Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 91. Sampai Ke tempat Tujuan.


__ADS_3

Setelah semua perlengkapan siap, dan izin juga sudah di dapat dari keluarga. Yara akhirnya berangkat bersama dengan rekan-rekannya yang lain menuju desa tujuan, dengan menaiki mobil milik rumah sakit.


Perjalanan yang ditempuh memang lumayan jauh, apalagi ditambah dengan jalan berbatu dan berlubang membuat perjalanan itu kian bertambah lama.


Mereka berhenti sejenak untuk meluruskan pinggang dan kaki yang terasa pegal, Yara sendiri sedang melihat kesekitaran kebun teh yang benar-benar terasa segar.


"Satu jam lagi kita sudah sampai di tempat tujuan kok, ayo semangat!" seru Romi yang sebenarnya juga sudah pegal-pegal. Dia salut sekali dengan orang-orang yang sanggup tinggal di tempat terpencil seperti ini.


Semua orang lalu kembali berjalan ke arah mobil untuk melanjutkan perjalanan. Namun, saat akan melangkahkan kakinya melewati sebuah lubang. Kaki Yara tidak sengaja tersangkut di akar pohon membuat dia terjatuh dengan kaki tertekuk.


"Dokter Yara!" Semua orang memekik kaget dengan apa yang terjadi, sementara Yara mencoba untuk bangun sambil menahan sakit dikakinya yang sepertinya terkilir.


"Ya ampun Dokter, belum apa-apa sudah jatuh," ucap Romi sambil menggelengkan kepalanya.


"Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja." Lirih Yara sambil tertunduk malu. Bisa-bisanya dia ceroboh seperti ini. Niat hati menjadi sukarelawan untuk mengobati orang lain, tetapi malah dia duluan yang harus diobati.


"Tidak apa-apa, Dokter. Ini kan bukan sesuatu yang disengaja," bantah Lewis. Mana ada seseorang yang sengaja jatuh untuk menyakiti diri sendiri, pikirnya.


Mereka lalu membantu Yara untuk berjalan ke mobil. Lalu salah satu Dokter memijat kaki Yara, untung saja dia sedikit mengerti tentang pijat-memijat, walau pun bukan ahlinya.


"Mungkin besok akan bengkak, Dokter. Jadi nanti malam haris di olesi oleh obat," ucap Dokter itu membuat Yara mengangguk paham.


Mereka semua lalu masuk ke dalam mobil, dan segera melanjutkan perjalanan walau pun ada sedikit sesuatu yang tidak sengaja terjadi. Mobil itu melaju dengan lambat karena lagi-lagi jalanan terlihat rusak dan licin terkena hujan.


Tepat pukul 6 sore, mereka semua baru sampai ke tempat tujuan setelah perjuangan panjang. Terlihat kepala desa beserta jajarannya menyambut kedatangan mereka dengan ramah, ada juga beberapa masyarakat yang ikut menyambut mereka dengan sangat antusias.


"Loh, apa yang terjadi pada kaki Anda, Dokter?" tanya seorang wanita yang merupakan anggota pemerintahan desa. Dia terkejut saat melihat Yara berjalan dengan sedikit pincang.

__ADS_1


"Ah, tadi saya tidak sengaja terpeleset. Jadi agak sakit," jawab Yara dengan senyum hangat. Dia senang dengan sabutan dan keramahan orang-orang yang ada di tempat ini.


"Wah, kalau gitu harus segera dipijat agar tidak bengkak, Dokter," seru wanita itu. Raut wajahnya tampak panik, membuat Yara tertawa.


"Tidak apa-apa, Nona. Tadi sudah dipijat dengan teman saya, mungkin tinggal rasa sakitnya yang belum hilang," ucap Yara sambil menggoyang-goyangkan kakinya.


Wanita itu tampak mengamati kaki Dokter yang ada di hadapannya. Dia merupakan salah satu penanggung jawab mereka, jika terjadi sesuatu maka tamatlah riwayatnya.


"Nama saya Bunga, Dokter. Jadi Anda bisa panggil saya Bunga saja," ucap Bunga. Dia tidak biasa jika dipanggil nona.


"Baiklah, Bunga. Nama saya Yara, senang berkenalan denganmu, mohon bantuannya," ucap Yara dengan pelan sambil mengulurkan tangannya, yang langsung di balas oleh Bunga.


"Senang berkenalan dengan Anda juga, Dokter Yara. Jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan atau bertanya apapun pada saya," balas Bunga.


Mereka sama-sama tersenyum hangat seperti seseorang yang sudah lama kenal tetapi baru bertemu kembali setelah sekian lama.


Kemudian Bunga dan yang lainnya mengantar mereka ke rumah yang akan menjadi tempat tinggal selama 15 hari ke depan, dan tentunya rumah untuk Dokter wanita dan lelaki dipisahkan.


Yara dan teman-temannya lalu dipersilahkan untuk membersihkan diri terlebih dahulu, setelah itu baru akan menikmati makan malam bersama-sama.


Dari kejauhan, dua orang lelaki yang baru pulang dari pabrik teh tampak memperhatikan orang-orang yang ramai di depan sebuah rumah. Terlihat ada kepala desa dan istrinya juga yang sedang mengobrol dengan di tempat itu.


"Sepertinya para petugas medis yang di bilang pemerintah udah datang. Apa kau tidak mau melihat mereka?" tanya Bayu tanpa memalingkan wajah ke arah lelaki yang sedang berjalan di samping kanannnya.


"Untuk apa, memangnya aku sedang sakit?" ucap Ryder. Dia tampak acuh bahkan sama sekali tidak peduli dengan kedatangan petugas medis atau apalah itu.


"Katanya kalau Dokter itu cantik-cantik loh, mana tau kau tertarik?" ucap Bayu lagi, kali ini dia melihat ke arah Ryder sambil menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Cih." Ryder membuang muka dengan sebal. Laki-laki itu sudah seperti makcomblang saja yang terus memaksanya untuk berhubungan dengan seorang wanita.


"Tunggu." Tiba-tiba Bayu menghentikan langkahnya membuat Ryder juga ikut berhenti. Dia lalu menatap laki-laki itu dengan bingung.


"Kau tidak pelangi 'kan, Ryder?" tanya Bayu dengan suara berbisik, dia takut jika ada orang lain yang mendengar ucapannya.


Plak.


"Aw!" Bayu memekik kaget dan juga sakit secara bersamaan saat tiba-tiba tangan Ryder memukul kepalanya dengan sedikit kuat. "Kenapa kau memukul kepalaku sih?" Dia mengusap-mengusap kepalanya yang terasa perih.


"Makanya, kalau ngomong itu dijaga!" ucap Ryder dengan ketus. Bisa-bisanya laki-laki itu mengatainya tidak normal, sementara asetnya merupakan produk andalan.


"Habisnya kau selalu saja menolak jika didekatkan dengan wanita, kau juga menolak wanita yang mendekatimu. Aku 'kan jadi berpikir buruk dan harus menjaga diri," ucap Bayu sambil mendekap tubuhnya sendiri, seolah-olah takut akan dimangsa.


Ryder kembali mengangkat tangannya dan hendak memukul wajah Bayu yang sangat menyebalkan itu.


"Ryder!"


Deg.


Yara yang baru selesai mandi dan sedang bersiap, langsung menghentikan tangannya saat mendengar suara teriakan seseorang. Bukan karena dia merasa berisik, tetapi karena nama yang disebut oleh orang tersebut.


"Tidak, aku pasti salah dengar."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2