Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 205. Seorang Pengintai.


__ADS_3

Dion mengepalkan kedua tangannya dengan emosi. Amarah yang ada dalam dirinya benar-benar membuatnya buta dan mudah dihasut oleh seseorang, padahal jelas selama ini Hana tidak pernah mengkhianatinya. Jangankan berselingkuh, wanita itu bahkan tidak pernah berhubungan dengan orang lain sampai sama sekali tidak mempunyai teman.


"Brengs*ek. Mereka benar-benar bajing*an!" umpat Dion dengan kemarahan yang luar biasa.


Reny kembali tersenyum lebar karena telah berhasil menghasut putranya sendiri. Dia tahu jika selama ini Dion sangat terobsesi dengan Hana, padahal tidak ada yang bisa dibanggakan dari wanita kampung itu.


Itu sebabnya Dion sangat mudah sekali dipengaruhi karena obsesi yang ada dalam dirinya, dan semua itu sangat berbeda dengan perasaan cinta.


Jika Dion benar-benar mencintai Hana, dia pasti tidak akan memperlakukan wanita itu dengan buruk. Dia pasti akan selalu melindungi Hana dari apapun, dan juga tidak akan mudah dipengaruhi oleh orang lain, walaupun orangtuanya sendiri.


"Kau harus membalas mereka, Dion. Jangan biarkan mereka bahagia di atas rasa sakitmu," ucap Reny.


"Benar. Aku pasti akan membalas perbuatan mereka, lihat saja!" sahut Dion dengan tajam.


Reny lalu membisikkan sesuatu ke telinga Dion membuat putranya itu tersenyum sinis. "Rencana yang bagus bukan?"


Dion menganggukkan kepalanya. "Aku memang tidak bisa berhadapan langsung dengan Zafran, tapi aku bisa merusaknya melalui banyak cara. Kau lihat saja, Zafran. Aku tidak akan melepaskan kalian berdua." Dia mengepalkan kedua tangannya dengan penuh dendam.


*


*


Beberapa hari kemudian, Via dan Vano tengah bersiap untuk pergi menemui Yara setelah menunda kepergian mereka karena kedatangan Hana.


Mereka juga mengajak wanita itu untuk menemui Yara, tetapi Hana tidak bisa pergi karena harus menepati jadwal belajarnya dengan guru.


"Baiklah. Kalau gitu tante titip anak-anak yah, tolong masakkan makanan yang enak untuk mereka biar gemuk," ucap Via sambil terkekeh.


Hana menganggukkan kepalanya. "Saya pasti akan menyiapkannya, Tante."


Via merasa lega karena ada yang mengurus kedua putranya saat dia sedang pergi, walaupun selama ini ada kedua pembantunya juga yang selalu mengurus Zafran dan Zayyan.


"Tante juga sudah menyuruh bik Jena dan bik Rin untuk menemanimu, jadi kau tidak hanya akan bertiga dengan mereka. Takutnya Zayyan terus menganggumu, dasar anak nakal itu," ucap Via kemudian.


"Tidak apa-apa, Tante. Saya senang bersama dengan Zayyan," ucap Hana.


Selama beberapa hari ini dia sudah tidak canggung lagi dengan Zayyan, bahkan mereka kerap menghabiskan waktu bersama sambil bermain ponsel. Panggilan Hana untuk Zayyan juga sudah berubah dan tidak lagi formal, tetapi laki-laki itu tetap saja mengganggunya.


"Ayo, Sayang. Kita berangkat sekarang!" ajak Vano saat sudah memasukkan barang-barang mereka.


Via mengangukkan kepalanya dan berlalu keluar dari rumah. Terlihat kedua putranya sedang berdiri di samping mobil bersama dengan sang suami.

__ADS_1


"Mama pergi dulu yah, baik-baik di rumah. Awas kalau kalian mengganggu Hana," ucap Via memperingatkan.


Zafran dan Zayyan menganggukkan kepala mereka secara bersamaan. "Hati-hati di jalan, Ma, Pa. Kabarin kalau sudah sampai." Pinta Zafran.


Vano dan Via mengangguk. Mereka lalu beranjak pergi dari tempat itu untuk melihat keadaan Yara dan Ryder, juga calon cucu mereka.


Hana menatap kepergian orangtua Zafran dari pintu. Dia tersenyum sambil mendo'akn agar perjalanan mereka lancar dan selamat sampai tempat tujuan.


"Kak, temani aku ke toko buku yuk!" ajak Zayyan membuat Hana tersentak kaget.


"Hem, sekarang?" tanya Hana kembali.


"Iya, kau mau membeli-"


"Pergilah sendiri, Zayyan. Kenapa kau harus merepotkan orang lain?" ucap Zafran dengan ketus membuat Zayyan tidak dapat melanjutkan ucapannya.


"Aku kan malas kalau pergi sendiri," sahut Zayyan sambil mencebikkan bibirnya.


Zafran berdecih mendengar jawaban sang adik, sementara Hana hanya diam sambil melihat pertengkaran mereka.


