
Sebelum pergi ke rumah orang tua Clara,ku mampir dahulu ke Cafe untuk menjemput Bimo setelah kerumah Sambo.
Flas back ON.
Saat ku di rumah Sambo,ku berikan kado ulang tahun kepada adiknya. Yaitu sebuah jam tangan. Tentunya bukan jam tangan murahan. Yang kubelikan jam tangan bermerk,dan belum ku bungkus kertas kado.
Ku ikuti Sambo bersama kedua orang tuanya.
"Gue pikir lu datang kesini pakai kaos partai." ucap Sambo sambil berjalan.
" Maunya seh begitu kang..Terus istriku. Mengomeli aku,masa datang ke acara pakai kaos partai..." ucapku.
" Silahlan duduk.."
Aku duduk di kursi.."
" Gimana kabarmu.." ucap ayahnya Sambo.
" Alhamdulilah baik pak..." ucapku.
" Syukurlah..." ucap ayahnya Sambo.
" Istrimu kok gak di ajak Bay?" ucap Sambo.
" Maunya seh begitu...Tapi nanti aku ada perlu kang.." ucapku.
" Lu sibuk apaan seh?" ucap Sambo.
" Banyak kang...." ucapku.
" Lu sakit kah?" ucap Sambo.
" Enggak...Kenapa kang?" ucapku.
" Tuh..Lu pakai masker.." ucap Sambo.
Ku lepas maskerku.
Ayahnya Sambo memberikan majalah padaku.
Ku terima saja majalah tersebut.
" Di majalah itu, ada orang yang mirip denganmu..." ucap ayahnya Sambo.
Ku perhatikan majalah tersebut,dan benar saja. Wajahku di muat. Tapi itu adalah aku saat aku ikut lomba di Malaysa. Ku buka lembaran demi lembaran. Lalu aku menemukan foto yang memuat diriku. Bahkan cincin yang biasa aku pakai juga kelihatan.
"Eh... Iya mirip...Tapi ini namanya Jiang pak..."
" Namaku Bayu.." ucapmu.
" Juancook... Mereka sempat - sempatnya memfoto aku.." ucapku dalam hati.
" Nah itu dia,om pikir itu adalah kamu Bay.." ucap ayahnya Sambo.
" Beda lah pak..." ucapku berkilah.Padahal emang iya. Itu aku yang dulu saat amnesia.
" Di makan Bay... Anggap aja rumahmu sendiri." ucap Sambo.
" Iya kang.." ucapku lalu memgambil buah 3 biji Anggur. Sengaja aku tak berpuasa karena akan menghadiri acara ulang tahun adiknya Sambo.
Adiknya Sambo datang.
" Pah...Acaranya mau di mulai..." ucap Adiknya Sambo.
Kedua orang tua Sambo berdiri.
" Om tinggal dulu.." ucap ayahnya Sambo.
" Iya pak..." ucapku. Aku gak terbiasa memanggil om atau tante. Biasanya aku memanggil pak lek atau bu lek.
" Gue pikir itu lu..Tapi gue gak yakin. Masalahnya yang di koran adalah tentara china."
" Tapi..."
" Setelah lihat lu jarang kelihatan,gue malah yakin bahwa itu lu,yuk kita ke depan.."ucap Sambo lalu berdiri.
Ku ikuti Sambo hingga di ruang tamu.
Nampak semua teman - teman adiknya Sambo berkumpul.
Setelah acara potong kue selesai,ada 3 gadis menghampiriku.
" Hai...Boleh kenalan gak? Gue Rara" ucap gadis 1.
" Maaf mbak,aku sudah punya istri..." ucapku tak ingin mereka mendekatiku.
" Ciuss..Lu sudah punya bini?" ucap gadis 2.
Aku tersenyum.
" Iya...Aku serius... Maaf ya..." ucapku.
" Gue pengen kenalan aja..Boleh kan..?" ucap gadis 3.
