Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 22. Tidak Ada Jalan Kembali.


__ADS_3

Cukup, sudah cukup. Yara benar-benar sudah tidak tahan lagi. Sejak awal mertuanya memang tidak suka dengan keluarganya, bahkan mertuanya juga tidak suka dengan pekerjaan yang dia lakukan. Lalu, kenapa tidak mengatakan semuanya sejak awal?


"Tidak, Yara. Aku mohon jangan lakukan itu."


Aidan menghiba dengan mata berkaca-kaca. Dia tahu jika sudah membuat kesalahan, tetapi bukan berarti dia siap kehilangan Yara.


"Tidak, Mas. Hubungan ini sudah tidak sehat, bahkan dari awal memang seharusnya tidak terjadi."


Yara ingat betul bagaimana murkanya sang mertua jika dia mendapat hadiah atau pergi liburan bersama dengan keluarganya. Padahal saat itu Aidan dan juga sang mertua juga diajak, bahkan kakak iparnya juga ikut bersama mereka.


"Bukan seperti itu, Yara. Kau tau jika ibu memang suka asal bicara saja, dia pasti tidak sungguh-sungguh mengatakannya."


Yara menatap Aidan dengan nanar. Dia lalu menarik tangannya dan mundur selangkah ke belakang.


"Sekarang coba katakan di mana letak kesalahan keluargaku, Mas. Aku ingin tahu hal buruk apa yang telah mereka lakukan."


Aidan terdiam. Tentu dia tidak bisa mengatakan sesuatu yang buruk tentang mertuanya, karena memang mereka tidak pernah berbuat buruk. Namun, terkadang Aidan tidak suka jika mertuanya sudah melakukan semua hal untuk Yara sementara dia adalah suaminya.


"Kau pernah membahas masalah rumah 'kan, Mas? Maka biar aku jawab." Yara menatap Aidan dengan tajam. "Dulu kita membeli rumah yang lebih kecil dan sempit dari ini, lalu tiba-tiba papa menawarkan rumah ini untuk kita. Papa melakukan semua itu bukan karena ingin menghinamu, Mas. Tapi karena ibu, orang tuaku memikirkan ibumu."


Aidan mengernyitkan keningnya dengan bingung. Kenapa urusan rumah sampai membawa-bawa ibunya?


"Mama dan papa mengatakan jika aku harus mengurus mertuaku dengan baik, termasuk memberikan rumah dan fasilitas yang lengkap agar beliau merasa nyaman menikmati hari-harinya. Itu sebabnya aku membeli rumah ini yang kawasannya tidak berisik dan tenang, serta udara yang masih sangat sejuk. Juga menyewa pembantu untuk menemani dan melayani ibu agar tidak lelah."


Yara menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan sebelum melanjutkan ucapannya, sementara Aidan terdiam dengan perasan tidak menentu.


"Selama ini aku kerja siang dan malam untuk membantu melunasi rumah ini, juga biaya sehari-hari kita. Kau sendiri juga sudah tahu kan, Mas?"


Aidan semakin merasa terpojok. Hanya saja dia tetap merasa tidak suka karena Yara tidak punya waktu yang banyak untuknya.


"Dan untuk masalah yang lainnya. Mama dan papa tidak pernah membantuku dengan cuma-cuma, bahkan papa hanya memperhatikanku dari jauh saat sedang mencari lokasi untuk klinik. Ketika aku sudah merasa lelah, papa baru datang menghampiriku dan menanyakan keberadaanmu. Hanya saja saat itu kau sedang sibuk bersama wanita lain, lalu apakah semua itu salah orang tuaku?"


Aidan semakin tertunduk dan diam seribu bahasa. Apa yang Yara katakan semua adalah benar, bahkan mulutnya sama sekali tidak bisa untuk membantah.


"Maaf, Sayang. Maafkan aku."

