
Ryder bersimpuh di hadapan Yara sambil melepaskan sepatu yang sejak tadi dipakai oleh wanita itu bahkan sampai membuat kaki Yara memerah.
"Lihat, kakimu sampai merah kayak gini," ucap Ryder.
Kedua mata Yara membulat sempurna saat melihat apa yang Ryder lakukan. Kemudian dia menarik kakinya dari pangkuan laki-laki itu saat tersadar dari lamunan.
"Ja-jangan menyentuh kakiku, Mas. Itu tidak baik," seru Yara. Bagaimana mungkin seorang suami menyentuh kaki istrinya seperti ini? Apalagi dilakukan di depan banyak orang.
"Apanya yang tidak baik?" tanya Ryder dengan heran. "Aku menyentuh kakimu untuk melepaskan sepatu terkutuk itu, bukan untuk mematahkan kakimu." Dia merasa heran.
Semua orang yang sejak tadi memperhatikan mereka tampak terkikik geli mendengar ucapan Ryder, termasuk Zafran dan Zayyan yang sedang duduk tepat di hadapan mereka.
"Patahkan, patahkan, patahkan," seru Zayyan seperti sedang menonton pertandingan sepak bola.
"Zayyan!" Via langsung menegur ucapan putra bungsunya yang luar biasa bandal itu sambil memberikan tatapan tajam.
Zayyan langsung mencebikkan bibirnya saat mendapat teguran dari sang mama, sementara Zafran semakin tertawa lebar melihat sang adik dimarahi.
Via lalu beranjak mendekati Yara sambil membawa sendal rumahan yang nyaman untuk dipakai. "Pakai ini aja, Nak. Tinggalkan sepatu itu di sini." Dia lalu memberikan sendal itu pada sang putri.
Yara mengangguk lalu memakai sendal pemberian sang mama, barulah kakinya terasa hidup karena sejak tadi mati rasa dan berdenyut sakit.
"Loh, mau dibawa ke mana Mas?" tanya Yara saat melihat Ryder turun dari pelaminan sambil menenteng sepatu yang sejak tadi dia pakai.
"Tunggu sebentar," sahut Ryder sambil terus berjalan lurus ke depan membuat semua orang merasa heran dan bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang mau dia lakukan dengan sepatu itu?
Bruk.
Semua orang terpelongok kaget saat melihat Ryder membuang sepatu itu ke dalam tong sampah, sementara Ryder sendiri membuangnya dengan emosi.
"Siapa sih yang menciptakan sepatu seperti itu? Bikin kaki sakit aja," gerutunya. Dia lalu berbalik dan kembali berjalan ke arah Yara.
"Astaga. Apa kau sudah gila, Ryder?" pekik Riana saat melihat apa yang putranya lakukan. Dia segera berlari ketong sampah itu lalu mengambil sepatu yang baru dibuang oleh putranya.
"Kenapa Mama ambil lagi?" tanya Ryder dengan tajam.
Riana langsung melayangkan tatapan mautnya ke arah Ryder, sementara yang lainnya hanya diam sambil menatap ibu dan anak itu.
"Kenapa di ambil kau bilang?" tanya Riana sambil berjalan mendekati Ryder. "Apa kau tahu berapa harga sepatu ini, hah? Harganya hampir seratus juta! Seenaknya aja kau buang." Ingin sekali dia memukul kepala putranya itu.
__ADS_1
Ryder berdecih. "Sepatu kayak gitu aja harganya selangit. Memangnya siapa sih, yang beli sepatu itu dan menyuruh Yara untuk memakainya?" Perkara sepatu saja sampai membuatnya kesal.
"Yah kau!"
"Apa?" Ryder terlonjak kaget saat mendengar ucapan sang mama.
"Kau yang beli sepatu ini supaya bisa dipakai sama Yara, kan itu kata mulutnya waktu membelinya," ucap Riana dengan kesal.
Ryder terdiam saat mengetahui kalau ternyata dia sendirilah yang telah membeli sepatu itu, sementara yang lainnya langsung tertawa terbahak-bahak dengan apa yang dia lakukan.
Yara sampai memegangi perutnya yang terasa sakit karena kebanyakan tertawa. Apa yang suaminya lakukan benar-benar sangat lucu, bahkan semua orang yang berada di tempat itu pun tertawa terbahak-bahak.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada suami, Nak? Kenapa kilometernya lari seperti itu?" ucap Via dengan tidak habis pikir, dia sendiri juga merasa lucu dengan apa yang Ryder lakukan.
Yara menghela napas kasar sambil menggelengkan kepalanya. "Mungkin dia terlalu lelah, Ma. Itu sebabnya jadi oleng." Dia lalu beranjak turun dari pelaminam untuk menghampiri sang suami dan mengajaknya istirahat.
"Masuklah ke kamar, Ryder. Sepertinya batreimu harus dicas supaya nyambung lagi," seru Vano sambil terkekeh. Yang lainnya juga kembali tertawa saat mendengar ucapannya.
