Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 206. Perasaan yang Tidak Pasti.


__ADS_3

Zea terdiam sambil memperhatikan apa yang Zafran lakukan. Bukankah Zayyan bilang kalau Hana berada di rumah itu untuk membantu orangtuanya, tetapi kenapa Zafran memperlakukannya dengan istimewa? Bukannya statusnya Hana sama dengan pembantu? Dia jadi merasa bingung sendiri.


Sudah beberapa kali Zea bertanya pada Zayyan tentang siapa Hana yang sebenarnya, dan laki-laki itu hanya menjawab kalau Hana adalah teman kakaknya yang tinggal di rumah mereka untuk membantu Via.


Walau merasa aneh, Zea tetap mempercayainya. Mungkin saja orangtua Zafran malas ke sana kemari sendiri dan butuh seseorang supaya bisa diperintah dengan mudah, tetapi sepertinya status Hana tidak sama dengan pembantu.


"Orangtuaku sedang tidak ada di rumah, dan sekarang kami mau ke toko buku," ucap Zafran.


Zea tersentak kaget saat mendengar ucapan laki-laki itu. "Ka-kalau gitu apa aku boleh ikut dengan kalian? Kebetulan hari ini aku sedang senggang dan tidak ada pekerjaan lain." Pintanya dengan penuh harap.


Zafran menganggukkan kepalanya. "Ayo!" dia lalu kembali berjalan menuju ke arah mobilnya berada.


Ze tersenyum senang dan langsung mengikuti langkah Zafran menuju mobil, sementara Zayyan menatap Zea dengan penuh curiga. Wanita itu pasti datang untuk melakukan pendekatan dengan sang kakak, apalagi saat ini orangtuanya sedang tidak berada di rumah.


"Kakak tidak boleh kalah, harus tetap semangat," ucap Zayyan tiba-tiba sambil merangkul lengan Hana.


Hana mengernyitkan kening heran saat mendengar ucapan Zayyan. "Apa maksudnya?" Dia sama sekali tidak mengerti.


Mereka semua lalu pergi menuju toko buku sesuai dengan permintaan Zayyan. Sepanjang perjalanan Zea terus mengajak Zafran dan Zayyan mengobrol, begitu juga dengan Hana walau Hana kebanyakan diam karena tidak terlalu mengerti dengan apa yang Zea katakan.


Tidak berselang lama, sampai juga di toko buku langganan Zayyan. Mereka segera masuk ke tempat itu dan melihat-lihat ribuan buku yang tersusun di rak dengan rapi, ada beberapa orang juga yang berada di tempat itu.


"Ambil saja jika ada buku yang kau inginkan," ucap Zafran sambil melihat ke arah Hana.


Hana menganggukkan kepalanya. "Saya boleh melihat ke arah sana?" Dia menunjuk ke arah tak yang berada di sudut ruangan, yaitu tempat di mana buku-buku tentang lukisan berada.


Zafran tersenyum. "Ayo, kita ke sana! Aku juga ingin melihat buku-buku itu." Ajaknya sambil berjalan ke arah yang tadi ditunjuk oleh Hana.


Hana terdiam dengan dada berdebar senang mendengar ajakan Zafran, dan semua itu tidak lepas dari tatapan Zea yang terus memperhatikan mereka.


"Hana, kau mau cari buku apa?"


Hana yang akan mengikuti Zafran tidak jadi melangkahkan kakinya saat mendengar ucapan Zea. "Saya hanya ingin melihat-lihat dulu, jadi belum tahu." Dia menjawab dengan jujur.

__ADS_1


Zea mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ikut berjalan ke arah Zafran membuat Hana menatap bingung, tetapi Hana tidak ambil pusing dan segera mencari buku yang sesuai dengan pelajarannya.


Zayyan sendiri sedang sibuk mencari buku yang sesuai dengan perintah gurunya, sampai tidak sadar jika sudah terpisah dari mereka.


"Akhirnya," seru Zayyan dengan senang saat berhasil mendapatkan buki yang dia mau. "Untung saja cepat dapat, kepalaku pusing melihat tumpukan buku." Dia segera membawa buku itu untuk keluar dari barisan rak penyimpanan karena merasa pusing jika melihat buku terlalu banyak. "Loh, di mana mereka?" Dia lalu melihat ke sekeliling tempat untuk mencari keberadaan sang kakak dan yang lainnya.


Sementara itu, di rak paling ujung tampak Hana sedang fokus melihat-lihat buku yang ada di hadapannya. Begitu juga dengan Zafran yang sedang mengambil salah satu buku untuk dibeli, sementara Zea sesekali mencuri pandang ke arah Zafran.


"Aku jadi ingat saat kita masih kuliah, Zaf. Kita kan juga sering pergi ke toko buku bersama," ucap Zea saat tiba-tiba teringat dengan masa-masa kuliah mereka.


