
Senin.
Aku sudah mengucapkan ijab kabul saat hari sabtu kemarin. Sesuai janjiku,aku menikahi Melisa. Gadis yang aku anggap sebagai adikku sendiri,kini menjadi istriku. Entah apa yang aku lakukan. Ku merusak tatanan panggilan Dalam keluarga besarku,seharusnya ku panggil kakek,sekarang ku panggil ayah,lalu paman sekarang menjadi ayah,karena aku menikahi putrinya yaitu Diana dan Melisa. Padahal aku sendiri tak menginginkan hal itu terjadi. Melisa di bawa ke dokter kandungan untuk memastikan apakah Melisa benar - benar hamil olehku atau pria lain sebelum ijab kabul,saat di periksa memang benar bahwa Melisa hamil anakku di lihat dari hasil USG.
Di saat acara pernikahan itu,aku menyampaikan kepada keluarga besarku ku minta maaf tidak bisa menjadi pemimpin keluarga Han,karena alasan keamanan diriku. Alhamdulillah mereka menyetujui permintaanku,sebab mereka juga tahu bahwa setelah kejadian itu,diriku tak bisa bebas seperti dahulu.
Sementara Keluarga Aisyah kembali ke Malaysa dan keluarga Sulis telah kembali ke Pacitan setelah acara pernikahan itu selesai.
Saat ini aku mengendarai sepeda motor sport,yaitu Harley Davidson. Motor yang tak pernah aku sentuh sejak ku tinggal di rumah mewah itu. Kali ini aku iseng mencobanya. Tam lupa kacamata dan masker untuk menutupi wajahku.
Dan ternyata begitu sangat menyenangkan. Semua orang melihatku mengendarai Harley Davidson dengan plat B 4 YU.
Ku pacu motor besar itu ke salah satu rumah yang menjadi target selanjutnya,sebelum aku kembali ke Sragen,aku harus menemui semua orang yang pernah membuat masalah denganku.
Sudah 23 orang aku datangi,kini orang ke 24. Yang bernama Alfonso.
Ku hentikan motor Harley Davidson di depan rumah yang target. Lalu berjalan ke rumah itu.
Setelah di depan rumah.
Tok...Tok.. Tok....
" Permisi..."
Tok...Tok...Tok...
" Assalam mu'alaikum.." ucapku.
Rumah yang aku datangi adalah rumah kontrakan yang saljng berhimpitan,dalam 1 atap terdapat 4 rumah.
Seorang ibu muda sambil menggendong anaknya keluar,ia menghampiriku,karena rumahnya di samping pintu yang aku ketuk.
" Cari siapa bang..?" ucap ibu muda itu.
" Pak Alfonso bu.." ucapku.
" Sudah pindah dia bang.." ucap ibu muda itu.
" Pindah kemana ya bu?" ucapku.
" Gue gak tahu..." ucap ibu itu.
" Oke..Suwun bu...Assalam mu'alaikum.." ucapku.
" Wa'alaikum salam.." ucap ibu itu.
Ku berjalan ke sepeda motor,lalu ku naik dan memakai helm.
" Sial...Padahal mau aku tanyain..Malah dah pindah.." gumamku.
Ku stater motor ,kemudian menjalankan motor itu ke rumah target selanjutnya.
Tak terasa sudah masuk waktu Dzuhur, sudah 10 rumah yang ku hampiri,dari 10 rumah,hanya 3 orang saja yang dapat aku temui,karena sisanya mereka berada di luar rumah.
Ku lihat sebuah Mesjid,ku belokkan motorku ke mesjid itu.
Terdengar suara Azdan berkumandang.
Ku lepas helm sambil menurunkan standar motor,lalu ku berjalan ke mesjid.
Orang - orang melihatku berjalan,bagaimana tidak melihatku. Aku naik sepeda motor Harley Davidson tak memakai sepatu seperti orang - orang kaya pada umumnya,tapi sandal jepit merk Swallow. Baju kaos partai seperti biasa ku pakai saat di Jogja,celana panjang kain,bukan levis/Jin's.
Bagiku seh itu gak penting,yang penting aku pakai alas kaki,biar gak kotor.
