
Aidan tersentak kaget saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Yara. Sontak dia langsung bersimpuh dikaki wanita itu membuat Yara terkesiap.
"Tidak, Sayang. Aku mohon jangan lakukan itu."
Aidan menangis. Ya, dia menangis untuk meratapi semua yang telah dia lakukan hingga kata pisah keluar dari mulut sang istri.
"Aku khilaf, Sayang. Aku khilaf, tolong maafkan aku."
Yara terdiam karena tidak mampu lagi untuk mengucapkan kata-kata. Selama ini dia berjuang keras untuk mempertahankan rumah tangganya, tapi semua perjuangan itu sia-sia saja karena ternyata suaminya telah bermain cinta dengan wanita lain.
"Aku janji aku tidak akan melakukannya lagi, Yara. Aku janji tidak akan menyakitimu lagi."
Yara semakin terisak pilu. Janji? Janji seperti apa yang sedang Aidan buat saat ini? Apakah janjinya itu dapat menutup luka di dalam hatinya?
"Janji yang kau ucapkan di hadapan Allah saja tidak kau tepati, Mas. Lalu, bagaimana mungkin kau menepati janji yang kau ucapkan ini?"
Aidan mendongakkan kepalanya dan menatap Yara dengan sendu. "Tolong kasih kesempatan padaku untuk memperbaiki semuanya, Yara. Aku salah, aku telah melukai hatimu. Aku, aku benar-benar menyesal."
Yara menggelengkan kepalanya. Penyesalan sudah pasti ada, bahkan dia sendiri juga menyesal telah berjuang sampai sejauh ini tetapi nyatanya tidak dihargai.
"Kau tau Mas, kau bukan hanya melukai hatiku, tapi juga melukai cinta yang aku miliki. Kau melukai kepercayaan yang aku berikan untukmu, bahkan juga melukai harga diriku sebagai istrimu."
Aidan terdiam karena tidak bisa membantah apa yang Yara katakan. Jika dia berada di posisi wanita itu pun, dia pasti akan merasakan hal yang sama.
"Kau menghancurkan rumah tangga yang sudah susah payah kita pertahankan, bahkan aku berjuang keras agar rumah tangga kita tetap bertahan walau banyaknya halangan dan rintangan. Tapi ternyata aku salah, aku salah memperjuangkan seseorang yang malah sedang berjuang dengan orang lain,"
"Tidak, Yara. Aku tidak bermaksud seperti itu, aku, aku hanya-"
"Setiap malam kau bersama dengan wanita lain sampai berjam-jam. Kalian hanya berdua saja di apartemen, dan, dan-"
Yara tidak bisa melanjutkan ucapannya karena lidahnya tidak sanggup untuk mengatakan apa yang terjadi pada mereka.
Seorang lelaki dewasa berduaan dengan wanita dewasa saat malam hari, bahkan sampai dini hari. Lalu, apa yang mereka lakukan? Tidak mungkin mereka hanya duduk diam di apartemen itu, membayangkannya saja membuat luka Yara semakin menganga lebar.
__ADS_1
"Keluarlah, Mas. Aku butuh waktu untuk sendiri," ucap Yara kemudian. Dia sudah tidak sanggup lagi untuk menatap wajah suaminya, yang seakan terus menggores hatinya.
"Tidak, Yara. Aku mohon maafkan aku."
Aidan bersimpuh di kaki Yara sambil terus memohon maaf. Dia benar-benar menyesal, sangat menyesal karena dibutakan oleh napsu sesaat.
Yara beranjak bangun dan kembali meminta Aidan untuk keluar. Dia menunjuk ke arah pintu dengan air mata yang semakin mengalir deras, membuat laki-laki itu terpaksa keluar dari kamar.
Brak.
Yara menutup pintu kamar itu dan tidak lupa untuk menguncinya. Lalu tubuhnya merosot ke lantai begitu saja karena benar-benar sudah merasa lemas dan tidak tahan.
"Astgahfirullahal'adzim."
Beberapa kali Yara beristighfar untuk menenangkan hatinya yang terus bergejolak. Malam ini cintanya hancur, rumah tangganya berantakan. Bahkan semua perasaan yang selama ini selalu dia persembahkan untuk suami tercinta hilang tak berbekas.
Sepanjang malam Yara hanya bisa menangis meratapi apa yang terjadi. Sepertinya malam ini kedua matanya enggan untuk terpejam, apalagi harus berselimutkan luka dan bermandikan air mata.
"Dari mana saja, Zaf?"
Langkah Zafran terhenti saat mendengar suara baritone seseorang. Dia lalu berbalik dan melihat papanya sedang duduk di atas sofa.
Dia lalu melirik ke arah jam yang tergantung di dinding, dan ternyata sudah pukul 10 malam. Pantas papanya bertanya, karena memang sejak pagi dia sudah tidak berada di rumah.
Melihat putranya diam, Vano beranjak dari sofa untuk mendekati Zafran. Matanya menatap tajam ke arah tangan laki-laki itu yang saat ini terbungkus perban.
"Papa belum tidur?"
Vano mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan Zafran, membuatnya curiga karena tidak biasanya sang putra bertanya hal seperti itu padanya.
"Kau habis berkelahi, Zaf?"
Zafran langsung menumbunyikan tangannya ke belakang tubuh saat mendengar pertanyaan sang papa. "Tidak. Mana mungkin aku berkelahi."
__ADS_1
Vano semakin menatap putranya itu dengan curiga. Jika bukan berkelahi, lalu apa? Batinnya bertanya-tanya, apa lagi dengan luka yang ada di punggung tangan. Jelas saja itu karena memukul seseorang.
Zafran sendiri sedang tenggelam dalam pikirannya. Haruskah dia memberitahu tentang apa yang kakaknya alami pada sang papa? Tapi, bagaimana dengan Yara nanti? Kakaknya itu pasti akan memberitahukan masalahnya sendiri dengan kedua orang tua mereka.
"Kenapa kau diam, Zafran? Apa kau habis menghajar anak orang?"
Zafran terkesiap karena tebakan papanya tepat sasaran, dan tentu saja papanya itu semakin menatap tajam dengan kecurigaan dan tanda tanya besar.
"Aku memang habis menghajar seseorang, Pa,"
"Benarkah? Lalu, apakah dia masih selamat?"
Zafran mengangguk. Tidak mungkin dia melenyapkan nyawa Aidan dan membuat kakaknya merana, walaupun apa yang Yara rasakan saat ini mungkin jauh lebih sakit dari pada sebuah kematian.
"Papa tidak marah?" tanya Zafran kemudian.
Vano menggelengkan kepalanya lalu menepuk bahu sang putra. "Untuk apa papa marah, kau sudah dewasa dan bisa membedakan mana yang salah dan benar. Tapi, alangkah baiknya jika kau tidak memakai kekerasan. Karena bisa saja kau melenyapkan nyawa orang nanti."
Zafran mengangguk paham. Namun, dia yakin jika papanya pasti akan langsung melenyapkan nyawa Aidan saat mengetahui apa yang terjadi pada Yara.
"Sekarang istirahatlah. Besok ikut papa ke perusahaan."
Vano kembali menepuk bahu Zafran dan hendak berlalu ke kamarnya. "Oh ya, besok papa akan meminta Aidan untuk datang juga mewakili Yara. Mungkin-"
"Tidak, jangan lakukan itu, Pa."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1