" Lu jangan dekatin Bayu...Entar istrinya marah. Terus lu bisa di tampol oleh pengawalnya.." ucap adiknya sambo datang menghampiriku.
" Pengawal ??" ucap Rara.
" Iya... Lu tahu Melisa kan.."
" Melisa itu adiknya Bayu.." ucap adiknya Sambo.
Ku lihat jam tangan. Ku putuskan untuk pulang,karena aku ada janji dengan Bimo.
" Maaf.. Aku pulang duluan ya.." ucapku.
" Belum selesai acaranya bang.." ucap adiknya Sambo.
" Maaf ya..Aku sudah janji dengan sahabatku..." ucapku.
Flash back Off.
Saat ini,ku dalam perjalanan,ku lihat jam tangan ,sebentar lagi mau magrib,jadi ku putuskan mencari mesjid untuk shalat.
Ku lihat ada kubah mesjid dari kejauhan,akh putuskan ke mesjid itu saja.
Setiba di halaman mesjid, kami keluar dari mobil lalu pergi ke tempat wudhu.
Orang - orang memperhatikan kami,terutama mobil yang ku bawa. Bagaimana tidak melihat ke mobilku. Mobil yang ku pakai adalah edisi terbatas,hanya beberapa unit aja.
Sesampai di tempat wudhu,aku berwudhu.
Selesai wudhu tiba - tiba ponselku berdering nada panggil.
Ku ambil ponselku lalu melihat siapa yang menelpon,rupanya mbah buyutku. Ku terima saja panggilan itu,sebab belum adzan.
" Assalam mu'alaikum mbah..." ucapku.
" Wa'alaikum salam...Kamu di mana Bay? Kata Aisyah,kamu lagi keluar.." suara mbah buyutku.
Ku berjalan kearah pintu mesjid bersama Bimo.
" Iya mbah..Bayu mau kerumah orang tuanya Clara.Ada apa mbah?" ucapku.
" Sebastian dan Ronal sudah di tangkap,mereka dalam perjalanan ke markas pengawal kita." suara mbah buyutku.
" Alhamdulillah..Terima kasih ya Allah" ucapku.
Aku merasa senang sekali,akhirnya Sebastian tertangkap. Pikiranku ploong,sebab sebelumnya pikiranku gak tenang bila Sebastian belum tertangkap. Khawatir akan keselamatan keluargaku bila mereka bepergian tanpaku.
" Itu saja yang mau kakek sampaikan. Assalam mu'alaikum.." suara mbah buyutku.
" Wa'alaikum salam warahmatullah.." ucapku.
Kulihat panggilan berakhir,lalu kubuat mode getar saja hapeku,agar tak terbanggu shalat.
" Sebastian sudah di tangkap Bo.." ucapku.
" Alhamdulillah ... Mau ku buat perkedel si Sebastian itu Bay.." ucap Bimo.
" Yo'i...Gimana nanti malam kita olah raga.." ucapku.
" Besok aja Bay...Setelah kita pulang kuliah.." ucap Bimo.
Terdengar suara bedug di pukul.
Duuk...Duuk...Duuk...Duuuk....Duuk..
" Allahuakbar...Allaaaaaaahuakbar..." suara dari pengeras suara,setelah bedug selesai di pukul. Aku dan Bimo segera masuk ke dalam mesjid.
Selesai shalat,kami lanjut ke rumah ayahnya Clara.
" Ini mobil ,sampe berapa kilometer lajunya Bay?" ucap Bimo.
" Gak tahu aku Bim..." ucapku.
" Kirain tahu...Oh iya,pas kowe dadi tentara ,kowe latihan opo wae?" ucap Bimo.
" Latihan utama itu menembak dan beladiri Bim,Latihannya kadang sendiri kadang sama tim yang lain,selebihnya pengetahuan umum." ucapku.
