayu.


Bayu menoleh ke samping,ia terkejut melihat ayah kandungnya berada di sampingnya lalu melihat ke depan. Agus tak menyadari bahwa di sampingnya itu orang yang selama ini ia rindukan.


" Kok dia di sini ya..Apa dia mengikutiku. ." ucap Bayu dalam hati.


Selesai adzan berkumandang,Bayu melakukan shalat sunnah. Sementara Agus,agus duduk sembari menunggu iqomat.


Selesai shalat magrib,seperti biasa,Bayu bersalaman ke orang di sampingnya.


Saat Bayu bersalaman dengan Agus,Bayu mencium punggung tangan Agus.


Agus merasa aneh dengan sikap orang yang memakai jaket tersebut. Karena penasaran,ia pun melihat wajah pria itu,namun terhalang masker dan tudung jaket yang di gunakan. Sehingga ia tak mengenali Bayu.


" Dia siapa ya? Mengapa mencium tanganku?" ucap Agus dalam hati.


Kemudian Agus memutuskan untuk menunggu pria di sampingnya selesai wirid.


Selesai Bayu wirid dan berdo'a, Bayu segera berdiri. Agus mengikuti pria itu.


" Tunggu pak..."


Bayu menghentikan langkahnya,lalu menoleh ke Agus. Agus berdiri di depan Bayu.


" Apakah kita pernah bertemu.." ucap Agus.


Bayu sebenarnya tak ingin bicara,namun ia mengingat ada sebuah hadits yang menyebutkan tidak boleh mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari. Mau gak mau Bayu bersuara,namun ia mengubah suaranya.


" Pernah pak.." ucap Bayu.


" Di mana?" ucap Agus.


" Di jalan pak.."


Tiba - tiba hapenya bergetar panjang.Namun Bayu membiarkan saja,ia berniat nanti akan menelpon balik.


" Saya duluan ya pak.." ucap Bayu tak ingin berlama - lama mengobrol dengan ayahnya.


" Tunggu sebentat.. Saya minta 5 menit saja pak.." ucap Agus.


" Baiklah...Ada apa pak..?" ucap Bayu.


" Mengapa tadi anda mencium tanganku?" ucap Agus.


"Sudah kebiasaan saya pak,mencium tangan orang yang sudah tua.." ucap Bayu.


Hapenya Bayu kembali bergetar panjang.


Agus mengamati bola mata Bayu,dirinya merasa pernah melihat sepasang mata itu.


" Ooo...Begitu.."


" Baiklah...Terima kasih atas waktunya pak.." ucap Agus.


" Sama - sama pak.." ucap Bayu.


Bayu berjalan duluan,lalu mengambil ponselnya.


Nampak nama ibunya muncul. Bayu segera menerima panggilan tersebut.


Agus diam - diam mengikuti Bayu.


" Assalam mu'alaikum...Sayang ada di mana?" suara Hana.


" Wa'alaikum salam bu...Bayu lagi di mesjid bu.." ucap Bayu. Bayu tak menyadari Agus mengikuti dirinya,sebab masih ada orang yang keluar mesjid.


" Bayuuuu..." ucap Agus.


Bayu membalikkan badannya,ia melihat ayahnya berada 2 meter darinya.


Agus berjalan lalu memeluk Bayu. Selama setahun lebih ia tak mendapat kabar,dirinya tak menyangka bertemu dengan Bayu di mesjid.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2