
Keesokan harinya, Yara bangun kesiangan karena sepanjang malam tidak bisa tidur. Setelah membersihkan diri, dia bergegas menuju dapur di mana sang mama berada.
"Selamat pagi, Ma."
Via yang sedang meletakkan menu sarapan di atas meja mendongakkan kepalanya, lalu tersenyum pada Yara.
"Pagi juga, Sayang. Bagaimana tidurmu, nyenyak?" tanya Via sambil tetap menyusun makanan di atas meja.
Yara menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ma. Sepanjang malam aku tidak bisa tidur, makanya bangun kesiangan."
"Mbak di sini?"
Yara dan Via terlonjak kaget saat mendengar teriakan seseorang, sontak mereka menatap ke arah seorang lelaki yang selalu saja membuat keributan di rumah itu.
"Ini bukan di hutan, Zayyan. Kenapa selalu teriak-teriak sih?"
Entah sudah berapa kali Via mengingatkan, tetapi putra bungsunya itu selalu saja menguatkan suaranya.
Zayyan hanya tersenyum saja saat terkena omelan sang mama, dia lalu beranjak mendekati Yara yang tertawa karena melihatnya.
"Mbak tidur di sini?" Zayyan kembali bertanya dan langsung dijawab oleh anggukan kepala Yara.
"Iya. Apa kau tidak senang kalau mbak di sini?" Yara bersedekap dada dengan pandangan tajam seolah sedang mengintimidasi.
"Tentu saja aku senang, aku bisa bermain game dengan kak Aidan. Apa dia belum bangun?"
Yara dan Via terdiam saat mendengar pertanyaan Zayyan, sementara Vano yang baru saja datang langsung merangkul bahu putra bungsunya itu.
"Nilaimu banyak yang turun, Zayyan. Tapi kau malah sibuk dengan game?"
Glek.
Zayyan langsung menelan salivenya dengan kasar. "Ka-kan aku sudah belajar, Pa. Setelah itu aku bisa main game."
__ADS_1
"Perbaiki dulu nilaimu baru main game, Zayyan," ucap Vano dengan penuh penekanan membuat Zayyan langsung mengangguk paham.
Setelah itu mereka duduk di tempat masing-masing dan bersiap untuk sarapan bersama. Terlihat Zafran juga sudah berada di tempat itu membuat mereka langsung menyantap sarapan sambil mengobrol ria.
Sementara itu, di bandara terlihat seorang lelaki baru saja turun dari pesawat. Dia tersenyum dengan lebar sambil membawa sesuatu di tangan kanannya, dan bergegas mencari taksi untuk menuju tempat tujuan.
"Aku langsung ke rumah Yara, atau ke rumah Vano dulu ya?"
Dia merasa bingung. Sebelum datang ke London, dia sengaja tidak memberitahu mereka karena ingin memberi kejutan. Namun, sayangnya istri dan juga putranya tidak bisa ikut. Jadilah dia hanya seorang diri saja saat ini.
Setelah berpikir lama, akhirnya keputusan jatuh ke rumah Yara. Dia akan langsung menemui wanita itu, dan kemudian baru akan mampir ke rumah Vano.
Selesai menikmati sarapan, Yara dan semua orang berkumpul di taman samping rumah. Hari ini Vano sengaja tidak masuk kantor karena ingin bersama Yara, sementara Zafran juga ingin tetap berada di rumah.
Sementara itu, Zayyan yang mengetahui semua orang berkumpul tentu saja tidak mau pergi ke sekolah. Temtu saja dengan alasan kumpul keluarga, hingga membuat kedua orang tuanya tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Papa tidak ke kantor?" tanya Yara sambil meletakkan camilan di atas meja.
Vano menggelengkan kepalanya. "Tidak. Biar River saja yang ke kantor, papa ingin istirahat di rumah."
Semua orang langsung terkikik geli saat mendengar ucapan Zayyan, tetapi tidak dengan Vano yang menatap putra bungsunya itu dengan tajam.
"Coba ulangi sekali lagi, Zayyan."
Zayyan langsung menggelengkan kepalanya. "Aku hanya bercanda, Pa. Kenapa Papa serius sekali?" Dia mencebikkan bibirnya membuat Vano bertambah kesal.
Entah kesalahan apa yang dia lakukan saat proses pembuatan Zayyan dulu, hingga terbentuk lah anak yang sangat pintar sekali memancing emosinya. Sepertinya Allah menciptakan Zayyan memang sebagai cobaan hidup untuknya, yang benar-benar menguras emosi jiwa dan raga.
"Bicara yang sopan pada papa, Zayyan," tegur Yara setelah selesai tertawa. Dia memang paling tidak tahan jika sudah mendengar ocehan adiknya itu.
"Cih, kalian semua sama saja!"
Vano membuang muka kesal membuat semua kembali tertawa, begitu juga dengan Via yang hanya bisa mengusap lengan suaminya agar mempunyai kesabaran seluas samudera.
__ADS_1
Melihat semua keluarganya tertawa bahagia, rasa sakit yang sedang Yara rasakan seakan langsung lenyap. Mereka memang sumber kekuatan dan semangat dikala dia sedang terjatuh, bahkan hanya melihat senyum mereka saja. Dia merasa segala beban berat yang ditanggung sirna sudah.
Lalu, bagaimana mungkin mertuanya meminta agar dia menjauh dari keluarganya sendiri? Bukankah itu sama saja dia telah melakukan sebuah dosa besar?
"Sejak kecil aku sudah bersama dengan mereka. Mereka memberikan banyak cinta dan kasih sayang untukku, aku tidak akan sanggup membalasnya. Apalagi menyakiti mereka."
Yara tersenyum lebar karena sudah benar-benar mendapat jawaban atas keputusan yang harus dia ambil. Keluarga adalah segalanya, tetapi jika sudah menikah. Maka suami adalah segalanya, bahkan surga seorang istri juga ada di bawah telapak kaki suami.
Namun, jika suami membuat kesalahan dengan berkhianat. Pantaskah seorang istri masih menganggap suami segalanya? Apa lagi dia harus meninggalkan keluarga sendiri hanya untuk bersama dengan lelaki tersebut. Sungguh rasanya sangat miris sekali.
"Ada apa, Yara? Kenapa melamun?"
Yara tersentak kaget saat tiba-tiba Via menepuk punggung tangannya. "Ti-tidak ada apa-apa, Ma. Aku hanya merasa senang bisa berkumpul seperti ini." Dia mengulas senyum tipis membuat mata Via berkaca-kaca.
"Kita akan selalu berkumpul seperti ini, Nak. Kau tidak perlu khawatir."
Yara menganggukkan kepalanya membuat sang mama mengusap wajahnya dengan lembut. Kemudian mereka kembali bercerita tentang keadaan perusahaan saat ini.
Pada saat yang sama, Aidan sedang menerima tamu yang membuat jantungnya seakan ingin melompat keluar dari rongga dada. Sungguh dia tidak menyangka laki-laki itu akan datang di saat seperti ini.
"Kenapa kau malah bengong? Di mana Yara, apa dia sudah berangkat ke rumah sakit?"
Glek.
Aidan menelan salivenya dengan kasar. "Ya-yara, Yara sedang-"
"Dia ada di rumah orang tuanya." Tiba-tiba Nova datang menghampiri mereka membuat Aidan langsung menatap tajam.
"Aduh, aturannya papa langsung ke sana aja tadi kalau tau Yara di sana."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.