__ADS_1


Yara menghembuskan napas kasar sambil menghapus air mata yang terus saja mengalir deras. Mungkin rumah tangganya memang hanya sampai di sini saja, bahkan untuk kembali rasanya jauh lebih menyakitkan.


"Kita sudahi saja, Mas. Mungkin inilah yang terbaik untuk kita semua,"


"Tidak, Sayang. Aku mohon jangan lakukan itu."


Aidan tetap tidak akan setuju dengan apa yang Yara katakan, dia bahkan tidak akan pernah mengizinkan wanita itu untuk menjauh sedikit saja darinya.


"Apa sudah selesai, Mbak?"


Yara dan Aidan tersentak kaget saat melihat keberadaan Zafran dan juga River, apakah sejak tadi mereka ada di sana?


"Zafran? Om River?" Yara menatap kedua lelaki itu dengan heran. Kenapa mereka berdua masih ada di sini? Apakah sejak tadi mereka mendengarnya?


"Kami menunggu, Mbak. Apa Mbak sudah selesai bicara?"


Yara semakin menatap bingung lalu mendekati mereka. "Menunggu mbak? Memangnya ada apa?"


"Ayo kita pulang ke rumah papa, Mbak!"


Aidan lamgsung menatap mereka dengan tajam. Tidak, dia tidak akan membiarkan Yara pergi dari rumah.


Yara menatap kedua lelaki itu dengan sendu. Ya, lebih baik dia pergi dari rumah dan mencari ketenangan. Mungkin hatinya akan jauh lebih baik jika keluar dari tempat itu, dan bisa mengambil keputusan yang tepat.


"Baiklah. Ayo, bantu mbak nyusun barang-barang!"


"Tidak. Kau tidak akan pergi ke manapun, Yara!" ucap Aidan dengan tajam membuat semua orang melihat ke arahnya.


"Kenapa? Apa kau masih membutuhkannya setelah bersenang-senang dengan wanita lain?" tanya River dengan sarkas membuat Aidan langsung bungkam.


Yara segera mengajak Zafran untuk ke kamarnya, tetapi langkah mereka kembali dihadang oleh Aidan.


"Tidak, Sayang. Aku mohon jangan tinggalkan aku,"


"Minggir!" ucap Zafran dengan penuh penekanan, matanya menatap tajam dengan gigi yang saling bergesekan.

__ADS_1


"Yara, aku mohon jangan lakukan ini." Aidan sama sekali tidak memperdulikan Zafran membuat laki-laki itu semakin emosi.


"Minggir sebelum aku membunuhmu!"


Yara tersentak kaget dan langsung memeluk lengan sang adik. "Jangan katakan hal seperti itu, Zaf."


"Aku akan tetap mengatakannya dan akan melakukannya pada orang yang sudah mengusik keluargaku."


Yara hanya bisa menghela napas panjang dan meminta Zafran untuk tetap tenang, lalu beralih melihat Aidan.


"Minggirlah, Mas. Aku akan pergi untuk menenangkan diri, itulah yang tepat untuk keadaan kita saat ini."


Aidan menggelengkan kepalanya dan tetap bersikukuh mempertahankan Yara, membuat emosi River benar-benar berada di ujung tanduk.


Dengan cepat River melangkahkan kakinya, dan langsung menarik tubuh Aidan lalu menghempaskannya ke lantai.


Brak.


Yara memekik kaget dengan apa yang River lakukan membuat Nova keluar dari kamar. Matanya melotot tidak percaya saat melihat apa yang terjadi pada putranya.


"Jangan sakiti anakku!"


River yang sudah siap memberikan pukulan mautnya terpaksa berhenti saat mendengar teriakan seseorang. Sontak dia menjauh karena Nova mendorong tubuhnya.


"Pergi kalian semua dari rumah anakku! Terutama kau, Yara. Pergi sekarang juga dari rumah kami, dan menjauh dari hidup anakku selamanya," teriak Nova.


"Dengan sangat senang hati, Tante."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2