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya sedang tidak sibuk kok," ucap Hana.


"Baguslah. Kalau gitu aku ambil jaket dulu," sahut Zayyan sambil berlari masuk ke dalam rumah.


"Kau bisa menolak ajakan Zayyan kalau tidak mau, jangam memaksakan diri," ucap Zafran sambil mengalihkan pandangannya. Akhir-akhir ini dia selalu saja ingin melihat ke arah Hana, bahkan dia selalu terbayang wajah wanita itu jika sedang berada di luar.


Hana tersenyum. "Tidak, Tuan. Saya senang bisa menghabiskan waktu bersama dengan Zayyan. Dia sangat lucu dan selalu membuat saya tertawa." Dia menjawab dengan jujur.


Zafran kembali melirik ke arah Hana yang juga sedang menatapnya, untuk beberapa saat mereka saling bertatapan sampai akhirnya Zafran memalingkan pandangannya.


"Kalau giti tunggu sebentar, aku juga akan ikut ke toko buku," ucap Zafran. Dia lalu masuk ke dalam rumah untuk mengambil dompet dan kunci mobilnya.


Hana terus menatap kepergian Zafran dengan heran. Entah kenapa akhir-akhir ini sikap laki-laki itu sangat aneh sekali, tetapi dia senang karena Zafran ikut pergi dan mereka bisa menghabiskan waktu bersama-sama.


Dari kejauhan, ada seseorang yang terus memperhatikan rumah orangtua Zafran. Lebih tepatnya memperhatikan Hana dan Zafran, dia bahkan sempat mengambil beberapa foto.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya petugas keamanan di rumah itu. Dia baru saja selesai dari kamar mandi dan terkejut melihat seseorang yang sangat mencurigakan di depan gerbang, dan dia belum sempat menutup gerbang itu setelah kedua majikannya pergi.


"Wah, saya sangat kagum dengan rumah ini Pak," jawab laki-laki itu dengan pura-pura. Dia lalu bergegas pergi dari tempat itu.


Tidak berselang lama, Zayyan sudah selesai berganti pakaian dan mengajak Hana untuk pergi. Namun, wanita itu berkata jika kakaknya juga akan ikut.

__ADS_1


"Hah, ngapain kakak ikut ke toko buku?" tanya Zayyan dengan heran.


"Tentu saja untuk beli buku," jawab Zafran tiba-tiba dan mengagetkan Zayyan.


"Dasar. Kakak mengagetkan saja," seru Zayyan sambil memegangi dadanya yang berdebar-debar akibat terkejut dengan kedatangan sang kakak.


"Ayo, cepat!" ajak Zafran sambil berjalan keluar dari rumah.


Zayyan mencebikkan bibirnya karena sebal dengan perbuatan sang kakak, sementara Hana segera menyusul kepergian Zafran sambil membawa tas dan memakai topi pemberian laki-laki itu. Katanya supaya dia tidak terkena sinar matahari saat siang hari.


Langkah Zafran terhenti saat melihat sebuah mobil masuk ke halaman rumahnya, begitu juga dengan Zayyan dan Hana yang menatap mobil iti secara bersamaan.


"Apa yang dia lakukan di sini?" gumam Zafran saat mengetahui siapa pemilik mobil itu.


"Hay, selamat pagi!" seru Zea saat sudah keluar dari mobil. Dia tersenyum ke arah mereka semua sambil menenteng sebuah paper bag.


"Loh, Kak Zea?" ucap Zayyan sambil membalas senyuman Zea, begitu juga dengan Hana yang ikut tersenyum ramah.


"Apa yang kau lakukan di sini, Zea?" tanya Zafran dengan tatapan heran.


Zea tersenyum pelan. "Aku sedang mengunjungi teman di daerah sini, dan memutuskan untuk singgah ke rumahmu. Tidak apa-apa 'kan?" Dia sedikit berbohong. Sejujurnya dia memang sengaja ingin berkunjung ke rumah Zafran.


Zafran menganggukkan kepalanya. Tidak mungkin dia malarang dan mengusir seorang tamu yang datang berkunjung ke rumahnya.


"Tapi sepertinya kalian mau pergi ya?" tanya Zea setelah melihat mereka semua berada diluar sambil membawa tas.


"Kami mau ke toko buku," jawab Zayyan.


Zea mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dia melihat ke arah Hana. "Kita bertemu lagi, Hana. Bagaimana kabarmu?" Dia bertanya dengan ramah.


"Saya sehat, Zea. Bagaimana denganmu?"


"Aku juga sehat. Ini, aku membawa sesuatu untuk kalian, tolong bawa masuk yah," ucap Zea sambil memberikan paper bag yang dia bawa kepada Hana.


Hana mengambil paper bag itu sambil mengucapkan terima kasih. Namun, Zafran menghentikannya saat dia akan masuk ke dalam rumah.


"Biar bik jena saja yang bawa masuk," ucap Zafran. Dia lalu memanggil bik Jena, dan tidak berselang lama wanita paruh baya itu pun datang. "Bawa paper bag ini masuk."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2