
Pov Bayu.
Aku masih berada di ruang kerja ayah mertuaku,dan juga kakekku. Ku memanggil beliau dengan sebutan papah.
Ku lihat papah Jien sedang duduk di kursi kerjanya melihat laporan yang masuk. Rambutnya di semir hitam,agar terlihat muda,padahal aslinya putih semua alias uban.
Ku sms Daniel,agar jangan beri tahu dulu mengenai ibunya Alvin,lalu ku kantongi hapeku.
Aku yang dari tadi bingung mau ngapain,muncul sebuah ide,yakni keliling gedung .
Ku berdiri lalu menghadap papah Jien.
" Paaah...Bayu jalan - jalan dulu ya.." ucapku.
" Jalan kemana?" ucap papah Jien.
" Keliling kantor ini pah.." ucapku.
Ku berjalan ke pintu,setelah keluar dari ruangan papah Jien. Aku bingung harus kemana,akhirnya aku putuskan kemana pun aku melangkah ya aku ikuti saja. Toh ini juga kantor keluargaku,bukan kantor orang lain.
Ku berjalan menyusuri ruangan sambil memakai masker lalu penutup kepala. Ruangan yng berpintu tidak aku masuki,sebab itu sebuah privasi. Entar aku di kiranya pegawai sini lagi.
Nampak lorong sepi,Ku terus berjalan di lorong tersebut. Lalu kumendengar suara orang tertawa.
Ternyata asal suara itu berasal dari dapur yang tulisannya Pantry.
" Ini dapur tooh.." ucapku.
Ku masuk aja ke dapur tersebut.
Kulihat 3 pria dan 2 wanita seragamnya berbeda.Mereka melihat ke arahku.
"Maaf... Apakah ada minuman teh..?" ucapku.
" Ada..." ucap wanita muda. Ku lihat di dadanya bernama Lulu.
" Aku minta tolong bisa...?" ucapku.
" Bisa...Minta tolong apa?" ucap Lulu.
" Tolong buatkan teh tawar ..?" ucapku.
" Bisa..." ucap Lulu.
" Tolong ya mbak.." ucapku.
Wanita yang bernama Lulu bergerak,ia segera mengambil air dari dispenser memakai panci. Setelah itu meletakkan di atas kompor.
" Boleh saya duduk di sini.." ucapku.
" Boleh ....Silahkan..." ucap pria yang kulihat di dadanya bernama Bekti.
Ku berjalan berjalan ke kursi sambil berkata" Permisi.."karena melewati pria satunya.
Ku buka tudung jaketku lalu maskerku.
" Maaf...Anda ini karyawan baru atau keluarga bos besar..?" ucap Bekti.
" Saya bukan karyawan baru kang...."
" Tadi habis di interview..." ucapku.
Ku lihat wanita di sebelahnya berbisik ke pria tersebut.
" Interview..??."
" Biasanya kalau orang di interview itu nunggu lagi.Apakah di terima apa enggak..Dan anda kesini datang memakai sandal jepit.... Apakah anda ini mempunyai keluarga yang bekerja di sini" ucap Bekti.
" Saya terburu - buru kang...Untung tepat waktu.."
" Masalah sandal dan sepatu itu nomor 2."
" Yang penting datang tepat waktu.." ucapku berkilah.
" Iya seh...Tapi kan yang di lihat pertama itu penampilan broo.." ucap Bekti.
Lulu meletakkan gelas berisi teh di depanku.
" Terima kasih mbak Lulu.." ucapku.
" Iyaa...Kamu kok tahu namaku Lulu?" ucap Lulu.
" Kan ada nama mbak di baju.." ucapku.
" Oh iya.... " ucap Lulu.
" Lalu di beri pertanyaan.. Jika penampilan tidak menarik bisa - bisa gagal dalam interview..." ucap Bekti.
" Aaaaah...Gue baru ingat..."
Ku lihat ke arah pria yang dari tadi diam saja.
" Lu sering nongkrong di Cafe Mantan itu ya..." ucap pria itu.
" Iya...Kok sampeyan tahu.." ucapku.
" Benar kan tebakan gue..." ucap pria itu.
