Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 202. Lagi-lagi Berbuat Konyol.


__ADS_3

Zafran mengernyitkan keningnya saat melihat siapa yang meneleponnya saat ini. Dengan cepat dia mengangkat telepon dari Zea, dan tumben sekali wanita itu menghubungi dijam segini.


"Halo?" ucap Zafran saat sudah menjawab panggilan masuk dari Zea.


"Halo, Zaf. Apa aku mengganggumu?" tanya Zea di sebrang telepon.


Zafran diam sejenak untuk menerka-berka sebenarnya apa tujuan Zea meneleponnya. "Aku sedang berada di jalan. Ada apa?" Dia balik bertanya.


"Maaf kalau aku mengganggumu. Aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, tapi tiba-tiba mobilku mogok dan tidak bisa hidup. Aku sudah menelpon kakak, tapi dia sedang sibuk. Aku juga sudah menelepon montir, tapi mereka sedang libur. Jadi aku tidak tahu harus melakukan apa, di sini juga tidak ada taksi," ucap Zea panjang lebar, suaranya terdengar sangat frustasi.


Zafran melirik ke arah Hana sambil mendengarkan ucapan Zea, sementara Hana hanya menunduk sambil mencuri dengar apa yang sedang Zafran obrolkan dengan seseorang di telepon.


"Pesan taksi online saja, pasti akan cepat sampai ke tempatmu," ucap Zafran kemudian.


Zea yang saat ini sedang berdiri di pinggir jalan terdiam saat mendengar ucapan Zafran. Benar juga, kenapa dia tidak memesan taksi online saja? Si*al, dia benar-benar merasa malu dengan Zafran.


"Halo, apa kau mendengarku, Zea?" tanya Zafran.


"I-iya, Zaf. Aku mendengarmu," jawab Zea dengan tergagap. Dia merutuki kebod*ohan yang telah dilakukan. "Baiklah, kalau gitu akan-" Dia tidak dapat melanjutkam ucapannya saat mendengar suraa tit tit dari ponselnya, dan terlihat batreinya sudah tinggal satu persen lagi, bahkan peringatan jika benda pipih itu akan mati sudah muncul.


"Halo, Zea?"


"Maafkan aku, Zaf. Batrei ponselku tinggal satu persen dan akan segera mati, aku tidak sempat memesan taksi online. Tolong aku yah," ucap Zea. Sedetik kemudian ponsel itu pun mati.


Zafran yang mendengar ucapan Zea merasa kesal. Apalagi panggilan itu tiba-tiba mati sebelum dia menanggapi ucapan wanita itu.


"Ck, ada-ada saja sih," gumam Zafran sambil memutar arah mobilnya untuk mendatangi Zea.


Hana yang melihat kekesalan diwajah Zafran merasa bingung dan takut, tetapi dia juga merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"Ma-maaf, Tuan. Apa ada masalah?" tanya Hana dengan ragu. Dia langsung menelan salivenya saat mendapat lirikan dari Zafran.


"Ada temanku yang minta tolong, jadi kita harus ke tempatnya dulu," jawab Zafran.


Hana tersenyum senang karena Zafran mau menjawab pertanyaannya. "Baik, Tuan." Dia menganggukkan kepalanya.


Zafran menghela napas kasar sambil terus menekan gas mobil itu agar bisa melaju kencang, sementara Hana hanya diam sambil berdo'a agar mereka selamat sampai tujuan.


Tidak berselang lama, sampailah mereka ke tempat di mana Zea berada. Terlihat wanita itu melambaikam tangannya sambil tersenyum lebar, lalu menghampiri Zafran yang sudah menghentikan mobilnya.

__ADS_1


"Hay, Zaf. Maaf kalau aku-" Zea tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat seorang wanita ada di dalam mobil Zafran.


"Naiklah, aku akan mengantarmu pulang. Nanti biar montir langgananku saja yang mengambil mobilmu," ucap Zafran.


Zea terkesiap saat mendengar suara Zafran, sementara Hana bergegas keluar dari mobil untuk mempersilahkan wanita itu.


"Ba-baiklah. Maaf kalau aku mengganggu kalian," ucap Zea sambil tersenyum canggung, dadanya berdenyut sakit melihat Zafran bersama dengan wanita lain.


Zafran sama sekali tidak mendengar ucapan Zea karena memperhatikan apa yang Hana lakulan. Kenapa wanita itu keluar? Dia merasa heran dam bertanya-tanya.


Zea yang akan masuk ke dalam mobil mengurungkan niatnya saat melihat kedatangan Hana. Apa yang akan wanita itu lakukan? Apa wanita itu ingin melabraknya karena dia sudah mengganggu mereka?


"Selamat sore, Nona. Silahkan masuk," sapa Hana dengan ramah.


Zea yang sudah berpikiran buruk tercengang saat mendengar ucapan Hana. "Se-selamat sore juga." Dia membalas dengan camggung.