Aku gak bisa tenang bila pelaku pembunuh Putri belum tertangkap.
Setelah selesai shalat,tak lupa aku berdo'a memohon agar aku bisa menemukan pelaku pembunuh Putri.
1 jam kemudian.
Ku berhenti di salah satu taman di ibu kota.
Lumayan pusing mencari alamat target,di tambah bila target tak ada di rumah atau sudah pindah.
Hari ini aku sengaja tak puasa. Ku teguk teh Kotak yang ku bawa dari rumah.Selesai minum kututup lagi maskerku,ku perhatikan orang - orang di sekeliling.
Seorang pedagang pria tua menjajakan jajanan kembang gula.
" Pak..."
Pria tua itu menoleh ke arahku,ku lambaikan tanganku agar pria tua itu datang padaku.
" Sini.."
Pria tua itu datang menghampiriku.
" Beli pak.." ucapku.
" Beli berapa? " ucap pria tua.
" 5 ribu aja pak.." ucapku.
Ku ambil dompet,lalu ku ambil 50 ribu.
Pria tua itu memberikan kembang gula kepadaku,ku berikan uang 50 ribu padanya.
" Kembaliannya ambil saja pak" ucapku.
" Terima kasih " ucap pria tua itu.
Ku makan kue kembang gula yang bentuknya seperti kapas. Ketika memakannya,aku teringat saat pergi bersama Putri di pasar waktu belum pacaran,ku bonceng dia naik sepeda menuju pasar,setiba di pasar. Putri membeli perlengkapan kue. Setelah itu ku lihat kembang gula berbentuk kapas,ku tawari Putri. Putri mau,lalu ku beli 1 bungkus,dan kita makan berdua.
Lagi asik - asiknya mengingat Putri,Tiba - tiba ponselku berdering. Ku ambil ponselku di dalam kantong celana.
Nampak nama Sulis menelpon. Ku tekan tombol terima san menempelkan di telingaku.
" Halloo..Assalam mu'alaikum bu hajjah " ucapku.
" Wa'alaikum salam...
" Mas jam berapa pulang?" suara Sulis.
" Hem..Sore sebelum magrib cantik." ucapku.
" Bisa minta tolong gak mas" suara Sulis.
" Minta tolong apa? " ucapku.
" Belikan pembalut,sisa 2 punyaku mas.." suara Sulis.
" Yang pakai sayap apa enggak?" ucapku.
" Gak usah mas.." suara Sulis.
" Okee...Apa lagi yang mau di beli?" ucapku.
" Gak ada mas. Cepatan ya mas...Soalnya sisa 2" suara Sulis.
" Siap bu hajjah.." ucapku.
" Assalam mu'alaikum mas ganteng.." suara Sulis.
" Wa'alaikum salam cantik.." ucapku lalu mematikan panggilan dan menaruh ponsel ke dalam kantong celana.
Ku berjalan ke arah sepeda motor yang ku parkir.
Nampak 3 orang pria remaja sedang berada di motor Harley Davidsonku,satu remaja naik,lalu temannya memfoto.
" Kerena ya motornya" ucapku.
" Jelas..Ne motor mahal..Pasti yang punya orang kaya.." ucap remaja 1.
" Permisi ya mas - mas yang ganteng,motornya mau saya pakai.." ucapku.
Mereka menatapku.
" Emang ne motor punya lu..." ucap remaja 2 hang naik sepeda motor Harley Davidsonku.
" Iya...Permisi ya.." ucapku
" Gue gak percaya lu yang punya ne motor..." ucap remaja 2.
Ku keluarkan kunci motor lalu memasukkan ke lubang kunci.
" Eh...!!!! Remaja 2 kaget lalu turun dari sepeda motorku.
" Kok lu bisa punya motor ini,dari penampilan aja gak menyakinkan bahwa lu yang punya motor ini " ucap remaja 1.
Ku naiki sepeda motorku.
" Kalau penampilanku keren dan gaul,banyak cewek yang naksir. Makanya aku berpakaian seperti ini.." ucapku sambil memakai helm.