" Asem....Sepertinya dia tahu kalau aku pemilik Cafe...." ucapku dalam hati
" Gue Pandu.." ucap pria yang bicara padaku tadi sambil menyodorkan tangannya.
" Ahmad..." ucapku,sengaja tak memberi tahu nama panggilanku seperti biasa.
" Kok lu ada di sini...?" ucap Pandu.
" Tadi kan saya sudah beri tahu.. Saya datang di interview kang..." ucapku.
Ku ambil minumanku,
" Bismillah...." ucapku lirih lalu ku seruput teh tersebut. Bisa saja langsung ku habisin,tapi ku takut mereka kaget,masa teh masih panas langsung di minum habis.
" Ooo... Begitu...Hemmm..."
" Lu berhenti kerja di Cafe?" ucap Pandu.
Ku letakkan gelas teh.
" Syukurlah dia gak tahu.." ucapku dalam hati.
" Enggak....Saya masih kerja di sana..." ucapku.
Tiba - tiba ponselku berdering. Ku ambil ponselku di kantong celana.
Ku lihat papah Jien menelponku,langsung ku terima saja panggilannya.
" Ya halo pah.." ucapku.
" Kamu di mana Bay?" suara papah Jien.
" Di pantry pah...Ngeteh.." ucapku.
" Ya sudah papah kesana..." suara papah Jien.
Tak ada suara papah Jien lagi lalu ku lihat ke layar,rupanya sudah mati. Ki kantongi saja ponselku. Lalu lanjut minum lagi.
" Sepertinya dia keluarga bos..." bisik Bekti.
" Masa seh..." ucap Pandu pelan.
Aku mendengar suara mereka.
" Kalian gak usah takut atau kaku.."
" Saya ini memang keluarga bos besar..."ucapku.
" Maaaf pak....Saya tadi berkata tidak sopan ke anda.." ucap Pandu ketakutan.Karena memanggilku seperti biasa memanggil temannya.
" Iya gakpapa kang..."
" Lagian juga sampeyan umurnya di atasku..." ucapku.
Ku lihat papah Jien muncul di pintu. Dan 3 pria dan 2 wanita menundukkan kepalanya karena melihat papah Jien.
" Ayoo ikut papah..." ucap papah Jien.
" Siaaaap pah...."
Ku berdiri.
" Terima kasih telah menemaniku mengobrol..Saya tinggal dulu,Assalam mu'alaikum..." ucapku. Lalu berjalan ke arah papah Jien.
" Wa'alaikum salam..." suara Pandu dan Lulu yang terdengar di telingaku.
Ku berjalan bersama papah Jien.
" Besok pagi kamu berangkat ya Bay...Nanti di temani oleh pak Yusuf.." ucap papah Jien.
" Iya pah.." ucapku.
---0.0.0--
Rumah Sakit.
Daniel menjenguk Selvie yang masih di rawat Rumah Sakit.
Di saat Daniel membuka pintu,ia melihat teman - teman sekolah Selvie menjenguk.
Alvin yang berada di dalam ruangan lantas menghampiri Daniel.
" Gue mau ngomong sama lu..." ucap Alvin pelan.
Alvin lantas keluar dari ruangan,Daniel mengikuti Alvin.
Setelah di luar.
" Tolong bujuk ibunya Bayu...Agar mau menyelamatkan ibu gue..." ucap Alvin.
" Iya bang...Ini juga aku lagi usaha membujuk.." ucap Daniel.
Alvin akhirnya ingat siapa pria yang menjadi pacar adiknya itu. Makanya ia meminta tolong.
" Gue gak tega lihat adik gue...Juga.."
" Gue merasa khawatir ibu gue kenapa - kenapa.." ucap Alvin.
Pintu kamar ruang inap Selvie terbuka,rupanya teman - teman Selvie pada keluaran. Salah satu pria melihat ke arah Daniel. Lalu memalingkan wajahnya.
---0.0.0----
Non pov.
Rumah Bayu.
Bayi sampai di rumah,lalu ia pun segera menemui istri - istrinya untuk memberi tahu bahwa dirinya akan pergi ke Kalimantan.
