
Vano mengangguk paham dengan apa yang Eric katakan. Jangan salahkan dia jika menghancurkan mereka sampai tuntas, karena mereka dululah yang mencari perkara dengannya.
Sementara itu, di tempat lain terlihat dua orang lelaki sedang terikat dengan rantai yang digantung ke atas. Tubuh mereka tampak babak belur, tetapi untungnya nyawa mereka masih ada di dalam raga.
Byur.
Satu ember air menyiram tubuh mereka dengan kuat, membuat kedua mata mereka mengerjap dan langsung menyipit karena terkena sinar lampu ruangan itu.
"Kau sudah bangun?" ucap seorang lelaki dengan menggunakan jas hitam dan celana hitam. Pokoknya semua yang dipakai berwarna hitam kecuali jam tangannya.
Salah satu anak buah lelaki itu menarik rambut lelaki yang terikat, lalu mendongakkan kepalanya agar menatap ke arah sang tuan.
Laki-laki bernama Luke itu tersenyum sinis, dia merasa senang sekali saat melihat laki-laki yang saat ini ada di hadapannya. Laki-laki yang sudah sangat lama tidak bertemu dengannya, padahal mereka dulu sangat dekat layaknya saudara.
"Bagaimana kabarmu, River?" tanya Luke dengan tajam, dan nada yang mengejek.
River tersenyum saat mendengarnya. "Kabar saya baik, Tuan. Jauh lebih baik dari saat bersama dengan Anda." Dia menjawab dengan sarkas. Walau dalam keadaan terikat dengan tubuh babak belur, tetapi tidak ada sedikit pun rasa takut dari sorot matanya.
Luke langsung tergelak saat mendengarnya. Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, ternyata sikap River masih tetap sama sombongnya, dan entah kenapa dia malah menyukai laki-laki itu.
"Kata-katamu sangat tidak ramah untuk kita yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu, River. Apa kau tidak merindukanku?"
__ADS_1
River ingin muntah saat mendengar ucapan laki-laki itu. Jangankan mendengar ucapannya, melihat wajah Luke saja membuatnya meradang.
Junior yang ada di samping River juga sampai bergidik ngeri. Bagaimana mungkin seorang lelaki bisa memberikan tatapan mematikan penuh cinta seperti itu pada River? Jika dia mungkin lebih baik mati dari pada disukai oleh sesama lelaki.
Luke memajukan langkahnya saat tidak mendapat balasan dari River. Setelah berada tepat di hadapan laki-laki itu dengan jarak satu jengkal saja, dia langsung mengusap wajah River yang penuh luka.
"Singkirkan tanganmu sebelum aku mencabutnya dari tubuhmu!" ucap River dengan tajam dan penuh penekanan. Wajahnya memerah dengan rahang yang mengeras, bahkan matanya memancarkan kemarahan yang sangat besar sekarang.
Bukannya merasa takut, Luke malah tertawa saat mendengar ucapan sarkas River. Sungguh, dia sangat tergila-gila dengan laki-laki itu.
"Ayolah, River. Apa kau tidak terlalu kurang ajar dengan ku?" balas Luke sambil menarik tangannya dari wajah River, lalu bersedekap dada.
"Baiklah, aku tau kalau kau pasti sangat membenciku, 'kan? Padahal dulu kita sangat dekat, dan kau selalu melindungiku setiap waktu," ucap Luke dengan tajam sambil berjalan ke luar dari tempat itu. Saat-saat seperti itulah yang membuat perasaannya berubah, dan berbelok arah.
Bagi semua orang, terutama anak buahnya. Hanya ada beberapa orang saja yang tahu jika Luke mempunyai kelainan, yaitu menyukai seorang laki-laki yang jelas-jelas sejenis dengannya, dan dia sangat tergila-gila dengan River.
Tentu saja hal itu sangat membuat harga diri River terluka, walau awalnya dia sangat tidak percaya bahwa laki-laki yang selama ini dia hormati dan dia jaga menjadi sangat hina seperti itu. Dia lalu memutuskan untuk menjauh dari Luke, tetapi tentu saja semuanya tidak segampang itu.
Luke murka, dan tidak akan pernah membiarkan River pergi dari hidupnya. Dulu, dia masih berusia 23 tahun dan River 26 tahun. Saat itulah timbul perasaan yang tidak biasa pada laki-laki itu, padahal dia sudah punya pasangan yang juga penyuka sesama sepertinya. Sebut saja kelainan mereka itu pelangi.
Namun, perasaannya berubah arah pada River. Setiap hari dia menghabiskan waktu dengan asisten sekaligus tangan kanannya itu, hingga semua perasaan juga terpaut padanya.
__ADS_1
Tentu saja River juga sudah tahu jika Luke seorang pelangi, tetapi laki-laki itu langsung murka dan tidak terima saat dia memaksa untuk menghabiskan malam bersama dengannya.
River mengamuk dan memutuskan untuk pergi, saat itulah Luke tahu jika ternyata dia sedang dekat dengan seorang wanita yang merupakan karyawan di perusahaan laki-laki itu.
Nyawa wanita itu terancam punah karena River memutuskan untuk pergi, sampai akhirnya dia berjuang menyelamatkan wanita itu dan juga anaknya yang dikurung di dalam rumah yang sengaja dibakar.
Tidak sampai di sana saja. Setelah berhasil menyelamatkan mereka, River kembali di jebak hingga akhirnya dipaksa untuk melakukan hal bej*at dengan melayani napsu gila Luke dengan nyawa wanita itu sebagai taruhannya.
"Sh*it!" River mengumpat kesal saat mengingat malam terkutuk itu. Ingin rasanya dia membunuh laki-laki itu dengan kedua tangannya sendiri.
Junior hanya bisa diam dengan kepala tertunduk. Dia jelas tahu apa yang sudah terjadi pada River, karena wanita yang diselamatkan laki-laki itu adalag ibunya dan dirinya sendiri.
"Aku pasti akan membalaskan dendammu, Tuan. Tunggu saja."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1