Yara dan Ryder lalu masuk ke kamar meninggalkan tempat itu. Sesampainya di kamar, Ryder langsung jumpalitan di aras ranjang karena merasa kesal dengan diri sendiri. Dia bahkan sampai mempermalukan diri sendiri di depan banyak orang.
"Apa yang kau lakukan, Mas? Nanti kalau lehermu patah bagaimana?" seru Yara sambil menahan tawa. Dia tahu jika suaminya itu pasti merasa sangat malu dengan apa yang terjadi tadi.
Yara menggelengkan kepalanya, kemudian dia berjalan ke lemari untuk mengambil handuk. "Mas mau mandi atau aku dulu?" Dia bertanya sambil menyodorkan handuk ke arah Ryder.
Ryder yang masih menghadap bantal langsung menoleh ke arah Yara saat mendengar kata-kata mandi. "Bagaimana kalau kita mandi bersama?" Dia menatap Yara dengan penuh harap.
Yara terdiam. Wajahnya seketika memerah karena merasa malu dengan pemintaan Ryder, tetapi jika menolaknya pun tidak baik.
"Ba-baiklah, ayo!" ucap Yara.
Senyum lebar langsung terbit di wajah Ryder saat mendengar jawaban Yara. Dengan cepat dia melompat turun dari ranjang lalu mengikuti langkah Yara menuju kamar mandi.
Akhirnya sepasang pengantin baru itu mandi bersama di bawah guyuran air shower yang terasa panas. Bukan karena airnya, tetapi panas karena terbakar api asmara.
Selama bersama dikamar mandi, Ryder benar-benar seperti singa yang sedang kelaparan. Bagaimana tidak, dia dapat melihat semua lekuk tubuh Yara walau wanita itu memakai kain basahan. Dia jadi buru-buru menyelesaikan ritual mandi mereka saat ini.
"Ambil wudhu sekalian, Mas," ucap Yara.
Ryder mengernyitkan keningnya. "Untuk apa, tadikan kita udah shalat isya'?" Dia merasa heran.
__ADS_1
Yara tersenyum. "Kita shalat sunah dulu. Ayo, cepat!"
Walau merasa bingung, Ryder tetap mengambil air wudhu sesuai dengan apa yang Yara katakan. Setelah dia keluar, barulah Yara juga ikut mengambil air wudhu.
Yara lalu menjelaskan shalat sunah yang akan mereka kerjakan saat ini, membuat Ryder langsung mengangguk-anggukan kepalanya.
Beberapa saat kemudian, mereka baru melaksanakan shalat sunah itu setelah Ryder paham dan menghafalkan niatnya.
Setelah selesai, mereka sama-sama memanjatkan do'a agar diberi keberkahan untuk rumah tangga mereka. Juga diberikan rezeki yang berlimpah, dikaruniai anak-anak yang baik akhlaknya dan cerdas pikirannya.
Yara lalu mencium tangan Ryder setelah selesai memanjatkan do'a, dan Ryder juga mengecup kening sang istri dengan penuh cinta dan luapan kebahagiaan yang membuncah.
"Apa malam ini aku boleh meminta hakku, Sayang?" tanya Ryder dengan pelan. Dia tidak mau memaksa Yara dalam keadaan lelah, tetapi dia juga tidak bisa membohongi diri sendiri jika menginginkannya.
Yara tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Sudah kewajibanku untuk melayanimu, Mas. Insyaallah aku ikhlas dan senang melakukannya."
Hati Ryder terasa berbunga-bunga saat mendengar jawaban Yara. Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya, membuat perasaannya menjadi aneh dengan debaran jantung yang kian menguat.
Perlahan Ryder merebahkan tubuh Yara di atas ranjang setelah melepas peralatan shalat wanita itu. Dia terus menatap kedua mata Yara karena ingin membuat wanita itu relaks, dan menunjukkan betapa besar cinta yang dia miliki.
Malam itu, Ryder dan Yara bersatu dalam gairah cinta yang seakan membakar keduanya. Sentuhan lembut yang sama-sama mereka berikan seolah mengalirkan hawa panas yang ada di dalam tubuh, hingga membuat mereka terlena akan kenikmatan dunia yang sedang dirasakan.
Hawa dingin yang menerpa kulit tidak sanggup untuk mengusik kebahagiaan mereka saat ini. Dengan berperang peluh menciptakan kenangan yang manis di malam pertama mereka, berharap apa yang mereka lakukan ini mendapatkan hasil sesuai dengan harapan yang mereka lambungkan tinggi kelangit.
Malam semakin larut, tetapi tidak menyurutkan hasrat keduanya yang semakin membara. Sama-sama mencari kesenangan dan kenikmatan dalam perpaduan malam ini, hingga menciptakan suara-suara lirih yang berbaur dengan hembusan panas.
"I love you, Honey. I love you much," bisik Ryder tepat ketelinga Yara dengan genggaman tangan yang semakin menguat.
Yara tersenyum. "I- i love you too, Mas. Aku, aku juga mencintaimu."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1