" Kiro - kiro mereka ada yang mencarimu gak Bay?" ucap Bimo.
" Insya Allah enggak Bim...Kan di sangka aku dah mati di Timur tengah.." ucapku.
" Iya juga seh..." ucap Bimo.
Ku memasuki area perumahan elit. Security perumahan memberhentikan kami. Kubuka kaca mobil.
" Selamat malam pak..Maaf ini bukan jalanan umum." ucap Security.
" Iya malam... Iya saya tahu pak." ucapku.
"Maaf,anda mau kemana pak?" ucap security.
Keamanannya hampir sama dengan perumahan Golden Hills.
" Mau kerumah pak Ferdi pak Blok A nomor 12.Kami sudah janji kok,kalau gak percaya telpon saja." ucapku.
"Oooh...Begitu... Silahkan pak.." ucap Security lalu membuka portal.
Ku jalankan lagi mobilku.
" Terima kasih pak..."ucapku.
" Jika mereka gak menemukan mayatmu gimana Bay..?" ucap Bimo.
" Hemm....Gak mungkin dia bisa menemukannya Bim.."
" Pas kejadian itu berada di wilayah kekuasaannya pasukan pemberontak." ucapku.
" Iyo seh...Tapi,kalau mereka bisa menghampiri bangkai pesawatnya gimana?" ucap Bimo.
" Ku lihat mereka islam,jadi.."
__ADS_1
" Mereka akan menguburkan mayat yang sudah mati.." ucapku.
" Itu rumahnya Bay.." ucap Bimo sambil menunjuk.
Setelah sampai didepan rumah orang tua Clara,ku keluar mobil,Bimo juga ikut keluar.
" Mana bell pintunya ya..." ucapku lirih sambil mencari tombol bell.
Bimo menekan Bell di tembok.
" Jiangkreeek...Sekalinya di situ.."
Tak lama kemudian pintu pagar terbuka lalu muncul seorang pria memakai pakaian security.
" Pak Bimo,ada perlu apa ?" ucap pria itu.
" Iya pak.Kami mau bertemu dengan pak Ferdi, dan saya sudah membuat janji sebelumnya." ucap Bimo.
Pria itu membuka pintu gerbang.
" Di bawa masuk aja pak mobilnya.." ucap pria itu.
" Nah Bim...Bawa masuk.." ucapku sambil memberikan kunci.
" Emmooch..Bay,aku takut,lecet sedikit aja dah jutaan..." ucap Bimo.
" Jangkreeek..." ucapku.
Ku berjalan ke mobil Lamboku,lalu membawa masuk ke halaman rumah .
Kulihat Clara keluar rumah memakai jilbab.Lalu aku keluar dari mobilku. Kemudian berjalan bersama Bimo.
" Assalam mu'alaikum.." ucapku.
" Wa'alaikum salam.." ucap Clara.
Ku tangkupkan kedua tangan ke Clara.
" Bapak ada?" ucapku.
" Ada...Silahkan bang..." ucap Clara.
Aku masuk ke dalam bersama Bimo dan Clara.
Muncul pak Ferdi bersama istrinya.
Aku bersalaman ke ayahnya Clara,lalu menangkupkan tanganku ke istrinya.
" Silahkan duduk," ucap pak Ferdi.
Aku dan Bimo duduk di sofa.
Muncul seorang ibu - ibu membawa nampan berisi minuman lalu di letakkan di meja.
" Maksud kedatangan kami kemari,pertama - tama menjalin silaturahmi.."
" Dan yang kedua adalah,sahabat saya Bimo,ingin meneruskan hubungan dengan putri bapak.." ucapku.
" Ooo...Begitu. .." ucap pak Ferdi.
" Silahkan di minum.." ucap ibunya Clara.
" Iya bu.." ucapku.
" Iya tante..." ucap Bimo.
" Begini pak Bayu."
" Hemm..Saya mau saja Bimo menikah dengan putri saya."