Saat menaiki tangga,Bayu bertemu Sulis yang sedang menuruni tangga.
" Yang lainnnya kemana yank?" ucap Bayu.
" Tadi kak Ana sama kak Ayu di taman,terus Mel sama Aisyah di dapur mas.."
Bayu membalikkan badan hendak menemui Melisa dan Aisyah.
" Eh mas...Mas.." ucap Sulis.
Bayu membalikkan badannnya.
" Opo sayang..." ucap Bayu.
" Nganu..."
" Aku pengen mangan kerak telor...Tumbasne yoo mas.." ucap Sulis manja.
" Kerak telor..?"
Sulis menganggukkan kepala.
" Iya ..." ucap Bayu.
" Sama itu mas.."
" Buah Cempedak..." ucap Sulis.
" Cempeedaaak...?"
" Buah apa itu Lis?" ucap Bayu.
" Ya buah mas..."
" Dia itu seperti Nongko,cuman dagingnya lembut dan aromanya enak.." ucap Sulis.
" Iyaaa..."
" Aku pergi beli dulu.." ucap Bayu .
" Iya mass....Hati - hati.." ucap Sulis.
Bayu berjalan keluar rumah lagi untuk membelikan Kerak telor dan buah Cempedak.
( Skip hingga ke pasar).
Bayu berjalan menyusuri pasar.Lalu ia pun melihat stand buah - buahan dan mendatanginya.
__ADS_1
" Maaf kang...Ada buah Cempedak?" ucap Bayu.
" Gak ada kang.." ucap penjual buah.
" Waddooooh..."
" Kira - kira di mana ya yang jual kang..?" ucap Bayu bingung,sebab ia tahu bahwa Sulis sedang nyidam. Tak mungkin ia gak membelikan apa yang di minta.
"Kemungkinan minggu depan baru ada kang.."
" Soalnya buah itu dari Kalimantan.." ucap penjual buah.
" Ooo...Begitu..."
" Suwun yo kang..." ucap Bayu lalu pergi mencari penjual kerak Telor.
Bayu berjalan sambil celingukan mencari penjual kerak telor.Dirinya berencana membeli di saat dirinya sudah di Kalimantan.
" Ya Allah...Tunjukkan di mana orang yang jual kerak telor.." ucap Bayu dalam hati.
Bayu berhenti melangkah,lalu bertanya kepada seorang bapak - bapak di dekatnya.
" Permisi pak.."
Bapak itu melihat ke arah Bayu.
" Di mana penjual kerak telor ya pak.." ucap Bayu.
" Di sono...Bawahnye pohon dekat konter pulsa..." ucap bapak itu sambil menunjuk.
" Matur suwun pak.." ucap Bayu.
Bayu berjalan ke arah yang di tunjuk oleh bapak itu tadi.
Sesampai di tempat konter ponsel,Bayu melihat seorang pria duduk di kursi kayu kecil sambil menggerakkan tangan mengipasi bara api di tungku,tangan sebelahnya memegang wajan kecil.
" Ooo...Ini toh Kerak Telor..." gumam Bayu melihat tulisan kerak Telor.
" Pak...Pesan kerak Telornya ya..." ucap Bayu.
" Iye...Pesan berape?" ucap pria penjual Kerak telor.
" Hem.... Empat, Limaaa....Delapan..."
" Hemm....Dua belas saja pak..." ucap Bayu.
" Di tunggu yee..." ucap penjual kerak Teloor.
" Iya pak..." ucap Bayu.
Bayu lantas mengambil ponselnya,lalu duduk jongkok menunggu pesanannya selesai di buat.
Sambil menunggu,Bayu memainkan permainan di ponselnya.
30 menit kemudian.
" Masih lama ya pak..?" ucap Bayu melihat penjual kerak telor belum selesai.
" Belum...Lame prosesnye.." ucap penjual kerak telor.
Terdengar suara adzan berkumandang.
" Tak tinggal dulu ya pak...Saya mau shalat.." ucap Bayu.
" Iye..." ucap penjual kerak telor.
Bayu berjalan ke arah suara adzan.
Rupanya,suara itu berasal dari sebuah Mushalla.
