
Suara alunan musik yang sangat kuat menggema di tempat itu. Terlihat beberapa orang sedang menari sambil tertawa bahagia, ada juga yang menari sambil bercumbu mesra bersama sang kekasih.
Para wanita penghibur juga turut memeriahkan tempat itu bersama dengang pelanggan yang membawa mereka, tidak lupa ada banyak minuman keras yang tersedia untuk semua orang.
"Apa saya boleh menemani Anda, Tuan?" tanya seorang wanita berparas cantik dan manis pada Zafran yang sejak tadi duduk di sudut tempat itu.
Setelah menyapa semua teman-teman, Zafran memutuskan untuk duduk sambil mengistirahatkan tubuhnya. Tentu saja dengan ditemani oleh Junior yang sejak tadi memperhatikan orang-orang.
"Maaf, saya ingin sendiri," jawab Zafran dengan acuh.
Wanita bertubuh aduhai bak model itu merengut sebal mendengar penolakan Zafran. Namun, dia tidak pantang menyerah dan tetap ingin menemani laki-laki itu.
"Saya hanya ingin berkenalan dengan Anda, Tuan. Apa Anda tidak-"
"Apa Anda tidak mendengar ucapannya?" potong Junior dengan cepat dan sarkas. Kedua matanya menatap wanita itu dengan tajam membuat wanita itu mengkerut takut.
"Ma-maafkan saya, Tuan. " Wanita itu langsung menundukkan kepalanya dan berlalu pergi dari tempat itu. Dia benar-benar merasa kesal karena tidak berhasil merayu Zafran, padahal sudah sejak tadi dia memperhatikan laki-laki itu.
Zafran sendiri hanya diam sambil melirik ke arah Junior yang terus menatap wanita itu dengan tajam. Dia tersenyum tipis karena merasa senang dengan kesigapan asisten pribadinya itu.
"Kenapa kalian cuma duduk saja? Ayo, ikut bersenang-senang denganku!" ajak Frans yang baru saja menghampiri Zafran dan Junior sambil memegang segelas wine.
Zafran menggelengkan kepalanya. "Kau kan tahu kalau agamaku melarang semua itu, Frans. Jadi aku akan tetap di sini, kau bisa nikmati pesta ini bersama yang lain."
Frans langsung mendessah kasar mendengar jawaban Zafran. Yah, dia memang sudah tahu jika dalam agama laki-laki itu tidak diperbolehkan minum minuman keras ataupun bersama dengan para wanita. Namun, tetap saja dia ingin bersenang-senang dengan Zafran.
"Kau tidak perlu minum dan dekat dengan mereka, Zaf. Kita bisa menari saja, 'kan?" tawar Frans kemudian.
Zafran tetap menolak ajakan Frans karena takut terbuai dengan semua itu. Walaupun dia menjalin persahabatan dengan mereka semua, tetapi dia tetap harus menjaga diri dari segala larangan yang telah ditetapkan dalam agama.
"Kau bisa mengajak Junior," ucap Zafran sambil melirik ke arah sang asisten.
Junior tampak terkejut saat mendengar ucapan Zafran. Dia yang selama ini hidup dilingkungan kejam dan penuh dengan kekerasan, tentu saja tidak pernah menghabiskan waktu dipesta seperti itu. Bahkan ini adalah kali pertama dia menghadiri sebuah pesta sebagai tamu undangan, karena biasanya dia datang ke pesta sebagai mata-mata atau akan berbuat kejahatan.
__ADS_1
"Saya akan tetap bersama Anda, Tuan," sahut Junior.
Frans berdecak kesal mendengar jawaban kedua lelaki yang saat ini ada di hadapannya. "Sudahlah, terserah kalian saja." Dia lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa yang ada di samping Zafran.
Zafran hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah Frans, lalu matanya melihat ke arah seorang gadis yang sepertinya baru sampai di tempat itu.
"Zafran!" Gadis itu memanggil Zafran sambil melambaikan tangannya, tidak lupa memberikan senyuman lebar yang sangat manis dan mempesona.
Semua perhatian orang-orang tertuju ke arah gadis itu, termasuk Frans dan juga Junior yang menatap dengan penuh tanda tanya.
"Zea, kau di sini?" seru Frans sambil berdiri dari sofa.
Gadis bernama Zea itu menganggukkan kepalanya. "Aku baru saja kembali dari Australia, dan aku langsung menuju ke sini." Dia menjawab dengan lembut dan ramah.