" Akan tetapi,saya ingin bergabung di perusahaan keluarga pak Bayu.Jika tidak,maka saya tidak akan mau merestuinya dan saya akan menjodohkannya pada pemuda lain." ucap pak Ferdi.
Ku tatap mata pak Ferdi,lalu ku gunakan ilmu hipnotisku.
" Hemm..."
Mata pak Ferdi sekikas bewarna hijau. Akhirnya aku bisa mengendalikan ayahnya Clara secara penuh,sesuai apa yang aku inginkan. Hanya memakai pikiranku,maka korban akan menuruti semua apa yang aku inginkan,dan tak bisa menolak.
" Begini pak...Kenapa harus kerja sama dulu?"
" Sedangkan Bimo dan putri bapak saling mencintai.."
" Saya ingin mereka ke jenjang lebih serius. Masalah kerja sama,itu nanti saja. Bagaimana pak.." ucapku.
" Baiklah,saya setuju..." ucap pak Ferdi.
Ku lihat ibunya Clara hendak bicara namun di tahan.
" Bagaimana jika bulan depan mereka menikah?" ucapku.
" Bay...Kok bulan depan seh.." ucap Bimo pelan seperti tak setuju.
Ku menoleh ke Bimo.
" Maeng jarene pengen cepet - cepet rabi.." ( Tadi katanya ingin cepat - cepat)
" Awakmu pengen nikah apa enggak? Kalau enggak yo wes.. Gak usah pacaran sama Clara,putus wae.." ucapku pelan.
" Aku masih kuliah Bay.." ucap Bimo pelan.
" Setelah nikah,kamu bisa lanjut kuliah Bimo,daripada awakmu ngenta ngentu wae,piye..Gelem opo ora?" ucapku pelan.
" Jangan bulan depan Bay..." ucap Bimo pelan.
" Yo wes,minggu depan aja.." ucapku pelan.
" Awakmu pengennya kapan?" ucapku pelan
" Tunggu aku lulus lah Bay,biar aku bisa mendapat pekerjaan..." ucap Bimo pelan.
" Bim.. Selama aku gak ada,apakah kamu ngentuin Clara.?" ucapku pelan.
" Bay..Kok kowe takon ngono seh.." ucap Bimo pelan.
" Jawab aja yang jujur,gak usah di tutup - tutupi,aku gak mau punya sahabat berbohong saat ku tolong.." ucapku pelan
" Pernah Bay.. " ucap Bimo pelan.
" Begini saja,kowe ijab wae di sek.. Acara pernikahan,pas awakmu lulus,ada tapinya neh Bim.."
" Kowe ojo metengi (hamilin) Clara.."
" Jadi kowe bebas ngentuin Clara selama awakmu kuliah.." ucapku pelan.
" Yo wes...Tapi nanti Clara tinggal di mana?" ucap Bimo pelan.
Iya juga ya,Clara tinggal di mana coba,tunggu dulu. Clara sudah pandai mengaji apa belum ya. Aku tanya aja sudah.
Ku melihat ke arah Clara
" Mbak Clara..Apakah mbak sudah bisa mengaji?" ucapku.
" Bisa,tapi saya belum lancar.." ucap Clara.
" Bim..Awakmu tinggal di apartemennya Clara aja,nanti kamu ajarin dia mengaji,mau gak?" ucapku pelan.
" Aku gak iso ngumpul dong Bay" ucap Bimo pelan.
" Bisa...Awakmu tinggal bagi waktu saja.."
" Awakmu bebas keluar masuk perumahan keluargaku.." ucapku pelan.
" Yo wes lah..Aku manut wae Bay.." ucap Bimo.
" Itu baru temanku.." ucap Bayu.
Bimo mendekatkan wajahnya ke telingaku.
" Kenapa pak Ferdi langsung setuju Bay.. Kemarin - kemarin enggak.." ucap Bimo pelan.
