
Ryder mengatakannya dengan tegas dan lantang, matanya menatap ke arah Yara yang berdiri tepat di hadapannya dengan penuh makna.
Seketika suasana berubah menjadi hening saat semua orang mendengar ucapan Ryder, terutama Yara dan keluarganya yang tidak menyangka akan mendengar hal seperti itu saat ini.
Eric yang juga mendengar ucapan Ryder langsung menepuk bahu putranya itu membuat Ryder langsung menoleh ke arahnya. "Ayo kita pulang, kita harus segera bertamu ke rumah calon istrimu!" Dia melirik ke arah Yara yang langsung menundukkan kepala menahan malu.
Ryder tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, Pa." Dia merasa senang dengan reaksi yang papanya berikan.
Vano yang saat ini berada di samping Yara langsung merangkul tubuh putri sambungnya itu dengan erat, membuat Yara yang sedang menunduk langsung menoleh ke arahnya.
"Ayo, kita juga harus segera pulang untuk menyambut kedatangan calon suamimu!" ucap Vano dengan senyum lebar.
Wajah yang semula malu-malu, kini tampak menatap sendu saat mendengar ucapan papanya. Dengan cepat Yara melingkarkan tangannya dipinggang sang papa, dan menyandarkan kepalanya ke dada bidang papanya itu.
Dia merasa tersentuh dan dadanya menghangat saat mendengar ucapan sang papa, tidak disangka papanya akan membalas ucapan orang tua Ryder seperti itu.
Zafran juga tersenyum melihat apa yang terjadi saat ini. Setelah perjalanan panjang dan banyaknya masalah yang menghadang, akhirnya sang kakak dipertemukan dengan laki-laki yang diharapkan dapat selalu memberikan kebahagiaan.
Mereka semua lalu bergegas pergi meninggalkan tempat itu dengan menaiki mobil masing-masing, dan kerja sama antara Vano dengan Caldo berakhir saat itu juga.
Begitu juga dengan Eric dan Ryder. Walau dulu Eric menjadi anak buah Caldo, tetapi sudah lama dia mengundurkan diri dan fokus dengan pekerjaan serta keluarganya saja. Dia tidak ingin lagi bermain-main dengan dunia hitam yang dapat membahayakan nyawa keluarga, tetapi dia tetap akan kembali jika ada yang mengusik ketenangan keluarganya.
Setelah semuanya berakhir, Vano dan semuanya kembali ke rumah dengan keadaan selamat. Begitu juga dengan Eric dan Ryder yang ikut pulang bersama mereka sesuai dengan permintaan Vano.
Tangis bahagia langsung menyambut kepulangan mereka semua di rumah itu, terutama Via yang langsung memeluk suami dan sang anak tercinta.
Kekhawatiran dan ketakutan yang sejak tadi menyelimuti hatinya, kini lenyap berganti dengan rasa syukur saat melihat semua orang kembali dalam keadaan baik-baik saja.
"Syukurlah kalian semua baik-baik saja, aku benar-benar merasa sangat cemas," ucap Via dengan terisak. Sungguh dia tidak dapat membayangkan jika terjadi sesuatu dengan mereka semua.
River yang sejak tadi tidak punya kesempatan untuk bicara langsung melangkah maju ke hadapan semua orang.
"Maaf, maafkan saya," ucap River dengan sendu sambil menundukkan kepala di hadapan semua orang.
__ADS_1
Dia merasa bersalah atas apa yang telah terjadi, karena biar bagaimana pun, mereka sampai harus berhadapan dengan Luke hanya karena untuk menyelamatkannya.
Vano melangkah mendekati River dengan tatapan tajam, dia lalu berdiri tepat di hadapan laki-laki itu membuat River terkesiap.
"Jika aku atau keluargaku yang lain berada diposisimu, apa kau akan menyelamatkan kami?" tanya Vano dengan penuh penekanan.
River mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Tanpa ditanya pun, tentu dia akan langsung berlari untuk menyelamatkan mereka walau harus bertaruh nyawa, atau bahkan dia akan tetap maju walau nyawanya tidak akan selamat.
"Kau pasti akan menyelamatkan kami, 'kan?" ucap Vano lagi membuat River menganggukkan kepalanya. Dia lalu menepuk bahu River, laki-laki yang selalu berada di sampingnya dan sudah dianggap seperti kakak sendiri.
"Jangan meminta maaf, River. Kau sama sekali tidak bersalah. Kami datang ke sana karena sudah menjadi tanggung jawab kami untuk menyelamatkanmu, menyelamatkan keluarga kami sendiri."
