Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 160. Lelahnya Resepsi.


__ADS_3

Setelah selesai akad, Yara langsung sujud sungkem di hadapan kedua orangtuanya untuk mengucapkan terima kasih karena selama ini telah menjaga dan membesarkannua dengan penuh kasih sayang. Dia juga memohon izin dan restu untuk pernikahannya.


Begitu juga dengan Ryder. Dia terisak di hadapan kedua orangtuanya karena selama ini telah banyak menyusahkan mereka. Dia bahkan tidak pernah menjadi anak yang membanggakan dan membuat hati kedua orangtuanya menjadi senang.


Tangis kesedihan dan kebahagiaan berbaur jadi satu di tempat itu. Para orangtua tentu saja merasa sangat bahagia melihat anak-anak mereka menikah, tetapi ada perasaan sedih juga karena harus melepas anak mereka untuk hidup bersama dengan pasangannya.


Kemudian semua keluarga juga bergantian mengucapkan selamat kepada Ryder dan Yara. Do'a-do'a baik terus berterbangan ke langit, dan semoga do'a itu dikabulkan oleh yang maha kuasa.


Selesai acara akad, Yara dan Ryder kembali dibawa ke kamar karena harus berganti pakaian menggunakan pakaian adat. Walau mereka berada di luar negeri, tetapi harus tetap melestarikan adat istiadat budaya sendiri.


"Minumlah." Ryder memberikan segelas air untuk sang istri saat mereka sudah berada di dalam kamar. Dia lalu duduk di samping Yara yang sedang menenggak air pemberiannya.


"Alhamdulillah," ucap Yara saat tenggorokannya sudah basah terkena air. Sejak tadi tenggorokannya itu terasa kering, dan kedua matanya juga terasa perih karena kebanyakan menangis.


"Istirahatlah sebentar, kau pasti lelah," ujar Ryder sambil menatap Yara dengan penuh cinta.


Yara mengangguk. Dia lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Ryder membuat laki-laki itu terkesiap. "Apa Mas tidak lelah?" Dia bertanya sambil memejamkan kedua mata.


Ryder yang terkejut dengan tindakan Yara semakin dibuat kaget dengan panggilan yang wanita itu sematkan untuknya. Dengan cepat dia memegang kedua bahu Yara membuat wanita itu langsung mengerjapkan kedua matanya.


"Tadi, tadi kau manggil aku apa?" tanya Ryder sambil menatap Yara dengan tajam.


Yara tersenyum dengan semburat rona merah yang mulai menjalar di sekitar pipi. "Hari ini kita sudah sah menjadi sepasang suami istri, dan sebagai istri, tentu aku harus menghormati dan menghargai suamiku. Untuk itulah aku memanggilmu dengan panggilan mas, apa kau keberatan?"


Ryder langsung menggelengkan kepalanya sampai beberapa kali. "Tidak, aku sama sekali tidak keberatan. Aku, aku sangat senang mendengarnya." Kedua matanya berbinar-binar memancarkan kebahagiaan.


Yara ikut tersenyum bahagia melihat Ryder, lalu tubuhnya masuk ke dalam pelukan laki-laki itu yang langsung memeluknya dengan erat.


"Terima kasih, terima kasih karena telah bersedia untuk menikah denganku, Yara. Terima kasih karena telah memberi kesempatan padaku untuk membahagiakanmu. Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan semua ini," ucap Ryder dengan lirih. Tubuhnya bahkan bergetar karena luapan kebahagiaan yang membara.


Yara kembali meneteskan air mata saat mendengar ucapan Ryder. "Jangan berterima kasih, Mas. Aku memilihmu juga karena punya perasaan yang sama, dan Allah lah yang sudah menyatukan kita. Semoga rumah tangga kita selalu tenang dan nyaman, juga dilimpahkan dengan kebahagiaan."


"Amin." Ryder langsung mengaminkan ucapan Yara. "Aku sangat mencintaimu, Yara. Aku sangat mencintimu, Istriku."

__ADS_1


Wajah Yara bersemu malu. "Aku juga mencintaimu, Suamiku."


Mereka terus berpelukan dengan erat sambil menumpahkan segala cinta yang ada dalam hati mereka, sampai akhirnya pelukan itu terlepas saat mendengar suara ketukan di pintu kamar itu.


Kemudian rangkaian demi rangkaian acara dilanjutkan. Para tamu mulai berdatangan memenuhi tempat itu yang kebanyakam adalah teman-teman Yara, juga teman-teman keluarganya yang lain.


Dari kejauhan, terlihat rombongan orang-orang sedang berjalan mendekati lokasi pesta. Mereka menaiki dua bus besar yang masing-masing diisi oleh 60 penumpang, dan mereka adalah para penduduk yang tinggal di desa Hyla.


Yara dan Ryder terkejut saat melihat kedatangan mereka. Tidak disangka jika mereka datang ke pesta pernikahan ini, apalagi tidak ada yang memberitahukannya.