Setelah selesai shalat,Bayu kembali le tempat penjual kerak telor.
" Sudah apa belum pak...?" ucap Bayu.
" Belum....Sisa enam lagi.." ucap penjual kerak telor.
" Ya sudah pak..Itu yang terakhir aja..Sisanya gak jadi.." ucap Bayu.Ia takut kelamaan menunggu.
Setelah selesai membayar,Bayu segera pulang ke rumah mengendarai sepeda motor supra.
Sesampai di rumah,Bayu segera menemui Sulis sambil membawa 3 bungkus,sebelumnya ia membagikan kerak telor ke pengawal.
" LIIIIISSSSS....." ucap Bayu nyaring.
" Iya masss...." suara Sulis.
Muncul Sulis menghampiri Bayu.
" Maaf loh...Cempedaknya gak ada,adanya kerak Telor..." ucap Bayu.
" Yaaaaaah.....Padahal aku pengen banget maaaassss..." ucap Sulis.
" Besok ku pergi ke Kalimantan.." ucap Bayu.
" Haaah.....!!! Kalimantan..Ngapain mas kesana?" ucap Sulis.
" Beli Cempedak..." ucap Bayu.
" Gak usah deh mass..." ucap Sulis.
" Gakpapa sayang....Besok itu aku ada perlu di Kalimantan,sekalian beli Cempedak.." ucap Bayu.
" Perlu..?"
" Perlu opo to mas?" ucap Sulis.
" Papah Jien memintaku mengurus lahan yang bersengketa." ucap Bayu.
" Lama gak mas...?" ucap Sulis.
" Enggak...Mungkin 3 hari aja Lis..." ucap Bayu.
" Sekalian belikan buah Elai ya mas..." ucap Sulis.
" Buah Laii??" ucap Bayu.
" Iya..."
" Buahnya itu seperti durian,tapi gak terlalu menyengat baunya seperti durian dan..."
" Durinya gak tajam..." ucap Sulis.
" Ooooo...Itu..." ucap Bayu.
" Mas pernah makan?" ucap Sulis.
" Enggak..."
" Aku ora tau ndelok bentuk lan rupane koyo opo,opo maneh mangan Lis...." ucap Bayu.( Aku gak pernah melihat bentuk dan wujud seperti apa,apa lagi makan).
1 Jam kemudian setelah Bayu memberi tahu bahwa dirinya akan pergi ke Kalimantan. Bayu menemui Daniel,namun Bayu tak menemukan di Balkon lantai dua tempat biasa Daniel merokok.
Bayu lantas berjalan ke kamar Daniel.
Tok....Tok....Tok....
" Niel...."
Tok....Tok....Tok....
" Danieeeeel...." ucap Bayu.
" Bentar Bay..." suara Daniel.
Ceklek....Kriiiieeet...
" Ini kerak telor..." ucap Bayu memberikan kerak Telor.
" Bar mangan aku...." ucap Daniel.
" Tak baturi..." ucap Bayu.( aku temani).
Akhirnya Daniel mengiyakan saja.
" Bentar,ku ambil teh Kotak dulu.." ucap Daniel lalu masuk ke dalam kamarnya lagi.
" Lukman kemana?" ucap Bayu.
" Ada di rumah kakek Naruto.." ucap Daniel.
Setelah itu mereka sampai di Balkon.
Bayu mencomot kerak Telor.
" Bismillah.."
Bayu memakan kerak Telor yang ia ambil.
" Gimana keadaan pacarmu?" ucap Bayu.
" Asem....Seperti ini kerak Telor.." ucap Bayu dalam hati merasakan jajanan khas Jakarta di mulutnya.
" Ya masih sama Bay..."
" Jadi kapan neh Bay.."ucap Daniel.
" Kamu mau sekarang...?" ucap Bayu.
" Ya jangan sekarang Bay...Sudah malam ini..." ucap Daniel.
" Heeemmmm...."
" Besok aku pergi ke Kalimantan..." ucap Bayu.
" Kalimantan? Mau ngapain kamu ke sana Bay?" ucap Daniel.