" Hebat lu bang...Biasanya orang - orang yang naik moge itu penampilan keren abis,biar di lirik banyak cewek..." ucap remaja 3.
" Bagiku,penampilan itu nomor belakangan jika ku berjalan sendirian,jika berdua dengan orang yang aku sayang,barulah ku berpenampilan keren.." ucapku sambil menyalakan mesin.
" Berapa harga motor ini bang?" ucap remaja 1.
" Murah aja,bagi yang punya duit,assalam mu'alaikum.." ucapku.
" Wa'alaikum salam..." ucap ke dua pria remaja.
Ku tarik gas meninggalkan taman tersebut.
30 menit kemudian,
Ku berada dalam toko,ku beli pesanan Sulis,tak lupa pampers untuk Bintang dan Imam. Setelah selesai membeli,ku putuskan pulang kerumah. Ku lanjutkan pencarian besok malam saja.
Sesampai di rumah.Ku berikan pembalut pada Sulis.
" Yang lainnya kemana sayang?" ucapku.
" Terakhir ku lihat di Gazebo ada Aisyah,lalu Melisa di kamar Diana,Ayu ke rumah ayahnya.." ucap Sulis.
Istriku yang pergi menemui orang tuanya tak bilang padaku tak masalah,asal masih berada di perumahan Golden Hills,karena sebelumnya aku membebaskan mereka. Kecuali berkunjung kerumah lainnya,harus izin dulu ke diriku.
" Ini tolong kasih ke Diana ya Lis,aku mau menemui Aisyah.." ucapku.
" Iya mas.." ucap Sulis.
Ku berjalan menuju Gazebo.
Namun saat anak tangga terakhir kulewati,ku lihat Aisyah berjalan ke arahku. Aisyah tersenyum. Namun pipinya telihat basah.
" Sepertinya dia habis menangis.." ucapku dalam hati.
" Ya amar..Apakah kamu habis bersedih.?" ucapmu.
" Tak... ya habib albi " ucap Aisyah.
Ku pegang ke dua tangan Aisyah.
" Kini kamu adalah istriku,jika ada masalah. Cerita saja,jangan di pendam sendirian.." ucapku.
" Nanti malam saja saya nak berkisah.." ucap Aisyah.
" Baiklah.." ucapku.
__ADS_1
" Kak..." suara Melisa.
Ku lihat kebelakang,nampak Melisa menuruni anak tangga,Mel saat ini memakai busana tertutup, Seperti Aisyah.
" Ada apa Mel ?" ucapku.
" Nanti kak Bayu mau makan apa? Biar Mel yang masak.." ucap Melisa.
" Hemm... Sembarang aja,asal makanan itu sehat dan bergizi.."
" Nahh.. Ya amar,bantuin Mel masak ya.." ucapku. Agar Aisyah dan Melisa akrab. Sebab ku lihat,Aisyah dan Melisa tidak seberapa akrab.
" Baiklah.." ucap Aisyah.
***
Selesai shalat magrib.
Aku mengajari Melisa mengaji. Tak hanya Melisa saja,ada Aisyah,Diana dan Ayu.
Sementara Bintang dan Imam di jaga oleh Sulis.
Untuk kakek buhutku,ibuku sendiri yang mengajarinya,karena aku sibuk mengajari para istriku.
****
Setelah shalat isya'.
Ku berada dalam kamar Aisyah.
Aisyah tak memakai jilbab,hanya memakai pakaian tidurnya.
" Nah...Sekarang ceritalah.." ucapku.
" Sebenarnye saye ingin sekali kita tinggal di Malaysa. Tapi sekarang saya telah menjadi istrimu." ucap Aisyah.
Ku pegang pundaknya.
" Ya sabar..."
" Jika ingin ke Malaysa,aku gak bisa ke sana.." ucapku.
"Maafkan saye,bila tahu Melisa itu adikmu. Maka saye akan melarangnya.." ucap Aisyah.
" Kamu gak salah ya amar,ini adalah salah aku.." ucapku.
" Mereka menyalahkan saye atas peristiwa lepas tuh di Bali.." ucap Aisyah.
