
Semua orang kembali tertawa saat mendengar kelakar nenek Weny, sementara kakek Domi hanya diam sambil menahan malu karena perbuatan sang istri.
Setelah selesai, Lewis lalu pamit untuk pulang ke rumah. Sebelum pergi, Ryder meminta pada Lewis agar laki-laki itu tidak mengatakan apapun tentang luka yang ada dikaki Zafran pada siapapun, termasuk para anggota medis.
"Tolong katakan saja jika kau datang untuk memeriksa kesehatan kakek dan nenek," pinta Ryder.
Lewis mengangguk paham. "Baiklah, saya tidak akan mengatakan apapun pada orang lain tentang Zafran. Tapi, bolehkah saya tahu apa yang terjadi dengannya?" Dia merasa penasaran.
Ryder lalu mengatakan jika ada seorang pengkhianat yang ingin menghancurkannya, dan semua itu dketahui oleh Zafran sampai akhirnya kaki laki-laki itu jadi terluka.
Lewis kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah, saya mengerti, Tuan. Jika Anda butuh bantuan, maka katakan saja. Dengan senang hati saya pasti akan membantu."
Ryder tersenyum senang mendengar ucapan Lewis, rekan kerja Yara itu memang sudah terkenal baik. Namun, dia harus tetap hati-hati. Jangan sampai kejadian seperti Bayu terulang kembali.
Setelah mengantar kepergian Lewis, Ryder kembali masuk ke dalam rumah dan bergabung dengan yang lainnya.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Zafran saat Ryder sudah kembali.
Ryder terdiam. Dia masih memikirkan bagaimana cara untuk membongkar semua perbuatan Bayu, juga menghancurkan laki-laki itu karena sudah berani mengusiknya.
"Sekarang aku yakin pasti dia sedang memerintahkan para antek-anteknya untuk mencari keberadaanmu, Zafran. Dan aku yakin jika dia tahu bahwa kakimu terluka," sahut Ryder. "Untuk menghilangkan kecurigaannya terhadap kita, besok kau harus tetap hadir di hadapannya dengan keadaan sehat, dan jangan sampai dia tahu jika kakimu terluka."
Yara tersentak kaget mendengar ucapan Ryder. "Apa maksudmu, Ryder? Bagaimana mungkin dia bisa bersikap seperti biasa sementara untuk jalan aja tidak bisa?" Dia merasa tidak terima.
"Apa yang Ryder katakan benar, Mbak. Jika aku tidak terlihat di hadapannya, dia pasti akan mencurigaiku lalu menyelidikinya sampai akhirnya dia mengetahui semuanya," sambung Zafran.
Yara terdiam. Kepalanya berdenyut sakit akibat memikirkan semua ini, dan dia juga merasa khawatir dengan apa yang terjadi.
"Tunggu sebentar, sepertinya aku ingat sesuatu," ucap Yara tiba-tiba membuat semua orang beralih melihat ke arahnya. "Semalam saat berada di pabrik, aku tidak sengaja bertabrakan dengan Bayu saat akan pergi ke kamar mandi. Aku rasa dia sedang menguping pembicaraan kalian." Dia melihat ke arah Zafran dan Ryder secara bergantian.
Ryder dan Zafran saling tatap dengan bingung. "Coba ceritakan bagaimana kejadiannya." Pinta Ryder, dia tidak ingat dengan apa yang Yara katakan.
Yara langsung saja menceritakan kejadian saat dia berada dipabrik dan tidak sengaja bertabrakan dengan Bayu. Laki-laki itu pergi dengan tergesa-gesa sehingga tidak sengaja menabraknya, lalu tidak berselang lama datanglah Ryder dan Zafran dari arah yang sama.
"Apa saat itu kalian memang sedang bersamanya?" tanya Yara.
Ryder dan Zafran menggelengkan kepala mereka secara bersamaan. "Benar. Dia pasti menguping pembicaraan kami tentang pengait balok itu, dan setelahnya dia pasti mengganti pengaitnya. Karena saat kulihat, pengait itu berbeda dengan apa yang Zafran katakan." Jelas Ryder.
__ADS_1
Yah, semuanya jadi masuk akal. Berarti selama ini Bayu memang selalu mengawasi mereka, hanya saja mereka yang tidak peka dan tidak sadar dengan apa yang laki-laki itu lakukan.
"Besok pagi aku akan bertemu dengan pak Edward, dia adalah pemilik pabrik itu dulu. Aku harus membicarakan masalah ini dan meminta bantuannya," ucap Ryder kemudian. Tidak tahu lagi siapa yang bisa dia percaya di desa ini selain kakek Domi dan nenek Weny, itu sebabnya dia memilih untuk meminta bantuan Edward.
"Kakek setuju, Ryder," sahut Domi. "Edward pasti akan membantu membongkar kelakukan bej*at Bayu selama ini, dan dia juga masih punya beberapa orang yang sangat setia padanya."
Ryder mengangguk. Kemudian dia menyuruh Yara untuk istirahat di kamarnya, karena tidak mungkin lagi mengantar wanita itu pulang ke rumah yang biasa ditempati.
"Aku akan tidur di luar bersama dengan Zafran, jadi masuklah ke kamarku dan segera istirahat karena malam sudah sangat larut," ucap Ryder.
