
Yara mengembangkan senyumnya saat membaca email yang dikirim oleh Direktur Rumah sakit secara langsung, dan isi dari email itu adalah diterimanya penelitian yang sudah dia ajukan minggu lalu.
Tidak hanya itu saja, Yara bahkan diundang secara langsung untuk datang ke rumah sakit, dan ditawari pekerjaan sebagai Kepala unit bagian umum yang ada di rumah sakit tersebut. Sejalan dengan penelitian yang dia lakukan.
Selama merawat Ryder, Yara memang melakukan penelitian terhadap Leptospirosis, yaitu sebuah bakteri yang ditularkan dari hewan kepada manusia dikarenakan adanya pasien di rumah sakit itu yang mengalaminya.
Awalnya Yara diminta untuk membantu salah satu Dokter senior yang ada di rumah sakit itu. Namun, saat sudah dipertengahan jalan. Dokter itu menyuruhnya untuk melanjutkan penelitian tersebut.
Setelah selesai, Yara lalu mengajukannya pada rumah sakit yang banyak membahas tentang hal tersebut. Setelah menunggu hampir satu minggu, barulah dia mendapat balasan atas penelitiannya itu.
"Besok aku akan mengatakannya pada mama dan papa, juga meminta pendapat mereka atas tawaran itu."
Yara lalu segara memberi balasan pada email itu, setelahnya dia bergegas untuk tidur karena hari sudah semakin larut.
*
*
Keesokan harinya, tepat pukul 6 pagi. Ryder sudah bersiap untuk keluar dari penginapan yang semalaman ini berhasil membuatnya naik darah.
Bukan hanya takut dengan makhluk tidak kasat mata, tetapi makhluk yang kasat mata pun benar-benar menguji kesabarannya yang lebih tipis dari selembar tisu.
Banyaknya tikus yang berlarian ke sana kemari di atap penginapan itu benar-benar membuatnya tidak bisa tidur. Belum lagi angin yang berhembus kencang masuk ke dalam penjuru kamar yang berasal dari jendela kaca yang sudah rusak. Hingga membuat tirai-tirai melambai-lambai karena terkena angin, sungguh membuat bulu kuduk langsung merinding.
Ryder memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Kantung matanya menghitam gelap, dengan mata memerah karena tidak tidur semalaman. Padahal sebelumnya, dia sering mengadakan pesta sampai dini hari bersama dengan teman-temannya.
Setelah membereskan barangnya, Ryder segera melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu. Dia menyusuri jalanan yang masih agak gelap, karena memang matahari belum menampakkan diri.
Ryder terus melangkahkan kakinya sampai matahari merangkak naik ke permukaan. Dia lalu berhenti sebentar di bangku taman untuk mengistirahatkan kakinya yang terasa pegal.
Dia mengibas-ngibaskan kakinya yang terasa kesemutan. Seumur hidup, baru kali ini dia berjalan sampai sejauh ini. Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, yang artinya dia sudah berjalan selama 2 jam lamanya.
__ADS_1
Ryder mengusap keringat yang mengalir dikeningnya sambil memperhatikan orang-orang yang melintas di jalanan. Saat ini dia tidak bisa menaiki taksi, karena uangnya hanya tinggal 200 ribu saja.
Kruyuk.
Tiba-tiba terdengar bunyi keramat dari perut Ryder yang meminta untuk segera diisi amunisi. Dia segera mengambil tasnya dan beranjak pergi dari tempat itu untuk membeli makanan.
Beberapa kedai yang berada di pinggir jalan terlihat mulai dipadati oleh para pembeli. Mulai dari anak sekolah, para pekerja kantoran, sampai emak-emak berdaster juga tidak mau ketinggalan.
Beberapa orang yang melihat Ryder tampak membelalakkan mata dengan decak kagum karena melihat ketampanannya. Bukan hanya para wanita, bahkan kaum lelaki menatapnya dengan heran.
Mungkinkah sedang ada syuting drama di tempat itu, atau artis yang sedang menyamar? Jika tidak, kenapa ada lelaki setampan Ryder berkeliaran di jalanan?
Ryder menarik topinya ke bawah agar bisa menutupi seluruh wajah. Dia merasa kesal dengan orang-orang yang terus saja menatapnya, bahkan ada beberapa orang yang mengikuti langkahnya.
Dia mengepalkan kedua tangannya dengan geram, tetapi dalam keadaan seperti ini. Dia tidak bisa melakukan apapun dan harus menahan diri.
Ryder lalu memperhatikan beberapa kedai makanan yang ada di hadapannya. Dia bingung ingin makan apa saat ini, karena memang tidak pernah memakan makanan yang ada di pinggir jalan.
"Permisi, apa aku bisa membeli sandwich?" ucap Ryder membuat wanita itu berbalik.
Brak.
Ryder terlonjak kaget saat wanita itu tidak sengaja menjatuhkan alat pembersih kaca yang ada di tangannya, sementara wanita itu juga terkejut saat melihat ketampanan laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.
"Ma-maaf. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya.
"Saya ingin membeli sandwich," jawab Ryder.
Wanita itu mengangguk paham lalu segera mempersilahkan Ryder untuk duduk. Dia lalu masuk ke dalam tempat itu dan mulai menyiapkan pesanan pelanggan pertamanya pagi ini.
Dari kejauhan, seorang lelaki yang sudah berusia senja tampak berjalan mendekati kedai di mana Ryder berada. Dia tersenyum saat bersitatap mata dengan Ryder, dan Ryder membalasnya dengan anggukan kepala.
__ADS_1
Lelaki tua itu lalu memesan menu yang sama dengan Ryder. Dia menanyakan berapa total uang yang harus dibayar jika membeli 3 sandwich.
"Totalnya 90 ribu, Tuan," jawab wanita itu.
Lelaki tua itu lalu meminta waktu sebentar untuk menghitung uang yang dia punya, lalu mendudukkan tubuhnya di samping Ryder.
Ryder melirik laki-laki itu dengan tajam. Dalam hatinya berkata jika tidak punya uang kenapa harus membeli sandwich sebanyak itu.
"Kakek!"
Tiba-tiba datang segerombolan anak yang berjumlah sekitar 9 orang ke tempat itu, membuat Ryder benar-benar merasa sangat tidak nyaman.
"Apa makanannya udah siap, Kek?" tanya salah satu anak dengan senyum lebar.
"Belum. Jadi kalian tunggu di mobil aja yah, bentar lagi kakek ke sana."
Mereka semua mengangguk patuh, lalu kembali berjalan ke arah mobil gerobak yang terlihat sudah sama tuanya dengan kakek tersebut.
"Bagaimana ini, uangku tidak cukup," gumam lelaki tua itu yang sampai ketelinga Ryder. "Udahlah, beli 2 aja dibagi-bagi." Dia lalu beranjak mendekati wanita itu lagi untuk memesan.
Ryder tercengang dengan apa yang laki-laki itu lakukan. Bagaimana mungkin 2 sandwich dibagi untuk banyak orang?
"Sebagian cuma akan makan bungkusnya aja nanti."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1