" Sudah...Ini semua salahku,jangan menyalahkan dirimu ya amar.." ucapku.
Ku peluk Aisyah agar ia tenang,rupanya Diana dan Ayu menyalahkan Aisyah saat aku menggauli Melisa. Aku akan bicara kepada Diana dan Ayu,agar jangan menyalahkan Aisyah.
" Apakah Xiang masih mengawasi kita?" ucap Aisyah.
Ku lepas pelukannku
" Entahlah...Aku tak tahu," ucapku.
" Apakah besok habib albi akan keluar lagi?" ucap Aisyah.
" Iya...Aku akan menemui anak buahku yang ada di pasar.." ucapku.
" Anak buah di pasar? Habib albi preman?" ucap Aisyah.
" Aku kepala preman,.."
" Meskipun aku kepala preman,aku menyuruh anak buahku untuk shalat 5 waktu,bila tidak. Aku akan menghajarnya" ucapku.
" Apakah ada yang tak pernah shalat?" ucap Aisyah.
" Ada,dan aku datangi dia,ku pukul di depan anak buahku. Buat pelajaran bagi yang lain,agar tak meninggalkan shalat jika menjadi anak buahku" ucapku.
Ku rebahkan Aisyah ,lalu ku cium bibirnya,tanganku membuka kancing bajunya.
Hingga akhirnya,aku ********* tubuh Aisyah yang sekarang sudah sah menjadi istriku.
Berbagai macam gaya aku lakukan.
Tak terasa aku mau memuntahkan lahar panasku. Ku percepat menggerakkan pinggulku.
Saat keluar,ku tekan ke dalam.
Crooot...Crooot....Crooot...
Rasanya sungguh nikmat sekali saat memuntahkan cairan kentalku,terasa batangku di pijat - pijat.
Ku cabut batangku,nampak lelehan warna putih kental merembes.
" Malam ini,habib albi tidur dengan siapa?" ucap Aisyah.
" Diana..."
Ku berjalan ke kamar mandi untuk mencuci batangku,setelah itu memakai pakaianku.
Ku cium kening Aisyah.
Cuuup....
" Aku tinggal dulu ya..." ucapku lalu berjalana ke arah kamar Diana.
Jika aku tidur bersama Aisyah,takutnya Diana akan marah padaku,karena malam ini jadwal aku tidur bersamanya dan aku akan bicara masalah Aisyah,aku tak ingin istri - istriku ada yang tidak akur.
Setelah sampai di kamar Diana,ku lihat dia sudah tidur. Kuputuskan besok saja bicara padanya. Ku naik perlahan le tempat tidur,agar Diana tak terbangun. Baru saja hendak memejamkan mata.
" Abi tadi habis dari kamar Aisyah?" ucap Diana.
" Iya mi.."
" Mi...Aku ingin keluarga kita jangan ada pertengkaran,atau apalah yang membuat keluarga ini pecah.." ucapku.
" Apakah dia cerita ke sayang..?" ucap Diana.
" Iya,sebab ku lihat tadi siang Aisyah seperti habis menangis."
" Tolong ya mi...Ini semua salahku.. Jika aku tak lupa ingatan,aku gak bakalan melakukan itu ke Melisa.." ucapku.
" Tapi kan dia bisa saja mencegah abi untuk melakukan itu pada Mel..." ucap Diana.
Ku turun dari tempat tidur lalu berjalan sisi tempat tidur,tepat di mana Diana berada.
Setelah sampai,ku duduk di samping Diana lalh mengusap rambutnya. Rupanya Diana tak terima bila Melisa hamil olehku.
" Sayang..Ku mohon,ini semua salahku,dia tak tahu apa - apa. Jangan bertengkar ya sayang.." ucapku.
" Aku akan mengampuninya bila dia di beri hukuman,5 tahun jangan hamil,bila tidak.."
" Aku bersama Ayu dan Sulis akan memusuhi dia selamanya" ucap Diana.
" Asem...Tadi aku habis ngecrot eeh..Piye iki" ucapku dalam hati.
" 5 Tahun kelamaan sayang...Kurangi lagi dong.." ucapku menawar,agar Aisyah bisa membaur bersama yang lain.
