
Suasana antara keluarga Yara dan juga Aidan terus memanas membuat keadaan kian menyeramkan. Yara sendiri terus memohon pada kedua orang tuanya untuk pulang dan menyerahkan semua keputusan di tangannya, karena biar bagaimana pun masalah itu menyangkut rumah tangganya.
"Papa tidak mau kau luluh hanya karena ucapan manisnya, Nak. Ketahuilah, jika sekali dia sudah mengkhianatimu, maka tidak ada jaminan dia tidak akan kembali mengulangi perbuatannya," ucap Vano sambil mengusap air mata yang masih saja membasahi wajah Yara.
Saat ini mereka sudah keluar dari rumah itu atas desakan Yara, karena keadaan sudah semakin rumit saja.
"Aku mengerti, Pa. Mama dan Papa tidak perlu khawatir."
Yara menganggukkan kepalanya dengan mengulas senyum tipis agar orang tuanya tidak lagi khawatir. Namun, Vano dan Via malah semakin sedih saat melihat senyumannya.
"Nak." Via menggenggam kedua tangan Yara membuat wanita itu menoleh ke arahnya. "Setiap rumah tangga pasti ada masalah, dan setiap pasangan harus menyelesaikan masalah tersebut. Mama tidak akan membelamu atau pun Aidan, hanya saja pikirkan semuanya baik-baik dan jangan gegabah. Hem?"
Yara kembali mengangguk saat mendengar ucapan sang mama. Dia lalu memeluk mamanya dengan erat seolah ingin mengambil kekuatan dari sang mama.
Akhirnya Vano dan Via pergi dari rumah itu agar Yara bisa menyelesaikan masalah rumah tangganya sendiri, sementara Zafran dan River tetap berada di sana dan enggan untuk beranjak pergi.
"Kalian tunggu apa lagi?" tanya Vano dengan heran.
"Saya akan tetap di sini, Tuan."
"Untuk apa?" Vano menatap River dengan tajam, sementara Zafran merasa tidak peduli dan hanya duduk diam di tempat itu.
"Sudahlah, Mas. Biar saja River dan Zafran di sini." Via menahan lengan Vano yang sudah akan menghampiri mereka, lalu beralih melihat ke arah Zafran dan juga River. "Tolong jangan membuat keributan lagi, kasihan Yara."
River dan Zafran mengangguk dengan patuh, sementara Vano menghela napas kasar dan langsung berjalan ke arah di mana mobilnya berada.
"Aku tidak tau sebenarnya Zafran itu anak siapa. Kenapa dia lebih dekat dengan River dari pada aku?"
Via langsung menatap Vano dengan tajam. "Apa maksudmu bilang kayak gitu, Mas?"
__ADS_1
Glek.
Vano menelan salivenya dengan kasar saat mendapat tatapan tajam dari sang istri. "Ti-tidak ada, Sayang. Ayo, kita pulang! Kasihan Zayyan di rumah sendiri."
Vano langsung masuk ke dalam mobil sebelum mendapat amukan dari Via, sementara Via sendiri menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang suami.
Setelah kepergian orang tuanya, Yara kembali masuk ke dalam rumah untuk menemui mertua dan juga sang suami. Terlihat mereka sedang duduk di atas sofa sambil menatapnya tajam.
"Maafkan mama dan papa, Bu. Mereka sudah membuat keributan dengan Ibu," ucap Yara dengan lirih, dia merasa bersalah karena sudah membuat keributan.
"Kau lihat bagaimana orang tuamu itu? Mereka selalu saja ikut campur urusan rumah tangga kalian, bagaimana mungkin Aidan betah denganmu jika terus seperti itu?"
Yara terkesiap dan menatap sang mertua dengan sayu. Sebelumnya mertuanya itu menyalahkannya karena tidak bejus menjadi istri, dan sekarang dia juga menyalahkan kedua orang tuanya?
"Seharusnya mereka diam saja dan mendamaikan kalian. Ini tidak, datang-datang marah sambil ingin membawamu pergi. Orang tua macam apa itu?"
Yara mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dia tahu jika kedua orang tuanya bersalah karena datang dengan tidak sopan dan membuat keributan, tapi bukan berarti mertuanya itu bisa merendahkan mereka sebagai orang tuanya.
Aidan yang sejak tadi diam angkat bicara. Dia tahu jika Yara pasti tidak suka dengan apa yang ibunya katakan, dan semua itu pasti akan membuat hubungannya semakin rumit.
"Keterlaluan bagaimana, Aidan? Alasanmu selingkuh pasti juga karena mertuamu itu, mereka selalu saja ikut campur dan merasa paling benar. Mentang-mentang orang kaya jadi sok seperti itu."
Nova benar-benar kesal. Seharusnya keluarga Yara tidak usah ikut campur, kalau pun sudah tahu permasalahan yang terjadi ya harusnya mendamaikan saja. Bukannya menambah keruh keadaan.
"Lalu bagaimana dengan Ibu? Bukankah selama ini Ibu juga ikut campur dalam rumah tangga kami?"
"Apa?" Nova menatap Yara dengan tajam, begitu juga dengan Aidan yang terkejut dengan ucapan Yara.
"Selama ini Ibu juga ikut campur dalam rumah tangga kami, bahkan sejak pertama kali aku dan Mas Aidan menikah,"
__ADS_1
"Jadi maksudmu, kau tidak suka jika ibu tinggal di sini, gitu?"
Yara menggelengkan kepalanya dengan helaan napas frustasi. "Bukan seperti itu, Bu. Hanya saja Ibu sudah sangat keterlaluan mengatakan hal seperti itu tentang mama dan papa."
Nova berdecak kesal dengan apa yang Yara katakan, sementara Aidan hanya diam sambil menatap Yara dengan sayu.
"Sudahlah. Tidak ada gunanya juga ibu berkata hal seperti ini, toh besok keluargamu pasti akan datang lagi dan membuat keributan. Kalau kau masih ingin bersama Aidan, lebih baik menjauh dari keluargamu,"
"A-apa?" Yara menatap sang mertua dengan tidak percaya, sementara Aidan juga terkejut dengan apa yang ibunya katakan.
"Apa maksud Ibu?" tanya Aidan dengan tajam.
"Ibu mengatakan hal yang benar, Aidan. Jika kau mau rumah tanggamu tenang dan bahagia, maka katakan pada mertuamu untuk tidak lagi menganggu kalian. Jika tidak, cari saja wanita yang lain. Ada banyak wanita yang lebih baik dari istrimu ini."
Nova langsung berbalik dan berjalan masuk ke dalam kamar. Dia sama sekali tidak peduli bagaimana perasaan menantunya saat ini, yang pasti sangat terluka dengan ucapannya.
"Ya-Yara, aku mohon maafkan ibu. Kau tau kan, jika ibu tidak bermaksud seperti itu?"
Aidan beranjak mendekati Yara lalu mengganggam tamhan wanita itu. "Ibu hanya sedang emosi saja, jadi jangan di dengarkan ya."
Yara hanya diam dengan tatapan kosong Sungguh hatinya sangat sakit bak di tusuk-tusuk oleh ribuan jarum secara bersamaan, bahkan rasa sakitnya jauh lebih hebat dari pada perselingkuhan yang suaminya lakukan.
"Maaf, Mas. Aku benar-benar tidak bisa melanjutkan rumah tangga kita lagi."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.