Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 185. Bukan Calon Istri, Tapi Istri Orang.


__ADS_3

Vano dan Via memekik kaget saat mendengar ucapan Zafran, membuat laki-laki itu ikut terjingkat kaget karena mendengar teriakan kedua orangtuanya.


"Kau membawa calon istrimu, Zafran?" tanya Via dengan tidak percaya.


"Apa? Siapa bilang dia calon istriku?" Zafran merasa kaget dan tidak terima, sementara kedua orangtuanya sudah berubah panik dan bergegas turun dari ranjang.


"Ayo cepat, kita harus segera turun!" ajak Via sambil menarik tangan sang suami. "Tidak baik membuat calon menantuku menunggu lama."


"Tunggu, Mama salah paham!" teriak Zafran. Namun, kedua orangtuanya sudah berlalu keluar membuatnya hanya bisa menghela napas frustasi.


Sementara itu, Hana yang sedang berada di ruang tamu merasa sangat gelisah. Perasaan takut dan cemas menyelimuti hatinya, bagaimana jika nanti kedua orangtua Zafran tidak senang dengan keberadaannya dan memakinya dengan kasar?


"Le-lebih baik aku segera pergi dari sini," gumam Hana sambil beranjak dari sofa. Namun, belum sempat dia melangkah pergi. Tiba-tiba terdengar suara langkah seseorang yang sedang menuruni tangga dengan terburu-buru, membuat tubuhnya langsung membeku dan menegang.


"Maaf membuatmu menunggu lama, Nak," seru Via saat sudah menuruni anak tangga. Napasnya sedikit tersengal akibat terburu-buru untuk menghampiri wanita itu.


"Se-selamat sore, Nyonya," ucap Hana sambil menundukkan kepalanya penuh hormat.


Via tersenyum melihat kesopanan Hana. Dengan cepat dia menghampiri wanita itu dan langsung memeluk tubuh Hana, sementara Vano langsung duduk di sofa karena merasa sangat lelah.


Hana yang sedang dipeluk merasa semakin tegang dan takut. Keringat dingin mengucur deras diseluruh tubuhnya, apalagi baru pertama kali dia diperlakukan seperti ini.


Via lalu melerai pelukannya sambil tersenyum ramah. "Tidak perlu menunduk dan memanggil nyonya. Cukup panggil tante dan pelukan seperti ini saja." Dia berucap dengan hangat.


Hana merasa tertegun dan tercengang mendengar ucapan wanita yang saat ini ada di hadapannya, wanita yang wajahnya sangat mirip sekali dengan Yara.


"Mama!"


Hana kembali terjingkat kaget saat mendengar panggilan Zafran, begitu juga dengan Via yang langsung menatap putranya dengan tajam.


"Ma, dia itu-"


"Iya-iya, mama sudah tahu," potong Via dengan cepat tanpa memberikan kesempatan untuk bicara, membuat Zafran terdiam cengo.


"Ayo duduk, Sayang! Oh yah, namamu siapa?" tanya Via sambil mempersilahkan Hana untuk duduk.

__ADS_1


"Sa-saya Hana, Nyonya," jawab Hana dengan perasaan bingung dan takut. Dia bahkan tidak sanggup untuk kembali duduk di tempat itu.


"Loh, kan sudah tante bilang jangan panggil nyonya. Jangan sungkan-sungkan juga dengan tante," pinta Via. Dia lalu memanggil pembantu untuk menyediakan minuman dan makanan ringan untuk mereka.


Zafran menghela napas berat saat melihat betapa semangat dan bahagianya wajah sang mama, dia lalu mengalihkan perhatiannya pada papanya saat mendapat sikutan dari papanya itu.


"Dia benar-benar calon istrimu?" tanya Vano dengan suara berbisik, merasa tidak yakin saat melihat penampilan dan wajah pucat Hana.


"Dia bukan calon istriku!" bantah Zafran dengan cepat dan kuat membuat mamanya langsung menoleh ke arahnya.


"Kenapa kau harus malu? Mama dan papa tidak apa-apa kok, lebih cepat malah lebih bagus kan. Tidak baik jika terlalu lama pacaran," sahut Via.


Setelah sekian lama, akhirnya Zafran memperkenalkan seorang wanita kepadanya dan sang suami. Tentu saja Via merasa sangat senang, selama ini dia merasa sedikit khawatir karena sama sekali tidak mendengar jika Zafran memiliki kekasih.


"Dengarkan aku dulu, Ma! Dia benar-benar bukan calon istriku, dia bahkan sudah punya suami," ucap Zafran dengan penuh penekanan.


