
Yara memekik kaget saat melihat apa yang terjadi pada Ryder, di mana saat ini laki-laki itu sedang terbaring di atas ranjang dengan wajah yang memerah terkena darah.
"Ryder!"
Dengan cepat, Yara mendekati laki-laki itu dengan tangan gemeteran. Namun, dia menggelengkan kepalanya agar tidak terbawa emosi karena saat ini nyawa Ryder lah yang sedang berada dalam bahaya.
"Detak jantung tuan sangat lemah, Nona," ucap salah satu penjaga Ryder yang berdiri di samping ranjang.
Yara segera memeriksa denyut nadi Ryder dan juga detak jantungnya, tidak berselang lama datanglah Lewis dan Ansel yang langsung memeriksa keadaan Ryder.
Tanpa menunggu waktu, Yara segera berdiri dan memompa dada Ryder karena detak jantung laki-laki itu hampir tidak terasa sama sekali.
Melihat apa yang Yara lakukan, Lewis segera menyiapkan peralatan medis yang lain. Begitu juga dengan Ansel yang menyuruh semua orang untuk kaluar agar mereka bisa konsentrasi untuk menyelamatkan korban.
Semua masyarakat desa datang berbondong-bondong ke tempat itu untuk melihat apa yang terjadi pada Ryder. Begitu juga dengan Weny yang langsung pingsan saat mendapat kabar tentang kecelakaan yang menimpa Ryder, begitu juga dengan Domi yang terus berdo'a agar tidak terjadi sesuatu hal buruk pada laki-laki itu.
Yara terus memompa dada Ryder dengan air mata yang sudah berjatuhan. "Aku mohon, aku mohon. Aku mohon jangan pergi, hiks." Dua terus menekan-nekan dada Ryder yang tidak memberikan reaksi apa-apa, membuat Ansel dan Lewis saling pandang.
"Kenapa, kenapa kau sekejam ini padaku? Kenapa?" teriak Yara dengan air mata yang sudah membasahi wajah, dia merasa sangat frustasi saat ini.
"Dokter Yara, dia sudah-"
"Tidak!" potong Yara dengan cepat. "Laki-laki kurang ajar dan jahat sepertinya tidak akan mati." Dia lalu kembali memumpa dada Ryder sambil terus berharap agar laki-laki itu segera sadar.
Di luar ruangan, semua orang ikut berdo'a agar Ryder baik-baik saja. Beberapa orang tampak menangis dengan apa yang terjadi pada laki-laki itu, apalagi para gadis-gadis yang bahkan sampai terisak lirih melihat keadaan laki-laki itu.
Tidak berselang lama, datanglah sebuah mobil berwarna hitam mengkilap yang langsung berbelok ke tempat itu membuat laki-laki berpakaian serba hitam dan yang lainnya segera menyuruh para warga untuk memberi jalan.
Dengan cepat seseorang yang ada di dalam mobil segera keluar dan berjalan dengan gagahnya menuju ruangan di mana Ryder berada, membuat semua orang yang melihatnya membulatkan mata dan tercengang saat melihat wajah laki itu sangat mirip dengan wajah Ryder.
"Buka pintunya!" ucap Eric dengan penuh penekanan.
"Maaf, Tuan. Dokter sedang memeriksa keadaan pasien,"
"Aku bilang buka pintunya! Aku ingin melihat putraku."
Deg.
__ADS_1
Semua orang terkesiap saat mendengar ucapan laki-laki itu. Bagaimana mungkin Ryder punya ayah yang kaya seperti itu tetapi dia tinggal di desa ini?
"Maaf, Tuan. Dokter Yara tidak mengizinkan siapa pun untuk masuk," ucap perawat yang menjaga pintu.
"Kau bilang apa? Berani sekali- tapi tunggu, Dokter Yara kau bilang?" tanya Eric yang baru menyadari ucapan wanita itu.
"Benar, Tuan. Para Dokter termasuk Dokter Yara ada di dalam."
Eric terdiam saat mendengar fakta yang sangat mengejutkan ini, kemudian dia melihat ke arah anak buahnya. "Apa itu Dokter Yara yang sama?"
"Benar, Tuan. Kami juga baru mengetahuinya hari ini," jawab mereka. Tentu saja mereka takut di marahi jika sudah tahu sejak semalam tapi tidak memberi kabar.
