
Hari ini Via memutuskan untuk mengajak Hana jalan-jalan agar pikiran wanita itu lebih fresh dan tidak stres dengan segala masalah yang sedang di hadapi, dia juga ingin memeriksakan keadaan kaki Hana ke rumah sakit.
"Ayo, ikut tante!" ajak Via saat mereka sudah sampai di rumah sakit.
Hana menganggukkan kepalanya dan hanya mengikuti semua perintah Via, walau dia merasa penasaran kenapa mereka pergi ke rumah sakit. Mungkinkah wanita itu sedang sakit?
"Apa Anda sakit, Nyonya?" tanya Hana dengan khawatir.
"Eh, kok manggil nyonya. Kau kan sudah janji gak akan manggil nyonya lagi," ucap Via memperingatkan.
Hana tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya yang memang sedang gatal. Tentu saja dia merasa tidak pantas memanggil Via dengan sebutan tante, apalagi kedudukan mereka bagai langit dan bumi.
"Coba panggil tante," perintah Via kemudian sambil berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
"Ba-baiklah, Tante," ucap Hana dengan lirih, bahkan suaranya hampir tidak terdengar sangking pelannya.
Via tersenyum senang. "Nah, begitu kan lebih bagus. Jadi jangan panggil nyonya lagi, dan jangan menggunakan bahasa formal. Kau juga bisa memanggil suami tante dengan panggilan om, lalu panggil saja anak-anak tante dengan nama mereka."
Hana menelan salivenya dengan kasar saat mendengar ucapan Via. Tidak, bagaimana mungkin dia bisa memanggil suami wanita itu dengan sebutan om? Lalu, apalagi itu? Tidak mungkin dia memanggil Zafran dan Zayyan hanya dengan nama saja. Mungkin jika Zayyan dia masih bisa, tidak untuk Zafran. Bagaimana jika laki-laki murka saat dia memanggil hanya dengan nama saja?
"Ti-tidak perlu Nyo- eh Tante, saya tidak sanggup memanggil keluarga Anda dengan panggilan tersebut," ucap Hana dengan tidak enak hati.
Ah, benar. Via merasa sedikit bersalah karena sudah berkata seperti itu pada Hana, wanita itu pasti merasa sangat canggung dengan keluarganya. Terutama dengan suaminya dan juga Zafran, kedua lelaki itu kan selalu menatap orang lain dengan tajam dan wajah datar. Jelas saja orang lain takut dengan mereka, walaupun sebenarnya hati suami dan anaknya itu sangat hangat dan baik.
"Baiklah, tante mengerti. Panggillah mereka sesuai dengan kenyamananmu saja," sahut Via.
Hana kembali mengangguk sambil tetap mengikuti langkah Via, sampai akhirnya mereka bertemu dengan dokter untuk memeriksakan kakinya.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Zafran sedang berkutat dengan pekerjaannya yang menggunung. Sejak tadi dia merasa tidak fokus karena terus terpikirkan oleh hal lain, sampai akhirnya dia menghentikan pekerjannya untuk sejenak.
__ADS_1
"Astaga. Kenapa aku tidak bisa fokus sih?" gumam Zafran sambil menghela napas kesal. Padahal ada banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan, tetapi tetap saja pikirannya tertuju pada hal lain.
Setelah itu Zafran menoleh ke arah pintu saat mendengar suara sang papa disertai dengan ketukan dipintu. Sedetik kemudian tampaklah papanya masuk ke dalam ruangan.
"Apa kau sedang sibuk, Zafran?" tanya Vano sambil melangkah masuk ke dalam ruangan putranya.
"Yah ... begitulah Pa," sahut Zafran seraya beranjak dari kursi dan berpindah ke sofa bersama dengan papanya.
Vano menganggukkan kepala. Yah, saat ini Zafran pasti sangat sibuk mengurus proyek yang sedang berjalan, belum lagi tentang hubungan kerja sama yang lain untuk pembangunan proyek selanjutnya.
"Apa ada sesuatu yang ingin Papa bicarakan?" tanya Zafran. Jika tidak ada hal penting, tidak mungkin papanya datang ke ruangannya karena biasanya dia yang dipanggil ke ruangan sang papa.
"Ya, papa ingin bicara tentang wanita yang kau bawa ke rumah," jawab Vano.
Zafran terkejut saat mendengar ucapan sang papa. Tidak disangka jika papanya akan membahas masalah Hana lebih dulu seperti ini, padahal dia berniat untuk membahasnya malam nanti.
"Semalam papa dan mama sudah memutuskan untuk menerima wanita itu dan membiarkannya tinggal di rumah, tapi papa khawatir dengan suaminya. Terus tadi mama nelpon dan bilang kalau Hana sudah mengambil keputusan untuk berpisah dengan suaminya, bagaimana menurutmu?" tanya Vano.
