Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 199. Bakat Terpendam.


__ADS_3

Perlahan Hana mulai menuangkan segala imajinasi yang ada dalam pikiran ke kanvas putih yang saat ini ada di hadapannya. Dengan penuh ketelitian dan fokus, kanvas yang semula putih bersih kini mulai menampakkan warna-warni dari hasil coretannya.


Via dan yang lainnya juga fokus memperhatikan apa yang Hana lakukan saat ini. Untuk pertama kalinya mereka melihat semangat yang sangat membara diwajah wanita itu, bahkan kedua mata Hana tampak berbinar-binar dengan senyum lebar yang sejak tadi terlukis indah dibibirnya.


"Lihat dia, persis seperti anak kecil yang sedang diberi mainan. Sangat menggemaskan sekali," gumam Via sambil terus menatap Hana.


Vano yang juga memperhatikan Hana langsung menoleh ke arah sang istri. "Kau benar, Sayang. Sekarang kita tahu apa yang dia sukai. Jika dia benar-benar berbakat, maka aku akan mendukung bakatnya itu."


Via tersenyum senang lalu memeluk lengan sang suami. Baguslah jika Hana benar-benar suka melukis, setidaknya wanita itu bisa melepaskan stres dengan menekuni hobi yang dimiliki.


Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam membuat Via mulai merasa ngantuk. Namun, sepertinya Hana belum selesai menyiapkan lukisan itu.


"Istirahatlah, Hana. Biar besok-" Via tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat hasil lukisan Hana yang sangat indah dan mengagumkan, bahkan lebih bagus dari buatan Zafran. "Mas, lihatlah lukisan Hana ini!" Dia lalu memanggil sang suami yang sedang berada di ruang kerja bersama dengan Zafran, sementara Zayyan sudah tertidur di samping Hana dengan beralaskan karpet berbulu.


Vano yang sedang berada di ruang kerjanya bergegas keluar saat mendengar panggilan sang istri, begitu juga dengan Zafran yang mengikuti langkah sang papa.


"Lihat, lukisan ini sangat indah bukan?" ucap Via sambil menunjuk ke arah lukisan buatan Hana saat suami dan putranya sudah berada di tempat itu. Ì



Kedua mata Vano dan Zafran membelalak lebar saat melihat lukisan Hana. Mereka tidak menyangka jika wanita itu bisa melukis seindah itu, sungguh karya yang sangat bagus sekali.


"Yah, lukisanmu sangat indah, Hana. Kau sangat berbakat," puji Vano dengan tulus.


Wajah Hana bersemu malu mendapat pujian dari Vano. Dia lalu segera menyiapkannya agar bisa diberikan pada Zayyan.


"Maaf jika hasilnya tidak memuaskan, Tuan," ucap Hana sambil memberikan lukisan itu pada Vano setelah menyelesaikannya.


Vano menatap dengan sangat kagum. Dia yakin jika Hana terus mengasah kemampuan dan bakar melukisnya, wanita itu pasti akan menjadi seorang seniman yang hebat.


"Tidak, Hana. Lukisan ini sangat bagus, tante sangat menyukainya," ucap Via dengan tulus. Sungguh dia sangat kagum dengan kemampuan Hana.


"Te-terima kasih," sahut Hana dengan malu. Sungguh hatinya merasa sangat senang mendapat pujian dari mereka, dan mengingatkannya pada sang ibu yang dulu juga selalu memuji apapun yang dia lukis.


Hana lalu melirik ke arah Zafran yang sejak tadi diam dan tidak mengucapkan apa-apa. Mungkinkah laki-laki itu tidak suka dengan lukisan yang dia buat, atau ada yang salah dari lukisan itu?

__ADS_1


"Kerja bagus, Hana," ucap Zafran tiba-tiba membuat Hana langsung menatap ke arahnya.


Zafran tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, seperti mengatakan bahwa Hana telah membuat lukisan yang bagus dan mengagumkan semua orang.


Wajah Hana semakin memerah dengan debaran jantung yang kian menguat, membuat kedua tangannya mengepal erat karena merasa sangat bahagia dengan pujian yang Zafran beri untuknya.


"Terima kasih, Tuan," sahut Hana dengan pelan.


Sungguh wanita yang sangat sederhana sekali. Hanya dengan pujian saja, Hana merasa benar-benar sangat bahagia.


Via segera membangunkan Zayyan untuk menunjukkan lukisan yang telah Hana buatkan untuk putranya itu, sampai membuat Zayyan terkejut dan tidak percaya.


"Apa ini benar-benar lukisan Kakak?" tanya Zayyan dengan tajam dan dijawab dengan anggukan kepala Hana. "Astaga, ini benar-benar sangat bagus. Kakak memang luar biasa, Kakak pelukis yang sangat berbakat."


