
Setelah kepergian Sasa, River dan Junior juga ikut pergi dari tempat itu. Namun, mereka tidak pergi dari pintu melainkan dari plafon agar tidak ketahuan oleh anak buah Luke.
"Cepat naik, Junior," ucap River sambil membungkukkan tubuhnya agar Junior bisa berpijak dan naik ke atas.
Junior langsung menggelengkan kepalanya. "Lebih baik Anda dulu, Tuan. Saya akan-"
"Bukan saatnya untuk berdebat, Junior. Sekarang cepat naik!" ucap River dengan penuh penekanan.
Junior terlihat ragu untuk naik ke atas tubuh River. Bukan karena dia merasa takut, tetapi karena merasa segan dan tidak enak hati. Bagaimana mungkin dia memijak tubuh tuannya sendiri?
"Junior?"
Junior terkesiap saat mendengar panggilan River, mau tidak mau sepertinya dia memang harus naik lebih dulu untuk mencari jalan keluar untuk mereka.
Setelah Junior naik ke atas tubuh River dan menjebol plafonnya, dia segera mencari jalan dan menyusuri tempat itu. Dia harus merayap agar tidak memijak plafon yang rapuh, atau dia akan jatuh dan pelarian mereka akan gagal.
River sendiri kembali mengunci pintu itu agar anak buah Luke tidak bisa masuk. Dia mengambil kursi yang ada di tempat itu, lalu meletakkannya di belakang pintu agar menjadi penghalang. Setelahnya dia mengambil kursi yang lain agar bisa ikut naik bersama dengan Junior walau harus bersusah payah.
Selama merayap di atas, Junior dan River sama-sama mendengar suara dari orang-orang yang ada di tempat itu. Dari suara mereka, sepertinya ada bantak orang yang saat ini berada di bawah tubuh Junior dan River. Mungkinkah mereka sedang berada dimarkas Luke?
"Sekarang kita mau ke mana, Tuan?" tanya Junior, dia sudah berada di ujung jalan dan tidak bisa lagi untuk maju ke depan.
River diam sejenak. Jika saat ini mereka benar-benar berada di markas, jelas dia tahu tentang semua letak ruangan yang ada di tempat ini. Kemudian dia menyuruh Junior untuk melihat ke arah luar, untuk melihat kesekitar tempat mereka berada saat ini.
"Kita mengarah tepat ke garasi mobil, Tuan. Di bagian samping sepertinya tempat untuk latihan menembak," ucap Junior.
__ADS_1
River menganggukkan kepala lalu menyuruh Junior untuk mengikutinya, karena dia yang akan mencari jalan untuk keluar. Kali ini dia tidak akan kabur begitu saja, setidaknya dia harus meledakkan tempat ini sebagai balasan karena Luke sudah menghajar Junior.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Vano beserta yang lainnya sedang memperhatikan dari kejauhan. Lokasi mereka saat ini jauh dari keramaian, benar-benar sangat cocok sekali untuk membangun suatu pasukan.
"Sepertinya tidak semua anggota berada di tempat ini," ucap Caldo sambil memperhatikan orang-orang yang sedang beraktivitas di hadapannya.
Eric menganggukkan kepala saat mendengar ucapan Caldo. "Benar, Tuan. Sepertinya sebagian dari mereka tidak ada di tempat." Dia menyetujui apa yang laki-laki itu katakan.
Ternyata saat ini mereka sudah tiba dimarkas Luke bersama dengan semua anggota Caldo, yang sudah tersebar ke sekeliling tempat itu. Dia lalu memerintahkan Vano dan Eric untuk bersiap, begitu juga dengan Ryder dan Zafran yang ikut juga bersama mereka.
Awalnya Vano tidak memperbolehkan Zafran ikut karena memang putranya tidak pernah terjun dalam hal seperti ini, lain hal dengan Ryder yang memang mengikuti jejak ayahnya walau tidak sampai bergabung dengan mafia.
"Tolong jaga dia, Ryder," ucap Vano sambil menepuk bahu Ryder. Dia lebih mempercayakan Zayyan bersama dengan laki-laki itu dari pada bersamanya.
Ryder menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, Tuan. Aku pasti akan-"
Ryder terkesiap saat mendengar ucapan Vano, begitu juga dengan Eric dan Zafran yang juga mendengar ucapan laki-laki itu.
"Papa titip adikmu, semoga kalian baik-baik saja. Karena kalau tidak, maka habislah papa ditangan Yara," sambung Vano.
Ryder kembali menganganggukkan kepalanya dengan perasaan haru dan bahagia yang menyeruak dalam dada. Sebenarnya tanpa dibilang oleh Vano pun, dia tetap akan menjaga Zafran dan memastikan bahwa laki-laki itu baik-baik saja.
Mereka semua lalu berpencar menuju tempat masing-masing sesuai dengan apa yang sudah direncanakan. Caldo bersama dengan asistennya, Eric bersama dengan Vano, dan Ryder bersama dengan Zafran.
Ryder dan Zafran segera berjalan dengan mengendap-ngendap melalui arah belakang. Terlihat sudah ada beberapa anak buah mereka yang bersembunyi di tempat itu, tinggal menunggu perintah dari mereka saja.
__ADS_1
Eric dan Vano menyerang dari arah kiri, sementara Caldo dan asistennya menyerang langsung dari arah depan dengan terbuka. Mereka semua sudah membawa senjata masing-masing, dan mulai melancarkan serangan.
Beberapa penembak jitu yang sudah Caldo siapkan juga mulai menembak orang-orang yang ada di tempat itu, hingga membuat keributan di mana-mana.
Dor.
Dor.
Dor.
Suara tembakan menggema di mana-mana membuat semua anak buah Luke menjadi panik. Mereka segera berlindung dan mengambil senjata masing-masing, lalu melakukan serangan balasan.
Salah satu dari mereka segera menghubungi Luke tentang penyerangan yang terjadi, sementara yang lain menghubungi semua anggota yang sedang berada di luar tempat itu.
"Lumpuhkan mereka semua. Kita harus mengalahkan mereka sebelum yang lain datang," perintah Caldo. Dia langsung mendobrak pintu rumah itu dan masuk ke dalamnya.
River dan Junior yang sudah turun dan berada di dalam salah satu ruangan terlonjak kaget saat mendengar suara tembakan yang saling bersahutan. Mereka saling pandang dengan bingung, lalu bergegas untuk melihat apa yang terjadi.
"Tu-tuan Zafran?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.