Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 80. Ancaman Dari River.


__ADS_3

Adena tersentak kaget saat mendengar ucapan suaminya, wajah yang tadinya sendu kini berubah panik. "A-apa maksudmu?" Dia bertanya dengan bibir gemetaran.


Eric menghela napas kasar sambil kembali mendudukkan tubuhnya kekursi. "Ada seseorang yang mengancam nyawanya, Adena. Jadi aku harus melakukan semua ini." Lirihnya dengan dada terasa sesak. Dia sendiri tidak tega sebenarnya melakukan hal seperti ini pada Ryder.


"Siapa, katakan padaku siapa yang mau melakukan hal mengerikan seperti itu?" tanya Adena dengan penuh desakan dan kemarahan.


Eric kembali menghela napas kasar, dia lalu mengatakan jika sebelum Ryder datang menemuinya. Dia mendapat telepon dari River, yaitu sekretaris Vano.


Pantas Eric merasa jika wajah River sangat tidak asing, ternyata mereka pernah bertemu di masa lalu sebagai rival di dunia yang sama.


River mengancam akan melakukan segala cara untuk melenyapkan Ryder jika Eric tidak menuruti ucapan laki-laki itu, dan jadilah dia terpaksa melakukan semua ini sesuai dengan keinginan River.


Adena tercengang saat mendengar cerita sang suami. "Ba-bagaimana mungkin keluarga mereka-" Dia sampai tidak melanjutkan ucapannya karena merasa sangat terkejut.


"Bukan keluarga Vano, Adena. Tapi River, dia sama sepertiku dulu," ucap Eric dengan frustasi membuat istrinya menatap dengan sendu.


"Tapi kau kan bisa menjaganya, Eric. Tidak ada siapapun yang bisa menyakiti putra kita," balas Adena dengan tajam dan wajah merah padam. Selama ini suaminya tidak takut oleh siapa pun, tapi kenapa sekarang jadi seperti ini?


"Dia bukan hanya mengancam nyawa Ryder, tapi nyawamu juga!"


Adena semakin terkejut saat mendengarnya, mulutnya langsung diam karena tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.


"Apa yang Ryder lakukan memang sangat keterlaluan, Adena. Jadi dia pantas mendapatkan semua itu. Lagi pula dia putraku, dia bisa hidup dijalanan sana dengan baik."


Akhirnya Adena hanya bisa terisak dalam pelukan suaminya. Dia berharap agar putra mereka selalu baik-baik saja di mana pun Ryder berada.

__ADS_1


Setelah keluar dari perusahaan, Ryder bergegas pulang ke rumah dengan mengendarai mobil sportnya. Dia melaju kencang membelah keramaian jalanan, dan tidak butuh waktu lama untuk sampai di halaman rumahnya.


Ryder segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah, dia terus melangkahkan kakinya sampai berada di kamar.


Tanpa membuang-buang waktu, Ryder segera mengambil tas dan memasukkan beberapa baju ke dalamnya. Dia akan menganggap semua itu sebagai utang yang akan dibayar saat punya uang nanti.


Setelah siap menyusun barang-barang, dia meletakkan semua fasilitas yang papanya berikan selama ini. Baik kunci mobil, kartu kredit, dan semua barang mewah yang selalu dia kenakan ditubuhnya.


Ryder hanya memakai kaos berwarna hitam lengan pendek dengan dilapisi jaket, juga celana jeans dan topi yang menutupi wajahnya.


"Maaf kalau selama ini aku selalu mengecewakan mama dan papa. Aku harap kalian selalu sehat dan baik-baik saja," gumam Ryder sambil menatap foto kedua orang tuanya yang tergantung di dinding kamarnya.


Dadanya terasa sesak, tetapi tidak menyurutkan langkahnya untuk keluar dari rumah. Beberapa pelayan yang melihatnya menatap dengan penuh tanda tanya, tetapi mereka sama sekali tidak berani mendekat karena takut saat melihat wajah sang tuan muda.


"Apa aku pergi ke London aja ya?" Ryder bergumam sambil menggeleng tidak jelas. Bagaimana mungkin disituasi seperti ini dia masih memikirkan Yara? Dia hanya membawa uang pas-pasan, dan itu juga utang yang harus dia bayar kemudian hari kelak.


Sementara itu, uang yang selama ini dia dapat saat bekerja dengan teman-temannya sama sekali tidak digunakan. Biarlah tetap berada di dalam tabungan untuk masa depan.


Pada saat yang sama, di bandara internasional Soekarno Hatta. Terlihat Yara dan Zafran sudah bersiap untuk berangkat ke tempat di mana mereka tinggal, ada Mahen dan seluruh keluarga juga yang mengantar kepergian kakak beradik itu.


"Kabarin papa kalau sudah sampai, ya. Jangan lupa untuk datang ke sini lagi," ucap Mahen dengan pelan, tangannya merangkul tubuh Yara, putri sulungnya.


"Insyaallah, Pa. Aku pasti akan datang ke sini lagi," balas Yara dengan senyum merekah. Dia memeluk tubuh hangat sang papa dengan erat, disertai do'a agar papanya itu tetap sehat dan panjang umur.


Yara juga memeluk mama sambungnya dengan tidak kalah erat, para nenek dan kakek, juga kedua adiknya yang sangat menggemaskan dengan disertai nasehat agar mereka rajin belajar dan bisa menggapai semua cita-cita yang diinginkan.

__ADS_1


Zafran juga tidak mau kalah. Dia berpamitan pada Mahen dan Riani dengan pelukan hangat mereka, tidak lupa pada kakek dan nenek, serta adik-adik Yara yang sebentar lagi akan sama besar dengannya.


Setelah selesai berpamitan, Yara dan Zafran melambaikan tangan pada semua keluarga mereka sambil berjalan menuju tempat keberangkatan. Senyum indah dari semua orang mengiringi kepergian mereka, walau ada rasa sedih karena harus kembali berjauhan.


Yara mendudukkan tubuhnya tepat di samping jendela, sementara Zafran duduk di sampingnya yang terlihat sedang sibuk dengan ponsel.


Yara menatap ke arah luar. Betapa banyak kenangan yang dia punya di negara ini. Mulai dari kecil dan dewasa, bahkan sekarang ada kenangan buruk yang tersimpan rapat di hati dan pikiran, berharap apa yang terjadi kemarin tidak lagi kembali teringat.


"Ya Allah, aku sudah merelakan semuanya. Aku hanya berharap agar di masa depan tidak ada lagi hal buruk yang akan terjadi." Yara memejamkan kedua matanya sambil menyandarkan tubuh yang terasa lelah.


Zafran melirik ke arah sang kakak, dia tahu pasti kakaknya sedang memikirkan apa yang sudah terjadi selama mereka berada di rumah Mahen.


"Aku percaya pada takdir. Jika Engkau memang menggariskan takdir baik pada kakakku, maka segerakanlah. Dia sudah cukup menderita selama ini." Zafran hanya bisa berdo'a untuk kebaikan sang kakak di masa depan, dan tentu saja tetap menjadi tameng jika kakaknya menghadapi masalah.


Ryder yang juga baru sampai di bandara melangkahkan kakinya dengan cepat. Dia segera membeli tiket dengan menggunakan Vending Machine, lalu duduk di kursi tunggu sampai waktu keberangkatan beberapa jam lagi tiba.


"Baiklah. Ayo kita coba hidup di negara orang."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2