Hana tertegun mendengar ucapan Zayyan. Pelukis? Tidak, dia tidak pantas menyandang sebutan pelukis karena merasa masih banyak kekurangan. Dia bahkan tidak menempuh pendidikan yang benar untuk bakatnya itu dan hanya mengikuti instingnya saja.


"Terima kasih karena karena sudah membuat lukisan yang sangat bagus ini, Hana. Sekarang istirahatlah, kau pasti lelah karena menghabiskan waktu berjam-jam untuk membuatnya," ucap Via.


Hana menganggukkan kepalanya lalu membereskan perlengkapan lukis milik Zayyan dan mengembalikannya pada laki-laki itu.


"Ta-tapi peralatan ini sangat mahal," sahut Hana. Walau sudah lama tidak melukis, tetapi dia tahu jika alat-alat lukis milik Zayyan itu sangat mahal.


"Tidak apa-apa, pakai saja," ucap Zafran membuat Hana melihat ke arahnya. "Aku juga punya alat lukis yang sama seperti itu. Jika ada waktu, kita bisa melukis bersama." Sambungnya.


Hana tercengang mendengar ucapan Zafran, sungguh dia tidak menyangka jika laki-laki itu akan mengajaknya melukis bersama hingga membuat jantungnya terus berdegup kencang.


"Itu sangat bagus sekali. Kau harus terus mengasah bakatmu ini, Hana. Tante yakin lukisanmu pasti akan membuat semua orang kagum," ucap Via.


Hana menganggukkan kepalanya sambil kembali mengucapkan terima kasih. Dia merasa sangat bersemangat saat mendapat dukungan dari mereka semua. Dia akan terus berlatih sampai bisa membuat karya yang sangat bagus, dan membuat mereka semua bangga.


Setelah semuanya selesai, mereka pergi ke kamar masing-masing untuk segera istirahat karena malam sudah mulai larut. Namun, tidak untuk Zafran yang malah sibuk menelepon seseorang saat sudah berada di dalam kamar.


"Carikan seorang guru hebat dalam bidang melukis dan suruh dia untuk datang ke perusahaan besok," ucap Zafran memberi perintah pada Junior melalui panggilan telepon.


"Guru melukis untuk Anda, Tuan?" tanya Junior. Dia tahu jika tuannya suka melukis dan hasilnya juga bagus, mungkinkah Zafran ingin serius menekuni hobinya?

__ADS_1


"Tidak, itu untuk Hana. Dan kosongkan waktu untuk besok karena aku ingin pulang cepat," ucap Zafran kemudian.


Junior langsung mengiyakan perintah Zafran walau semua jadwal sudah tersusun rapi, kemudian panggilan terputus.


"Apa Hana suka melukis?" gumam Junior dengan penasaran.


"Ada apa, Junior? Apa ada masalah?" tanya River.


Junior langsung menoleh ke belakang saat mendengar suara sang papa, saat ini dia sedang berada di tangga dan hendak ke dapur. Namun, tiba-tiba Zafran menelepon sampai akhirnya dia tetap berada di tempat itu.


"Tidak, Pa. Tuan Zafran cuma menyuruhku untuk mencari guru melukis yang hebat, katanya untuk Hana," jawab Junior.


River mengangguk-anggukkan kepalanya. Sepertinya Zafran sangat peduli terhadap Hana, tetapi untunglah Hana wanita yang baik. Jika tidak maka dia akan langsung menyingkirkan wanita itu walau keluarga Vano peduli.


"Bantu aku mencarinya, Pa," pinta Junior.


River langsung tersenyum sinis mendengar permintaan putra sambungnya itu. "Lebih baik papa tidur bersama dengan mamamu dari pada harus membantumu."


"Apa?" pekik Junior dengan kaget. "Kenapa Papa tega sekali, apa salahnya membantu anak sendiri?" Dia mencebikkan bibirnya.


River mengendikkan bahunya dengan acuh tak acuh. "Itukan tugasmu, tidak ada urusannya dengan papa. Selamat bekerja." Dia lalu kembali ke kamar dan langsung mengunci pintunya sebelum Junior membuat ulah.


"Dasar Papa kejam, buka pintunya!" teriak Junior sambil mengetuk pintu kamar sang papa. Si*al, papanya itu cepat sekali mengunci pintunya, jika tidak maka dia pasti akan langsung masuk ke dalam.


"Ada apa sih ribut-ribut?" tanya istri River yang terbangun akibat suara teriakan Junior.


River mengendikkan bahunya. "Katanya Junior mau cepat-cepat punya adik, makanya dia teriak-teriak kayak gitu."


"Apa?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2