" Karena aku yang minta..."ucapku.
Terdengar suara adzan.
" Maaf pak..Boleh kami numpang shalat di rumah bapak?" ucapku.
" Boleh...Clara," ucap pak Ferdi.
" Iya pah.." ucap Clara.
" Antar mereka.." ucap Ferdi.
" Mari bang.." ucap Clara.
Aku berdiri,kemudian Clara dan Bimo.
Clara berjalan,ku ikuti Clara.
" Bang...Terima kasih ya" ucap Clara sambil berjalan.
" Terima kasih soal apa?" ucapku.
" Membujuk papahku.." ucap Clara.
" Sama - sama..." ucapku.
" Sejadahku cuman satu bang?" ucap Clara.
" Tanpa sejadah pun bisa...Aku dan Bimo shalat di lantai saja. Kita shalat di ruang keluarga saja." ucapku.
Setelah aku dan Bimo wudhu ,ku menunggu Clara.
Tak lama kemudian Clara muncul memakai mukena di tangannya memegang sajadah.
" Bim...Awakmu dadi imam." ucapku.
" Kowe wae Bay.." ucap Bimo.
" Awakmu kan bakal dadi bojone Clara to.." ucapku.
" Yo wes.." ucap Bimo.
Selesai shalat isya',ku menoleh ke Clara.
" Mbak masih kerja di tempat yang dulu?" ucapku.
" Masih bang..." ucap Clara sambil melepas mukenanya.
" Selama kalian belum menikah,aku harap.Jangan bertemu...Apakah kalian sanggup?" ucapku.
" Apakah itu harus bang?" ucap Clara.
" Iya... Satu bulan itu gak lama kok,jika mau di cepatin juga gak masalah.Jadi..."
__ADS_1
" Kalian bebas melakukan apapun,mau ciuman ,pelukan bahkan berhubungan badan. " ucapku.
" Kang...Seminggu lagi gimana? Adek gak mau lama - lama.." ucap Clara.
Ku berpikir,seandainya Clara gak kena ajian Semar Mesem gimana ya,pasti di tolak.,tapi jika di bandingkan ilmu hipnotis yang ku miliki,sepertinya lebih hebat. Aku bisa mendapatkan gadis manapun lalu ku genjot. Atau ku bisa menguras harta benda orang kaya raya.
" Engko sek...Aku durung ngebel mbokku dek.." ucap Bimo.
Ku lihat di tembok dekat tv,ada sebuah salib terpajang. Sama persis seperti di rumahnya Daniel dan orang tua Sulis.
" Oh iya mbak Clara.Maaf aku mau nanya. Apakah orang tua mbak ada mengajak mbak ke agama sebelumnya.?" ucapku.
" Ada bang...Jika kang Bimo gak jadi menikahiku,maka aku sangat stress..Karena aku sangat mencintai kang Bimo.."
" Aku gak mau berpisah bang.." ucap Clara.
" Ooo...Begitu.." ucapku.
" Syukurlah..Aku bisa membantu temanku,meskipun dengan cara hipnotis." ucapku dalam hati.
Aku tidak akan melepas hipnotisku ke pak Ferdi selama Bimo belum menikah dengan Clara,jika Bimo sudah menikahi Clara,barulah aku akan melepasnya .
" Ayo ke depan..." ucapku.
Aku dan Bimo berjalan menuju ruang tamu,sedangkan Clara kembali ke kamarnya Setelah sampai,kamipun duduk.
" Oh iya pak Bayu,kata nak Bimo...Pak Bayu lama gak ada,pak Bayu kemana saja..?" ucap ibunya Clara.
" Saya ada keperluan bu..." ucapku.
Tak lama kemudian muncul Clara.
" Maaf pak..Ibu..Kami pamit undur diri dulu.." ucapku.
" Kenapa buru - buru bang.." ucap Clara.
" Takut kemalaman dan istriku menunggu.." ucapku.
