Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 86. Tempat Tujuan.


__ADS_3

Setelah menerima tawaran pekerjaan dari rumah sakit itu, Yara tampak berjalan menyusuri tempat di mana dia akan bekerja dengan ditemani oleh 2 orang Dokter yang sebaya dengannya.


Dua Dokter itu memperkenalkan Yara pada petugas medis yang bekerja di rumah sakit itu, juga menunjukkan bagian-bagian bangsal yang nantinya akan dia masuki untuk merawat pasien.


Sifat Yara yang supel dan ramah membuatnya mudah bergaul dengan orang-orang baru. Apalagi ada beberapa orang yang memang sudah dia kenal pada saat masih bekerja di rumah sakit yang lama, membuat obrolan mereka kian mengasyikkan.


Setelah menghabiskan waktu untuk menelusuri rumah sakit, sekaligus berkenalan dengan rekan-rekan kerjanya. Yara beranjak masuk ke dalam ruangan yang akan dia tempati. Senyum manis tercetak jelas diwajahnya saat memasuki ruangan itu.


"Alhamdulillah. Terima kasih atas rezeki yang Engkau berikan padaku, ya Allah," ucap Yara sambil memejamkan kedua matanya. Untuk sesaat dia diam, seperti sedang meresapi segala nikmat yang Tuhan beri.


Kemudian Yara membuka kedua matanya dan beranjak mendekati kursi kerja. "Bismillah." Lirihnya sambil mendudukkan tubuh ke kursi tersebut. Dia benar-benar bersyukur atas pekerjaan ini, dan berdo'a semoga tidak membuat masalah dikemudian hari.


***


Waktu bergulir dengan sangat cepat, jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Terlihat Ryder baru saja turun dari mobil yang dia naiki, dan membantu para anak-anak untuk turun dari mobil tersebut.


Setelah selesai, Ryder memperhatikan kesekitar tempat di mana dia berada. Rumah-rumah masih terlihat jarang dan berjauhan. Dia bisa melihat perkebunan teh yang sangat luas, juga berbagai perkebunan lain yang membentang sepanjang perjalanan menuju desa yang saat ini dia pijaki.


Ryder tersenyum. Dia tidak menyangka bantuan kecil yang dia berikan membawanya sampai ke tempat yang masih sangat asri ini. Sebuah desa yang hanya dihuni sekitar 300 jiwa saja, terdiri dari orang dewasa sampai anak-anak.


Ryder lalu mengulas senyum tipis sambil menghirup udara yang terasa sangat segar. Suhu udaranya pun cukup dingin, sangat cocok dengannya yang tidak suka panas.


"Kenapa berdiri saja? Ayo, masuk!"

__ADS_1


Terdengar suara seorang lelaki membuat Ryder langsung membalikkan tubuhnya. "Iya, Kek." Dia lalu melangkah masuk ke dalam rumah yang sangat sederhana. Bagian bawahnya terbuat dari beton sampai setinggi 1 meter, lalu bagian atasnya terbuat dari papan yang dicet warna-warni.


Atapnya juga masih memakai seng biasa, kalah jauh dengan rumah-rumah yang ada di kota besar. Begitu juga dengan lantainya, yang hanya terbuat dari semen halus tanpa keramik.


"Loh, rupanya kita kedatangan tamu, ya Pak," seru seorang wanita berusia sekitar 60 an bernama Weny. Dia adalah istri dari lelaki tadi.


"Nama saya Ryder, maaf jika saya mengganggu Anda," ucap Ryder sambil menundukkan kepalanya.


"Wah, nama yang bagus. Sesuai dengan wajahmu yang juga sangat tampan," puji Weny, membuat wajah Ryder memerah karena merasa malu. Padahal yang memujinya wanita berusia lebih dari setengah abad.


"Duduklah, Nak. Kenapa berdiri terus?" seru Domi, dia adalah lelaki yang menawarkan bantuan untuk Ryder, sekaligus orang yang menerima bantuan makanan dari laki-laki itu.


Ya, saat ini Ryder sedang berada di rumah lelaki tua yang tadi membeli sandwich. Awalnya dia terkejut saat laki-laki itu menawarkan tumpangan untuknya. Domi lalu bertanya ke mana dia akan pergi, dan langsung saja dia menjawab tidak tahu.


Sepanjang perjalanan, Domi terus bertanya apa yang terjadi pada Ryder, dan dia hanya menjawab sedang bertengkar dengan ayahnya lalu ingin tinggal di desa.


"Silahkan di makan, Ryder. Kami cuma punya makanan ini saya," ucap Domi sambil mempersilahkan Ryder untuk memakan kentang rebus buatan sang istri, yang masih mengepulkan asap panas.


"Terima kasih, Kek." Ryder mengucapkan terima kasih sambil menganggukkan kepalanya. Dia lalu mengambil kentang rebus itu dan memasukkannya ke dalam mulut.


"Kakek hanya tinggal berdua saja dengan istri di sini, jadi kalau kau tidak keberatan, tinggalah bersama dengan kami," tawar Domi membuat Ryder terkesiap.


Ryder tidak menyangka jika seseorang yang baru saja dia kenal akan sangat baik seperti ini, apalagi sampai menawarkan untuk tinggal bersama dengan mereka.

__ADS_1


"Terima kasih atas tawarannya, Kek. Lain kali Kakek harus lebih hati-hati dengan orang yang baru dikenal, bisa saja saya sedang berniat jahat pada Kakek," ucap Ryder dengan penuh penekanan, membuat Domi langsung tersenyum lebar.


"Kakek tau kalau kau orang baik, makanya kakek bawa ke sini dan mengajakmu tinggal bersama dengan kami," jawab Domi dengan penuh ketegasan. Sama sekali tidak ada keraguan atau kecurigaan terhadap Ryder.


Ryder hanya bisa menghela napas kasar saja. "Baiklah. Kalau gitu terima kasih atas tumpangannya, Kek. Aku pasti akan membayar apa yang kakek lakukan ini." Dia berucap dengan penuh terima kasih.


"Tidak perlu. Kakek sudah menganggapmu sebagai cucu kakek sendiri, jadi tidak perlu bayaran apapun," ucap Domi sambil menepuk bahu Ryder.


Ryder menganggukkan kepalanya. Di jaman sekarang, masih saja ada orang sebaik Domi dan juga Weny. Dia benar-benar merasa sangat berterima kasih, dan suatu saat nanti pasti akan membalasnya.


Setelah saling mengobrol, Ryder lalu masuk ke dalam Kamar yang baru saja ditunjukkan oleh Domi. Walau kamar itu sangat kecil, tetapi terjaga kebersihannya sehingga nyaman untuk di pandang mata.


Ryder membaringkan tubuhnya sejenak ke atas ranjang yang terasa lebih empuk dari tempatnya menginap semalam. Dia menggoyang-goyangkan kakinya yang terasa pegal.


Hari ini dia sudah melangkah jauh dari rumah. Bukan hanya tinggal di negara lain, bahkan saat ini dia tinggal disebuah desa yang cukup jauh dari kota. Perjalanannya saja memakan waktu sampai 4 jam lamanya, itu sebabnya desa ini hanya dihuni sedikit orang saja.


"Suasana di desa ini sangat menenangkan sekali. Seperti nya aku akan betah tinggal di sini."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2