
Pagi hari yang cerah di desa Kamayan. Suara kicau burung saling bersahutan.
Hana telah siap dengan pakaian yang telah di persiapkan. Di lehernya ada stetoskop. Ia telah selesai membaca catatan Malik,tentang penyakit yang biasa di alami warga desa. Ia mengambil hapenya lalu memgirim pesan kepada Bayu. Setelah itu mengantongi hapenya.
Rambut warna putih ia semir menjadi warna kuning seperti orang barat.
Hana berjalan keluar kamar menuju rumah warga.
Jalan di desa Kamayan belum tersentuh pemerintah daerah,jalannya masih berupa tanah di campur bata merah hasil gotong royong warga setempat,ada pula yang masih tanah saja.
"Viana...Sarapan dulu..." ucap Cempaka saat melihat Hana akan pergi.
Ada seorang pemuda berusia 24 tahun duduk di kursi sambil makan. Pemuda itu bernama Artaya.Dia putra Datuk Putra Kumbang.
Artaya penasaran dengan wajah Viana,karena Viana memakai cadar. Jika Viana makan,Artaya berharap Viana membuka cadarnya.
Mau tak mau Hana mengikuti ucapan Cempaka.Ia mengambil posisi saling berhadapan dengan Artaya.
Hana mengambil piring di meja lalu nasi,sayur dan lauk.
Saat Hana akan memasukkan makanan di mulut,Artaya memperhatikan Hana makan. Artaya hanya melihat sebagian wajah Hana saja yang kelihatan.
Hana mendorong kedepan cadarnya sehingga wajahnya tetap tak terlihat oleh Artaya.
"Sial....Mengapa aku di buat penasaran oleh wanita ini..." ucap Artaya dalam hati.
"Arta...Nanti kamu temani Viana ya.." ucap Cempaka.
"Baik bu..
"Oh iya...Kenapa kamu sendirian prakteknya Na" ucap Artaya.
"Gakpapa Kak,yang lainnya ada di desa lain." ucap Hana.
Hape Hana berdering nada pesan,lalu Hana mengecek hapenya. Rupanya Bayu membalas pesan yang ia kirim tadi.
Selesai Hana sarapan.Artaya menemani Hana.
"Sini tasnya Na,biar saya bawakan..." ucap Artaya menawarkan diri membantu Hana.
Hana menyerahkan tas koper berisi peralatan dokter pada Artaya.Sedangkan Hana membawa tas panggul berisi obat - obatan.
Mereka kemudian berjalan menuju rumah warga.
Setelah sampai di salah satu rumah warga,Hana memperkenalkan dirinya sebagai mahasiswa yang sedang praktek.
Hana memeriksa seorang pria tua yang sudah lanjut usia. Ia menempelkan stetoskop di dada.
"Tarik nafasnya pak...
Pria tua itu menarik nafas.
"Keluarkan pak.." ucap Hana.
Pria tua itu memghembuskan nafas.
Kemudian Hana meriksa tekanan darah pria tua itu.
Selesai memeriksa. Hana mencatat di buku,nama pasien dan gejala serta penangannya.
"Bapak merokok?" ucap Hana.
"Iyaa..." ucap pria tua.
"Saran saya kurangin rokoknya,awalnya habis satu bungkus sehari menjadi setengah bungkus. Setelah itu kurangi lagi...
"Jika bisa berhenti langsung itu tambah bagus...Jangan merokok lagi..." ucap Hana.
"Maaf bu dokter,Kakek saya itu keras kepala kalau di kasih tahu..
"Katanya jika tidak merokok maka dirinya terasa mau mati..." ucap seorang gadis remaja.
"Gampang itu.... Sediakan racun aja,biar sekalian mampus..." ucap Hana dalam hati.
"Hem.... Apakah kakekmu merokoknya di dalam rumah?" ucap Hana.
"Iya bu dokter,kadang saya kena asapnya batuk - batuk.. Mau tak mau menjauh.." ucap gadis itu.
"Begini saja...
"Pak tua... Anda sayangkan sama cucu serta keluarga,merokoknya di luar saja.. Kasihan yang tidak tahan sama asap rokoknya..
__ADS_1
" Dan kamu,bila kakekmu keras kepala...Ambil rokok dan koreknya lalu buang keluar..." ucap Hana.
"Eeeeeeh.....!!!!??? semua orang yang berkumpul terkejut.
"Sebab di rumahku juga begitu...Jika ada yang merokok di dalam rumah..Maka langsung ku buang keluar..Bila melawan aku ambil kayu lalu ku pukul." ucap Hana.
"Buset dah ne cewek...Sadis juga..Untung aku bukan perokok" ucap Artaya dalam hati.
2 jam kemudian Hana dan Artaya sudah mengunjungi 6 rumah warga.
Nampak Hana memeriksa bayi yang di gendong ibunya. Tangan bayi itu memegang cadar Hana lalu menariknya.
Cadar Hana terturun,namapk wajah Hana terlihat jelas saat cadar itu terturun. Artaya melihat wajah Hana.
"Cantik sekalii...." ucap Artaya dalam hati terpesona dengan wajah Hana.
Hana hendak menaikkan cadarnya,akan tetapi di pegang oleh bayi tersebut. Hana mencoba melepaskan cadar di tangan bayi tersebut.
"Bu dokter cantik sekali..." ucap ibu itu yang menggendong anaknya yang di periksa Hana.
"Ibu juga cantik..." ucap Hana sambil membenarkan posisi cadarnya.
Warga yang dekat rumah yang di kunjungi Hana berdatangan untuk di periksa.
"Sial... Coba tahu begini aku bawa orang untuk menemaniku..." ucap Hana dalam hati.