"Surprise!" teriak Edward sambil membawa sebuah buket bunga besar ditangannya.


Yara langsung tertawa dengan mata berkaca-kaca karena merasa terharu melihat mereka semua datang ke tempat ini, begitu juga dengan Ryder yang menatap mereka semua dengan penuh kehangatan.


Ternyata Zafran dan Edwardlah yang merencanakan semua ini. Itu sebabnya para tamu undangan yang lain dipersilahkan untuk datang saat malam hari, khususnya para kolega bisnis mereka agar tidak berbenturan dan terlalu banyak tamu yang berada di tempat itu. Padahal Ryder berencana untuk menggelar resepsi pernikahan juga saat di desa nanti, agar masyarakat desa bisa merasakan pestanya juga.


Kakek Domi dan nenek Weny juga terlihat sangat bahagia saat melihat kedatangan mereka. Dengan cepat sepasang suami istri itu menghampiri mereka dan menyambut dengan ramah.


Kemudian semua orang dipersilahkan untuk menikmati acara dan hidangan di tempat itu. Apalagi sudah tersedia hiburan yang diisi oleh penyanyi-penyanyi yang sudah sangat terkenal.


"Aku lelah!" ucap Ryder sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sepanjang hari dia terus menyalami para tamu dan tersenyum pada mereka, sampai membuat pipinya terasa kebas.


Yara menggelengkan kepalanya saat melihat sang suami, dia lalu mengambil makanan yang sudah disiapkan ke atas meja dan membawanya ke ranjang.


"Makan dulu, Mas," ucap Yara sambil meletakkan makanan itu di samping Ryder.


Ryder yang sudah sempat terpejam kembali membuka kedua matanya dan menolehke arah Yara. "Kita tidur aja yuk, gak usah keluar lagi." Dia berucap dengan serius.


Yara langsung tergelak saat mendengarnya. "Bagaimana mungkin kita bisa tidur saat seperti ini, Mas?" Dia merasa tidak habis pikir.


Ryder langsung mencebikkan bibirnya, kedua matanya lalu melotot saat melihat Yara membuat hijab yang sejak tadi dipakai, dan ini adalah kali pertama dia melihat rambut wanita itu.


Kedua mata Ryder terpana melihat rambut Yara yang tampak berkilauan dengan warna hitam kecoklat-coklatan, apalagi rambut itu sangat panjang dan jika wanita berdiri maka ujung rambutnya akan menyentuh lutut.

__ADS_1


"Rambutmu indah sekali, Sayang. Aku sampai tidak bisa memalingkam mata," ucap Ryder.


Yara tersenyum malu. "Alhmdulillah kalau Mas menyukainya." Dia merasa senang, padahal sudah ada niat untuk memotong rambut itu.


Ryder lalu membelainya, dan rambut itu terasa sangat lebat dan halus. "Jangan dipotong yah, biarkan panjang seperti ini." Pintanya.


Yara mengangguk. Dia lalu mengambil penjepit rambut untuk mengikat rambutnya itu supaya tidak menganggu saat makan nanti.


Ryder merasa benar-benar beruntung. Ternyata benar apa yang orang-orang katakan jika wanita yang bisa menjaga auratnya, maka itulah wanita yang sangat indah. Bukan hanya indah hati saja, tetapi juga indah fisiknya. Sampai rasanya tidak ada lagi kekurangan dal diri Yara dimatanya.


"Ayo makan, Mas! Setelah itu kita shalat maghrib," ajak Yara kemudian.


Ryder mengangguk. Dia lalu mulai menikmati makanan yang ada di hadapannya sambil terus memperhatikan Yara, membuat wanita itu mencubil lengannya karena merasa malu.


Beberapa saat kemudian, Ryder dan Yara sudan berganti pakaian dan kembali menemui para tamu. Malam ini tempat itu benar-benar terlihat sangat ramai, karena semua kolega bisnis keluarga mereka menghadiri pernikahan tersebut.


Bahkan banyak tamu yang berasal dari Indonesia dan dari negara lainnya juga, mereka semua berbaur jadi satu di tempat itu.


Acara terus berlangsung sampai pukul sepuluh malam. Para tamu satu persatu mulai meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumah mereka masing-masing, para keluarga juga banyak yang sudah kelelahan dan memilih untuk istirahat lebih dulu.


"Akhirnya!" pekik Ryder saat para tamu sudah mulai meninggalkan tempat itu. Kakinya benar-benar pegal karena sejak tadi terus berdiri.


Yara juga sudah merasa sangat lelah. Apalagi dia harus memakai sepatu dengan tinggi mencapai tujuh cm agar bisa mengimbangi tubuh Ryder.


"Astaghfirullah." Yara memekik kaget saat tiba-tiba Ryder menyentuh kakinya. "Apa, apa yang kau lakukan, Mas?" Dia merasa heran.


"Kakimu pasti sakit sejak tadi memakai sepatu ini."




__ADS_1


Tbc.



__ADS_2