
Beberapa saat kemudian, polisi datang ke tempat itu untuk menyelidiki kerangka manusia yang terkubur di dalam ruang penyimpanan pabrik yang sudah tidak terpakai.
Para petugas medis juga datang ke tempat itu untuk memeriksa kerangka manusia yang ditemukan. Mereka harus segera membawa kerangka itu ke rumah sakit agar bisa diotopsi.
Edward lalu memberikan kesaksian pada polisi bahwa itu adalah kerangka putranya yang meninggal beberapa tahun yang lalu, karena ada kalung di lehernya sebagai bukti.
Mendengar pernyataan Edward, polisi kembali membuka kasus tentang kematian Edwin, walau sebelumnya Edwarr sudah meminta secara langsung agar kembali melakukan penyelidikan.
Polisi juga membawa Bayu yang sudah babak belur ke kantor untuk dimintai keterangan sesuai dengan laporan Zafran, tidak lupa meminta semua bukti yang mendukung laporan mereka.
Bukan hanya itu saja, bahkan semua orang yang terlibat juga dibawa oleh polisi. Termasuk para anak buah Bayu, juga kepala desa yang menjadi saksi tentang dokumen pengalihan pabrik dan perkebunan
"Ya Allah." Yara menghela napas kasar sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. Dadanya masih terasa sesak karena semua kejadian yang terjadi hari ini.
"Mbak gak papa?"
Yara lalu mendongakkan kepalanya saat mendengar suara Zafran. "Kenapa kau jalan ke sana kemari, Zaf? Luka dikakimu itu masih basah!" Dia berucap dengan marah.
Zafran hanya cengengesan saja saat mendengar ucapan sang kakak, entah kenapa kakinya jadi tidak terasa sakit saat melihat Bayu ditangkap oleh polisi.
"Iya-iya Mbak, ini kan aku mau duduk," sahut Zafran sambil mendudukkan tubuhnya ke samping sang kakak.
Yara langsung menyandarkan kepalanya ke bahu sang adik sambil memejamkan kedua matanya. "Terima kasih sudah selalu berada di samping mbak dan membantu setiap masalah yang terjadi, Zaf. Mbak tidak tahu akan jadi seperti jika kau tidak selalu ada di samping mbak." Dia berucap dengan lirih.
Zafran tersenyum. Dia lalu mengambil sebuah buku yang ada di sampingnya untuk dijadikan kipas, karena saat ini suasana terasa panas.
"Jangan berkata seperti itu, Mbak. Bukankah sesama saudara itu harus saling tolong menolong?" ucap Zafran sambil mengibas-ngibaskan buku yang ada ditangannya, supaya memberikan angin yang bisa menghilangkan gerah.
Yara mengangguk lalu kembali menegakkan kepalanya dan melihat je arah Zafran. "Kau benar, Dek. Tapi apa yang kau lakukan sudah terlalu banyak, mungkin mbak tidak bisa untuk membalasnya."
Zafran terkekeh pelan. Banyak apanya? Jika dihitung-hitung, mungkin apa yang kakaknya berikan jauh lebih banyak.
"Kalau gitu kakak juga harus membantuku jika suatu saat nanti aku buat masalah," pinta Zafran.
"Masalah apa?" Yara nengernyitkan keningnya. "Sejak dulu kau tidak pernah membuat masalah, Zaf. Malah kau yang selalu menyelesaikan masalah."
Zafran mengangguk-anggukkan kepalanya. "Mana tau suatu saat nanti aku membuat masalah besar, Mbak. Memangnya siapa yang tahu?"
__ADS_1
Yara kembali menghela napas berat. "Baiklah, sesukamu saja." Dia malas untuk berdebat.
Kemudian berita tentang penangkapan Bayu serta penemuan mayat di pabrik tersebar dengan cepat. Apalagi dengan bantuan teknologi membuat semua masyarakat di seluruh pelosok dunia bisa mengetahui tentang hal tersebut.
Desa itu kini dipadati oleh masyarakat dari desa lain yang datang berbondong-bondong untuk melihat apa yang terjadi. Pihak kepolisian juga masih berada di sekitaran pabrik, bahkan sudah memberi tanda garis polisi di tempat itu.
Ryder yang saat ini sedang berada di rumah Edward tampak menenangkan laki-laki paruh baya itu. Jelas Edward merasa sangat terguncang saat melihat mayat putra kesayangannya, yang mungkin dibunuh oleh seseorang.
Jika tidak, bagaimana mungkin mayat Edwin bisa terkubur dalam ruangan itu sementara mobilnya jatuh ke dalam jurang? Bukankah sudah jelas jika ada seseorang yang sengaja melakukan hal buruk pada Edwin?
"Saya akan mengawal kasus ini dan memastikan bahwa pelaku akan segera ditangkap," ucap Ryder sambil mengusap bahu Edward, memberikan dukungan pada laki-laki paruh baya itu agar tetap semangat.
Edward mengangguk lemah. Dia hanya bisa menangis dan menangis mengetahui nasib malang yang menimpa putranya. Namun, dia sudah berjanji jika akan membalas dendam atas kematian Edwin.
