
(Note. Azis nama panggilan,jadi ada dua yang bernama Azis. Azis yang menjadi dalang penghasut Ormas,dan Azis alias Nino komplotan yang membunuh Putri. Maaf agak membingungkan,biar gak salah paham.)
Saat ini,ku dalam perjalanan munuju markas,namun belum keluar dari perkampungan tempat di mana Tohir tinggal.
Tiba - tiba ku teringat bahwa Azis bisa menghubungi Tohir.
Ku keluarin ponsel milik Azis. Lalu ku cek hapenya.
" Diamput,mati lagi hapenya..." ucapku kesal saat melihat ponsel milik Azis mati.
Oh iya,kan bisa di cas di conter. Tinggal minta tolong aja sama orang konter.
" Pak,tolong carikan konter hape dulu pak,aku mau ngecas hapenya Azis buat nelpon Tohir.." ucapku.
" Siap pak.." ucap pengawal yang menjadi supir.
Tak lama kemudian mobil berhenti,ku lihat di sisi kiri ada konter pulsa.
" Kalian tetap di mobil,biar aku aja yang turun.."
Ku pakai kaca mata dan topi,lalu ku naikkan
Kubuka pintu,lalu ku turun dari mobil dan berjalan ke arah konter tak lupa menutup kembali pintu mobil.
Nampak seorang pria yang menjaga konter tersebut.
" Permisi kang..." ucapku.
" Ya...Ada apa?" ucap pria itu.
" Aku mau minta tolong,"
Ku keluarin ponsel milik Azis.
" Hape ini mati,tolong ceskan kang.." ucapku.
Pria itu mengambil ponselku,lalu melihat lubang cassan. Kemudian mencolokkan ke charger.Beruntung cassannya masih pasaran,yakni Nokia.
Ku lihat di etalase ada ponsel bekas berjejer rapi. Rata - rata merek Nokia. Ada juga ponsel merek Beri beri,sungsang.Lalu ada kartu perdana berbagai vendor,antara lain Telkomsel,Indosat, Axis, dan Flexi.
Lalu ku lihat ada casing hape yang ku pakai. Seorang pria datang,ku taksir usianya 25 tahun lah,Pria itu mengisi buku isi pulsa. Ku lihat wajahnya sebentar lalu melihat ke arah lain.
Lalu ku teringat jika Codet sudah ku tangkap,apakah dia membawa ponsel. Ku datangi saja Codet yang berada di mobil terdepan.
Sebelumnya,Codet sudah ku hipnotis,agar dia bersikap tenang.
Kaca mobil terbuka.
" Tolong periksa dia pak,apakah ada membawa ponsel.." ucapku.
Pengawal yang di samping Codet memeriksa kantong baju serta celana,lalu menemukan ponsel. Pengawal memberikan ponsel milik Codet kepadaku.
" Apakah kamu bisa menghubungi Tohir?" ucapku.
" Bisa..." ucap Codet.
" Telpon dia,tanyakan ada dia ada di mana? Dan kamu ingin bertemu. Dan loudspeker." ucapku sambil memberikan ponsel milik Codet ke Codet.
Pengawal menerima ponsel itu lalu di berikan ke Codet.
Codet lantas menekan ponselnya lalu meletakkan di telinga.
Ku dengar suara ponsel berdering tak jauh dariku,yamni suaranya dari konter yang ku datangi tadi.
Ku perhatikan pria yang berdiri di depan konter.
" Haloo... "
" Lu ada di mana..?"
" Di konter.." ucap Codet.
Bajjngan,rupanya pria yang isi pulsa tadi adalah Tohir. Langsung saja ku hampiri pria itu saat menunggu uang kembaliannya.
Setelah sampai ,ku pegang kedua tangannya erat - erat.
" Jangan bergerak,kamu Tohir kan..." ucapku.
" Lu siapa? Gue bukan Tohir yang lu maksud" ucap pria yang ku tahan. Pria itu berusaha melepaskan cengkramanku.
Seorang pengawal keluar dari mobil dan menghampiriku.
Pria yang ku cengkram di borgol oleh pengawal,lalu ku rebut hapenya.
__ADS_1
Ku lihat panggilan masih terhubung,ku tempelkan di telinga.
" Haloo.." ucapku memastikan.
Namun yang terdengar suara wanita.
" Ini teh saha ..?" suara wanita.
" Jancook...Aku salah tangkap.." ucapku dalam hati.
"Maaf...Aku pikir mbak adalah codet"ucapku lalu mematikan ponsel.
Pengawal tahu salah tangkap lantas membuka borgol.
" Maaf kang,aku pikir sampeyan adalah Tohir buronan kami.." ucapku.
" Maaf...Maaf...Maaf..."
Pengawal yang di samoing Codet tadi menghampiriku.
" Sakit tahu..." ucap pria itu sambil memegang pergelangan tangannya.
" Ya maaf.." ucapku.
" Pak...Tohir berada di pasar tanah Abang.." ucap pengawal yang duduk di samping Codet tadi.
Beruntungnya pengawalku memakai seragam lengkap,serta membawa senjata laras panjang. Sehingga pria yang salah tangkap tadi tidak memperpanjang masalah.
" Kang.. Toling ambilkan hape yang tadi di cas.."
Pria penjaga konter mencabut pknsel milik Azis,lalu diberikan kepadaku.
" Suwun kang.." ucapku.
" Iya..." ucap pria penjaga Konter, lalu ku hampiri Codet.
" Apa kamu tahu,tempat tongkrongan Tkhir di pasar?" ucapku.
" Tahu..." ucap Codet.
