
Sementara itu, di tempat lain terlihat Zayyan dan Junior sedang memeriksa cctv yang ada disekitaran rumah Dion. Jangan tanya kenapa mereka bisa melakukan hal seperti itu, karena memang semua itu sudah makanan Junior sehari-hari.
"Aku ingin sekali sepertimu, Kak," ucap Zayyan tiba-tiba saat memperhatikan apa yang Junior lakukan.
"Keluargamu tidak akan mengizinkan, pekerjaanku ini berbahaya lo," sahut Junior tanpa memalingkan tatapan matanya dari laptop.
Zayyan mendessah kasar. Ya, dia taju jika keluarganya pasti tidak akan mengizinkannya bekerja seperti Junior, terutama sang papa. Namun, dia benar-benar tertarik untuk mempelajari apa yang selama ini junior lakukan, dia bahkan tidak tertarik dengan perusahaan sang papa.
"Pokoknya ajarin aku yah, Kak. Aku tidak akan bilang-bilang pada mereka," pinta Zayyan dengan penuh harap.
"Aku masih mau hidup, Zayyan. Apa kau pikir keluargamu tidak akan tahu?" ucap Junior dengan kesal. "Kalau pun tuan Vano dan tuan Zafran tidak tahu, papaku pasti akan tetap tahu. Dia saja tahu kalau aku sering mencuri uangnya di lemari." Dia jadi semakin kesal.
"Itu sih Kakak yang bod*oh, dasar pencuri!" ejek Zayyan sambil melengos sebal.
Junior mendengus kesal mendengar ejekan Zayyan. Namun, sesaat kemudian dia tersenyum karena menemukan sesuatu.
"Ayo, kita harus segera pergi!" ajak Junior.
Dengan malas Zayyan beranjak dari kursi dan masuk ke dalam mobil. Mereka berdua lalu pergi menuju sebuah kafe yang berada tidak jauh dari rumah Dion, sebab di kafe itulah Dion bertemu dengan seseorang yang memberi foto-foto Zafran dan Hana.
Setelah mengetahui identitas suruhan Dion, Junior segera menyuruh anak buahnya untuk mencari dan menangkap orang tersebut. Kemudian membawa lelaki itu ke sebuah rumah yang menjadi markas mereka.
Sepanjang perjalanan, Zayyan terus diam sambil memikirkan keinginanya untuk belajar mengenai teknologi, lebih tepatnya belajar meretas cctv dan semua sistem yang selama ini dilakukan oleh River dan Junior.
Zayyan merasa pekerjaan itu sangat keren walau harus bertarung nyawa, karena memang itu adalah tugas seorang mata-mata. Baik dalam hal kebaikan atau pun keburukan, organisasi atau pun secara pribadi.
Sejak kecil Zayyan sudah mengamati apa yang River lakukan, dia bahkan diam-diam mempelajari pekerjaan laki-laki itu. Sampai akhirnya sekarang dia bisa meretas beberapa cctv, tetapi belum bisa jika masuk ke dalam sistem yang lebih besar.
Zayyan juga sudah menekuni ilmu bela diri supaya bisa menjaga diri sendiri, tetapi semua itu rasanya sangat sia-sia karena keluarganya pasti tidak akan memberi izin.
"Kenapa diam?" tanya Junior. Biasanya dia sebal jika Zayyan terlalu banyak bicara, tetapi rasanya tidak enak juga melihat laki-laki itu diam.
Zayyan hanya menghela napas kasar untuk menanggapi pertanyaan Junior. Matanya tetap menatap ke arah luar jendela dengan pikiran melayang-layang.
"Coba bicarakan keinginanmu pada tuan Vano dan tuan Zafran. Walaupun nanti beliau tidak akan memberi izin, setidaknya mereka tahu apa yang kau inginkan," sambung Junior. Dulu dia sendiri juga dilarang oleh sang mama, tetapi dia tidak peduli dan tetap mengikuti River.
"Jadi untuk apa dibilang kalau ujung-ujungnya gak dikasi izin?" ucap Zayyan dengan kesal.
__ADS_1
"Setidaknya mereka bisa mempertimbangkannya, 'kan. Mana tahu di antara tuan Zafran dan tuan Vano ada yang mendukungmu," sahut Junior.
Zayyan berpikir sejenak. Baiklah, dia akan mencoba untuk bicara dengan mereka walau hasilnya kegagalan. Setidaknya dia sudah mencoba daripada tidak sama sekali.
***
Setelah melakukan pencarian, akhirnya laki-laki yang dibayar oleh Dion tertangkap oleh anak buah Junior. Mereka segera membawa lelaki itu ke markas, tidak lupa mereka mengikat lelaki itu ditiang dan siap untuk di adili.
Salah satu dari mereka bergegas menelepon Junior untuk memberitahukan kabar baik itu, lalu Junior menyuruh mereka untuk menunggu karena sebentar lagi bos mereka akan segera datang.
Junior yang masih berada di rumah Zafran segara mengajak sang papa untuk pergi ke markas, sebab saat ini kedua orangtuanya sedang berkunjung untuk melihat keadaan Hana.
