
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Walau merasa lelah, Yara tetap mengikuti langkah Ryder yang entah mau membawanya ke mana.
Mereka melewari semak belukar yang sepertinya jarang dilewati oleh orang-orang, hingga membuat Yara merasa takut dan berpikir yang tidak-tidak.
"Kau mau membawaku ke mana, Ryder? Kalau sampai kau berani macam-macam padaku, aku tidak akan tinggal diam," ancam Yara.
Ryder tergelak saat mendengar ancaman Yara. "Tenanglah, mana mungkin aku berani macam-macam dengan calon istriku sendiri. Nanti kalau udah jadi istri, barulah kita macam-macam."
Yara memutar bola mata malas mendengar kelakar Ryder, tetapi dia harus tetap waspada karena biar bagaimana pun hati seseorang tidak ada yang tahu.
"Sebenarnya kita mau ke mana sih, kenapa jalannya-" Yara tidak dapat melanjutkan ucapannya saat mendengar suara gemuruh air, hingga membuat kakinya berhenti melangkah. "A-apa kau mendengar sesuatu, Ryder?" Dia bertanya sambil menajamkan indra pendengarannya.
Ryder tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Ayo, sebentar lagi kita sampai!" Dia menarik tangan Yara sedikit kuat membuat tubuh wanita itu tertarik dan mengikuti langkahnya.
Akhirnya sampai juga mereka ke tempat yang dituju setelah berjalan kaki selama kurang lebih 10 menit. Kedua mata Yara membulat sempurna saat melihat pemandangan yang ada di depannya.
"Masyaallah. Apa, apa ini mimpi?" tanya Yara dengan tidak percaya, pemandangan yang ada di hadapannya benar-benar sangat indah.
Sebuah air terjun dengan tinggi 15 meter tampak mengalirkan air dengan deras. Di bawah air terjun itu terdapat sungai yang sangat jernih, bahkan berwarna biru terang yang menakjubkan mata.
Bukan hanya itu saja, pepohonan dan bunga-bunga yang tumbuh di sekitar air terjun itu semakin menambah keindahan pemandangannya. Juga bebatuan yang tersusun rapi dipinggiran serta di dalam sungai membuat siapa saja ingin segera menginjakkan kaki ke tempat itu.
"Bagaimana, apa kau menyukainya?" tanya Ryder sambil menatap Yara yang tampak sangat terpukau dengan pemandangan yang dia tunjukkan.
Yara langsung menganggukkan kepalanya sampai beberapa kali. "Suka, aku sangat menyukainya. Bagaimana bisa kau menemukan tempat yang sangat indah ini?" Dia bertanya dengan heran.
Ryder lalu mengajak Yara untuk duduk di salah satu batu yang ada dipinggir sungai sebelum mendengar jawabannya, dia lalu menyuruh wanita itu untuk memasukkan kaki ke dalam sungai agar merasa segar.
"Ya Allah, airnya segar sekali," seru Yara dengan girang. Tidak ingat kapan terakhir kali dia melihat pemandangan yang indah dengan air sesegar ini, yang pasti saat ini dia benar-benar sangat senang.
Ryder ikut merasa senang saat melihat kebahagiaan diwajah Yara, setidaknya lelah yang wanita itu rasakan bisa hilang diobati oleh keindahan dan ketenangan tempat ini.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, aku ingin mengambil makan siang kita," ucap Ryder kemudian.
Yara yang sedang asyik bermain air mendongak ke arah Ryder. "Kau akan mengambilnya di mana?"
Ryder lalu menunjuk ke arah sebuah gubuk yang berada tidak jauh dari tempat mereka saat ini. Terlihat ada bungkusan makanan di gubuk itu, yang sebelumnya sudah dia persiapkan saat diusir oleh Yara.
"Baiklah, aku akan menunggu di sini."
Ryder mengangguk lalu beranjak pergi untuk mengambil makan siang mereka. Ada berbagai macam menu makanan yang dia bawa, lebih tepatnya disiapkan langsung oleh nenek Weny yang memang sangat pintar memasak.
"Ayo, kita makan dulu!" ajak Ryder saat sudah kembali bersama dengan Yara.
Yara tercengang saat melihat makanan yang Ryder bawa. "Makanannya banyak sekali, Ryder. Apa kau yang memasaknya?"