"Sebenarnya aku tidak peduli dengan rumah tangganya, aku hanya merasa tidak tega dengan apa yang terjadi padanya. karena itu aku membawanya ke rumah," jawab Zafran.
Yah, Vano sangat paham dengan apa yang putranya katakan. Zafran memang sama persis sepertinya, baik sifat dan juga perasaan. Dia dulu juga melakukan hal yang sama dengan Zafran, yaitu menolong seorang wanita karena merasa kasihan, walau pada akhirnya wanita itu kini menjadi istrinya sendiri.
"Tapi kalau dia memang sudah memutuskan untuk berpisah, maka baguslah. Laki-laki sampah seperti Dion memang tidak pantas untuk pertahankan. Aku seperti melihat Aidan dalam diri Dion, walau laki-laki itu tidak separah Dion," sambung Zafran.
Vano menganggukkan kepalanya. "Kau benar, papa juga merasa seperti itu. Kalau gitu nanti malam bicarakan masalah perceraiannya dengan laki-laki itu, jangan sampai laki-laki itu menuntutmu karena sudah membawa Hana," ucap Vano.
Zafran menganggukkan paham. Jika memang Hana sudah memutuskan untuk berpisah, maka harus segera mengajukan surat perceraian pada pihak pengadilan sebelum suami Hana melakukan sesuati yang nantinya malah akan memberatkan wanita itu.
Pada saat yang sama, Via dan Hana masih berada di rumah sakit. Via merasa sangat terkejut saat mendengar hasil pemeriksaan Dokter, sementara Hana hanya diam sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Sekarang katakan pada tante sebenarnya apa yang sudah terjadi pada kakimu, Hana? Kenapa Dokter bilang kalau kakimu terluka akibat pukulan benda keras?" tanya Via dengan tajam. Dia merasa sangat syok saat mendengar penjelasan Dokter. Mungkinkah Hana mengalami KDRT dari suaminya?
Hana terdiam. Dia tidak mau lagi membahas perbuatan yang telah mertuanya lakukan, tetapi dia tidak tahu harus bagaimana mengatakannya pada Via.
"Jangan takut, Hana. Tante sudah bilangkan kalau akan selalu mendukungmu, jadi tante mohon jawab pertanyaan tante dengan jujur. Apakah luka ini sebabkan oleh suamimu?" tanya Via kembali.
Hana menggelengkan kepalanya lalu menatap Via dengan sendu. "Tidak, Tante. Luka ini bukan karena Dion, tapi karena mamanya. Aku tidak mau membahas mereka lagi." Suaranya sampai bergetar dengan perasaan takut saat mengingat tentang kejadian itu.
Via langsung memeluk tubuh Hana dengan sedih mendengar jawaban wanita itu, sementara Dokter menatap dengan penuh simpati dengan apa yang pasiennya alami.
"Maaf kalau pertanyaan Tante kembali membuatmu terluka, Hana," ucap Via dengan sedih. "Dia lalu melerai pelukannya dan memegang bahu wanita itu. "Jika kau benar-benar ingin berpisah dengan suamimu, maka luka yang ada dikakimu ini bisa dijadikan sebagai bukti kekerasan yang mertuamu lakukan, Hana. Itu bisa mendukungmu saat persidangan nanti, apalagi kita tidak tahu apa yang nanti akan suamimu lakukan."
Hana tertegun mendengar ucapan Via. Dia bahkan belum memikirkannya, tetapi wanita itu sudah berpikir jauh demi keberhasilannya berpisah dengan Dion.
"Saya benar-benar tidak tahu apapun, Tante. Saya merasa sangat berterima kasih karena bantuan dari Tante. Ka-kalau gitu saya akan mengikuti apapun yang Tante ucapkan." Lirih Hana.
Via tersenyum sambil mengusap puncak kepala Hana. Untung saja wanita itu bertemu dengannya, jika tidak bisa saja kepolosan Hana dimanfaatkan untuk hal buruk oleh orang lain.
Via lalu meminta Dokter untuk melakukan pemerikaaan secara menyeluruh terhadap tubuh Hana dan membuat laporannya, sebagai barang bukti atas kekerasan yang wanita itu alami.
Hana juga mengatakan jika sebelumnya sudah pernah diperiksa oleh salah satu Dokter yang juga berada di rumah sakit ini, membuat Via segera mendatangi Dokter tersebut untuk meminta laporan pemeriksaan dan keterangan yang mendukung.
"Aku akan memastikan hak dan kebebasan untuk Hana, aku juga tidak akan melepaskan orang-orang yang sudah menyakitinya. Mereka harus dihukum atas perbuatan keji dan tidak bermoral yang telah dilakukan."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.