
Beberapa hari telah berlalu dengan sangat cepat, kini Mahen sudah harus kembali ke negaranya dengan diantar oleh Yara dan semua keluarga.
"Kalau sudah sampai di rumah telpon aku, Pa."
Mahen menganggukkan kepalanya sambil merangkul bahu sang putri. "Tentu saja, Sayang. Kau juga ya, kabari papa tentang perkembangan kasus perceraianmu. Lalu apa pun itu, kau harus mengatakannya pada papa."
Yara tersenyum sambil mengangguk. Dia lalu menyalim tangan papanya dan memberikan sebuah kotak beludru berwarna merah pada sang papa.
"Ini ada hadiah kecil untuk Papa, mama, dan juga adik-adik. Aku harap Papa dan yang lainnya menyukainya."
Mahen segera menerima hadiah dari Yara dengan bahagia. Dia membuka kotak itu dan terlihatlah 2 buah jam tangan dan 2 gelang berlian.
"Ini sangat indah, Sayang. Terima kasih."
Yara kembali mengangguk. "Sama-sama, Pa."
Mahen lalu berpamitan pada Vano dan Via, tidak lupa pada Zafran dan juga Zayyan yang ikut mengantar kepergiannya.
Setelah Mahen pergi, Yara dan keluarganya segera kembali pulang ke rumah. Hari ini seharusnya ada jadwal sidang perceraian antara Yara dan juga Aidan, tetapi River tidak memperbolehkan Yara untuk datang.
Sesampainya di rumah, ternyara River sudah menunggu kepulangan mereka. Mereka lalu berkumpul di ruang keluarga karena tahu jika laki-laki itu ingin mengatakan sesuatu.
"Bagaimana, River? Apa semuanya berjalan lancar?" tanya Vano yang langsung dijawab dengan anggukan kepala River.
"Tentu saja, Tuan. Semua bukti yang saya dapatkan sudah lebih dari cukup untuk membuat Aidan tidak berkutik, dia bahkan tidak bisa membantah tuntutan yang kita layangkan padanya."
Semua keluarga Yara terlihat senang dengan apa yang River katakan, begitu juga dengan Yara yang merasa lega jika semua berjalan lancar.
__ADS_1
"Lalu kapan sidang putusannya? Aku sudah tidak mau lagi berurusan dengan laki-laki itu."
Vano benar-benar tidak sudi lagi berurusan dengan laki-laki seperti Aidan, dan lihat saja. Dia akan mengembalikan laki-laki itu ke tempat yang seharusnya, karena selama ini Aidan mendapat pekerjaan mudah hanya karena memandang kekuasannya.
"Akan saya usahakan minggu depan, Tuan. Setelah itu nona Yara resmi bercerai darinya."
Deg.
Ada rasa sakit dan sesak yang menghantam dada Yara membuatnya terdiam dengan pandangan kosong. Tanpa sadar air mata menggenang di pelupuk mata membuat Via langsung memeluknya.
"Sabar, Nak. Kuatkan hatimu."
Yara terkesiap dan kembali sadar saat berada dalam pelukan sang mama. "A-aku tidak apa-apa, Ma. Aku hanya, hanya-"
"Mama paham, Sayang. Mama paham betul apa yang sedang kau rasakan."
Yara menganggukkan kepala sambil menatap semua orang yang saat ini melihatnya dengan khawatir. Dia lalu tersenyum dengan hangat membuat air mata yang menggenang tidak jadi terjatuh.
"Dasar bod*oh. Apa lagi yang aku sedihkan dengan semua ini? Keluargaku ada bersamaku, dan akan selamanya bersamaku. Aku tidak butuh yang lain, apa lagi laki-laki seperti mas Aidan yang tidak mengerti makna cinta dan pernikahan."
Via lalu melerai pelukannya dan menatap sang putri dengan sendu. "Tidak apa-apa jika ingin menangis, Sayang. Mama dan papa akan selalu berada di sisimu, juga dengan semua keluarga kita."
Yara mengangguk dengan senyum yang tidak lepas dari wajahnya. "Maaf karena sudah membuat khawatir, Ma. Aku hanya merasa lega karena semua masalah ini akhirnya selesai."
Semua orang menatap Yara dengan sendu serta dada yang terasa sesak karena amarah. Tentu saja mereka tidak tega melihat wanita itu bersedih, dan masih saja merasa emosi dengan Aidan.
Pada saat yang sama, Aidan dan ibunya sudah berada di rumah setelah menghadiri persidangan. Nova langsung membanting tasnya begitu sampai di ruang keluarga dengan tatapan tajam ke arah Aidan.
__ADS_1
"Apa maksud semua ini, Aidan? Kenapa rumah ini atas nama Yara?" teriak Nova dengan penuh emosi membuat Aidan menghela napas frustasi.
"Apa lagi yang harus aku katakan, Bu? Semua ini memang milik Yara."
"Apa?"
Nova benar-benar tidak menyangka jika semua yang dia nikmati adalah milik Yara. Kenapa semua itu bisa terjadi, bukankah selama ini putranya juga bekerja? Lalu, kenapa rumah dan mobil atas nama wanita itu?
"Katakan pada Ibu kenapa semuanya bisa jadi seperti ini, Aidan! Apa selama ini kau sudah dibod*oh-bod*ohi oleh wanita itu, hah?"
Aidan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Dia memang punya penghasilan yang lumayan besar, dan semua itu untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Kadang dia juga mengirimkannya pada sang kakak yang kerap meminjam uang.
"Kenapa kau diam, Aidan? Apa kau mau membuat kita hidup di jalanan?"
"Hentikan, Bu!" Aidan menatap ibunya dengan tajam. "Apa yang terjadi di persidangan tadi adalah benar. Rumah serta mobil memang atas nama Yara, tetapi aku juga ada hak di dalamnya. Jadi berhenti bertanya dan membuat kepalaku pusing."
Aidan lalu berbalik dan pergi meninggalkan sang ibu ke kamarnya. Dia membanting pintu kamar itu dan langsung mencari surat-surat rumah dan juga aset yang lainnya.
Nova mendudukkan tubuhnya ke atas sofa dengan kasar. Semua itu sangat mengejutkannya, bahkan selama ini dia sama sekali tidak tahu tentang kepemilikan aset-aset Aidan.
"Tidak. Aku yakin wanita itu pasti sudah menipu anakku sehingga rumah dan mobil bisa menjadi atas namanya, aku harus segera menemuinya."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.