Hana terpaku menatap wanita yang saat ini ada di hadapannya. Wanita cantik dengan rambut sebahu yang tampak mempesona. Kulit putih, badan tinggi dan langsing bak gitar Spanyol membuat laki-laki manapun pasti akan menyukainya.


"A-apa saya boleh masuk?" tanya Zea dengan bingung saat melihat wanita yang ada di hadapannya diam sambil menatap ke arahnya.


Hana tersadar dari lamunan dan langsung menganggukkan kepala. "Silahkan, Nona." Dia mengarahkan Zea untuk duduk di depan, tepat berada di samping Zafran membuat wanita itu terheran-heran.


"Maaf kalau kau merepotkanmu, Zaf," ucap Zea dengan tidak enak hati.


Zafran mengangukkan kepalanya sambil melajukan mobil itu. Sekilas dia melihat ke arah Hana yang sedang sibuk memainkan ponsel. Tunggu, sejak kapan wanita itu punya ponsel?


"Tapi Zaf, wanita itu siapa?" tanya Zea yang merasa sangat penasaran dengan Hana.


Zafran kembali melihat lurus ke depan. "Dia ...." Dia merasa bingung harus menyebut status Hana. Tidak mungkin dia mengatakan jika wanita itu adalah istri dari laki-laki yang tidak dia sukai. "Namanya Hana, dia tinggal di rumah orangtuaku." Hanya itulah yang dia katakan.


Hana yang mendengar ucapan Zafran langsung melihat ke arah laki-laki itu, sementara Zea semakin penasaran dengan status wanita itu.


"Apa dia saudaramu?" tanya Zea kembali. Tidak mungkin 'kan, kalau wanita itu pacar Zafran? Karena orangtua Zafran tidak mungkin memperbolehkan kekasih laki-laki itu tinggal di sana.


"Bukan," jawab Zafran sambil menggelengkan kepalanya. "Dia temanku." Dia tidak ingin ditanya lebih jauh lagi jadi memilih jalan aman saja.


Zea mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia lalu melihat ke arah Hana membuat wanita itu tersenyum.


"Perkenalkan, namaku Zea," ucap Zea sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Hana menyambut uluran tangan Zea dengan senyum ramah. "Nama saya Hana." Kemudian jabatan tangan itu terlepas.


"Baiklah, Hana. Karena kau adalah temannya Zafran, itu artinya kita bertema juga. Jadi bicaralah dengan nyaman denganku," pinta Zea dengan akrab.


"Tunggu, sejak kapan temanku menjadi temanmu juga?" tanya Zafran dengan tidak terima.


Zea langsung tergelak mendengar ucapan Zafran. "Dasar pelit. Kau harus berbagi teman denganku juga dong. Ya kan, Hana?" Dia beralih melihat ke arah Hana dan dijawab dengan anggukan kepala wanita itu. "Lihat, Hana saja setuju padaku!" Cibirnya.


Zafran berdecih sambil menghela napas kasar. Malas sekali meladeni ucapan Zea yang tidak ada habisnya. Wanita itu sudah seperti radio yang bicara terus tanpa lelah.


Tidak berselang lama, sampai juga mereka ke halaman rumah Zea yang juga tampak mewah dah mahal membuat Hana menggelengkan kepalanya.


"Terima kasih karena sudah mengantarku, Zaf. Apa kau tidak mau singgah dulu?" tawar Zea.


Zafran menggelengkan kepalanya. "Maaf, kami harus pergi ke suatu tempat."


"Hem, baiklah," ucap Zea. Dia lalu beralih melihat ke arah Hana. "Aku duluan yah, Hana. Terima kasih karena sudah mengantarku, lain kali kita bertemu lagi."


Hana menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Hana. Kami permisi." Dia tersenyum ramah.


Zea lalu keluar dari mobil dan melambaikan tangan pada mereka sampai mobil Zafran beranjak pergi dari rumahnya.


"Apa benar, Hana temannya Zafran?" gumam Zea sambil terus menatap ke arah jalanan. "Tapi kenapa dia tinggal di rumah orangtuanya Zafran?" Dia merasa heran dan bertanya-tanya.


Sementara itu, Zafran kembali menghentikan mobilnya saat sudah berada dijalanan membuat Hana merasa heran.


"Ada apa, Tuan?" tanya Hana sambil mendekatkan tubuhnya ke depan.


"Aku bukan supir, jado cepat pindah ke depan," perintah Zafran.


Hana terdiam karena tidak mengerti dengan apa yang Zafran katakan. Namun, seketika dia keluar dari mobil saat laki-laki itu melotot sambil menunjuk ke arah kursi depan.


"Lain kali kau tidak perlu turun dan berganti tempat duduk jika bersama orang lain, memangnya kau ini seorang pelayan?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2