Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 157. Akhirnya Nikah Juga.


__ADS_3

Dokter lalu menjelaskan jika tindak kejahatan di daerah itu sangat banyak, bahkan sering membuat kegaduhan. Banyak di antara anak-anak itu yang tidak punya orangtua dan hidup telantar,


Ryder merasa sangat miris sekali, tidak disangka masih ada saja masyarakat yang belum merdeka karena masih mengalami kelaparan.


"Jangan khawatir, Tuan. Saya sudah menelepon pihak kepolisian agar mengurus masalah ini."


Ryder mengangguk sambil merasa lega karena sudah berhasil menolong anak kecil itu. Jika tidak, maka bisa saja anak kecil itu meregang nyawa.


Dia lalu memutuskan untuk pergi karena merasa sudah tidak ada urusan lagi dengan anak itu, jadi lebih baik pergi dan mengurus persiapan untuk pernikahannya.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Vano sedang bersama dengan Mahen dan juga River. Saat ini mereka berada di rumah wanita bernama Jane, dialah wanita yang akam dinikahi oleh River.


"Bagaimana pekerjaan Junior, Tuan? Saya takut jika pekerjaannya tidak baik dan dia malah membuat keributan," ucap Jane dengan khawatir. Sejak dulu putranya itu hanya punya otot yang kuat, tetapi tidak punya otak yang cerdas.


"Kau tidak perlu khawatir. Selama ini River sudah mengajarinya dengan baik, buktinya sekarang dia bisa mengerjakan segala pekerjaan di perusahaan," jawab Vano.


Jane merasa sedikit lega saat mendengar ucapan Vano, dia hanya tidak mau membuat perusahaan orang lain bermasalah hanya karena kesalahan putrnya.


"Bagaimana, apa semua sudah selesai?" tanya Vano kemudian.


Jane dan River mengangguk secara bersamaan. "Semua sudah selesai, Tuan. Dia hanya ingin merayakannya dengan sederhana saja." Jawab River.


Jane menolak saat River mengatakan akan mengadakan pesta pernikahan yang mewah untuknya. Dia tidak mau dan tidak butuh semua itu. Cukup keluarga, teman-teman, dan rekan kerja saja yang diundang. Itu sebabnya dia ingin sederhana saja, mengingat usia mereka pun sudah semakin tua.


"Mau sederhana ataupun mewah sebenarnya sama saja, tergantung bagaimana niat dan keinginan kita," ucap Mahen yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.


Jane menganggukkan kepalanya, dia setuju dengan apa yang baru saja laki-laki itu katakan, karena pernikahan bukan dilihat dari seberapa mewahnya saja, tetapi dilihat dari niat dan ketulusannya.


Setelah memastikan semua persiapan pernikahan River sudah selesai, Vano memutuskan untuk kembali pulang karena besok mereka harus kembali lagi ke temlat itu untuk menghadiri pernikahan River dan Jean.


*


*


Malam harinya, Yara dan semua keluarga sedang sibuk menyiapkan hadiah untuk pernikahan River dan Jean. Mereka semua terlihat sangat antusias dan semangat, terutama Vano yang sibuk menanyai semua hadiah yang akan mereka berikan untuk River.


Hanya Zafran sajalah yang sejak tadi diam sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, bahkan sekarang dia sudah terlentang di tempat itu.


"Istirahatlah, Dek. Kau pasti kecapek'an 'kan?" ucap Yara. Dia yang akan mengambil minum tidak sengaja melihat Zafran, lalu menghampiri adiknya itu.

__ADS_1


"Tidak kok, Mbak. Aku belum ngantuk," sahut Zafran. Jika kelelahan seperti ini, dia malah sulit untuk tidur.


Yara mendessah frustasi, dia merasa bersalah karena sudah merepotkan adiknya sampai seperti itu. "Maaf yah Zaf, gara-gara mbak kau jadi kelelahan." Dia mengusap bahu Zafran dengan pelan.


"Tidak, Mbak. Aku kelelahan karena pekerjaan kantor, apalagi tidak ada om River yang biasa membantu," sahut Zafran. Dia mengerti ke mana arah pembicaraan sang kakak saat ini.


Yara menatap sang adik dengan tatapan curiga. Tidak, dia yakin jika Zafran kelelahan karena sudah menyiapkan pernikahannya dan bukan karena pekerjaan.


Setelah selesai menyiapkan hadiah dan gaun untuk di pakai besok, Yara dan semua keluarganya bergegas untuk istirahat karena besok mereka harus datang pagi-pagi sekali ke rumah calon isrti River.


Sesampainya di kamar, Yara tersenyum saat melihat ada sebuah pesan masuk dari Ryder. Dengan cepat dia membaca pesan tersebut agar bisa segera membalasanya juga.


"Besok pagi aku akan singgah ke rumahmu, jadi kita berangkat bersama ya."


