Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 30. Kejadian di Mall.


__ADS_3

Ambar menatap rumah orangtua Yara dengan kagum. Dia tidak menyangka jika ada rumah secantik dan semewah itu, matanya terus melihat ke sekeliling tempat sambil melangkahkan kaki menuju rumah tersebut.


Bruk.


"Aw!"


Sangking fokusnya dengan rumah itu, Ambar tidak sengaja menabrak seseorang membuat keningnya terasa berdenyut sakit.


"Apa kau tidak punya mata?"


Glek.


Ambar menelan salivenya saat mendengar suara baritone yang sangat dikenali, dan kenapa pula harus laki-laki itu yang dia tabrak.


"Ma-maafkan saya, Tuan."


River berdecak kesal karena jalannya terhambat, sementara Ambar mendongakkan kepalanya untuk menatap laki-laki itu.


Mata Ambar berbinar-binar saat melihat wajah River, tentu saja membuat laki-laki itu menatapnya dengan sinis.


"Minggir!"


Ambar terkesiap dan langsung menggeserkan tubuhya membuat River beranjak pergi dari tempat itu.


"Dasar kulkas 10 pintu. Apa tidak bisa sih, dia sedikit ramah padaku?"


Ambar mencebikkan bibirnya dengan kesal. Dia lalu kembali melangkahkan kakinya menuju rumah.


Kedatangan Ambar di sambut baik oleh Yara dan juga keluarganya. Dia sengaja menyuruh wanita itu untuk datang agar bisa lebih dekat dengan keluarganya, juga membahas tentang kilinik mereka.


"Mungin lusa kita sudah bisa kembali membuka klinik itu, Ambar."


Ambar menganggukkan kepalanya. Memang sudah beberapa hari klinik itu tidak buka, bahkan ada warga yang mengira jika klinik itu sudah tutup.


Setelah berbincang-bincang, Via mengajak Yara dan juga Ambar untuk sekedar jalan-jalan ke mall. Dia tidak ingin membuat Yara bosan di rumah, agar putrinya itu tidak merasa sedih dan kembali memikirkan masalah yang terjadi.


Sementara itu, Vano mengajak Mahen untuk pergi ke perusahaan agar kakaknya bisa melihat bagaimana perkembangan perusahaannya saat ini.


Mahen sendiri juga ingin meminta bantuan Vano untuk bertemu dengan kliennya dan membicarakan tentang kerja sama, itulah alasan kenapa dia datang ke negara itu.


Setelah sampai di mall, ketiga wanita itu langsung menuju toko baju. Via mengatakan pada Yara dan juga Ambar untuk mengambil apapun yang mereka inginkan, dan biar dia yang membayar semuanya.

__ADS_1


Ambar bersorak senang saat mendapat traktiran dari Via, tentu saja dia tidak boleh melewatkannya dan mengambil semua baju yang sudah lama dia inginkan.


"Wah, kau tidak ingin melewatkan kesempatan ya, Mbar."


Ambar tersenyum malu saat mendengar ucapan Yara, sementara Via hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum senang karena Yara punya sahabat seperti Ambar.


"Ah, aku jadi merindukan Riani. Sekarang dia sedang apa ya?"


Via jadi memikirkan Riani karena melihat Yara dan juga Ambar. Persahabatan mereka berdua sama seperti persahabatannya dulu, hanya bedanya Yara jauh lebih cerewet darinya.


Setelah puas belanja, Yara lalu mengajak mamanya dan juga Ambar untuk membeli makanan. Dia sudah merasa lapar padahal siang tadi sudah makan.


"Ya sudah, kalau gitu kita mau-"


"Yara!"


Ucapan Via terpaksa terhenti karena panggilan seseorang, sontak dia menoleh ke arah samping begitu juga dengan Yara dan Ambar.


Deg.


"Kau, Rosa?"


Yara terkejut saat melihat wanita yang saat ini ada di hadapannya, sementara Via dan Ambar menatap Yara dengan bingung saat melihat raut wajah wanita itu.


Yara terdiam dengan apa yang Rosa lakukan saat ini. Dia sedang berpikir kenapa wanita itu memanggilnya, tidak mungkinkan hanya sekedar beramah-tamah saja?


"Ada apa, Rosa? Kenapa kau memanggilku?" tanya Yara kemudian.


"Tidak ada, kebetulan aku melihatmu saat sedang belanja. Itu sebabnya aku memanggilmu."


Via mengernyitkan keningnya saat melihat reaksi Yara. Tidak biasanya putrinya itu menatap orang lain dengan tajam, bahkan ucapannya juga terkesan dingin dan menyimpan rasa ketidak sukaan.


"Begitu."


Yara mengangguk-anggukkan kepalanya, sementara Rosa melihat semua barang belanjaan Yara dengan tidak suka.


"Cih, dia menghabiskan uang Aidan saja. Apa dia berniat untuk menguras harta Aidan sebelum berpisah?" Rosa merasa kesal sendiri.


"Halo! Kau mendengarku?"


Yara mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan Rosa membuat wanita itu tersentak kaget.

__ADS_1


"A-apa yang kau lakukan?" tanya Rosa dengan tajam.


"Jika tidak ada yang ingin kau katakan, maka aku permisi duluan."


Yara kembali mengulang ucapannya karena Rosa tidak mendengar apa yang dia katakan, entah apa yang sedang wanita itu lamunkan sambil melihat ke arah belanjaannya.


"Kenapa buru-buru sekali? Apa kau sengaja menghindariku?" sinis Rosa membuat Via semakin penasaran siapa wanita itu yang sesungguhnya.


"Maaf, Anda siapa ya? Apa Anda temannya Yara?" tanya Via membuat Yara menoleh ke arahnya.


"Tentu saja bukan." Rosa mengibas-ngibaskan tangannya. "Aku adalah teman Aidan, apa Yara tidak mengatakannya padamu?"


"Tutup mulutmu, Rosa!" ucap Yara dengan penuh penekanan.


Mendengar jawaban wanita itu, sekaligus reaksi Yara. Via sudah paham dengan apa yang terjadi saat ini.


"Ada apa denganmu, apa kau takut aku memberitahu mereka siapa aku sebenarnya?"


Rosa tertawa sinis membuat Yara semakin emosi, sementara Ambar yang tidak tahu apa-apa menatap kedua wanita itu dengan penuh tanda tanya.


"Kenapa Yara harus merasa takut dengan wanita sepertimu?"


"A-apa?"


Via maju selangkah dan berdiri tepat di hadapan Rosa, membuat Yara langsung merasa gelisah.


"Kau wanita yang sudah berhubungan dengan Aidan, 'kan? Apa kau merasa bangga mempunyai hubungan yang tidak sepantasnya dengan suami orang lain?"


Rosa mengepalkan tangannya dengan emosi, sementara Yara sangat terkejut karena mamanya berkata seperti itu pada Rosa.


Beberapa orang yang melintas di tempat itu mulai memperhatikan mereka, karena memang suasana mall saat ini sangat ramai.


"Siapa kau? Beraninya berkata seperti itu padaku!" bentak Rosa membuat suaranya menggema di tempat itu, tentu saja membuat orang-orang semakin memperhatikan mereka.


"Aku adalah ibu dari seorang wanita yang rumah tangganya sudah kau hancurkan. Bukannya merasa bersalah, tapi kau malah bangga memamerkan hubungan gelapmu bersama dengan suami orang lain. Apakah kau tidak merasa malu?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2