
"Pesanan Anda sudah siap, Tuan."
Ryder tersadar dari lamunan saat mendengar ucapan sang pemilik kedai, dia lalu berjalan mendekati wanita itu untuk mengambil makanan yang sudah dia pesan.
"Berapa?" tanya Ryder sambil mengambil sandwich pemberian wanita itu.
"Tiga puluh ribu, Tuan," jawab sang pemilik kedai.
Ryder meremmas uang yang saat ini berada dalam genggaman tangannya. Dia bukan tidak mau membayar makanan itu, tetapi sedang berpikir keras apakah harus membelikan laki-laki tua itu atau tidak.
"Untuk apa aku peduli padanya? Hidupku saja sedang terancam punah." Ryder menggelengkan kepalanya agar tidak memikirkan orang lain. Dia lalu memberikan uang itu dan menunggu kembaliannya.
"Apa sandwichnya bisa dipotong-potong, Nona?"
Tiba-tiba suara lelaki itu terdengar, membuat hati Ryder kembali berperang dengan akal sehatnya.
"Bisa, Tuan. Tunggu sebentar ya," ucap wanita itu yang sedang mengambil uang untuk kembaliannya Ryder, sementara lelaki tua itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Ini kembaliannya, Tuan. Terima kasih," ucap wanita itu sambil memberikan uang pada Ryder.
Ryder mengepalkan kedua tangannya karena tidak sanggup untuk mengambil uangnya sendiri. "Buatkan sandwich lagi untuk sisa uang itu, lalu berikan padanya." Akhirnya hal tidak terduga keluar dari mulut Ryder yang langsung merutuki kebod*ohannya sendiri.
"Baiklah, Tuan. Sekali lagi terima kasih." Wanita itu tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya.
Ryder lalu berbalik dan cepat-cepat pergi dari tempat itu sebelum melakukan hal konyol lainnya. Bisa-bisanya dia menyia-nyiakan uang untuk orang lain, padahal dia sendiri juga tidak punya uang.
"Sudahlah, aku pusing memikirkannya."
__ADS_1
Ryder memilih untuk melupakan masalah itu dan kembali melanjutkan langkahnya, sambil menyantap sandwich yang tampak menggoda dengan perut yang kian keroncongan.
Setelah selesai makan, Ryder kembali berhenti di salah satu kedai untuk membeli minuman. Dia membeli beberapa air mineral sebagai stok untuk perjalannya.
Ryder lalu melanjutkan perjalanan yang sebenarnya tidak tahu sedang menuju ke mana. Dia hanya mengikuti langkah kaki dan juga instingnya saja sambil berharap jika langahnya tidak salah.
Matahari yang mulai tinggi membuat tubuh Ryder seakan tersengat. Pakaiannya juga sudah basah karena keringat yang terus mengalir deras dari tubuhnya.
"Apa saya boleh memberi tumpangan pada Anda?"
Langkah Ryder terhenti saat ada sebuah mobil yang berhenti di sampingnya. Dia lalu mendongakkan kepala untuk melihat siapa yang baru saja berbicara dengannya.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Yara sudah berpakaian dengan rapi. Dia merias wajahnya dengan tipis, dan tidak lupa memakai parfum agar bau tubuhnya tidak mengganggu indra penciuman orang lain.
Beberapa saat yang lalu, Yara sudah mengatakan tentang email itu pada kedua orang tuanya. Mama dan papanya akan selalu mendukung apapun yang dia lakukan, jadi semua keputusan ada ditangannya.
Setelah memikirkannya baik-baik, akhirnya Yara mengambil keputusan untuk bergabung dengan rumah sakit itu. Lalu, bagaimana dengan klinik yang dia dirikan?
Setelah selesai bersiap, Yara segera keluar dari mobilnya untuk pergi ke rumah sakit. Dia mengendarai mobil pemberian sang papa 2 tahun yang lalu, dan melesat kencang di jalanan.
Tidak butuh waktu lama untuk Yara sampai ke tempat tujuan, karena memang jaraknya hanya 15 menit saja dari rumah kedua orang tuanya.
Yara segera turun dari mobil dan berjalan cepat untuk masuk ke dalam rumah sakit. Sesuai dengan pentunjuk, dia menemui salah satu administrasi yang ada di tempat itu. Lalu mereka mengantarnya langsung ke ruangan Direktur.
"Selamat pagi menjelang siang, Dokter Yara," sambut lelaki paruh baya yang merupakan Direktur dari rumah sakit Griya Husada dengan ramah.
"Selamat pagi juga, Tuan. Terima kasih karena sudah mengundang saya untuk datang menemui Anda," balas Yara dengan tidak kalah ramah. Dia lalu duduk di sofa yang ada dalam ruangan itu setelah dipersilahkan oleh Direktur yang bernama Romi.
__ADS_1
Seorang office boy masuk ke dalam ruangan dengan membawa minuman dan makanan ringan, dia lalu menyajikannya di atas meja.
"Silahkan menikmati Tuan, Nona," ucap lelaki itu sambil beranjak keluar dari ruangan.
Yara lalu menyeruput secangkir kopi yang ada di hadapannya, untuk menghargai sang tuan rumah.
"Saya merasa senang karna Anda bersedia untuk datang ke rumah sakit dan menemui saya, Nona," ucap Romi. Dia sempat berpikir jika Yara tidak tertarik untuk datang, walaupun wanita itu sendiri yang mengajukan penelitian pada rumah sakitnya.
"Seharusnya saya yang merasa senang karena mendapat sambutan baik dari Anda, Tuan," balas Yara dengan rendah diri.
Romi tersenyum lebar saat mendengar ucapan Yara, dia lalu mulai membahas mengenai penelitian yang wanita itu lakukan karena masih ada beberapa poin yang sedikit kurang tepat. Tidak lupa sekalian membahas tentang tawaran pekerjaan yang dia berikan.
Pertemuan mereka ternyata memakan waktu sampai 2 jam lamanya. Beberapa Dokter juga ada di dalam ruangan Direktur untuk membahas penelitian Yara, dan mereka merasa kagum atas hasil akhir yang di dapat walau penelitian itu tidak sepenuhnya sempurna.
"Kami benar-benar mengapresiasi bakat-bakat dari para Dokter muda, dan berharap agar keahlian mereka akan terus berkembang pesat melampaui keahlian yang kami miliki," ucap salah satu Dokter senior yang ada di rumah sakit itu.
"Anda benar, Dokter." Romi menganggukkan kepalanya. "Khususnya Anda, Nona Yara. Saya sudah mendengar kabar tentang apa yang Anda lakukan saat berada di Indonesia, dari salah satu teman yang bekerja di rumah sakit tempat Anda melakukan penelitian. Dan sebagai seorang Dokter, saya benar-benar merasa bangga atas aksi penyelamatan Anda pada korban kecelakaan."
Yara tersenyum malu dengan semburat rona merah diwajahnya saat mendengar ucapan Direktur tersebut.
"Terima kasih atas pujiannya, Tuan. Saya tidak bisa melakukan semua itu tanpa bantuan dari masyarakat yang ada di tempat kejadian," ucap Yara dengan tetap rendah diri. Jika membahas masalah itu, pasti pikirannya tertuju pada satu makhluk.
"Jangan memikirkannya lagi, Yara. Dia bahagia dengan kehidupannya di sana."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.