
Yara tertawa sendiri dengan apa yang terucap dari mulutnya. Dia lalu bergegas keluar dari ruangan itu sambil mengingat semua kenangan kebersamaannya dengan Ryder.
"Maaf, Dokter Yara."
Langkah Yara terhenti saat mendengar suara dari seorang perawat. "Ya, ada apa?" Dia menatap wanita itu dengan senyum simpul.
"Direktur meminta Anda untuk datang ke ruangannya," ucap wanita tersebut.
"Ke ruangan Direktur? Untuk apa?" tanya Yara dengan bingung.
"Maaf, Dokter. Saya tidak tahu."
Yara menganggukkan paham. Dia lalu mengucapkan terima kasih pada wanita itu, dan beranjak pergi ke ruangan Direktur sesuai dengan ucapan perawat tadi. Dia mengetuk pintu ruangan Direktur sambil menyebutkan namanya.
Pintu ruangan itu terbuka, dan menampakkan seorang lelaki berusia 32 tahun yang masih sangat gagah dan juga tampan.
"Masuklah, Dokter Yara." Lelaki bernama Sandy itu mempersilahkan Yara untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Terima kasih, Tuan." Yara mengangguk lalu masuk ke dalam ruangan itu.
Mereka berdua lalu duduk di sofa secara berhadapan, dengan minuman dan makanan ringan yang sudah tersaji di atas meja.
"Saya dengar Tuan memanggil saya, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Yara dengan ramah.
Sandy tersenyum, lalu mengambil kopi yang ada di atas meja dan menyeruputnya.
"Tentu ada banyak hal yang membutuhkan bantuan Anda, Dokter Yara."
Yara mengernyitkan keningnya dengan bingung. "Jika seperti itu, saya akan berusaha untuk membantu."
Sandy tertawa saat mendengarnya. Kemudian dia meletakkan sebuah kertas di atas meja.
"Bergabunglah dengan kami, Dokter. Ada banyak orang selain tuan Ryder yang membutuhkan bantuan Anda."
Ternyata Sandy sedang meminta Yara agar bekerja di rumah sakit itu, tentu saja dia sudah tahu kemampuan wanita itu dalam merawat pasien. Terbukti dengan cepatnya proses pemulihan Ryder, padahal luka laki-laki itu terbilang cukup parah.
"Saya merasa sangat terhormat dengan penawaran ini, Tuan." Yara mengambil kertas perjanjian kerja yang Sandy berikan, dia tersenyum lalu kembali meletakkannya di atas meja.
__ADS_1
"Tapi maaf, Tuan. Saya tidak bisa menerimanya." Yara menundukkan kepala sebagai rasa penyesalan.
"Kenapa, Dokter? Kita bisa membicarakan tentang kontrak kerjanya, Anda juga bisa mengatakan berapa gaji yang Anda inginkan," ucap Sandy. Dia sangat berharap jika Yara mau bekerja dengannya, apalagi wanita itu sudah dikenal masyarakat luas sejak video viral yang beredar waktu itu.
"Saya benar-benar merasa terhormat dan senang dengan penawaran ini, Tuan. Hanya saja saya tidak berniat untuk menetap di negara ini, karena saya harus kembali ke London," balas Yara dengan tidak enak hati.
Sandy mengangguk paham jika memang keputusan Yara sudah seperti itu. Namun, dia kembali meminta wanita itu untuk memikirkannya terlebih dahulu. Dia juga akan menunggu jawaban dari Yara.
Setelah sedikit berbincang, Yara segera pamit untuk pulang ke rumah. Semua pekerjaannya di rumah sakit itu sudah selesai, dan kini dia sudah bisa kembali ke London.
Sesampainya di rumah, Yara segera masuk ke dalam kamar dan bergegas membersihkan diri. Hari ini dia ingin bermain dengan adik-adiknya setelah seminggu berkutat dengan kesibukan, dia bahkan harus menginap di rumah sakit karena permintaan Ryder.
Begitu keluar dari kamar mandi, Yara mendengar suara dering ponselnya dan bergegas mengambil benda pipih itu. Namun, sebelum sempat diangkat. Panggilannya sudah keburu mati.
"Ya ampun, 4 panggilan tidak terjawab?"
Yara segera menelepon Ryder setelah melihat ada 3 panggilan tidak terjawan dari laki-laki itu. Mungkinkah terjadi sesuatu dengannya? Tiba-tiba Yara merasa cemas.
"Assalamu'alaikum, Ryder. Apa kau baik-baik saja?"
Yara langsung bertanya bagaimana keadaan laki-laki itu setelah panggilannya di jawab.
"Aku? Aku baru selesai mandi, apa kau baik-baik saja?" tanya Yara kembali sambil membuka handuk yang ada di kepalanya.
"Aku baik, aku hanya sedang merindukanmu saja."
Blush. Wajah Yara langsung memerah saat mendengarnya, dan untung saja laki-laki itu tidak bisa melihat secara langsung.
"Jangan main-main, Ryder. Aku benar-benar khawatir," ucap Yara dengan helaan napas frustasi.
"Aku juga tidak main-main. Sekarang bersiaplah, aku akan menjemputmu."
"Apa? Ke-kenapa kau menjemputku?" tanya Yara dengan sangat terkejut.
"Aku ingin menemuimu, mungkin kita bisa pergi ke suatu tempat," jelas Ryder kemudian.
"Maaf, Ryder. Saat ini aku sedang sibuk, kita akan bertemu malam nanti. Sampai ketemu nanti malam, assalamu'alaikum."
__ADS_1
Yara langsung mematikan panggilan itu sebelum mendengar balasan dari Ryder, karena dia yakin jika laki-laki itu akan memaksa.
"Huh, dasar."
Yara lalu kembali meletakkan ponselnya di atas ranjang, dan berlalu memakai pakaiannya untuk berkumpul dengan keluarga yang lain.
Sementara itu, Ryder yang ada di dalam kamarnya langsung membanting ponsel itu dengan kesal. Untungnya benda pipih itu terjatuh dibatas karpet bulu, jika tidak mungkin sudah hancur berantakan.
"Kenapa dia langsung mematikannya sih? Apa sekarang dia ingin menjauhiku?"
Mendadak Ryder jadi takut dan gelisah. Benarkah jika Yara sedang menghindarinya, setelah semua urusan mereka selesai?
"Tidak, aku tidak akan membiarkannya. Apapun yang terjadi, dia harus menjadi milikku."
Ryder kembali mengambil ponselnya dan segera menelepon Alan untuk bertanya bagaimana persiapan acara mereka, dia ingin segera membawa Yara ke acara tersebut.
*
*
Tepat pukul 7 malam, Yara beserta keluarganya sudah sampai di rumah Ryder. Kedua orangtua laki-laki itu menyambut kedatangan mereka dengan ramah, dan segera membawa Yara beserta yang lainnya menuju ruang makan.
"Terima kasih karena sudah memenuhi undangan makan malam dari kami, Tuan. Kami benar-benar merasa sangat terhormat," ucap Eric membuat Mahen menggelengkan kepala.
"Kami yang merasa terhormat karena bisa memenuhi undangan dari Anda, Tuan." balas Mahen.
Kemudian Adena mempersilahkan mereka untuk menikmati makanan dan minuman yang telah tersaji, sementara Ryder sibuk menatap Yara tanpa berkedip sejak wanita itu datang ke rumahnya.
"Jangan lupa berkedip, Tuan. Nyamuk bukan hanya bisa masuk ke dalam mulut, tapi bisa juga masuk ke dalam mata."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1