Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 169. Balasan Untuk Myra.


__ADS_3

Keesokan harinya, semua keluarga tampak sedang berolahraga sambil mengelilingi desa, kecuali Yara dan Ryder yang lagi-lagi bangun kesiangan dan menjadi bahan ejekan keluarga.


Kedua orangtua Yara dan Ryder sangat senang dengan suasana dan pemandangan di tempat itu, begitu juga dengan River dan keluarga laki-laki itu.


Para penduduk menyapa mereka dengan ramah saat berpapasan, atau saat mereka melintasi rumah warga yang terlihat sederhana tetapi nyaman untuk ditempati.


"Pantas saja Ryder ingin tetap tinggal di sini, lingkungan dan suasananya memang sangat bagus sekali," ucap Vano sambil menatap hamparan kebun teh yang ada di belakang rumah-rumah warga.


Via mengangguk setuju. "benar, Mas. Aku saja betah jika tinggal di sini."


Vano langsung memberikan tatapan tajam ke arah sang istri saat mendengar ucapan istrinya itu. Jika wanita itu itu sampai tinggal di sini, lalu dia sama siapa? Enak saja.


Eric yang mengerti arti dari tatapan Vano tampak terkekeh geli. "Jangan khawatir, Besan. Kau tidak akan ditinggalkan begitu saja." Dia menepuk bahu Vano sambil kembali tertawa.


Vano mencebikkan bibirnya mendengar ucapan Eric, sementara Via hanya menggelengkan kepalanya melihat kekesalan diwajah sang suami.


Dari kejauhan, tampak seorang wanita sedang berjalan mengendarai sepeda motor bersama dengan ibunya. Dia ingin pergi ke kota untuk menjenguk sang ayah, yang kini juga di tetapkan sebagai tersangka karena sudah membantu Bayu.


Deg.


Myra langsung menginjak rem secara mendadak saat melihat keberadaan Zafran, membuat sang ibu yang duduk di boncengan belakang memekik kaget.


"Apa yang terjadi?" tanya wanita paruh baya itu.


Myra hanya diam sambil menatap Zafran dengan tajam, begitu juga dengan Zafran yang ternyata menyadari keberadaannya.


"Ternyata mereka benar-benar datang ke sini?" Myra merasa takut melihat keluarga Yara, apalagi waktu itu dia pernah mengganggu wanita itu.


"Permisi, ada yang bisa kami bantu?"


Myra tersentak kaget saat mendengar suara seseorang, sementara ibunya langsung turun dari motor saat melihat Zafran dan yang lainnya.


"Se-selamat lagi Tuan, Nyonya," sapa wanita paruh baya itu.


Via tersenyum sambil membalas sapaan wanita itu, begitu juga dengan Zafran dan Junior, sementara yang lain hanya diam dengan anggukan kepala.

__ADS_1


"Ada apa, Bu? Apa motornya rusak?" tanya Via kembali dengan ramah.


Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya. "Ti-tidak, Nyonya. Kami ..., kami-"


"Lama tidak bertemu, Myra," ucap Zafran tiba-tiba membuat tubuh Myra tersentak kaget, sontak wajah wanita itu langsung berubah pucat dan pias.


Semua orang langsung melihat ke arah Zafran saat mendengar ucapan laki-laki itu, terutama Zayyan yang langsung menggoda sang kakak.


"Ciye ..., siapa itu Kak?" tanya Zayyan sambil menyikut lengan Zafran. "Apa wanita itu dekat denganmu?" Dia menaik-turunkan kedua alisnya seolah sedang menatap dengan penuh arti.


"Se-selamat pagi Tuan, Nyonya," sapa Myra setelah turun dari motor. Dia menundukkan kepala karena tidak berani menatap Zafran.


"Selamat lagi, Nona. Anda mau ke mana?" tanya Via dengan senyuma simpul. Dia melirik ke arah Zafran dengan tatapan penuh makna, berpikir jika putranya itu memiliki hubungan spesial dengan gadis bernama Myra itu.


