
Yara tersenyum saat mendengar ucapan Zafran. Sejak kecil sampai sekarang, adiknya itu tidak pernah membuat masalah. Jangankan masalah, Zafran saja tidak pernah yang namanya berkelahi dengan sesama teman.
"Mbak akan menunggu masalah yang akan kau buat, Zaf." Yara lalu mengusap lengan sang adik.
"Benarkah?" Zafran memalingkan wajahnya sekilas, lalu kembali melihat ke arah depan.
"Tentu saja. Masak iya sih, mbak sama Zay saja yang suka buat masalah? Sekali-sekali kau juga harus membuat masalah."
Zafran langsung tergelak saat mendengar ucapan sang kakak. Memangnya ada, seorang kakak yang malah menyuruh adiknya membuat masalah?
"Baiklah. Mbak tunggu saja, aku pasti akan membuat masalah besar sampai-sampai mbak angkat tangan karena menyerah," ucap Zafran membuat sang kakak juga ikut tertawa.
Akhirnya suasana yang tadinya suram berubah menjadi penuh tawa karena pembahasan yang tidak berfaedah. Masalah yang baru saja terjadi seolah hilang begitu saja, walaupun masih ada rasa sakit yang tersisa di dalam hati.
Tidak berselang lama, mereka sudah sampai di rumah. Yara dan Zafran segera masuk ke dalam rumah, terlihat tempat itu sedikit sepi karena Mahen dan Riani sedang pergi ke rumah salah satu saudara.
Yara beranjak ke kamar untuk menelepon papa Vano. Dia harus segera menceritakan apa yang terjadi, karena dia tahu saat ini papanya itu pasti sangat khawatir.
"Halo, Yara," ucap Vano saat panggilan mereka sudah terhubung.
"Assalamu'alaikum, Pa. Bagaimana kabar Papa?"
"Wa'alaikum salam. Alhamdulillah kabar papa baik, Sayang. Kau sendiri bagaimana, hem?"
Yara lalu mengatakan jika dia dalam keadaan baik, tidak lupa menanyakan kabar semua keluarganya yang berada di sana.
"Oh yah, Pa. Ada sesuatu yang mau aku katakan pada Papa," ucap Yara setelah bertanya kabar mama dan juga adiknya.
"Katakan saja, Yara. Papa akan mendengarkannya," balas Vano membuat Yara menghela napas kasar.
__ADS_1
"Begini, Pa. Aku mau membicarakan soal uang 50 milyar yang Zafran minta pada Papa."
Vano yang ada disebrang telepon mengernyitkan kening, ternyata Yara juga mengetahui tentang uang itu membuatnya semakin dirundung gelisah.
"Sebenarnya ada apa, Yara? Kenapa adikmu meminta uang sebanyak itu?" tanya Vano.
Yara lalu terpaksa menceritakan semua yang terjadi padanya, hingga membuat sang papa kehilangan uang yang sangat banyak.
Vano yang mendengar cerita Yara mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Seketika darahnya mendidih saat mengetahui apa yang sudah Ryder lakukan pada Yara, dan tentu saja dia tidak akan membiarnya begitu saja.
"Maafkan aku, Pa. Gara-gara aku Papa kehilangan uang yang sangat banyak," ucap Yara dengan lirih setelah selesai menceritakan semuanya. Dia merasa benar-benar tidak berguna karena selalu menyusahkan semua keluarganya.
"Jangan meminta maaf, Sayang. Apa yang adikmu lakukan itu sudah benar. Jika papa ada di sana, papa malah akan memberinya uang 100 milyar untuk membeli semua yang mereka punya. Bila perlu, papa akan menukar harta papa untuk menginjak-nginjak mereka sampai mati."
Glek.
Yara menelan salivenya dengan kasar saat mendengar ucapan sang papa. Dia langsung merinding karena apa yang papanya katakan pasti akan benar-benar terjadi.
"Ya sudah, baik-baiklah di sana."
Setelahnya Yara mengakhiri panggilan itu dengan mengucap salam, lalu beranjak ke ranjang dan merebahkan tubuhnya yang terasa lelah.
Yara menatap langit-langit kamar dengan helaan napas frustasi. Semua yang terjadi hari ini benar-benar memberikan pelajaran yang sangat berharga untuknya, yaitu tidak semua orang akan membalas kebaikan dengan kebaikan pula.
"Sudahlah, sejak awal aku ikhlas untuk menolongnya dan tidak mengharapkan apapun. Jika sekarang dia memperlakukan aku dengan buruk, itu artinya dia sama sekali tidak bisa menghargai kebaikan yang sudah aku lakukan. Dan orang sepertinya tidak layak untuk aku ingat kembali."
Yara memutuskan untuk segera mandi agar tubuhnya merasa segar. Bukan hanya tubuh saja, dia juga harus membersihkan pikirannya agar bisa melupakan apa yang terjadi hari ini.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Ryder sedang dalam perjalanan menuju rumah Yara. Dia menyalip kendaraan lain yang ada di depannya, dan semakin menekan pedal gasnya membuat mobil itu melaju dengan sangat cepat.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, dia sudah sampai di depan pintu gerbang rumah Yara. Salah satu penjaga rumah tampak menghampirinya, lalu segera mempersilahkannya untuk masuk.
Setelah memarkirkan mobilnya, Ryder beranjak keluar untuk segera menemui Yara. Terserah jika wanita itu marah atau membencinya, yang pasti dia harus segera bertemu untuk meminta maaf.
"Loh, Ryder. Kalian sudah kembali?"
Ryder yang akan berjalan ke pintu terpaksa menghentikan langkahnya saat mendengar suara seseorang. Dia lalu berbalik dan tersenyum canggung saat melihat kedua orang tua Yara.
"Selamat sore Om, Tante," sapa Ryder membuat Mahen dan juga Riani menganggukkan kepala mereka.
Ternyata kedatangan Ryder bertepatan dengan kepulangan Mahen dan juga Riani, itu sebabnya Riani segera memanggilnya pada saat keluar dari mobil.
"Tapi, di mana Yara?" tanya Riani kemudian. Dia tidak melihat Yara keluar dari mobil, apa mereka tidak pulang bersama?
"Yara, Yara sudah pulang duluan bersama dengan Zafran, Tante," jawab Ryder dengan jujur membuat Riani mengernyitkan kening bingung.
"Kenapa Yara bisa bersama dengan Zafran, bukankah tadi mereka hanya pergi berdua saja?" Riani merasa bingung, atau jangan-jangan Zafran yang menyusul mereka?
0
"Kalau gitu ayo masuk, Ryder! Yara pasti ada di dalam, soalnya mobil mereka sudah pulang." Mahen menunjuk ke arah mobil yang biasa dibawa oleh Zafran.
Ryder menganggukkan kepalanya dan bergegas masuk ke dalam rumah mengikuti mereka, entah kenapa jantungnya berdegup kencang saat sudah berada di dalam rumah tersebut.
"Wah, siapa yang sedang bertamu ini?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.