Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 78. Kekecewaan yang Mendalam.


__ADS_3

Setelah kedatangan Rolan, Ryder segera beranjak dari restoran untuk kembali ke perusahaan. Dia melajukan mobilnya dengan kencang agar cepat sampai di tempat tujuan, karena sepertinya sang papa ingin membahas sesuatu yang sangat penting padanya.


Tidak berselang lama, sampailah Ryder di perusahaan. Dia segera keluar dari mobil dan berjalan cepat menuju ruangan papanya dengan diikuti oleh sekretaris Rolan yang juga baru sampai di tempat itu.


Beberapa karyawan yang berpapasan dengan Ryder tampak menyapanya, tetapi dia tetap berjalan lurus ke depan tanpa membalas sapaan mereka.


Setelah sampai di depan pintu ruangan sang papa, Ryder mengetuknya sembari mengatakan jika dia sudah sampai di tempat itu.


"Masuklah."


Terdengar suara sahutan papanya dari dalam ruangan, membuat Ryder segera membuka pintu ruangan itu dan masuk ke dalamnya.


"Papa ingin bicara denganku?" tanya Ryder saat sudah berdiri di belakang papanya, yang saat ini sedang berdiri di balik jendela menatap bangunan-bangunan yang ada di bawah mereka.


Untuk beberapa saat, suasana di dalam ruangan itu menjadi hening karena Eric masih diam di tempatnya dan tidak mengeluarkan suara. Sementara Ryder memandang punggung papanya dengan heran, dan sedang menduga-duga apa yang akan papanya katakan.


"Kau menjadikan Yara sebagai bahan taruhan?"


Deg.


Eric memiringkan tubuhnya dan menatap Ryder dengan tajam, sementara Ryder sendiri merasa sedikit terkejut mendengar ucapan sang papa.


"Ternyata mereka sudah memberitahu papa ya, seharusnya aku duluan yang mengatakannya pada papa." Ryder merasa menyesal, dia yakin jika papanya pasti sangat murka saat ini.


"Kau tidak mau menjawab pertanyaanku?" tanya Eric kembali. Kilat kemarahan terpancar jelas dari sorot mata dan juga wajahnya dengan kedua tangan yang saling terkepal erat.


Ryder menundukkan kepalanya. "Maafkan aku, Pa. Aku sudah melakukan-"


Plak.


Ryder tidak dapat melanjutkan ucapannya saat sebuah tamparan melayang kewajahnya, tentu saja tamparan itu berasal dari sang papa.

__ADS_1


Mata Eric menyala dahsyat saat mendengar ucapan Ryder. Rahangnya mengeras dengan urat-urat yang menonjol disekitar leher, giginya juga saling bergesekan menahan luapan emosi yang sedang membara.


"Beraninya, beraninya kau melakukan itu!" teriak Eric sambil mencengkram kerah kemaja Ryder dan mendorongnya dengan kuat, sampai punggung Ryder menghantam lemari.


Brak.


Ryder mengernyitkan wajahnya karena merasa sakit saat punggungnya menghantam lemari, sementara Eric terus menatapnya dengan geram.


"Kau benar-benar menguji kesabaranku, Ryder. Kenapa kau melakukan semua itu, hah?" teriak Eric sambil menghentak-hentakkan tubuh Ryder ke lemari yang ada di belakang tubuh laki-laki itu.


Ryder hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa bisa berkata apa-apa. Dia salah, dan dia mengakui semua kesalahan yang telah diperbuat.


"Kau pikir kau bisa melakukan hal serendah itu pada seorang wanita, hah?"


Eric yang sudah benar-benar kalap menarik tubuh Ryder dan menghempaskannya ke lantai dengan kasar.


Brak.


Tangan Ryder tidak sengaja tersangkut dikursi, hingga membuat kursi itu tartarik dan jatuh menimpa kakinya. Namun, dia sama sekali tidak melakukan perlawanan karena apa yang papanya lakukan memang pantas untuk dia dapatkan. Mungkin jika dia mati ditangan papanya pun, dia layak untuk itu.


Buak.


Buak.


Dua tinjuan mendarat diwajah Ryder sampai membuat sudut bibirnya pecah, tentu saja semua itu belum bisa menyurutkan api kemarahan sang papa.


"Bisa-bisanya kau memperlakukan wanita sebaik dia layaknya sampah. Seharusnya kau berterima kasih padanya karna sudah menyelamatkan nyawamu, jika tidak ada dia. Kau sudah mati sekarang!"


Buak.


"Ah." Ryder menggeram tertahan saat papanya melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar, membuat kepalanya menghantam lantai.

__ADS_1


Adena yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu memejamkan kedua matanya dengan terisak. Kedua tangannya bergetar saat melihat apa yang suaminya lakukan kepada putra mereka, tetapi dia juga tidak bisa melakukan apa-apa saat mendengar perbuatan Ryder dari Rolan.


Eric mengusap wajahnya dengan dada naik turun. Dia benar-benar tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk memberi pelajaran pada putranya itu, haruskah dia membunuhnya?


Adena menatap kedua laki-laki yang dia cintai dengan sendu. Dia lalu berjalan menghampiri Eric membuat laki-laki itu meliriknya dengan tajam.


"Sudah cukup, Sayang. Kita bisa membicarakannya baik-baik," ucap Adena dengan lirih. Dia sama sekali tidak melihat ke arah Ryder yang masih terduduk di atas lantai. Sungguh hatinya merasa sangat tidak tega.


"Tidak ada lagi yang bisa dibicarakan," balas Eric dengan ketus, dia lalu berjalan ke arah kursi kerjanya dan duduk di sana dengan wajah yang sangat menyeramkan.


Adena menghela napas kasar sambil menatap suaminya, dia lalu berbalik dan mau tidak mau memeriksa kondisi putranya.


"Kau, kau baik-baik saja?" tanya Adena dengan lirih. Matanya sayu dan berkaca-kaca, tetapi sekuat tenaga dia menahan air mata yang hendak keluar.


"Aku tidak apa-apa, Ma," jawab Ryder dengan nada suara seolah tidak terjadi apa-apa, bahkan raut wajahnya tidak seperti orang kesakitan padahal wajahnya babak belur.


Ryder lalu beranjak dari lantai dan berjalan ke hadapan sang papa, yang langsung membuang muka saat dia dekati.


"Aku minta maaf atas apa yang telah aku lakukan, aku benar-benar sangat menyesali semuanya. Aku tau perbuatanku sudah sangat keterlaluan, dan aku siap menerima hukuman dari Papa," ucap Ryder sambil menatap sang papa. Darah yang keluar dari bibirnya sengaja tidak dia seka, bukan bermaksud untuk mencari simpati, tetapi sebagai bukti kesalahan yang dia perbuat.


"Pergi dari hadapanku dan jangan pernah kembali lagi, aku benar-benar muak melihat semua tingkahmu," ucap Eric dengan penuh penekanan.


Deg.


Adena terkesiap saat mendengar ucapan suaminya, sementara Ryder hanya diam tanpa ada sepatah kata pun pembelaan.


"Tinggalkan semua fasilitas yang aku berikan, jika kau membawa satu barang saja, maka aku akan mematahkan tanganmu. Hiduplah dijalanan dan jangan coba-coba untuk kembali."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2