Aku berdiri lalu bersalaman ke pak Ferdi ,ku cium punggung tangannya. Sebagai bentuk rasa hormatku kepada orang tua.
Lalu ku tangkupkan kedua telapak tangan ke ibunya Clara lalu ke Clara.
Setelah itu ku berjalan ke luar. Rupanya kedua orang tua Clara dan juga Clara mengantar hingga ke depan teras.
" Assaalam mu'alaikum..." ucapku.
" Wa'alaikum salam.." ucap Clara.
Ku berjalan ke mobil lalu masuk,kemudian Bimo masuk.
" Bereskan..." ucapku.
" Iyo...Suwun yo Bay...Kowe koncoku seng is the best.." ucap Bimo.
" Iso bahasa ingggris to sak iki?" ucapku sambil menyalakan mobil.
" Bisa...Mung gak akeh.." Bimo.
Ku jalankan mobilku menuju rumah.
Akhirnya aku selesai membantu Bimo,tinggal Bimo yang melanjutkannya. Aku akan mengunjungi makam Putri,sebab aku belum pernah kesana,karena aku malu. Malu belum menangkap pelaku. Kini,pelakunya sudah tertangkap semua. Aku merasa lega,mengurangi rasa khawatirku akan keselamatan keluargaku. Namun hanya satu yang aku khawatirkan. Yakni Xiang dan juga militer China. Aku takut mereka melihatku saat berada di luar tak memakai masker. Pasti mereka akan terkejut ketika melihatku. Mengapa aku masih hidup.
Ku lihat ke samping,nampak Bimo sedang memikirkan sesuatu.
" Bim.." ucapkualu ku lihat ke depan.
" Opo Bay.." ucap Bimo.
" Kenapa kamu murung? Kan bapaknya Clara sudah clear.." ucapku.
" Ngene loh Bay.."
" Aku kan pakai ajian Semar Mesem ke Clara..."
" Kata kang Bejo,gak selamanya ajian itu melekat ke target. Suatu saat pasti luntur.." ucap Bimo.
" Ooo...Begitu.."
" Dalam membina rumah tangga,harus saling sayang,mencintai dan perhatian.."
" Kadang kita harus mengalah.."
" Dan kadang masalah datang tanpa kita harapkan..Tapi kamu harus menyelesaikan masalh itu dengan kepala dingin..Jangan sampai kamu selingkuh.." ucapku.
" Aku gak wani selingkuh Bay.." ucap Bimo.
" Bagus itu...Pertahankan.."
" Ajari dia ilmu agama yang kamu ketahui,bila mengalami masalah yang gak bisa kamu atasi,kamu jangan sungkan untuk minta tolong.." ucapku.
" Iyo Bay.." ucap Bimo.
Tiba - tiba hapeku bergetar,ku ambil hapeku dan kulihat di layar. yang menelpon adalah Diana.
" Assalam mu'alaikum sayang.." ucapku.
" Wa'alaikum salam sayang...Apakah sayang masih lama di rumah pak Ferdi?" suara Diana.
" Enggak sayang..Ini aku lagi di jalan menuju rumah..Ada apa sayang?" ucapku.
" Alu pikir masih di sana,apakah sayang hipnotis pak Ferdi?" suara Diana.
" He eh... Kalau gak gitu ya ribet yank.." ucapku.
" Ya sudah kalau gitu..Hati - hati ya sayang..." suara Diana.
" Iya sayang..Assalam mua'laikum..." ucapku.
" Wa'alaikum salam..." suara Diana.
" Besok atau malam ini kita hajar komplotannya Sebastian Bay?" ucap Bimo.
" Hem....Besok aja Bim...." ucapku.
" Tunggu kita ya Bay..." ucap Bimo.
" Pastinya...Aku mau mengunjungi kuburan Putri.." ucapku.
Setelah sampai di rumah.
