
Walau merasa tidak mengerti dengan apa yang Zafran katakan, Hana tetap menganggukkan kepalanya karena takut membuat laki-laki itu marah.
"Terus apa itu, kau punya ponsel?" tanya Zafran sambil menatap ponsel yang ada dalam genggaman tangan Hana.
"I-ini dibelikan oleh tante, saya tidak pernah meminta apapun," jawab Hana dengan tergagap. Dia benar-benar merasa takut jika membuat laki-laki itu murka.
Zafran menghela napas kasar. Pantas saja dia baru melihat ponsel itu, ternyata mamanyalah yang telah membelikan benda pipih itu.
"Aku cuma bertanya karena tidak pernah melihatku, kupikir itu barang pemberian bajing*an itu," ucap Zafran sambil kembali melakukan mobilnya.
Hana langsung menggelengkan kepalanya untuk membantah ucapan Zafran. Dia lalu meyakinkan laki-laki itu jika ponsel miliknya adalah pemberian dari Via dan bukan milik suaminya.
"Sudahlah, lupakan saja," ucap Zafran kemudian.
Hana mengangguk lalu memasukkan ponsel itu ke dalam tas, dan tas yang dia pakai juga pemberian dari Via.
Setelah perjalanan panjang walau jarak tujuan tidak jauh, akhirnya mereka sampai juga ke tampat di mana peralatan lukis dijual.
Kedua mata Hana berbinar-binar saat melihat begitu banyaknya alat lukis yang ada di tempat itu. Mulai dari yang termahal sampai yang termurah, semuanya lengkap tanpa ada satu pun yang tertinggal.
"Selamat datang, Tuan," sambut salah satu karyawan yang bekerja di tempat itu.
Zafran menganggukkan kepalanya. "Ambilkan satu set alat lukis lengkap yang terbagus di tempat ini." Perintahnya.
Karyawan itu langsung menganggukkan kepalanya dan bergegas mengambilka alat lukis yang terbaik di tempat itu, lalu menunjukkannya pada Zafran.
"Lihatlah, apa kau suka?" tanya Zafran sambil menunjukkan satu set alat lukis ke hadapan Hana.
Tanpa dijawab pun, Zafran sudah tahu jika Hana menyukai alat lukis yang dia tunjukkan. Terlihat jelas di kedua mata wanita itu yang sedang berbinar-binar, juga dari raut wajahnya yang berseri-seri.
"Ini sangat bagus sekali, Tuan. Harganya pasti sangat mahal," ucap Hana.
"Tentu saja, Nona. Ini adalah satu set alat lukis terbagus yang baru beredar dipasaran mulai tahun semalam, dan harganya mencapai dua ratus juta."
Kedua mata Hana membelalak lebar saat mendengar harga dari alat lukis itu. Dia yang sudah memegangnya kembali meletakkan alat lukis itu di atas meja dengan tangan gemetaran.
"Du-dua ratus juta?" tanya Hana dengan tergagap.
Karyawan itu mengangguk. "Benar, Nona. Tapi kualitasnya benar-benar sangat bagus dan terjamin." Dia lalu menjelaskan apa-apa saja keistimewaaan alat lukis itu selain tampilannya yang mewah dan elegan, bahkan bergaransi sampai dua tahun.
__ADS_1
Tubuh Hana terasa lemas saat mendengar penjelasan karyawan itu. Mau sebagus apapun, tetap saja harganya sangat mahal dan tidak masuk akal sekali.
"Siapkan barangnya dan pakai kartu ini," ucap Zafran sambil memberikan black cardnya pada karyawan itu.
Hana terjingkat kaget saat mendengar ucapan Zafran. Dia menatap laki-laki itu dengan tajam dan tidak percaya. Apakah Zafran sudah gila sehingga membeli alat lukis semahal itu?
"Baik, Tuan. Mohon tunggu sebantar," pinta karyawan itu.
"Tu-tunggu, tunggu sebentar!" ucap Hana sambil menahan tangan karyawan itu membuat lelaki itu menatap dengan bingung, begitu juga dengan Zafran.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Zafran dengan heran. Apa Hana ingin melakukan kekonyolan lagi?
"Seharusnya saya yang bertanya seperti itu pada Anda, Tuan," sahut Hana sambil menatap Zafran, tetapi tangannya tetap menahan tangan karyawan itu.
Zafran mengernyitkan keningnya karena benar-benar tidak paham dengan apa yang sedang Hana lakukan, sementara Hana kembali mengambil black card milik Zafran dan meminta agar karyawan itu menunggu sebentar.