Eric langsung tersenyum lebar saat mendengarnya, dia merasa bersyukur jika saat ini Ryder sedang bersama dengan Yara. Namun, kenapa wanita itu bisa berada di sini juga? Dan kenapa dia merasa seperti dejavu? Ryder benar-benar berhutang nyawa dengan Yara, bahkan sudah 2 kali Yara menyelamatkan hidup Ryder.
Setelah usaha panjang yang menguras emosi dan jiwa, akhirnya Ryder merespon dan detak jantungnya berangsur normal.
"Ryder, kau mendengarku?" tanya Yara, tetapi Ryder belum memberikan reaksi, tetapi kedua matanya masih terpejam.
"Ryder, kau mendengarku? Apa kau tidak mau melihatku, Ryder" ucap Yara agar laki-laki itu sadar.
"Yara."
Deg.
"Yara."
Yara tersadar dari lamunannya saat Ryder kembali menyebut namanya. Dia lalu menggenggam tangan Ryder dengan erat. "Ini aku, aku ada di sini. Tolong buka matamu, Ryder. Aku mohon." Dia mulai terisak sambil menundukka kepalanya.
"Jangan menangis, aku tidak apa-apa."
Tangisan Yara langsung terhenti saat mendengar suara seseorang, sontak dia mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Ryder.
"Ryder, kau sudah sadar? Kau tau siapa aku?" tanya Yara membuat Ryder menganggukkan kepalanya.
Yara menghela napas lega saat melihat Ryder sudah sadar walaupun sangat lemas, dia lalu tersanyum ke arah laki-laki itu yang menatapnya dengan hangat.
Mereka lalu mulai mengobati luka yang ada di kepala dan juga punggung Ryder yang terlihat memar, dan luka yang ada dikepalanya juga harus mendapatkan jahitan karena sangat dalam dan lebar.
__ADS_1
Ryder terus menatap Yara yang saat ini sedang menjahit luka yang ada dikepalanya. Dia benar-benar tidak menyangka jika Yara sangat mengkhawatirkannya, bahkan wanita itu berusaha keras untuk membuatnya sadar.
Beberapa saat yang lalu, Ryder benar-benar merasa seperti sudah tidak berada di dunia ini lagi. Punggungnya yang dihantam rantai benar-benar sangat sesak, hingga akhirnya dia kehilangan kesadaran saat tidak bisa lagi bernapas.
Semua tempat menjadi gelap, dan hanya tinggal dia sendiri saja yang berada di tempat itu. Ryder tidak bisa melihat apapun di tempat itu, sampai pada akhirnya terdengar suara seseorang yang sedang memanggil, sampai beberapa kali hingga Ryder bisa kembali sadar.
"Apa ada yang sakit?" tanya Yara membuat Ryder terkesiap.
"Tidak, aku baik-baik saja," jawab Ryder dengan lemah, dia lalu menatap Yara yang juga sedang menatapnya.
"Kalau gitu istirahatlah, kau habis kehilangan banyak darah tadi," ucap Yara kemudian sambil menaikkan selimut sampai ke perut Ryder.
Ryder lalu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis. "Terima kasih, Yara."
Yara yang sudah berbalik dan hendak keluar dari tempat itu tidak jadi melangkahkan kakinya saat mendengar ucapan Ryder. Dia lalu melirik ke arah belakang tanpa membalikkan tubuhnya.
"Aku benar-benar sangat berterima kasih padamu, Yara. Dua kali kau menyelamatkan nyawaku, padahal aku sudah sangat menyakitimu. Sungguh, aku tidak tau harus bagaimana membalas kebaikan yang telah kau lakukan ini." Lirih Ryder. Air mata keluar dari sudut matanya, karena benar-benar merasa bersalah pada wanita itu.
"Kau tidak bisa hanya sekali saja mengucapkan terima kasih dan maaf padaku, butuh waktu seumur hidup kau melakukan semua itu untuk membalas apa yang sudah aku lakukan. Apa kau mengerti?" ucap Yara dengan lirih, bahkan wajahnya sudah memerah sekarang.
"Tentu saja. Aku akan selalu meminta maaf dan berterima kasih seumur hidupku padamu, bahkan saat mati pun hanya ada kau di dalam hatiku."
Deg.
Tubuh Yara terpaku di tempat saat mendengar ungkapan Ryder. Wajahnya memerah dengan semburat malu di kedua pipinya.
"Istirahatlah, setelah itu Om Eric ingin melihat keadaanmu,"
"Papa?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1