" Assalam mua'laikum..." ucapku saat melewati pintu.
" Wa'alaikum salam..." suara Melisa.
Ku berjalan memasuki rumah,lalu melihat Melisa menghampiriku. Melisa tak memakai jilbab ketika di dalam rumah,hanya memakai rok panjang dan kaos lengan panjang.
" Tumben belum tidur.." ucapku.Sebab sudah jam 10 malam.
Melisa mencium punggung tanganku.
" Nungguin kakak.." ucap Melisa.
" Yang lain mana?" ucapku.
" Sudah tidur kak..."
" Hemm...Kak..." ucap Melisa.
" Iya..." ucapku.
" Malam ini kak Bayu tidur sama kak Ayu ya.." ucap Melisa.
" Iya...Kenapa Mel.." ucapku.
" Hemm...Mel pengen kak..Kita maen yuk..30 menit aja gakpapa..Ya kak ya.." ucap Melisa.
" Ayooo..." ucapku menuruti Melisa.
" Gendong.." ucap Melisa manja.
Ku jongkok,lalu Melisa naik ke punggungku,kemudian ke berdiri dan berjalan ke kamar Melisa.
Sesampai di dalam kamar,ku duduk di kasur sambil memeluk Melisa dari belakang. Tanganku memegang gunung kembarnya,dan satunya masuk ke dalam rok. Rupanya Melisa tak memakai pengaman.
" Kak..." ucap Melisa.
" Iya sayang." ucapku sambil memainkan tanganku.
" Kita tinggal di sini aja gimana kak? Kan pelaku pembunuh Putri sudah di tangkap.
" Jangan sayang...Jika kita tinggal di sini,sangat rawan. Jika anak buah Xiang melihatku bagaimana? Atau gak tentara China yang menyamar.." ucapku.
Ku rasakan lubang Melisa basah akibat ku masukin jariku.
Melisa melepas kaosnya.
" Ayoo kak..Masukin.." ucap Melisa.
Ku lepas pakaianku,begitu juga Melisa.
Melisa memegang burungku lalu memasukkan dalam mulutnya. Meskipun aku tak merasakan panas atau dingin,tapi jika melakukan hubungan badan,entah kenapa semua itu menjadi normal,aku dapat merasakan hangatnya tubuh lawan jenisku,setelah puas,Melisa berebah dan membuka lebar kakinya.
Ku baca do'a dalam hati sebelum memasukkan rudalku.
Blessshh...burungku masuk. Lalu ku gerakkan perlahan.
" Aaah...Enak kak...Genjot terus kak..." ucap Melisa.
Ku menunduk lalu menyusu sambil menggerakkan pinggulku.
Tak terasa satu jam lebih ku menggenjot Melisa dengan berbagai cara,hingga tak terasa aku mau keluar. Ku percepat saja gerakanku. Melisa berulang kali keluar.
" Aaah...Aaah...Terus kak...Aaah..enak banget kon***mu kak...Ooouh..." racau Melisa.
Hingga akhirnya ku tekan hingga amblas semuanya.
Crooot....Croooot....Crooot....
Rasanya tak bisa ku lukiskan dengan kata - kata betapa nikmatnya.
" Enak banget kak.." ucap Melisa sambil terengah - engah. Badannya keringatan. Meskipun di dalam kamar memakai AC,begitu juga badanku juga berkeringat.
" Iya sayang..." ucapku.
Ku cabut burungku,lalu Melisa bangun dan melahap burungku untuk membersihkannya.
Ku biarkan saja apa yang di lakukan. Setelah selesai.
" Kak..Kalau mau keluar,kasih tahu Mel ya kak.." ucap Melisa.
" Kenapa emangnya Mel..?" ucapku.
" Mel mau nelan cairannya kak.." ucap Melisa.
__ADS_1
" Iya sayang...." ucapku.
Ku turun dari tempat tidir menuju kamar mandi.