"I-ini punya Anda, Tuan," ucap Hana sambil mengembalikan black card milik Zafran. Kalau sampai dia merusakannya, maka tamatlah riwayatnya.
"Kenapa kau mengambilnya? Apa kau mau membayar alat lukis itu sendiri?" tanya Zafran kembali, tetapi dia tetap diam dan tidak mengambil black card itu.
Dengan cepat Hana menggelengkan kepalanya. Sampai bumi terbelah pun dia tidak akan punya uang sebanyak itu, lalu cepatlah ambil black card itu karena tangannya sudah gemataran.
"Harga barang itu sesuai dengan kualitasnya. Jika barangnya bagus, maka harganya juga mahal," sahut Zafran.
"Saya paham, Tuan. Tapi saya tidak mau jika Anda harus mengeluarkan uang sebanyak itu, beli saja yang paling murah," pinta Hana dengan penuh harap.
Zafran terdiam. Padahal dia hanya ingin memberikan yang terbaik supaya Hana fokus dengan belajarnya, dan juga supaya tidak mudah rusak karena dia malas untuk membelinya lagi.
"Yang murah cepat rusak, aku tidak mau bolak-balek membelinya," ucap Zafran dengan tajam.
"Ka-kalau gitu yang bagus tapi murah, supaya tidak cepat rusak."
"Itu tidak ada!" seru Zafran mulai kesal.
Hana terdiam bingung. Sungguh dia tidak ingin alat lukis baru dan masih bisa menggunakan milik Zayyan, Kenapa harus beli yang baru sementara yang lama saja ada?
"Ka-kalau gitu beli yang seperti punya tuan Zayyan saja," ucap Hana kemudian.
Zafran tersenyum tipis. "Apa kau tahu berapa harga alat lukis milik Zayyan?" Dia bertanya dengan penuh penekanan dan dijawab dengan gelengan kepala Hana. "Satu set alat tulis Zayyan itu harganya seratus dua puluh juta."
__ADS_1
"Apa?" pekik Hana dengan kaget dan tidak percaya saat mendengar harga dari alat lukis milik Zayyan, sampai tidak sengaja menjatuhkan black card milik Zafran.
Dengan cepat Hana mengambil black card itu sebelum rusak. "Ma-maafkan saya, saya tidak sengaja menjatuhkannya." Wajahnya berunah panik dan pias.
Zafran berusaha untuk menahan tawanya saat melihat ke panikan diwajah Hana, sementara Hana langsung menarik tangan Zafran dan meletakkan black card ke tangan laki-laki itu.
"Sa-saya tidak tahu harganya, Tuan. Maafkan saya," ucap Hana kembali.
Zafran terdiam saat Hana memegang tangannya untuk mengembalikan black card itu. Jika wanita lain pasti senang di beri black card, bahkan ada yang mengemis pada para lelaki agar mendapat kartu tersebut.
Namun, lain hal dengan Hana yang malah ketakutan saat memegang kartu itu. Tidak mungkin 'kan, kalau Hana tidak tahu black card itu apa?
"Sudahlah, tutup mulutmu dan diam saja. Awas kalau kau bersuara," ancam Zafran yang sudah lelah melihat kelakukan wanita itu.
Zafran lalu kembali memanggil karyawan yang tadi dan kembali memberikan black cardnya. Dia langsung menatap Hana dengan tajam saat wanita itu akan kembali menolak.
Setelah perdebatan panjang, akhirnya mereka membeli satu set alat lukis dengan harga dua ratus juta membuat Hana tidak bisa lagi mengucapkan apa-apa.
"Tuan, ini-"
"Diam!" potong Zafran sambil berjalan ke arah di mana mobilnya berada.
Hana hanya bisa menghela napas kasar saja dengan apa yang Zafran lakukan. Mau melawan pun tidak ada gunanya.
Hana lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi mobil karena merasa pusing. Entah sudah berapa banyak uang yang mereka habiskan untuknya, dan sampai mati pun mungkin dia tidak akan bisa membala semua itu.
"Jadilah sukses dan buktikan kepada semua orang bahwa kau sangat hebat, terutama pada mantan suami dan mertuamu juga. Mereka harus melihat kesuksesanmu dengan mata mereka sendiri," ucap Zafran dengan tajam.
Hana terdiam saat mendengar ucapan Zafran. Dadanya seolah terbakar dengan api yang menyala dahsyat, hingga membuat jiwanya ikut bersemangat karena bara api itu.
"Baiklah, saya akan berusaha keras untuk menggapai kesuksesan, dan Andalah orang pertama yang akan melihat kesuksesan itu."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1