
Ryder tersenyum sendiri dengan apa yang dia pikirkan. Kemudian dia beranjak pergi dari tempat itu untuk melakukan pemeriksaan, lebih tepatnya yaitu untuk menemui Yara.
Yara yang sudah selesai melakukan pemeriksaan kepada beberapa orang, tampak sedang merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa pegal. Dia benar-benar senang dengan orang-orang yang ada di tempat itu. Selain bersemangat melakukan pemeriksaan, mereka juga mendengarkan penjelasannya dengan baik dan tidak segan untuk bertanya.
"Kyaa, dia tampan sekali,"
"Iya benar, ayo cepat kita lihat!"
Yara mengernyitkan keningnya saat mendengar suara yang sangat ramai di luar sana, padahal beberapa saat lalu tidak seramai itu.
"Ada apa ya Dokter? Kenapa diluar ramai sekali?" ucap Anggie, dia adalah salah satu perawat yang bersama dengan Yara.
"Entahlah, mungkin ada seseorang yang datang," balas Yara. Dia tidak terlalu merasa penasaran, yang penting acara hari ini berjalan dengan baik.
"Bagaimana kalau kita istirahat dulu, Dokter. Sekarang sudah jam setengah satu," ucap Anggie lagi sambil menunjukkan jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Ya sudah, kalau begitu-"
"Apa Anda sudah mau istirahat?"
Deg.
Yara langsung memalingkan wajahnya ke depan saat mendengar suara seseorang, dan benar saja jika pemilik suara itu adalah orang yang sangat dia kenal.
"Tidak, silahkan duduk," ucap Yara sambil mempersilahkan Ryder untuk duduk di hadapannya.
Ryder tersenyum tipis saat mendengar ucapan Yara. Dengan cepat dia duduk dikursi yang ada di hadapan wanita itu, sambil tetap melihat wajah yang selama ini dia rindukan.
"Anggie, kau mendengarku?"
Anggie yang ada di samping Yara tersentak kaget saat mendengar suara Yara. "Ma-maaf, Dokter." Dia menundukkan kepalanya saat mendapat tatapan tajam dari Yara karena tidak sengaja melamun pada saat bekerja.
Yara menghela napas kasar lalu meminta buku catatan medis untuk mencatat bagaimana keadaan pasien, yang langsung diberi oleh wanita itu.
Dari sudut ruangan itu, tampak Ansel terus menatap ke arah mereka. Jelas dia mengenali siapa laki-laki yang saat ini sedang duduk di depan Yara, yaitu laki-laki yang malam tadi berada di rumah tukang pijat.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka, kenapa Yara sampai memasang wajah kesal saat bertemu dengan laki-laki itu?" Ansel benar-benar merasa penasaran. Jangan-jangan mereka berdua pernah menjalin hubungan?
"Nama Anda siapa, Tuan?" tanya Yara yang mencoba untuk bersikap profesional, dan pura-pura tidak mengetahui nama laki-laki itu.
Ryder tersenyum simpul saat mendengarnya. "Nama saya Ryder, Dokter. Bagaimana kabar Anda?"
Yara yang akan menulis nama Ryder tampak menghentikan kerja tangannya, lalu mencengkram pulpennya dengan erat.
"Alhamdulillah saya sangat sehat, Tuan. Terima kasih sudah bertanya, sekarang saya akan memeriksa tekanan darah Anda," ucap Yara. Dia tidak mau laki-laki itu merasa dekat dengannya, apa lagi di hadapan rekan-rekan kerjanya.
"Syukurlah. Aku senang mendengarnya," gumam Ryder yang tentu saja masih bisa di dengar oleh Yara.
"Sebenarnya apa yang ada dalam pikiranmu, Ryder? Aku tau kau pasti sengaja datang ke tempat ini karena tujuan tertentu, dan jika tujuanmu itu adalah mendapatkan wanita, maka aku tidak akan membiarkannya." Yara menatap Ryder dengan tajam dengan gurat kemarahan yang terlihat di wajahnya saat ini.
"Apa Anda hanya akan memandang saya saja, Dokter?" tanya Ryder sambil memasang wajah senyum lebar, membuat Yara langsung terkesiap.