"Cih, yang suka ke toko buku itu cuma aku. Kau dan Frans hanya mengacau saja," sahut Zafran.


Zea langsung tertawa mendengar ucapan Zafran. Apa yang laki-laki itu katakan memang benar, dia dan Frans hanya bisa mengacau saja saat berada di toko buku atau pun perpustakaan.


"Itukan supaya kau cepat-cepat keluar dan kita bisa bermain. Ah, aku sangat merindukan saat-saat itu. Apalagi sekarang kita sudah sama-sama sibuk," ucap Zea kembali.


Zafran mengangguk setuju. "Kehidupan kan terus berjalan, jadi semuanya juga akan berubah."


"Lalu, bagaimana denganmu, Zaf? Apa kau juga berubah?" tanya Zea sambil menyandarkan tubuhnya ke rak buku dan berada tepat di hadapan Zafran.


Zea terdiam. Yah, sama sekali tidak ada yang berubah dalam diri Zafran, tetap memperlakukannya dingin seperti dulu. Walau mereka sudah berteman selama beberapa tahun, tetapi laki-laki itu tetap saja menjaga jarak darinya. Padahal jika dengan teman lelaki yang lain, Zafran sangat akrab sekali. Sebenarnya apa yang salah dengannya?


Hana yang sudah mendapat buku dan berniat untuk memberikannya pada Zafran, mengurungkan niat saat melihat laki-laki itu sedang mengobrol dengan Zea.


Hubungan pertemanan mereka pasti sangat baik, apalagi dia tahu dari Zayyan jika Zea adalah teman sejak Zafran kuliah. Itu artinya mereka sudah berteman lama, dan jika dilihat-lihat, mereka sangat cocok sekali. Sama-sama tampan dan cantik.


"Apa yang sedang aku pikirkan?" gumam Hana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa yang kau lakukan?"


Hana terjingkat kaget saat tiba-tiba Zafran sudah berdiri di sampingnya, sampai membuat buku yang ada ditangannya terjatuh ke lantai.


"Ma-maafkan saya," ucap Hana. Dia segera menunduk untuk mengambil buku yang terjatuh ke lantai, sementara Zafran hanya diam sambil terus menatap ke arah wanita itu.

__ADS_1


"Ayo, kita keluar! Sudah siap semua kan?" ajak Zea yang sedang berdiri di belakang Zafran. Dia segera berjalan melewati laki-laki itu dan juga Hana, membuat Hana merasa heran dan bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang terjadi?


Zayyan yang sedang duduk sambil bermain game langsung mematikan game itu saat melihat kedatangan mereka. "Kok lama kali? Aku udah lapar nih." Ucapnya sambil beranjak dari kursi.


"Maaf membuatmu menunggu, Zayyan," ucap Hana sambil memberikan buku yang dia bawa pada kasir.


"Kalau untuk Kakak gak papa, tapi nanti buatin aku pasta yah. Hehe," sahut Zayyan dengan maksud terselubung.


Zafran langsung memukul kepala Zayyan membuat adiknya itu memekik sakit. "Buat aja sendiri, dasar anak manja."


"Cih, Biarin aja. Aku kan minta sama kak Hana, bukan sama Kakak," balas Zayyan sambil menjulurkan lidahnya. Dia bahkan memeluk lengan Hana seolah meminta pertolongan pada wanita itu.


Hana tertawa melihat raut wajah Zayyan yang sedang menahan sakit dan sebal, sementara Zea hanya diam dengan perasaan tidak nyaman.


Beberapa saat yang lalu, Zea sempat bertanya apakah saat ini Zafran sedang dekat dengan seorang wanita atai tidak, setelah mereka membahas tentang masa kuliah.


Namun, laki-laki itu malah menjawab jika dia tidak boleh melewati batas seolah dia sama sekali tidak dianggap teman oleh Zafran. Padahal dulu sikap Zafran tidak sedingin ini, sungguh membuat hatinya terluka.


"Apa kau tidak lapar, Zea?"


Zea tersentak kaget saat mendengar pertanyaan dari Zafran. "Hah, aku, aku lumayan lapar." Dia tergagap.


"Baiklah, kita singgah ke restoran sebentar sebelum pulang," ucap Zafran. Sejak tadi dia dan yang lainnya membahas tentang makanan, tetapi Zea hanya diam saja itu sebabnya dia langsung bertanya pada wanita itu.


Zea lalu melangkah keluar dari toko itu sambil menundukkan kepalanya, merasa bingung dengan sikap Zafran. Sesaat yang lalu laki-laki itu sangat dingin padanya, tetapi barusan malah bertanya apakah dia lapar atau tidak.


"Sebenarnya aku harus bagaimana, Zafran? Apa aku harus mengungkapkan perasaanku secara langsung supaya kau mengetahuinya?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2