Ryder langsung mengangguk. "Tentu saja, aku 'kan harus menyiapkan makanan spesial untuk wanita yang kucintai." Dia menjawab dengan bangga.
Yara memberikan tatapan curiga saat mendengar jawaban Ryder, sampai membuat laki-laki itu tergelak.
"Oh, aku salah jawab," ralat Ryder. "Semua ini disiapkan oleh nenek, dia berharap semoga kau menyukainya."
Mereka lalu menikmati makan siang itu di tengah suara gemercik air yang sangat menenangkan, ditambah dengan semilir angin dan suara-suara dari kicauan burung yang membuat hati terasa lebih ringan.
"Makanan ini sangat enak, Ryder. Aku merasa beruntung bisa memakannya," ucap Yara saat beberapa sendokan sudah masuk ke dalam mulutnya.
Ryder tersenyum senang saat mendengarnya. "Syukurlah kalau kau menyukainya, nenek pasti senang mendengarnya."
Yara ikut tersenyum. Dia benar-benar berkata jujur jika makanan itu sangat enak, apalagi dinikmati di tengah pemandangan yang luar biasa indah ini membuat rasanya jauh lebih nikmat.
Setelah selesai, Yara kembali menyusun bekas makan mereka dan berniat untuk kembali meletakkannya di gubuk itu. Namun, Ryder melarang karena bebatuan yang harus dilewati sedikit licin.
"Letakkan saja di situ, tidak apa-apa," ucap Ryder sambil menunjuk ke arah batu yang ada di samping Yara.
__ADS_1
Yara mengangguk lalu melakukan sesuai dengan apa yang Ryder ucapkan, kemudian dia kembali menikmati pemandangan dan suasana yang ada di tempat itu.
"Oh iya, kau belum menjawab pertanyaanku tadi, Ryder," seru Yara sambil menoleh ke arah laki-laki itu.
"Pertanyaan yang mana? Oh, pertanyaan kapan aku menikahimu?" goda Ryder.
Yara mencebikkan bibirnya. "Aku serius, Ryder." Dia lalu memercikkan air ke arah laki-laki itu.
Ryder tergelak sambil membalas apa yang Yara lakukan. "Iya-iya. Aku 'kan ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan, itu pun tidak boleh." Dia berdecih membuat Yara menggelengkan kepala.
Ryder lalu menceritakan jika dulu dia tidak sengaja menemukan tempat ini saat membantu kakek Domi. Lebih tepatnya dia tersesat saat akan pergi menyusul kekek Domi ke ladang, sampai akhirnya dia sampai ke tempat yang indah ini.
Ternyata para penduduk di desa tidak ada yang mengetahui tentang air terjun itu karena memang tempatnya di pinggir hutan, dan juga tertutup oleh semal belukar.
Beberapa orang sempat mendengar suara gemuruh air saat melewati tempat itu, termasuk Domi. Namun, mereka enggan untuk memeriksanya karena sibuk bekerja.
"Tempat ini masih sangat alami karena belum terjamah oleh tangan manusia, dan aku akan menjaganya agar tetap seperti ini walau nantinya bisa dinikmati oleh banyak orang," ucap Ryder setelah selesai menceritakan semuanya.
Tidak mungkin selamanya Ryder menyembunyikan tempat itu dari masyarakat. Dia juga ingin menunjukkan betapa indahnya air terjuan yang ada di desa ini, tetapi tetap menjaga keasriannya.
"Aku setuju denganmu, Ryder. Pasti banyak sekali orang-orang yang akan menyukainya," sahut Yara. Dia senang dengan rencana laki-laki itu.
"Aku juga berniat untuk menetap di desa ini, Yara. Aku ingin membangun jalan serta membangun fasilitas umum yang ada di sini, aku yakin sekali jika desa ini akan menjadi desa yang maju dan dapat bersaing dengan perkotaan," ucap Ryder kemudian.
Yara terdiam saat mendengarnya. Dia merasa sedikit terkejut dengan keputusan laki-laki itu, tetapi tujuan Ryder benar-benar sangat mulia hingga hatinya merasa terenyuh.
"Bagaimana denganmu, Yara? Jika aku menetep di sini, maukah kau ikut dan menemaniku?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.