Yara kembali tersenyum. Dia lalu membalas pesan itu dengan mengatakan jika akan menunggu kedatangan mereka, tidak lupa dia juga memberitahu jam berapa besok mereka akan berangkat supaya tidak terlambat.


"Baiklah, kami akan datang sebelum jam tujuh. Kalau gitu istirahatlah, calon istriku. Mimpiin aku yah, love you."


Wajah Yara memerah saat kembali membaca pesan dari Ryder, dia lalu membalas pesan itu dan mengucapkan selamat tidur juga. Tidak lupa membalas ucapan cinta yang laki-laki itu katakan.


Di tempat lain, terlihat Ryder senyum-senyum sendiri saat menerima balasan atas ungkapan cintanya. Dia lalu merebahkan tubuhnya ke ranjang untuk segera istirahat agar tidak kesiangan.


*


*


Mereka semua lalu bergegas menuju rumah Yara sebelum terlambat, dan untungnya jarak rumah mereka sangat dekat karena memang sudah dipersiapkan oleh Ryder.


Yara dan keluarganya juga sudah selesai bersiap. Mereka mengenakan pakaian senada berwarna navy membuat tampilan mereka sangat elegan dan modis.


Tidak berselang lama, Ryder dan keluarganya sampai di rumah Yara. Tanpa menunggu waktu lagi, mereka segera berangkat menuju rumah River sebelum terlambat.


Perjalanan memakan waktu sekitar 15 sampai 20 menit, itu sebabanya mereka harus berangkat pagi-pagi sekali agar bisa menemani River pada saat akad pagi ini.


Beberapa saat kemudian, mereka semua sudah sampai di lokasi pesta. Terlihat sudah ada beberapa orang yang ada di tempat itu dan merupakan keluarga dari pihak perempuan.


"Wah, kau terlihat sangat tampan dan gagah sekali, River," seru Vano saat melihat penampilan River.


"Benar. Om terlihat sangat tampan," sambung Zafran sambil memberikan dua jempolnya untuk laki-laki itu.

__ADS_1


Wajah River bersemu merah saat mendengar pujian dari mereka. "Terima kasih, Tuan." Dia menganggukkan kepala sambil menahan kegugupan yang sedang melanda.


Mengerti akan kegelisahn River, Vano langsung mendekat lalu merangkul bahu asisten pribadinya itu. "Jangan gugup, semua pasti akan akan baik-baik saja." Dia lalu menepuk bahu itu.


River tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Sekarang dia merasakan bagaimana perasaan Vano dulu saat akan menikah, padahal dulu dia berpikir kenapa harus merasa gugup hanya karena akad saja.


Mahen juga ikut menghampiri River dan mengatakan pujian yang sama, terlihat jelas pancaran kebahagiaan diwajah laki-laki itu saat ini. Aura yang ada dalam diri River pun terasa sangat berbeda dari biasanya.


Mereka lalu membawa River ke ruangan yang akan digunakan untuk akad, terlihat semua keluarga sudah berkumpul di tempat itu. Baik keluarga Vano, Ryder, dan juga keluarga dari pihak wanita.


"Baiklah, tolong panggil calon pengantin wanitanya karena acara akan segera dimulai," ucap pak penghulu.


Salah satu kerabat calon pengantin wanita langsung beranjak pergi untuk memanggil Jean, lalu sesaat kemudian dia kembali lagi bersama dengan calon istri River.


Semua mata menatap dengan takjub saat melihat wajah Jean yang sangat manis, apalagi sudah tidak ada luka bekas terbakar di pipi sebelah kanannya karena tertutup oleh makeup.


Luka bekas terbakar itu tidak lebar, hanya sebesar ibu jari saja. River juga pernah menawarkan untuk melakukan operasi agar bekas luka itu menghilang, tetapi Jean tidak mau dan menolaknya.


Jean berkata bahwa bekas luka itu sangat bermakna sekali, dan dia tidak akan pernah bisa melupakannya karena dulu orang yang sangat dicintainya sendirilah yang melakukan semua itu.


Setelah semuanya sudah siap, langsung saja penghulu memulai acara akad nilah pada hari ini. Akad itu diwakilkan langsung oleh pak penghulu karena tidak ada wali dari calon pengantin wanita.


"Saya terima nikah dan kawinnya Jean Jovinka dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!" ucap River dengan tegas dan satu kali tarikan napas.


"Bagaimana para saksi, sah?"


"Sah!"


"Alhamdulillah." Luapan rasa syukur menggema di tempat itu saat sudah bersatunya River dan Jean dalam ikatan suci pernikahan. Semua orang yang ada di tempat itu ikut merasa bahagia dengan penikahan mereka, terutama kedua mempelainya sendiri.


Pak penghulu langsung memanjatkan doa agar rumah tangga River dan Jean selalu diberikan kebahagian, ketenangan, dan juga kesejahteraan.


"Alhamdulillah, terima kasih atas semua kebahagiaan yang telah Kau berikan padaku ini ya Allah."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2