Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 37. Cicilan Rumah Baru.


__ADS_3

Yara langsung pulang setelah bertemu dengan Nova. Sepanjang jalan dia terus memikirkan apa yang wanita paruh baya itu katakan. Sungguh dia tidak percaya jika selama ini Nova dan juga Aidan sama sekali tidak menyayanginya, dan lebih mementingkan harta.


Setelah sampai di rumah, Yara segera mandi dan berlalu shalat. Dia ingin menenangkan diri dengan mengadu pada sang pencipta, agar diberi kekuatan dan kasabaran seluas samudra.


Pada saat yang sama, Aidan sedang berada di apartemen Rosa. Tempat itu terlihat berantakan dengan pakaian yang berserakan di atas lantai.


"Aku sangat terkejut dengan kedatanganmu ke sini, Ai. Aku tidak menyangka jika kau akan kembali padaku, bukankah terakhir kali kau tidak ingin berhubungan denganku lagi?"


Aidan menyandarkan tubuhnya yang berkeringat ke sandaran ranjang. Niat hari hanya ingin menghabiskan waktu bersama Rosa agar melupakan Yara, malah berakhir di atas ranjang.


"Jangan membahas tentang itu lagi, Rosa. Bukankah kau menginginkan semua ini?"


Rosa tersenyum lebar sambil memeluk tubuh Aidan dengan erat. "Tentu saja. Aku sangat mencintaimu dan juga menginginkanmu."


Aidan tersenyum getir. Benar, seharusnya dia menikah dengan wanita seperti Rosa yang kapan saja bisa keluar dari pekerjaan sesuai dengan keinginannya, juga dia tidak akan merasa rendah diri di hadapan keluarga wanita itu.


"Jadi, apakah kau benar-benar serius dengan hubungan ini?" Rosa kembali bertanya membuat lamunan Aidan terhenti dan menoleh ke arahnya.


Aidan diam sejenak, lalu dia menganggukkan kepalanya membuat Rosa bersorak senang. "Aku bahagia sekali, Sayang. Aku rela menjadi istri keduamu dan menjadi madu Mbak Yara."


"Itu tidak perlu, Rosa. Aku tidak akan kembali lagi padanya, dan aku sudah memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan dia apapun alasannya."


Rosa benar-benar merasa bahagia. Dia yang sudah berniat untuk mencari laki-laki lain tentu saja tidak jadi melakukannya.

__ADS_1


Aidan sendiri memejamkan kedua matanya saat Rosa mulai kembali mencumbu tubuhnya, bahkan tangan wanita itu sudah mulai meremmas sesuatu di bawah sana yang mulai mengeras.


"Kau lihat saja, Yara. Aku akan menunjukkan padamu bahwa aku lebih bahagia dan membuatmu menyesal."


Ronde kedua pun di mulai di mana Aidan yang mengambil alih permainan, setelah di ronde pertama Rosa lah yang lebih aktif dalam memuaskannya.


*


*


*


Beberapa hari kemudian, River kembali datang ke rumah Vano bersama dengan pengacara Yara. Dia mengatakan pada semua orang jika Aidan menyetujui semua tuntutan mereka, bahkan laki-laki itu sudah keluar dari rumahnya.


"Kau yakin, River?"


Yara dan kedua orang tuanya mengernyitkan kening mereka saat mendengar ucapan River. "Bukankah rumah di kawasan itu lumayan mahal? Tapi kenapa mas Aidan beli di sana, apa dia punya tabungan?" Yara terdiam sambil berpikir.


"Karena semua tuntutan disetujui dan tidak ada lagi masalah, maka besok sidang putusan akan segera dilaksanakan."


Lamunan Yara terhenti dengan apa yang River katakan. "Secepat itu, Om?"


River kembali mengangguk. "Tentu saja, Nona."

__ADS_1


"Ada apa, Nak? Apa kau ada masalah lain?" tanya Via dengan khawatir.


"Tidak ada apa-apa, Ma. Aku hanya merasa semuanya berjalan sangat cepat, dan bersyukur jika tidak ada hambatan yang kembali menghadang."


Walaupun merasa penasaran dan bingung, Yara memutuskan untuk tidak ambil pusing. Apapun yang Aidan lakukan sekarang tidak menjadi urusannya lagi, bahkan dia tidak berhak untuk ikut campur tentang laki-laki itu.


Setelah semuanya selesai, River dan pengacara Yara segera pamit dari rumah itu sementara Yara dan keluarganya masih berkunpul di ruang keluarga.


"Baguslah jika dia memutuskan untuk sadar diri, jika tidak pasti aku yang akan membuatnya sadar dengan kehancuran," ucap Vano yang langsung disetujui oleh Zafran dan juga Zayyan, sementara Yara dan Via hanya menggelengkan kepala mereka.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Aidan sedang duduk bersama dengan keluarganya. Semalam dia sudah pindah dari rumahnya dan Yara karena tidak ingin lagi mengemis harta dari wanita itu.


Dia lalu memutuskan untuk membeli rumah di kawasan Cempaka Putih dengan cicilan selama 5 tahun.


"Kenapa rumah tanggamu bisa sampai seperti ini, Aidan? Apa kau tidak akan menyesal melepaskan harta karun seperti Yara?" tanya Anggi, dia adalah kakak kandung Aidan.


"Untuk apa menyesal? Toh sebentar lagi Aidan akan naik jabatan, jadi tidak perlu mempertahankan wanita sepertinya."


Anggi hanya tersenyum tipis saat mendengar ucapan sang ibu. "Si*alan. Kalau sampai Yara menagih hutangku bagaimana? Aku harus mencari cara untuk bertemu dengan wanita itu. Setidaknya hubungan kami tetap baik supaya aku bisa kembali meminjam uang padanya."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2