"Sa-saya mau ke kota, Nyonya. Pe-permisi," jawab Myra dengan tergegas. Dia segera menundukkan kepalanya lalu bergegas naik ke atas motor. Tidak lupa mengajak sang ibu untuk pergi dari tempat itu.


Zafran tersenyum sinis. Dia tahu jika Myra pasti takut dengannya, dan dia merasa jika ketakutan wanita itu masih sangat kurang.


"Oh yah Pa, apa Papa tahu kalau di desa ini ada wanita yang tidak menyukai mbak Yara?" ucap Zafran pada sang papa membuat tubuh Myra langsung kaku dan tegang.


"Apa maksudmu, Nak?" tanya Via juga dengan khawatir, begitu juga dengan yang lain.


"Yah, wanita itu suka dengan kak Ryder. Lalu berniat jahat pada mbak Yara agar melepaskan kakak ipar untukmu. Dia bahkan menampar mbak Yara."


"Apa?" Semua orang memekik kaget saat mendengar ucapan provokasi dari Zafran, sementara tubuh Myra dan ibunya semakin bergetar hebat.


"Beraninya wanita sial*an itu menyakiti putriku!" bentak Vano dengan penuh kemarahan. "Katakan pada papa siapa wanita itu, Zafran. Papa harus memberinya pelajaran dengan mematahkan tangannya, seenaknya saja dia menampar putriku."


"Kau benar, Vano. Kita harus memberi wanita itu pelajaran. Seenaknya saja melukai menantuku, maka dia juga harus berurusan denganku!" sambung Eric dengan sarkas.


Bruk.


Tubuh Myra langsung terjatuh ke atas tanah saat mendengar kemarahan keluarga Zafran. Wajahnya sangat pucat bak tidak teraliri darah, bahkan seluruh tubuhnya gemetar hebat dengan keringat dingin yang sudah membasahi semuanya.


Semua orang yang ada di tempat itu merasa kaget saat melihat apa yang terjadi dengan Myra, begitu juga dengan ibu gadis itu yang mencoba untuk menenangkan putrinya.

__ADS_1


"Ada apa-" Via yang akan bertanya dan membantu Myra tidak jadi melancarkan aksinya saat ditahan oleh sang suami. Dia lalu menoleh ke belakang dan melihat suaminya sedang menggelengkan kepala.


Vano melarang sang istri untuk membantu wanita itu. Dia baru sadar jika sejak tadi putranya sedang menyindir wanita yang saat ini sedang terduduk di atas tanah, apalagi gerak-gerik dan ketakutan wanita itu menjelaskan semuanya.


"Pokoknya papa tidak akan membiarkan orang-orang yang menggangu Yara atau pun Ryder. Siapapun mereka, papa pasti akan membalasnya dan menghancurkannya sampai tidak bersisa," ucap Vano dengan penuh penekanan.


Myra semakin di ambang ketakutan mendengar semua ucapan mereka. Dengan cepat dia bersimpuh di hadapan semua orang dengan terisak.


"Ma-maaf, tolong maafkan saya," ucap Myra dengan terbata-bata membuat semua orang menatapnya dengan tajam.


"Apa yang kau lakukan, kenapa kau minta maaf?" tanya Riana.


Myra takut untuk memberitahu mereka, apalagi saat mengingat ancaman-ancaman yang baru beberapa saat yang lalu dia dengar.


"Apa kau yang telah menyakiti nona Yara?" tanya River yang sejak tadi diam dengan tatapan tajam.


Tuduhan River benar-benar tepat sasaran sampai membuat Myra langsung bersujud di hadapan mereka semua, begitu juga dengan ibunya.


"To-tolong maafkan putri saya. Dia, dia tidak sengaja melakukannya. Saya mohon maafkanlah dia," pinta wanita paruh baya itu.


Ucapan wanita itu jelas menjadi bukti bahwa Myralah yang telah mengganggu Yara dan menyakiti wanita itu, membuat semua orang menatap marah.


"Aku, aku tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku, aku mohon maafkan-"


"Tentu saja kau tidak akan mengulanginya lagi. Jika kalau kau ulangi, maka aku yang akan menghancurkan hidupmu."





Tbc.


__ADS_1


__ADS_2