"Saya tidak apa-apa, Tante," ucap Hana dengan tidak enak hati. Ini adalah kali pertama dia bertemu dengan orangtua Junior.
"Jangan sungkan, Hana. Tante sengaja datang ke sini untuk menemani," balas Jean. Siang tadi Via meneleponnya dan meminta tolong agar dia datang berkunjung untuk melihat keadaan Hana. Bukan hanya itu saja, Via juga meminta tolong agar dia bersedia untuk menemani Hana selama sakit
Hana merasa terharu dengan perhatian yang mereka berikan. Dia benar-benar mendapatkan banyak perhatian dan kasih sayang dari mereka, sesuatu yang selama ini tidak dia dapatkan dari siapapun. Termasuk keluarganya sendiri.
Junior dan River lalu pamit pada Zafran untuk pergi ke markas sebentar karena harus mengurus masalah Dion, membuat Zayyan langsung semangat untuk ikut.
Zayyan langsung berteriak tidak terima saat dilarang oleh kakaknya. Dia merasa sangat tidak adil. Dia juga berjenis kelamin laki-laki, tetapi kenapa harus selalu di rumah dan dilarang pergi?
"Pokoknya aku mau ikut!" paksa Zayyan. Apapun yang terjadi dia akan tetap maju pantang mundur.
Zafran menghela napas kasar. "Jangan membuat semua orang susah, Zayyan. Apa kau pikir ini sedang main-main?" Bentaknya.
Zayyan terdiam saat mendapat bentakan dari sang kakak, begitu juga dengan Junior dan River yanh tidak berani untuk ikut campur.
"Aku tahu kalau aku ini masih kecil, dan aku tahu kalau masalah ini serius. Tapi apa salahnya kalau aku ikut? Aku bisa menjaga diriku sendiri, aku janji tidak akan menyusahkan Kakak," ucap Zayyan dengan lirih.
Zafran berdecak kesal. Dia bukannya menganggap Zayyan seperti anak kecil walau pada kenyataannya sang adik memang masih kecil, tetapi dia melarang Zayyan karena tidak mau adiknya melihat kekerasan yang mungkin dia lakukan.
Di masa yang lagi puber ini, sangat berbahaya jika menunjukkan hal yang tidak baik. Bagaimana nanti jika Zayyan mencontoh hal tersebut? Pasti masa depan Zayyan akan terganggu. Itulah yang tidak Zafran inginkan.
"Kau boleh ikut, tapi nanti kalau udah dewasa," ucap Zafran.
Zayyan yang semula senang mendadak kembali muram mendengar kata-kata terakhir sang kakak. Masih sangat lama sekali jika menunggu dia dewasa, bahkan bulunya saja belum lebat.
__ADS_1
Zafran lalu beranjak keluar dari ruangan itu tanpa mempedulikan kekesalan sang adik, begitu juga dengan River yang mengikuti langkahnya.
"Mengertilah kekhawatiran kakakmu, Zay. Dia melarangmu karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," ucap Junior sambil menepuk bahu Zayyan.
"Aku tahu," balas Zayyan. Dia tahu jika Kakaknya khawatir, tetapi rasanya sangat mengesalkan sekali.
Junior segera menyusul kepergian Zafran dan sang papa, kemudian mereka bertiga segera berangkat menuju markas.
Hana yang melihat kepergian Zafran menatap dengan penasaran, apalagi saat melihat raut wajah mereka yang terlihat sangat menyeramkan.
"Tu-tuan Zafran mau ke mana yah, Tante?" tanya Hana pada Jean.
Jean tersenyum. "Biasalah, urusan laki-laki. Perempuan kayak kita tahunya di rumah saja."
Ah, Hana menganggukkan kepalanya dan beralih membahas masalah lain. Apalagi saat Jean bertanya tentang lukisan yang dia buat, tentu saja dia menjelaskannya dengan sangat bersemangat.
Beberapa saat kemudian, Zafran dan yang lainnya sudah sampai di tempat tujuan. Beberapa anak buah River dan Junior menyambut kedatangan mereka, kemudian mereka semua bergegas masuk untuk menemui laki-laki yang telah ditangkap.
Zafran tersenyum sinis saat melihat laki-laki itu, sementara laki-laki itu terkejut saat melihat kedatangannya.
"Kenapa, kau terkejut melihatku ada di sini?" tanya Zafran dengan tajam. "Jelas kau kenal denganku, kan kau yang telah mengambil fotoku secara diam-diam. Sampai ingin sekali rasanya aku membunuhmu dengan cara diam-diam juga."
Glek.
Laki-laki yang mulutnya sedang ditutup dengan lakban bergidik ngeri mendengar ucapan Zafran, dia tidak menyangka jika laki-laki itulah yang melakukan semua ini.
Dengan cepat Zafran menarik lakban yang menutup mulut laki-laki itu dengan kuat, membuat laki-laki itu mendesis sakit karena kumisnya ikut tercabut.
"Sekatang katakan padaku kenapa kau memfotoku diam-diam, dan katakan siapa yang menyuruhmu."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1