Yara mengangguk. Dia lalu ke kamar mandi dulu untuk membasuh wajahnya sebelum tidur dengan ditemani oleh nenek Domi.
*
*
*
Keesokan harinya, sesuai dengan ucapan Ryder malam tadi, dia bergegas pergi ke rumah Edward setelah mengantar Yara kembali ke rumah yang di tempati oleh wanita itu.
Ryder tidak pergi sendirian karena Zafran turut ikut bersamanya, padahal sudah dilarang dan harus tetap istirahat di rumah. Laki-laki itu bahkan terpaksa menggunakan kaus kaki agar lukanya tidak terlihat oleh orang lain, benar-benar sangat keras kepala sekali.
Zafran mengangguk. "Aku masih bisa tahan kalau cuma seperti ini saja, ayo!" Dia turun dari motor sambil mengernyit menahan sakit.
Ryder menghela napas kasar. Entah kenapa dia semakin merasa bersalah dengan apa yang Zafran lakukan. Dia berjanji tidak akan pernah melupakan semua pengorbanan laki-laki itu, dan berjanji kelak akan selalu membantu Zafran dalam keadaan apapun.
"Kenapa malah melamun?"
Ryder terkesiap mendengar suara Zafran. "Iya-iya. Ayo, kita masuk!" Dia ikut turun dari motor dan berjalan pelan di samping Zafran, tampak jelas jika saat ini laki-laki itu sedang menahan sakit saat melangkahkan kaki.
Ryder lalu mengetuk pintu rumah yang ada di hadapannya. Tidak berselang lama pintu rumah itu pun terbuka. "Maaf mengganggu, Bik. Saya ingin bertemu dengan pak Edward."
"Wah, Tuan Ryder. Silahkan masuk, Tuan," ucap wanita paruh baya itu sambil mempersilahkan Ryder dan Zafran untuk masuk. Dia adalah pembantu di rumah Edward. "Sebentar yah Tuan, saya panggil pak Edward dulu. Silahkan duduk."
Ryder menganggukkan kepalanya lalu duduk di sofa yang ada di ruang tamu itu, begitu juga dengan Zafran yang bahkan sudah lebih dulu duduk sebelum dipersilahkan.
"Astaghfirullah, sakitnya," gumam Zafran. Kakinya seperti sedang berjalan di atas jarum hingga rasa sakitnya sampai ke ubun-ubun.
__ADS_1
"Makanya itu kau di rumah aja untuk istirahat, tapi kau malah maksa ikut," sahut Ryder, dia jadi kesal dengan keras kepala laki-laki itu.
Zafran hanya tersenyum saja. Dia kan ingin tahu apa yang mereka bicarakan nanti, juga ingin bertemu langsung dengan laki-laki bernama Edward.
"Wah, siapa tamu kehormatanku ini?"
Rayder dan Zafran langsung melihat ke arah tangga saat mendengar seruan seseorang, terlihat seorang lelaki paruh baya yang masih tampak tampan tersenyum ke arah mereka berdua.
"Selamat pagi, Pak Edward. Maaf kalau saya mengganggu," ucap Ryder dengan senyum.
"Tidak, Anda sama sekali tidak mengganggu Tuan Ryder," bantah Edward sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Aku senang kau datang ke sini setelah sekian lama."
Ryder mengangguk. Memang sudah agak lama mereka tidak bertemu karena Edward banyak menghabiskan waktu di kota setelah menyerahkan seluruh perkebunan dan pabrik padanya.
"Bagaimana kabar Anda, hem? Saya dengar Anda sudah punya kekasih sekarang," tanya Edward dengan nada ejekan membuat Ryder terkekeh pelan.
"Tentu saja. Nanti saya akan memperkenalkannya pada Anda. Tapi jangan menatapnya terlalu lama, atau nanti Anda akan terpikat."
Edward langsung tergelak mendengar ucapan Ryder. Entah kenapa dia selalu mudah tertawa jika bersama dengan laki-laki itu, persis saat dulu bersama dengan putranya.
"Ya ya ya. Kalau gitu kau harus berhati-hati padaku," seru Edward. Dia lalu beralih melihat ke arah laki-laki yang duduk di samping Ryder. "Lalu, siapakah laki-laki tampan yang ada di samping Anda ini? Apa dia yang bernama Zafran?"
Zafran merasa kaget karena ternyata laki-laki itu sudah mengetahui namanya, sementara Ryder sudah tidak heran lagi karena dulu pun Edward sudah lebih dulu tahu namanya sebelum mereka bertemu.
"Benar, Pak. Nama saya Zafran, saya adik dari Dokter Yara yang ditugaskan ke desa ini," sahut Zafran.
Edward menganggukkan kepalanya. "Senang bisa bertemu dengan Anda, Tuan Zafran. Saya sudah banyak mendengar tentang Anda dari para tetangga, ternyata ketampanan Anda memang sebanding dengan Ryder. Yah sebelas dua belaslah." Kelakarnya.
Ryder dan Zafran terkekeh mendengar ocehan Edward, lalu tiba-tiba tatapan Zafran terkunci pada sebuah foto yang terletak di atas nakas tepat berada di samping laki-laki paruh baya itu.
"Tunggu, kenapa orang yang ada difoto itu wajahya sama dengan orang yang aku lihat di pabrik malam itu?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.