"Ma-maaf," ucap Yara tergagap sambil mulai memeriksa tekanan darah Ryder. Wajahnya merah padam karena merasa malu sudah menatap laki-laki itu sampai sebegitunya.
Beberapa saat kemudian, semua pemeriksaan sudah selesai di lakukan. Ryder terlihat puas dengan hasil pemeriksaannya, lebih tepatnya puas karena bisa terus memandangi wajah Yara.
"Terima kasih kembali, Dokter. Sebenarnya saya punya sedikit keluhan." Lirih Ryder membuat Yara menatapnya dengan bingung.
"Saya sangat susah sekali tidur, setiap malam saya hanya tidur sekitar 2 jam saja. Bisakah Anda membantu saya agar bisa tidur?" tanya Ryder.
Yara diam sejenak saat mendengarnya, tetepi apa yang Ryder katakan memang kenyataan. "Itu bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya dari pikiran. Jika pikiran kita baik dan tidak merasa tertekan atau terkena masalah, kita pasti akan mudah tidur. Jika tidak, maka hanya akan terus seperti itu sampai merusak kesehatan."
Ryder menganguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah, saya sudah mengerti, Dokter. Mungkin setelah ini saya akam bisa tidur nyenyak, karena alasan saya tidak bisa tidur sudah ada di depan mata."
Yara langsung menatap Ryder dengan tajam, apalagi saat mendengar kata-kata terakhir yang laki-laki itu ucapkan membuat dia merasa kesal.
Ryder beranjak bangun dari kursi lalu kembali mengucapkan terima kasih, setelah itu langusng berbalik dan keluar dari tampat itu.
"Ayo, kita samua harus istirahat!" seru Yara sambil berdiri dari kursi, dan mengajak mereka semua untuk istirahat.
Ryder yang sudah keluar dari tempat itu tampak tersenyum lebar, dia benar-benar bahagia karena bisa kembali melihat wajah Yara dalam jarak sedekat itu.
__ADS_1
"Ryder!"
Langkah Ryder terpaksa berhenti saat ada dua orang wanita yang menghampirinya. Dia lalu memasang senyum palsu untuk para wanita itu.
"Apa kau melakukan pemeriksaan juga, Ryder?" tanya Ayu dengan wajah yang tampak berbinar-binar karena bertemu dengan laki-laki itu.
Ryder lalu menjawabnya dengan anggukan kepala, lalu wanita itu terus bertanya tentang hal lainnya yang ada dalam hidupnya.
Yara dan rekan-rekannya yang baru saja keluar dari tempat itu tampak melirik ke arah Ryder yang sedang mengobrol ria. Perasaannya menjadi tidak tenang, apa saat ini Ryder sedang mencari mangsa?
"Kalian duluan saja ya, ada sesuatu yang ingin aku lakukan," ucap Yara pada yang lainnya membuat langkah mereka juga terhenti.
"Bagaimana kalau kami temani?" tawar Ansel, dia tahu jika Yara pasti akan menemui laki-laki bernama Ryder itu.
Yara menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, Dokter. Saya hanya sebentar kok, silahkan kalian semua istirahat." Dia menolak secara halus, tidak mungkin dia menanyai laki-laki itu di hadapan banyak orang.
Ansel terpaksa menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi dari tempat itu karena tidak bisa memaksa Yara, sementara Yara sendiri tetap berada di tempat itu untuk menunggu kepergian mereka.
Setelah mereka pergi, Yara segera berbalik untuk menghampiri Ryder yang masih betah mengobrol dengan para wanita itu.
"Permisi," ucap Yara saat sudah berada di samping mereka, membuat mereka langsung memalingkan wajah ke arahnya, begitu juga dengan Ryder yang menatapnya dengan bersedekap dada.
"Ada apa, Dokter?" tanya Ayu dengan bingung.
"Maaf mengganggu obrolan Anda semua, tapi bisakah saya bicara sebentar dengan Tuan Ryder? Ada sesuatu hal yang sangat penting yang ingin saya katakan padanya," ucap Yara sambil tersenyum, dia benar-benar merutuki diri sendiri karena sudah melakukan hal seperti ini.
"Ada apa, Dokter? Apa ada masalah dengan kesehatan calon suami saya?"
"Apa?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.