Frans mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Zea, lalu orang-orang mulai berkerumun untuk menanyakan bagaimana kabar gadis itu. Gadis paling cantik dan populer seangkatan mereka pada saat kuliah dulu, dan tentu saja Zafran juga mengenalnya.
"Tuan, apa Anda mengenal gadis itu?" tanya Junior membuat Zafran langsung menoleh ke arahnya.
"Tentu saja. Dia dulu teman satu kelasku, dan kami berteman," jawab Zafran.
"Kenapa, apa kau tertarik padanya?" tanya Zafran dengan tatapan curiga.
"A-apa?" Junior memekik kaget mendengar ucapan Zafran. "Saya hanya bertanya saja, Tuan. Mana mungkin saya suka padanya." Dia mengibas-ngibaskan tangannya dengan panik.
Zafran langsung tertawa saat melihat kepanikan Junior membuat wajah laki-laki itu bersemu malu. Kalau memang tidak tertarik, kenapa harus menjawab dengan panik seperti itu? Benar-benar membuatnya lucu.
"Sudah lama aku tidak melihatmu tertawa, Zafran."
Tawa yang ada diwajah Zafran langsung lenyap saat mendengar suara seseorang. Dia lalu beralih melihat ke arah orang tersebut sambil tersenyum ramah.
"Yah, memang sudah lama kita tidak bertemu, Zea. Bagaimana kabarmu?" tanya Zafran sambil mempersilahkan gadis itu duduk.
Zea tersenyum lebar seraya mendudukkan tubuhnya ke sofa yang ada di samping Zafran, sementara Junior terus menatap ke arah wanita itu dengan penuh selidik.
__ADS_1
"Kabarku baik, Zaf. Tapi tidak sebaik saat kita masih bersama dulu," jawab Zea.
Junior merasa terkejut mendengar ucapan gadis itu. "Saat mereka bersama? Bukankah selama ini tuan tidak pernah berhubungan dengan wanita?" Dia merasa heran sekaligus penasaran.
Zafran tersenyum miring. "Saat kita bersama? Apa yang kau maksud itu saat kita berada di kelas dan mengerjakan tugas dari dosen killer kesukaanmu?"
Zea langsung tertawa mendengar ucapan Zafran, sementara Junior terus memperhatikan dengan tajam. "Yah, saat-saat itu memang sangat menyenangkan. Tapi sayangnya semua sudah berlalu dan tidak dapat diulang kembali." Dia tersenyum getir.
Semua kenangan saat mereka kuliah dulu sangatlah berharga bagi Zea. terutama saat hubungannya dan Zafran sangat dekat, sampai akhirnya membuat nama laki-laki itutersemat indah dalam lubuk hatinya.
"Hey, kalian sedang nostalgia yah?" seru Frans yang baru kembali dari toilet. Dengan cepat dia duduk di samping Zea sambil merangkul bahu gadis itu.
"Cih, lepaskan tanganmu dasar playboy!" ucap Zea sambil menghempaskan tangan Frans yang sejak dulu selalu saja menyentuhnya seperti itu. Jelas dia tidak menyukainya, apalagi saat berada di hadapan Zafran.
"Kenapa sih? Aku kan merindukanmu juga," pekik Frans tidak terima. Walau dia tahu jika gadis itu menyukai Zafran, tetapi tetap saja dia sangat suka mengganggunya.
"Jangan ganggu dia, Frans. Apa kau mau melihat singa betina mengamuk di sini?" cibir Zafran.
Zea langsung berdecak kesal sambil mengerucutkan bibirnya karena menjadi bahan ejekan mereka. Namun, di sisi lain dia juga merasa senang karena bisa bersama dengan mereka seperti ini.
"Oh yah, apa kau akan kembali ke Australia lagi, Zea? Ku dengar perusahaan keluargamu sudah diambil alih oleh Kevin," tanya Frans.
Zea tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Yah, sekarang kakak sudah mengambil alih perusahaan keluargaku. Jadi mulai sekarang aku akan menetap di sini dan tidak akan pergi ke mana-mana lagi." Tampak jelas kebahagiaan diraut wajahnya saat ini.
"Syukurlah. Aku ikut senang saat mendengarnya," ucap Zafran. Dia merasa senang karena masalah yang ada dalam keluarga Zea sudah selesai.
Zea tersenyum senang mendengar ucapan Zafran, wajahnya pasti sudah memerah karena malu saat ini. "Yah, aku juga sangat senang, Zafran. Aku senang karena tidak lagi jauh darimu dan bisa melihatmu kapan saja."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.