Via dan Vano tercengang dengan tatapan kaget saat mendengar ucapan Zafran, sementara Hana hanya bisa menunduk dengan perasaan yang semakin gelisah. Bagaimana mungkin mereka bisa menganggapnya sebagai calon istri Zafran?


"Jadi dia siapa, kenapa kau membawanya ke sini?" tanya Vano dengan tajam. Dia menatap Hana dari atas sampai bawah, lalu tatapannya berhenti di kaki wanita itu yang sedang dibalut dengan perban. "Kau menabraknya?" Tuduhnya membuat sang istri berubah panik.


Zafran kembali menghela napas berat. Kenapa orangtuanya tidak mau mendengarkan ucapannya dulu sih? Selalu saja menyimpulkan sesuatu hal sesuka mereka.


"Ti-tidak, Nyonya. Tuan Zafran tidak menabrak saya," ucap Hana tiba-tiba. Dia yang sejak tadi diam merasa harus bicara dan meluruskan kesalahpahaman ini, walau kedua tangannya bergetar hebat.


Zafran lalu segera menceritakan apa yang sudah terjadi pada Hana sebelum kedua orangtuanya berpikir yang tidak-tidak lagi, bersamaan dengan masuknya Zayyan dan Junior yang langsung bergabung bersama mereka.


"Maaf karena aku tidak bilang dulu sama Mama dan Papa jika membawanya ke sini. Dia tidak tahu mau pergi ke mana, dan aku juga tidak tahu mau mengantarnya ke mana," ucap Zafran setelah selesai menceritakan semuanya.


Via menatap Hana dengan prihatin saat mendengar cerita Zafran, sementara Vano hanya diam sambil menatap Zafran dengan tatapan curiga dan penuh makna.


"Tapi dia kan punya suami, Kak. Kenapa gak diantar ke rumah suaminya aja?" tanya Zayyan.


Junior langsung menyikut lengan Zayyan saat mendengar pertanyaan laki-laki itu. Padahal tadi dia sudah menceritakan semuanya dan meminta Zayyan untuk tidak ikut campur, tetapi sekarang laki-laki itu malah bertanya tentang suami Hana.


"Tanya aja sama orangnya langsung," sahut Zafran dengan malas.

__ADS_1


Zayyan langsung bertanya pada Hana yang tetap menunduk dan tidak berani menatap mereka semua, terutama Vano yang sejak tadi menatap dengan tajam.


"Sudahlah, jangan menjawab pertanyaannya kalau kau tidak mau," ucap Via sambil menepuk punggung tangan Hana. Dia bisa melihat jika sejak tado wanita itu gemetaran.


"Cih." Zayyan langsung berdecih sebal mendengar ucapan sang mama, padahal dia sangat penasaran sekali kenapa kakaknya membawa wanita itu pulang ke rumah mereka. Wanita yang sudah punya suami pula, bagaimana jika nanti suaminya marah?


"Ayo, ikut tante ke kamar! Kau pasti lelah 'kan?" ajak Via dengan lembut.


Hana merasa tidak percaya saat mendengar ajakan mamanya Zafran, dia lalu beralih menatap ke arah wanita itu.


"Ma-maaf, Nyonya. Saya, saya-"


"Tidak apa-apa, lebih baik kau istirahat dulu. Ayo, tante akan antar ke kamar!" ajak Via kembali.


Dengan ragu, Hana beranjak dari sofa lalu mengikuti langkah wanita itu menuju salah satu kamar yang berada tidak jauh dari ruang tamu, sementara yang lainnya tetap berada di tempat itu sambil terus menatap ke arah kepergian mereka.


Setelah sampai di kamar, Via langsung menyuruh Hana untuk istirahat. Dia juga menunjukkan di mana letak kamar mandi, dan memperbolehkan wanita itu untuk memakai pakaian yang ada di dalam lemari.


"Tante tinggal yah, panggil saja jika kau butuh sesuatu," ucap Via setelah selesai menjelaskan tentang isi kamar itu.


Hana menganggukkan kepalanya. "Te-terima kasih, Nyonya. Terima kasih banyak." Walau merasa ragu dan takut, dia tetap harus mengucapkan terima kasih karena telah diperbolehkan istirahat di tempat itu. Namun, kenapa orangtua Zafran memperlakukannya dengan baik seperti ini?


Via ikut menganggukkan kepalanya sambil melangkah keluar dari kamar itu, tidak lupa menutup pintunya agar Hana bisa istirahat dengan nyaman.


Setelah mengantar Hana, Via kembali menemui Zafran dan yang lainnya. Terdengar suara sang suami yang sedang berbicara dengan putra mereka.


"Tidak benar membawa pergi istri orang seperti ini, Zafran. Tidak peduli apa yang terjadi pada mereka, tapi kau tidak bisa bersikap seperti ini."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2