" Tidak..Ini sudah keputusan kami bertiga, Jika abi ingin memgurangi,maka kita mundur. Aku tak sudi bersama seorang wanita yang membiarkan abi menggauli adiknya.." ucap Diana.
Berat - berat,jika mereka bertiga yang memutuskan,aku gak bisa berbuat apa - apa,ku pikir hanya Diana saja,gak tahunya Ayu dan Sulis juga ikut.
" Baiklah..." ucapku.
Aku gak mau memperkeruh suasana,di tambah Diana masih marah pada Aisyah. Jadi kupustuskan menuruti saja kemauan Diana.
" Besok,aku akan menyuruh dia pasang KB, dokter Shanti akan ku panggil kemari.." ucap Diana.
" Iya..."ucapku.
" Apakah sayang marah jika kita bertindak seperti itu pada Aisyah?" ucap Diana.
" Gimana ya.."
" Marah seh enggak..Cumaan.."
" Apa gak terlalu berlebihan hukumannya?" ucapku.
" Tidak..Bahkan sebelumny aku usul 10 tahun. Ayu 15 tahun.."
" Lalu Sulis memberi arahan dan anjuran,jadi berkurang 5 tahun,dan kami setuju.." ucap Diana.
***
Pagi hari.
Kali ini ku pakai sepeda motor Supra menuju pasar,untuk meminta bantuan. Seperti biasa,ku pakai baju kaos partai pohon Jengkol,tas di punggung berisi pakaian ganti dan juga berkas.
Sesampai di pasar,nampak anak buahku sibuk dengan pekerjaannya. Ku hampiri wakilku yang mengawasi anak buahku bernama Didin yang duduk di pos.
" Assalam mu'alaikum..." ucapku.
" Wa' alaikum salam...Boss..!!!??" ucap Didin.
" He eh...Piye kabare kang" ucapku sambil menyodorkan tangan.
" Apiik bos...Bos kemana aja" ucap Didin menyambut tanganku.
" Maaf baru bisa berkunjung. Ada sesuatu yang tak bisa aku ceritakan pada kalian.."
Aku duduk di pos, kulihat anak buahku yang mengatur parkir menghampiriku,ku sodorkan tanganku untuk bersalaman.
Setelah bersalaman,aku keluarkan berkas yang aku bawa.
" Aku punya tugas untuk kalian.." ucapku.
" Tugas apa itu bos..?" ucap Didin.
Ku berikan berkas itu pada Didin.
" Yang aku silang,sudah aku datangi,sisanya belum,tugasnya cukup sederhana,kalian awasi orang itu,lalu aku akan mendatangi orang tersebut,sebab kemarin aku datangi orangnya gak ada di rumah. Kalian cukup mengawasi dari kejauhan..Apa sampeyan sanggup?" ucapku.
Satu persatu anak buahku berdatangan,karena aku baru kali ini muncul sejak pergi ke China.
" Sanggup bos,jangankan ngawasi,mukulin dia saja gue sanggup bos.." ucap Didin.
Ku keluarkan dompetku,lalu ku beri uang pada Didin.
" Ini uang operasinal kalian.." ucapku.
" Gak usah bos.." ucap Didin.
" Yakin gak usah?" ucapku.
" Yakin sekali bos.." ucap Didin.
" Ya udah...Catat nomor hapeku.."
Didin mengeluarkan ponselnya.
" 0813********"
" Kalian bergerak hari ini yang berada di luar kota,gak usah di datangi." ucapku.
__ADS_1
Ponselku tiba - tiba berdering nada panggil.
" Siap bos..."
" Itu nomorku bos"
"Oh iya.. Mereka ini siapa seh bos?"ucap Didin.
" Mereka yang pernah bermasalah denganku,awasi saja dari kejauhan."
" Aku curiga salah satu dari mereka adalah pelaku yang membunuh istriku"ucapku.
" Istri bos yang bernama Putri?" ucap Didin.
" Iya...Tolong ya kang..." ucapku.
" Oke bos tenang aja.,kita pasti bantu.." ucap Didin.