"Apakah bu Dokter sudah punya kekasih.." ucap salah satu ibu - ibu yang sempat melihat wajah Hana.
"Hem...Gimana ya...Masih pendekatan bu.." ucap Hana asal bicara,agar akrab dengan warga sekitar.
"Waaah... Jika ada yang jadi pacarnya bu dokter,pasti pria itu sangat senang sekali,jika sakit tak perlu pergi berobat,cukup di rumah saja.." ucap ibu - ibu yang lain.
"Ibu bisa saja..." ucap Hana.
Kekasih hati Hana adalah putranya sendiri. Karena ia menutup hatinya untuk pria lain.
Artaya yang mendengar ucapan Viana menjadi lemas,lalu ia teringat pepatah,selama janur kuning belum melengkung di depan rumah Viana maka dirinya bisa merebut Viana.
Tiba - tiba hape Nokia 5510 milik Hana berdering.
Hana mengecek hapenya,nampak di layar ada nama kakeknya.
" Halo... " ucap Hana sambil menjauh dari kerumunan warga.
"Halo juga cucuku yang cantik....Apakah kamu lagi memeriksa warga desa Kamayan.." suara Zhang.
"Iya .." ucap Hana.
"Jangan lengah... Kakek dapat info dari Malik.
"Di sana sangat seram sekali...Apa kamu perlu bantuan?" suara Zhang
"Iya aku perlu bantuan 1 orang." ucap Hana.
"Baik...Kakek akan memgirim satu orang bernama Dinar..Besok dia akan datang kesana.Itu saja yang kakek bicarakan. Berhati - hatilah..." suara Zhang.
Panggilan terputus.
Hana kembali memeriksa warga.
Warga ada yang mengeluhkan sakit perut,badannya meriang,Batuk ,Pilek,sakit kepala.
Hana memeriksa warga tersebut satu persatu,selesai memeriksa,Hana memberikan obat sesuai dosis.
Selesai Hana memeriksa warga yang berkumpul,Hana memutuskan kembali ke rumah Artaya.
"Vi..." ucap Artaya sambil berjalan di samping Hana.
"Iya..." ucap Hana.
"Kamu berapa saudara?" ucap Artaya.
" Aku anak tunggal..." ucap Hana.
"Ooo..Anak tunggal..
"Lalu kamu tinggal di mana?" ucap Artaya.
"Di rumah " ucap Hana.
"Kamu bisa saja Na...Kalau bukan rumah lalu apa dong...
__ADS_1
"Maksudku itu alamat rumahmu.." ucap Artaya mencoba mendekati Hana.
"Hem.... Jalan Proklamasi no 148.." ucap Hana asal menjawab.
"Di mana itu..." ucap Artaya.
"Di indonesia..." ucap Hana.
"Ha....Ha...Ha....Ha...Ha...Ha... Artaya tertawa.
Di depan mereka ada warung.
"Mampir dulu yuk ke warung..." ucap Artaya menawarkan.
Hana melihat jam tangannya,apakah sudah masuk waktu shalat Dzuhur apa belum.
"Hem...Sejam lagi...Terima apa enggak ya tawarannya..
"Terima sajalah,siapa tahu aku bertemu dengan Putra Alam Kumbara." ucap Hana dalam hati
Mereka pun pergi ke warung tersebut.
Hana dan Artaya duduk di kursi yang terbuat dari kayu bulat yang di susun. Mejanya terbuat dari papan. Mereka duduk berhadapan.
Hana mencomot pisang goreng yang ada di meja.
"Mau minum apa Vi?" ucap Artaya.
"Teh hangat jangan terlalu manis.." ucap Hana.
"Bu Teh hangat 2 yang satu jangan terlalu manis..." ucap Artaya pada pemilik warung.
Nampak seorang pemuda berjalan kaki lalu ia melihat Artaya duduk di warung,lalu melihat wanita berjibab.Pemuda itu tak melihat wajah wanita itu.
"Tumben Artaya ke warung bersama seorang wanita..." ucap Pemuda itu.
Pemuda itu lantas menghampiri Artaya lalu berdiri di samping Artaya. Pemuda itu melihat ke arah wanita berjilbab.
"Pantas saja aku cari kau di rumah tak ada..Rupanya kau di sini.." ucap pemuda itu.
"Aku sedang menemani Viana keliling kampung...Kau sendiri dari mana..." ucap Artaya.
"Dari rumahlah ...
Hana yang tak melihat wajah pemuda itu lantas melihat ke arah pemuda yang berbicara tadi.
Pemuda itu membalikkan badan saat Hana ingin melihat wajah pemuda itu.
"Kopi bu ..." ucap pemuda itu lalu mengeluarkan rokok dan menyalakannya.
Asap rokok terbang ke arah Hana.
Hana lantas berdiri lalu pergi dari warung itu.
"Vianaaa tungguuuuu..." ucap Artaya.
Hana terus berjalan tak menjawab panggilan Artaya.
"Sial....Aku lupa kalau dia tak suka orang yang merokok.." ucap Artaya dalam hati.
Pemuda itu membalikkan badan ke arah Artaya.
"Lah ..Kenapa dia pergi ?" ucap pemuda itu.
"Karena kau merokok putraaa....
"Dia itu tak asap rokok..." ucap Artaya.
"Mana aku tahu....
"Dia pacarmu kah?" ucap pemuda itu.
"Bukan...." ucap Artaya sambil membayar.
"Apa kau suka pada cewek itu...?" ucap pemuda itu.
Artaya tak menjawab,ia meninggalkan pemuda itu mengejar Viana.
Pemuda itu bernama Putra Alam Gumara. Pria yang di cari Hana.
"Bajingaaaan.....Aku di tinggal pergi..." ucap Putra Alam Gumara jengkel.
__ADS_1