Ucapan Vano seketika membuat River tertegun dengan darah berdesir hebat. Kedua matanya tampak menggantung mendung membuat semua orang yang ada di tempat itu merasa terharu.
"Terima kasih sudah bertahan dan tetap hidup, River. Kami benar-benar sangat mengkhawatirkanmu," ucap Vano kembali sambil menarik tubuh River dan memeluknya dengan erat.
River tidak kuasa menahan perasaan yang sedang dirasakan saat ini, hingga membuat kedua matanya menjadi basah.
"Terima kasih, Tuan. Terima kasih karena sudah datang bersama yang lain dan menyelamatkan saya. Saya benar-benar manusia yang sangat beruntung," balas River dengan rasa syukur yang teramat besar.
Vano menganggukkan kepala sambil melerai pelukannya. "Sekarang masuk ke kamarmu dan mandilah, kau pasti tidak pernah mandi selama beberapa hari ini, 'kan?"
Keharuan yang terjadi langsung ambyar saat mendengar ucapan Vano, apalagi River segera meminta maaf karena tidak sempat mandi hingga membuat semua orang tertawa saat mendengarnya.
Vano lalu beralih menghampiri Eric dan Ryder untuk mengucapkan banyak terima kasih pada mereka, karena berkat bantuan yang mereka berikan, dia bisa menyelamatkan dan membawa River kembali pulang.
"Tidak masalah, Tuan Vano. Biar bagaimana pun, sebentar lagi kita akan menjadi keluarga. Jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada saya," sahut Eric sambil tersenyum penuh arti.
Vano menganggukkan kepalanya. "Anda benar, Tuan." Dia memiringkan tubuhnya lalu melihat ke arah Yara yang sedang menunduk malu. "Sebentar lagi kita akan menjadi keluarga. Untuk itu, banyak sekali persiapan yang harus kita lakukan." Eric langsung mengiyakan ucapannya.
Via menyernyitkan kening saat mendengar ucapan sang suami, dia lalu beralih melihat ke arah Yara yang sedang menunduk dengan wajah bersemu merah.
"Apa Yara dan Ryder akan menikah?" Via merasa bertanya-tanya.
__ADS_1
Vano lalu mempersilahkan Eric dan Ryder ke kamar tamu agar bisa membersihkan diri, juga bisa istirahat sambil menunggu waktu makan malam.
Semua orang juga beranjak pergi ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri, begitu juga dengan Yara yang langsung pergi ke kamar untuk mengambil peralatan medisnya.
Walau mereka tidak terluka parah, tetapi Yara bisa melihat luka-luka yang ada di tubuh papa dan juga yang lainnya. Terutama Ryder, dia bisa melihat dengan jelas bahwa lengan dan kepala laki-laki itu kembali terluka.
"Aku harus mengobatinya, lukanya pasti kembali terbuka," gumam Yara. Dengan cepat dia kembali keluar dari kamar sambil membawa peralatannya untuk menemui Ryder.
Yara mengetuk pintu kamar yang ditempati Ryder sambil memanggil nama laki-laki itu. Tidak berselang lama, pintu kamar pun terbuka.
"Yara?" ucap Ryder sambil tersenyum senang melihat sang wanita tercinta.
"Keluarlah, aku harus mengobatimu," ucap Yara sambil menatap Ryder dengan sendu.
Ryder mengangguk, dia lalu menutup pintu kamar itu dan berlalu keluar mengikuti langkah Yara menuju sofa ruang tamu.
"Lukaku tidak terbuka, Yara. Aku berusaha keras agar-"
"Syukurlah kau baik-baik saja, Ryder," potong Yara dengan cepat sambil mengeluarkan peralatan medisnya dari dalam tas.
Ryder tertegun mendengar ucapan Yara, hati yang sedang senang bertambah bahagia melihat kekhawatiran yang tampak jelas dikedua mata wanita itu.
"Apa kau mengkhawatirkanku?" tanya Ryder dengan pelan.
Yara menghentikan tangannya yang sibuk mengeluarkan barang-barang, lalu beralih menatap Ryder dengan tajam.
"Tentu saja. Bukan hanya khawatir, aku bahkan sangat marah padamu, bagaimana mungkin kau bisa pergi begitu saja dalam keadaan sakit?" tukas Yara dengan marah. "Kau bahkan sama sekali tidak memberitahuku, padahal aku benar-benar sangat mencemaskanmu."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.