" Oke...Kita langsung ke pasar saja pak .." ucapku.
" Siap pak..." ucap pengawalku.
***
Pasar Tanah Abang.
Rombonganku sampai di pasar Tanah Abang.Lalu berhenti di pinggir jalan,suasana pasar sangat ramai.
" Di mana tempat tongkrongan Tohir?" ucapku pada Azis.
" Itu di sana.." ucap Azis sambil menunjuk.
" Maju lagi pak.." ucapku.
Sang supir memberi tahu via HT untuk maju lagi.
Mobil yang ku naiki berjalan perlahan.
" Yang mana,Tunjukin.." ucapku.
Azis melihat ke kaca .
" Itu pak yang pakai baju merah.." ucap Azis.
" Kaos merah yang pakai tas kecil?" ucapku memastikan.
" Betul.." ucap Azis.
" Pak..Tangkap dia.." ucapku.
" Siap...." ucap para pengawal.
Para pengawalku turun,lalu berjalan ke arah pria yang di tunjuk oleh Azis.
Ku lihat para pengawal mengepung Tohir,sehingga Tohir tak bisa melarikan diri. Tak membutuhkan waktu lama,akhirnya pria yang memakai kaos merah di tangkap,lalu di borgol. Kemudian di bawa ke mobil.
Alhamdulilah,akhirnya tertangkap 3 orang,sisa Sebastian yang belum terendus persembunyiannya.
Kami pun segera meluncur ke Markas.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan,akhir sampai juga di markas.
Ke empat tersangka di jebloskan dalam jeruji besi.
" Aku shalat dulu.." ucapku,karena dalam perjalanan tadi sudah adzan Dzuhur.
Selesai shalat,ku datangi sel tahanan.
Ku lihat Tohir sedang mengajak mengobrol Azis,Bongek dan Codet. Tapi mereka hanya diam saja. Pandangannya kosong.
" Percuma kamu ngomong sama teman - temanmu,sampai mulutmu berbusa,gak bakalan di jawab.." ucapku.
Tohir melihat ke arahku. Kubuka masker dan kaca mata.
Tohir terkejut melihat wajahku.
" Kalau kamu bisa di ajak kerja sama,maka nyawamu tetap melekat di ragamu,tapii..."
" Bila tidak bisa di ajak kerja sama,maka aku akan membunuhmu.."
" Di mana Sebastian dan Erwin..." ucapku.
" Sebastian gue gak tahu...Tapi kalau Ronal gue tahu.." ucap Tohir.
" Ronal? Gue bilang Erwin..Bukan Ronal.." ucapku
" Gue manggilnya Ronal.." ucap Tohir.
" Oooo...Begitu..Jadi sama aja seperti Nino kadang di panggil Azis.." ucapku.
" Iya..." ucap Tohir.
" Di mana dia..?" ucapku.
" Bandung...Tapi gue gak tahu alamatnya,hanya tahu Bandung aja.." ucap Tohir.
"Jangan - jangan Sebastian juga tinggal di Bandung." ucapku dalam hati.
Ku tarik ilmu hipnotisku.
Ketiga tersangka tersadat,lalu mereka kaget,
" Ada yang tahu di mana Erwin atau Ronal alamat tinggalnya di mana?" ucapku.
Mereka semua melihat ke arahku.
Tak ada yang bersuara.
Membuat aku menjadi pusing.Mau merokok,lagi puasa.
"Kenapa membunuh istriku?"ucapku.
" Lu sudah membunuh bokap gua..."ucap Azis.
" Sebentar... Kapan aku membunuh bapak sampeyan?"ucapku.
" Jangan sok lupa deh lu..."ucap Azis.
" Setahuku,aku gak pernah membunuh bapakmu,tapi aku ingat saat kejadian di depan Cafe, Aku membela diriku karena aku di serang oleh kelompok ormas.."
"Jika kamu jadi aku,lalu ku serang kamu..Apakah kamu diam saja?"
Azis terdiam tak menjawab pertanyaanku.
" Kenapa diam,jawab..?"
" Aku lakukan itu melindungi teman - temanku, mereka tak menyerangku, maka aku gak bakalan menyerang bapakmh atau yang lain.."
" Sekarang kamu punya istri,jika istrimu ku bunuh di depan matamu.. Kamu marah atau tidak..?" ucapku.
" Bajingan...Lu jangan sentuh istri gue.." ucap Azis.
" Terbantung... Bila kamu bisa di ajak kerja sama untuk menjebak Erwin atau Ronal dan Sebastian,kalian akan tetap hidup,keluarga kalian juga tetap hidup."
" Tapi...Bila kalian tidak bisa di ajak kerja sama,aku akan memburu keluarga kalian . Lalu kubunuh di depan kalian.."
" Bagi yang mau kerja sama denganku,maju ke depan,bila tidak.. Bersiap - siap saja. Aku akan mencari keluarga kalian. Lalu kubunuh mereka di sini.."
Azis maju ke arahku. Ku lihat yang lain saling menantap.
" Ku hitung sampai 3, jika tak mau kerja sama. Aku akan mengerahkan anak buahku mencari keluarga kalian sekarang juga.." ucapku.
Akhirnya mereka maju kedepan. Mereka takut akan ancamanku.
__ADS_1
Sekarang saatnya menyusun rencana untuk menjebak Sebastian dan Erwin. Jadi,aku gak perlu capek mencarinya hingga ke Bandung. Setelah mereka tertangkap semua,maka aku akan menyiksa mereka hingga cacat permanen. Agar mereka tahu,betapa sakitnya kehilangan orang yang aku cintai.