" Kalau berhasil menemukan pelaku,aku akan membuat perhitungan dengan mereka.."
" Ku potong kedua tangan dan kaki,juga lidah mereka.. Agar dia tahu dengan siapa dia berhadapan."
" Di situ ada keterangannya,malam ini akan aku datangi "
" Aku pergi dulu kang...Assalam mu'alaikum.." ucapku.
" Wa'alaikum salam..." ucap Didin.
Ku berjalan meninggalkan pos tersebut menuju mesjid Al Hijrah. Mesjid yang ku bangun untuk membantu orang - orang agar tidak kejauhan saat shalat Jum'at.
***
Mesjid Al Hijrah.
Ku parkirkan motor Supraku,lalu berjalan ke rumah tempat di mana marbot mesjid tinggal. Aku ingin tahu pemasukan dan pengeluaran Mesjid,sebab namaku menjadi ketua pembina Mesjid. Meskipun aku jarang kemesjid itu,mereka masih menganggapku sebagai ketua pembina.
Kulihat ada seorang pemuda sedang membersihkan tempat wudhu. Ku hampiri pemuda itu.
" Assalam mu'alaikum.." ucapku.
Pemuda itu menoleh ke arahku.
" Wa'alaikum salam.."ucap pemuda itu.
Ku sodorkan tanganku.
" Bayu,Muhammad Bayu Samudra" ucapku.
" Ismail,Ismail Marzuki.."
" Maaf...Bapak pembina mesjid ini apa bukan? Soalnya nama bapak sama dengan pembina mesjid ini.." ucap Ismail.
Ku lepas maskerku.
"Benar...Aku ingin melihat buku kas mesjid ini" ucapku.
Ismail meletakkan alat pembersihnya.
" Mari pak ikut saya..." ucap Ismail.
Ku ikuti Ismail berjalan.
" Berapa orang yang menjadi marbot di sini?" ucapku.
" 3 orang pak..." ucap Ismail.
" Siapa bendaharanya?" ucapku.
" Pak Zhang pak.." ucap Ismail.
" Pak Zhang? Zhang siapa?" ucapku penasaran. Sebab nama depanya mirip mbah buyutku atau pamanku.
" Zhang Xien Lie pak.." ucap Ismail.
" Diampuut.. Ternyata paman Xien..." ucapku dalam hati.
Tapi tunggu dulu,kok bisa dia jadi bendara ya.
" Apakah dia seorang muslim?" ucapku. Sebab aku gak tahu siapa saja yang masuk islam dalam keluargaku selesai membantai musuh keluarga besarku di China.
" Benar pak..."
Ku tiba di sebuah ruangan,lalu Ismail menunjuk sebuah buku yang tergeletak di meja.
" Ini bukunya pak.." ucap Ismail.
Ku ambil buku itu,lalu duduk di kursi.
Nampak pemasukan dan pengeluaran mesjid yang jumlah pemasukan lebih dari jutaan.
Jum'at pertama terkumpul tujuh juta lebih. Lalu ku lihat pengeluaran juga banyak juga,terutama untuk membayar air,dan Listrik. Lalu di susul membayar marbot dan keamanan.
Ku lihat saldo kas mesjid juga lumayan besar,jumlahnya tiga ratus lima puluh enam juta empat ratus lima ribu dua ratus rupiah.
Ku ambil ponsel Nokiaku,lalu mencari kontak Paman Xien. Semoga saja gak ganti nomornya,sebab sudah lama gak aku telpon.
Tuut....Tuuut ..
Syukurlah masih aktif.
Tuuut...Tuuut...
" Hallloo..." suara paman Xien.
" Assalam mu'alaikum paman Xien.." ucapku.
" Wa'alaikum salam...Bayu.." suara paman Xien.
" Iya paman..Ne Bayu..Maaf paman jika Bayu ganggu paman.." ucapku.
" Enggak kok,santai aja. Ada apa?" suara paman Xien.
" Ini Bayu sedang di mesjid Al Hijrah.."
" Bayu lihat nama paman jadi bendahara.." ucapku.
" Iya.. Gue jadi bendahara di mesjid lu.." suara paman Xien.
