Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 184. Kejahilan Orangtua.


__ADS_3

Hana tersentak kaget saat mendengar ucapan Zafran, begitu juga dengan Junior yang tidak menyangka jika tuannya akan mengajak wanita itu ke rumah orangtuanya.


"A-anda bilang apa?" tanya Hana dengan tergagap. Benarkah Zafran akan membawanya ke rumah orangtua laki-laki itu? Tetapi untuk apa, kenapa dia dibawa ke sana?


Zafran langsung masuk ke dalam mobil tanpa menjawab pertanyaan Hana. Kenapa wanita itu banyak tanya sekali sih? Sudah bagus dia mau membantu, tetapi masih saja banyak tanya dan membuatnya bertambah kesal.


Hana terdiam bingung karena tidak tahu harus melakukan apa saat ini, apalagi saat melihat Zafran langsung masuk ke dalam mobil dengan wajah kesal. Benarkah dia benar-benar akan dibawa ke rumah orangtua laki-laki itu?


"Kenapa Anda diam saja, Nona? Bukankah tuan Zafran menyuruh Anda untuk ikut bersamanya?"


Hana tersentak kaget dan tersadar dari lamunan saat mendengar ucapan Junior, dia lalu melirik laki-laki itu yang kini sedang menatapnya.


"Ma-maaf, tapi, tapi kenapa aku dibawa ke sana?" tanya Hana dengan pelan. Tentu saja dia merasa ragu dan takut secara bersamaan.


Junior mengendikkan bahunya. Dia sendiri tidak tahu kenapa Zafran mengajak wanita itu, dia bahkan terkejut dengan apa yang terjadi.


"Apa kalian tetap akan berdiri di sana?" bentak Zafran dengan tatapan tajam yang terhunus ke arah Hana dan Junior. Api kekesalannya semakin membara melihat kedua orang itu tidak segera masuk ke dalam mobil.


Junior langsung menarik tangan Hana dan memaksa wanita itu untuk masuk ke dalam mobil sebelum tuannya benar-benar murka, bahkan dia sendiri juga pasti akan terkena amukan dari laki-laki itu.


Setelah semuanya berada di dalam mobil, Junior bergegas pergi dari tempat itu menuju rumah orangtua Zafran. Suasana terasa sangat mencekam, terutama bagi Hana yang hanya bisa menunduk sambil mencengkram kedua tangannya dengan erat.


Baikah, terserah saja jika Zafran ingin membawanya ke rumah orangtua laki-laki itu. Bahkan jika Zafran membunuhnya pun, Hana tetap akan menerimanya dengan pasrah karena hanya itulah yang bisa dia lakukan.


Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bersuara di dalam mobil. Sampai tidak terasa jika mereka sudah memasuki gerbang rumah kedua orangtua Zafran.


"Turun!" ucap Zafran dengan tajam saat Junior sudah memberhentikan mobil itu. Dia lalu keluar setelah melihat anggukan kepala Hana.


Dengan perlahan, Hana ikut keluar dari mobil sambil mencoba untuk memperhatikan sekitaran tempatnya berada saat ini. Kedua matanya membelalak lebar saat melihat betapa mewah dan megahnya rumah orangtua Zafran, terlihat jelas jika mereka bukan orang sembarangan, bahkan rumah keluarga Dion saja kalah jauh dari rumah yang saat ini ada di hadapannya.


"Rumahnya seperti yang ada di film-film, bahkan lebih mewah lagi," gumam Hana dengan kagum. Tidak terbayangkan berapa jumlah uang yang sudah dihabiskan untuk membangun rumah itu.


"Kenapa kau diam saja?"


Hana terjingkat kaget saat mendengar suara Zafran, dia semakin terkejut saat melihat laki-laki itu sudah berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Sudah beberapa kali aku memanggilmu, tapi kau tetap diam dan tidak mendengarku," sambung Zafran dengan tajam.


"Ma-maafkan saya, Tuan," ucap Hana dengan penuh penyesalan. Dasar bod*oh. Sangking terpesonanya melihat rumah orangtua Zafran, dia sampai tidak mendengar panggilan laki-laki itu.


Zafran hanya bisa menghela napas berat. Sepertinya dia harus benar-benar ekstra sabar menghadapi Hana, dan entah kenapa dia selalu saja berurusan dengan wanita itu. Sungguh kesi*alan yang tidak bisa dia hindari.


"Kakak! Kau dari mana saja sih?" teriak Zayyan tiba-tiba membuat Zafran langsung membalikkan tubuhnya, begitu juga dengan Hana dan Junior yang langsung melihat ke arahnya. "Dari tadi ku telepon, tapi nomor Kakak gak aktif." Omelnya sambil terus mendekati sang kakak.


Kepala Zafran semakin berdenyut sakit mendengar omelan sang adik, ingin sekali dia memukul kepala adiknya itu sekali saja.