" Mencari prawan kalimantan...Bantal guling tak sayang - sayang...Nganti koyok wong ke edanan... 🎶" ucap Bayu.
" Diampuut..Malah nyanyi.." ucap Daniel.
" Ada urusan Niel..."
" Heemmmm...."
" Sebentar..." ucap Bayu.
Bayu berdiri lalu berjalan.
" Mau kemana Bay...?" ucap Daniel.
" Ambil kunci..." ucap Bayu sambil berjalan.
Tak lama kemudian Bayu kembali lalu duduk.
Bayu menyodorkan kunci ke Daniel. Daniel menerima kunci tersebut.
" Besok pagi datang ke Cafe bawa mobil.."
" Buka ruangan istirahat istriku.." ucap Bayu.
" Iya...." ucap Daniel. ia gak tahu apa yang di maksud oleh Bayu.
***
Pagi hari.
Daniel pergi ke Cafe memakai mobilnya sendiri sesuai ucapan Bayu.Dirinya berpikir mungkin di suruh bersih - bersih.
Sesampai di Cafe,Daniel segera berjalan menuju tempat istirahat istri Bayu.
Ceklek....Ceklek....Kriiiiieeeet .....
Daniel mencium aroma wangi saat pintu terbuka.
"EEEHH.....!!!!???" Daniel terkejut melihat isi di dalam ruangan itu.
Nampak seorang wanita paruh baya duduk di pinggir ranjang seperti sedang melamun,di pangkuannya terdapat selembar kertas.
Daniel memperhatikan wajah wanita itu. Ia teringat akan foto di pajang di rumah Selvie. Wajah wanita itu sama persis dengan apa yang ia lihat.
Tanpa Daniel ketahui,di dekat ibunya Selvie ada Kumala Sari berdiri memperhatikan Daniel.
" I...I...Itu kan ibunya Selvie.." Daniel.
Daniel perlahan mendekati ibunya Selvie.
" Tante...."ucap Daniel.
Ibunya Selvie tetap diam dan tak menjawab.
Daniel mengambil kertas di pangkuan ibunya Selvie.
Kertas itu nampak ada tulisan.
*Niel....Segera bawa ibunya Alvin ke rumah sakit,Jika dia sudah di rumah sakit,dia akan kembali normal,namun tak mengingat tentang peristiwa dia di culik,segera bakar kertas ini setelah kamu baca.*
" Buset dah...Ternyata Bayu lebih sakti daripada pakdenya...Pantas saja pakdenya gak mau bantu.." ucap Daniel dalam hati.
Daniel keluar lalu membakar kertas tersebut,setelah itu masuk kembali. Ia menuntun ibunya Selvie keluar. Setelah keluar,ia mengunci kembali pintu tersebut lalu berjalan ke arah mobilnya.
Kumala Sari mengikuti Daniel pergi.
Sesampai di rumah sakit Daniel mengetuk pintu tempat Selvie di rawat.
__ADS_1
Took.....Tok...Tok....
Di saat pintu terbuka,Kumala Sari menggunakan kekuatannya untuk menyadarkan ibunya Alvin,setelah itu ia menghilang.
Rupanya yang membuka pintu adalah Johan.
Johan tersentak kaget melihat istrinya berdiri bersama Daniel.
" Mamaaah..!!!." ucap Johan.
" Iya pah..." ucap Lesti belum menyadari bahwa dirinya berada di rumah sakit.
Johan lantas memeluk Lesti.
Lesti melihat pintu dan ruangan berbeda dengan rumah.
Johan melepas pelukannya.
" Aku di mana ini pah..." ucap Lesti.
" Di rumah sakit...Selvie sakit maah..." ucap Johan.
" APPAAAAAA....!!!!!"
" Di mana dia sekarang pah..." ucap Lesti,ia nampak khawatir.
" Di dalam..."
Lesti segera masuk ke dalam untuk menemui Selvie putrinya.
Johan melihat ke arah Daniel,lalu memeluk Daniel.
" Terima kasih ya nak..." ucap Johan.
" Iya om...." ucap Daniel.
Johan melepas pelukannya.
" Siapa yang menolong istriku..Tolong katakan nak..." ucap Johan.