Ku jauhkan ponselku, sambil melihat Ismail yang masih di dalam ruangan.
" Tolong keluar,saya ingin sendiri.."
Ismail keluar dari ruangan,lalu ku tempelkan kembali ponselku.
" Halo paman.." ucapku.
" Ya..Tumben lu kemesjid Al Hijrah." suara paman Xien.
" Diamput..."
" Paman aja yang gak tahu kalau Bayu sering ke sini.."
" Begini paman Xien"
" Apakah mbah buyut yang meminta paman jadi bendahara?" ucapku.
" Yo'i bro...Kakek yang minta,lagian paman gak seberapa sibuk. Jadi paman terima saja.." suara paman Xien.
Sudah ku duga,bahwa kakek buyut turut andil dalam mesjid ini.
" Siapa saja dalam keluarga kita yang masuk islam paman?" ucapku.
" Hem.. Gue,kakek buyut,adik Hasan.." ucap paman Xien.
" Hasan ? Siapa Hasan itu paman?" ucapku. Sebab yang ku tahu gak ada yang bernama Hasan.
" Hongli Lie ,dia ganti nama menjadi Hasan setelah masuk islam." suara paman Xien.
" Owalah... Adik Hongli.." ucapku.
" Mangkanya,sering - sering berkunjung kerumah. Jangan ngent** terus.." suara paman Xien.
" Jancook...."
" Bayu belum sempat paman,ini masih ada urusan. Kalau dah selesai urusan,barulah Bayu berkunjung.." ucapku.
" Oke...Sebelum kamu pergi ke Sragen,berkunjung ke rumah paman.." suara paman Xien.
" Siap paman.." ucapku.
" Emang lu ada masalah apa? Siapa tahu gue bisa bantu lu" suara paman Xien.
" Bayu menghampiri orang - orang yang duku bermasalah dengan Bayu paman.." ucapku.
" Gue pikir,lu mau nambah istri lagi.." suara paman Xien.
" Diampuut..." ucapku.
" Tambah lagi Bay...Ne adik gue..."suara paman Xien.
" Enggak paman...Terima kasih.." ucapku.
" Ha...Ha...Ha...Ha...Ha...."
" Oh iya. Bagaiamana kita bunuh istrimu itu" suara paman Xien.
" Maksud paman?" ucapku.
" Itu si Xiang.." suara paman Xien.
" Biarkan aja dia,kalau Bayu ks sana,nanti Bayu menjadi DPO militer China,bisa berabe paman." ucapku.
" Iya juga sih..Dah dulu ya broo...Gue mau rapat.." suara paman Xien.
" Iya paman. Assalam mu'alaikum.." ucapku.
" Wa'laikum salam warahmatullah" suara paman Xien.
Ku matikan panggilan,lalu ku kantongi ponselku.
Huuuuftt.
Ku merasa senang,sebagian keluargaku memeluk agama islam. Padahal aku gak minta.
Ku letakkan buku keuangan mesjid di meja,lalu aku keluar menuju motorku berada.
Ku berencana membeli sesuatu apa yang di sukai oleh istri - istriku,contohnya bunga mawar putih untuk Ayu,lalu buku Novel,Mawar merah untuk Aisyah. Sebelum pak Ihsan dan ibunya Sulis kembali,aku menanyakan apa saja kesukaan Aisyah dan Sulis.
Meskipun mereka telah menjadi istriku,aku tidak serta merta membiarkan mereka dalam artian tidak perhatian. Jadi ku usahakan aku menjadi suami yang romatis. Bila orang lain yang menganggu keluargaku hingga menghilangkan nyawa,maka aku akan menjadi Monster,siap mencabik - cabik dan menyiksa,juga gak segan - segan membunuh. Kecuali keluargaku yang salah,aku akan menasehati leluargaku dan meminta maaf.
Ku pacu sepeda motor Supra hingga batok kepalanya bergetar. Siapkan dompet kalian,karena aku akan datang menagih iuran. Eh salah. Pinjam seratus,nanti aku kembalikan jika ingat.
BEESAMBUNG.
@@@@@@
Maaf Update tipis dulu..
__ADS_1