Ryder lalu pamit untuk kembali pulang karena masih harus mengurus apa yang terjadi. Dia juga terpaksa menutup pabrik untuk sementara waktu sampai polisi selesai melakukan penyelidikan.
Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba ada seorang lelaki tua yang berdiri di tengah jalan dan menghentikan motor Ryder. Dengan cepat dia menarik rem sebelum menabrak tubuh laki-laki itu.
"Apa yang Bapak lakukan?" tanya Ryder dengan tajam. Untung saja dia sempat menghentikan motornya, jika tidak maka sudah pasti dia akan menabrak laki-laki tua itu.
Ryder mengernyitkan kening heran saat mendengar ucapan laki-laki tua itu. Dengan cepat dia turun dari motor dan segera menghampirinya.
"Apa yang Bapak katakan? Kenapa Bapak menghentikan motor saya?" tanya Ryder kembali. Dia bisa melihat jika tubuh laki-laki tua itu bergetar hebat, bahkan kedua matanya terbelalak saat baru menyadari jika jari-jari tangan bagian kanan laki-laki tua itu tidak ada.
"Tunggu, apa Anda Pak Henson?" Tiba-tiba Ryder ingat dengan nama laki-laki tua itu. "Anda pensiunan dari pabrik 'kan?"
Laki-laki tua itu mengagguk. "Aku, aku tau siapa yang membunuhnya. Aku tahu siapa yang membunuh tuan Edwin."
Deg.
Ryder tersentak kaget mendengar ucapan laki-laki tua itu. "Kau, kau bilang apa?" Dia bertanya dengan tajam.
Laki-laki tua itu lalu menceritakan jika dulu dia tidak sengaja melihat Edwin terkapar dengan bersimbah darah di belakang pabrik. Dia yang dulu bertugas sebagai penjaga gudang segera menghampiri sang pimpinan dengan panik.
Lalu, tiba-tiba dia mendengar langkah kaki beberapa orang yang sedang mendekatke tempat itu. Entah kenapa perasaannya menjadi tidak tenang hingga dia memutuskan untuk bersembunyi.
Saat itulah datang empat orang lelaki yang langsung menyeret Edwin ke dalam ruangan penyimpanan. Sontak dia merasa sangat terkejut dan juga takut, tetapi dia tetap mengintip ke dalam ruangan itu sambil membekap mulutnya sendiri.
__ADS_1
Terlihat jelas jika orang-orang itu mengubur Edwin di sudut ruangan itu. Melihat apa yang terjadi, membuat Henson harus segera melaporkan semuanya pada Edward.
Namun, si*alnya dia tidak sengaja menyenggol beberapa drum yang ada di tempat itu sehingga membuatnya ketahuan.
Spontan dia lari dari tempat itu untuk menyelamatkan diri, tetapi tetap saja tertangkap oleh mereka. Dia lalu dibawa masuk ke dalam ruangan itu dan dihajar habis-habisan, bahkan diancam akan dibunuh juga.
Demi menyelamatkan diri, Henson harus menutup mulutnya dan berjanji tidak akan mengatakan tentang semua itu pada orang lain dan merahasiakan kematian Edwin. Bahkan mereka dengan sadisnya memotong jari-jari tangannya.
"Siapa, siapa yang telah membunuh Edwin?" tanya Ryder sambil mengguncang tubuh laki-laki tua itu. "Katakan padaku siapa yang telah membunuhnya!" Kedua matanya berkilat marah.
"Di-dia, dia adalah Bayu."
Deg.
Wajah Ryder langsung merah padam mendengar nama yang laki-laki tua itu sebutkan. Kedua matanya berkilat penuh emosi dengan rahang mengeras dan urat-urat yang menonjol disekitar leher.
"Bajing*an!" umpat Ryder dengan kemarahan yang luar biasa.
Tanpa mengulur waktu, Ryder langsung membawa Henson ke hadapan Edward agar laki-laki itu mendengar secara langsung siapa yang membunuh Erwin, hingga akhirnya dia tidak jadi pulang.
"Bajing*an, bangs*at!" pekik Edward sambil membanting vas bunga yang ada di atas meja. Dia juga membanting sebuah guci besar yang ada dalam ruangan itu. Api kemarahan dalam dirinya semakin berkobar dahsyat saat mendengar ucapan Hemson.
"Kenapa, kenapa kau tidak mengatakannya padaku, hah?" tanya Edward dengan wajah merah padam, kedua matanya juga memerah. "Kenapa baru sekarang kau mengatakannya, bangs*at?"
Hemson bergetar ketakutan melihat kemarahan Edward hingba tidak sanggup untuk mengeluarkan suaranya, sampai akhirnya Ryder kembali buka suara.
"Dia diancam oleh Bayu, Pak. Bajing*an itu bahkan sampai memotong jari-jari tangannya," ucap Ryder.
Edward benar-benar murka dan kemarahannya tidak tertahan lagi. "Cepat kejar laki-laki itu dan tangkap dia, dia harus mati ditanganku!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1