" Ibunya Bayu om" ucap Daniel.
Daniel berkata seperti itu sesuai permintaan Bayu.
" Om takut ibunya Selvie di bunuh.." ucap Johan.
" Om tenang saja..."
" Tante sudah di beri pelindung agar tidak di celakai.Dan nanti apa yang di ucapkan oleh tante,di iyakan saja om,juga bilang bahwa tante mengalami pikun" ucap Daniel.
" Oooo...Begitu.."
" Sampaikan salam dan ucapan terima kasih le ibunya Bayu ya.." ucap Johan.
" Iya om..." ucap Daniel.
"Ayo masuk..." ucap Johan.
Lantas Daniel masuk ke dalam bersama Johan.
Daniel melihat Selvie duduk sambil mengobrol dengan ibunya lalu melihat ke arah Daniel.
" Terima kasih ya sayang...." ucap Selvie.
" Iya sama - sama.." ucap Daniel.
Lesti menoleh ke arah Johan.
" Paah...Kata Selvie mamah menghilang ya..?"
" Perasaan mamah gak kemana - mana"
" Terus tiba - tiba ada di rumah sakit." ucap Lesti bingung.
" Mamah kebanyakan melamun..." ucap Johan.
Daniel mendekati Selvie,lalu berbisik ke telinga Selvie." Di iyakan saja ucapan ibumu ya sayang..Jangan bertnya kenapa.Turuti saja ucapanku.Jangan ungkit bila mamahmu di culik"
Selvie menganggukkan kepala.
" Kamu pacarnya Selvie yang bernama Daniel ya.." ucap Lesti.
" Iya tante..." ucap Daniel.
" Paah..."
" Kok mamah gak ingat ya jika mamah datang ke sini.." ucap Lesti.
" Mamah masa dah lupa...Kan mamah memang pergi bersama Daniel ke rumah sakit.." ucap Johan.
" Masa seh..." ucap Lesti tak percaya.
Lesti berusaha mengingat - ingat. Namun ia tetap tak mengingatnya.
" Mamah sudah mulai pikun yaaa..." ucap Johan.
" Mungkin..." ucap Lesti.
---0.0.0----
KALIMANTAN TIMUR.
Pesawat yang Bayu tumpangi mendarat di Bandara Sepinggan. Bandara itu merupakan bandara internasional,pintu gerbangnya kalimantan timur yang berada di kota Balikpapan. Yang di juluki kota minyak. Di juluki kota minyak karena kota Balikpapan mempunyai banyak kilang Minyak.
Bayu berjalan bersama seorang pria yang bernama Yusuf untuk mengambil tas,setelah itu berjalan keluar.
Nampak puluhan kendaraan roda empat parkir.
" Oalah...Begini to Balikpapan itu.."
" Kirain kotanya itu berada di balik papan..." ucap Bayu dalam hati melihat pemandangan bandara.
Bayu berjalan di samping Yusuf,lalu masuk ke dalam mobil Avanza warna hitam.
Mobil Avanza itu segera meninggalkan bandara.
" Pak..." ucap Bayu.
" Iya pak.." ucap Yusuf.
" Nanti setelah selesai,kita mampir beli Cempedak dan buah Lai ya pak.." ucap Bayu.
" Iya pak..." ucap Yusuf.
Bayu melihat pemandangan di jendela.
Selama perjalanan,Bayu merasakan mobil yang di tumpanginya naik turun gunung.
" Di sini banyak bukit...Gak sama seperti di Jogja sama Jakarta.." ucap Bayu dalam hati.
Bayu menoleh ke Yusuf.
" Berapa lama lagi kita sampai pak?" ucap Bayu.
" Satu jam lebih pak..." ucap Yusuf.
" Suwinee.." ucap Bayu.
Bayu melihat ke arah jendela lagi.
" Kutai Kertanegara..." ucap Bayu melihat sebuah tulisan.
" Pak Bayu mau singgah dulu atau langsung saja?" ucap Yusuf.
" Hemmm...Singgah kemana pak...?" ucap Bayu.
" Ke warung makan..." ucap Yusuf.
" Ya sudah...Kita mampir dulu.." ucap Bayu.