"Kenapa?" tanya Zafran dengan acuh tak acuh.


Zayyan mencebikkan bibirnya. "Tadi aku mau titip sesuatu, tapi Kakak malah-" Dia tidak dapat melanjutkan ucapannya saat melihat seorang wanita berdiri di belakang sang kakak. "Loh, siapa dia?" Dia langsung bertanya dengan heran sambil menatap ke arah wanita itu.


"Se-selamat sore, Tuan," sapa Hana sambil menundukkan kepalanya.


Zayyan langsung melirik ke arah sang kakak saat mendapat sapaan dari wanita itu. "Dia asisten Kakak juga?" Lalu kembali melihat ke arah wanita itu.


Zafran menggelengkan kepalanya. "Di mana mama dan papa?" Dia lalu bertanya keberadaan orangtua mereka.


"Kak Junior!"


Junior yang akan ikut masuk ke dalam rumah tidak jadi pergi saat mendengar panggilan Zayyan, dia lalu melihat ke arah laki-laki itu dengan bertanya-tanya.


"Perempuan itu siapa, Kak? Kenapa Kak Zafran membawanya ke sini?" tanya Zayyan dengan heran, karena ini adalah kali pertam sang kakak membawa seorang wanita ke rumah mereka. "Tidak mungkin 'kan, kalau itu pacarnya."


Junior langsung menggelengkan kepalanya untuk membantah ucapan Zayyan. "Bukan, dia bukan pacarnya tuan Zafran. Tapi bagaimana saya menjelaskannya ya?" Dia merasa bingung sendiri.


Zayyan yang merasa penasaran tentu saja langsung memaksa Junior untuk mengatakan siapa wanita itu, juga menceritakan apa yang terjadi sampai sang kakak membawanya pulang ke rumah.


Mau tidak mau, Junior terpaksa menceritakan semuanya. Mulai dari siapa Hana, sampai kejadian yang membuat Zafran membawa wanita itu ke tempat ini.


Sementara itu, Zafran yang sudah membawa Hana masuk ke dalam rumah menyuruh wanita itu untuk duduk di ruang tamu dan menunggunya.


"Ma, Pa!" panggil Zafran saat sudah berdiri di depan kamar orangtuanya.

__ADS_1


"Masuklah," sahut Via dari dalam kamar.


Zafran segera membuka pintu yang ada di hadapannya dan bergegas masuk ke dalam kamar. "Astaga, apa Mama dan Papa mau pindahan?" Dia terkejut saat melihat kamar orangtuanya berantakan dengan baju berserakan di mana-mana.


"Ya, papa dan mama mau pindah ke rumahnya kak Yara," sahut Vano yang sedang duduk di atas ranjang, sementara Via hanya tersenyum saja sambil tetap membongkar pakaian yang ada di dalam lemari.


Zafran menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sang papa. "Kenapa Mama membongkar semua pakaian yang ada dalam lemari, apa pakaian itu mau dibawa semua?" Dia kembali bertanya.


"Tidak, Nak," jawab Via sambil beranjak dari lantai, kakinya sudah terasa pegal karena terlalu banyak jongkok.


"Terus, untuk apa Mama mengeluarkan semua pakaian Mama dan papa seperti ini?" tanya Zafran kembali dengan tidak mengerti.


"Bukan cuma pakaian mama dan papa saja yang dikeluarkan, tapi pakaianmu dan Zayyan juga."


"Apa?" Zafran memekik kaget saat mendengar ucapan sang papa, membuat orangtuanya ikut terjingkat kaget.


"Kau ini, buat mama kaget aja!" seru Via sambil mengusap dadanya yang berdebar kuat akibat teriakan Zafran.


"Yang buat kaget kan Mama! kenapa Mama mengeluarkan pakaianku dan Zayyan juga, apa kita semua mau pindah ke desa itu?"


Vano langsung tergelak melihat kepanikan diwajah putranya, begitu juga dengan Via yang merasa lucu melihat ketegangan Zafran.


"Bukan begitu, Zafran. Mama memang mengeluarkan semua pakaian yang sudah tidak dipakai, tapi masih layak pakai. Namun, bukan karena kita mau pindah, tapi karena mau disumbangkan untuk orang-orang yang membutuhkan di desa. Tadi malam mama juga sudah memberitahu semua teman-teman mama, dan mereka juga akan menyumbangkan pakaian," ucap Via menjelaskan.


Zafran langsung menghela napas lega saat mendengar penjelasan sang mama. Dia lalu melirik papanya dengan tajam, gara-gara papanya itu dia jadi merasa panik sendiri.


"Ya sudah, kalau gitu ayo ikut aku sebentar! Aku mengajak seorang wanita ke sini dan ingin mengenalkannya pada Mama dan Papa."


"Apa?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2