Akhirnya mereka pun singgah di sebuah warung tahu Sumedang. Selesai makan,mereka pun lanjut kembali. Hingga akhirnya mereka tiba di tempat tujuan,yakni sebuah yang agak besar,rumah itu di huni orang yang mengklaim tanah yang sedang di garap oleh perusahaan keluarga Bayu do akui orang - orang tersebut.
Bayu bersama Yusuf keluar dari mobil.
" Alhamdulilah sampai juga akhirnya.." ucap Bayu.
" Itu rumahnya pak..." ucap Yusuf menunjuk.
Bayu berjalan ke rumah yang di tunjuk oleh Yusuf.
" Assalam mu'alaikum...Permisi.." ucap Bayu agak nyaring di depan pintu pagar.
Muncul seorang pemuda dari dalam rumah.
" Maaf apa benar ini rumahnya bu Harati.." ucap. Bayu.
" Iya benar.." ucap pria itu.
" Apakah ibu ada.." ucap Bayu.
" Adaa..."
Pria itu membuka pintu pagar.
" Sikahkan masuk.."
Bayu dan Yusuf masuk di ikuti pria yang membuka pagar.
" Silahkan duduk,aku panggil ibuku dulu.." ucap pria itu.
" Iyaaaa..." ucap Bayu.
Bayu dan yusuf duduk.
Tak lama kemudian muncul seorang ibu - ibu bersama pria yang membuka pintu pagar lalu duduk.
Bayu memandang mata ibu itu sambil menggunakan ilmunya.
Nampak mata ibu itu sekilas warna hijau lalu normal kembali.
" Saya Bayu bu..."
" Maksud dan tujuan kami kemari untuk mempertanyakan masalah tanah yang bersengketa itu.
" Oooo..."
" Sampai,kapan pun tanah itu tidak kami jual...Kalau di jual,harganya sangat mahal.."
" Kami minta 100 juta permeternya..." ucap Harati.
" Diampuut...Mahal banget..."
" Tanah di Jakarta aja gak sampe segitu harganya.." ucap Bayu dalam hati.
" Begini bu...Saya mau tanya.."
" Jawab dengan jujur.."
Yusuf memberikan kertas dokumen ke Bayu.
" Kami sudah membeli tanah itu,yang suratnya berupa segel,dan itu asli..."
" Ibu dapat dari mana surat tanah itu?" ucap Bayu.
" Dari teman saya.." ucap Hartati.
" Tolong tunjukkan surat sertifikat tanah itu bu..Saya mau melihatnya." ucap Bayu.
Harati lantas berdiri lalu berjalan. Tak lama kemudian kembali dan menyerahkan sertifkkat tanah ke Bayu.
Bayu menerima dan membuka surat tersebut.Bayu melihat ada yang gak beres dengan surat tersebut.
" Apa dasar ibu membuat sertifikat ini?" ucap Bayu.
" Kami punya surat segel..." ucap pria di sebelah Harati.
" Apakah masnya punya foto kopiannya?" ucap Bayu.
" Dulu punya...Sekarang sudah hilang.." ucap pria itu.
" Apa benar itu bu..?" ucap Bayu.
" Tidak benar...Kami masih menyimpannya." ucap Harati.
" Ambil.,sekalian sama aslinya jika ada.." ucap Bayu.
Harati lantas mengambil surat segel tersebut. Lalu kembali dan menyerahkan ke Bayu.
Bayu mengamati surat segel tersebut. Nampak tahun pembuatannya berbeda,yang di miliki Bayu lebih tua daripada milik Harati.
" Ini segel duluan punya kami keluar dari punya ibuk.."
" Apakah ibu ada bermain dengan surat ini?" ucap Bayu.
" Iyaa..." ucap Harati.
Sontak pria di sebelah Harati terkejut.
" Kami bisa saja melapor ke polisi dengan tuduhan menyerobot tanah milik orang lain..."
" Saya punya solusinya,yaitu Damai"
" Sekarang ibu pilih..."
__ADS_1
" Damai atau ke pengadilan?" ucap Bayu sambil menatap ke Harati,wanita berusia 50 an tahun.