
Ryder menatap Alan dengan tajam, apalagi saat mendengar ucapan temannya itu. "Kau bercanda?"
Alan menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak. Tapi kau juga harus mempertaruhkannya, Bisma dan Shanty juga akan bertaruh."
Bisma dan Shanty mengangguk untuk mengiyakan ucapan Alan, mereka bahkan sudah tidak sabar menunggu saat-saat pertaruhan nanti.
Ryder diam sejenak. Tentu saja dia tergiur dengan tawaran yang teman-temannya berikan, apalagi dengan teman yang lain. Mereka juga pasti akan bertaruh, dan jika menang. Maka dia akan mendapat uang sampai 20 milyar banyaknya, hanya dengan sehari saja.
Sebenarnya nominal segitu kecil saja bagi Ryder, apalagi dia satu-satunya pewaris dari kerajaan bisnis keluarganya. Namun, semua itu memiliki kesenangan tersendiri untuknya.
"Baiklah, aku juga akan bertaruh 1 milyar untuknya. Jika wanita yang kalian bawa memenangkannya, maka kalian akan mendapatkan wanita itu,"
"Really?" tanya Alan, Bisma dan juga Shanty secara bersamaan.
"Ya, tentu saja. Aku akan mempertaruhkan Yara, jika aku kalah. Maka aku akan menyerahkannya pada siapa pun yang menang dalam pertaruhan itu."
Ketiga teman Ryder langsung bersorak senang saat mendengar ucapan laki-laki itu. Kemudian mereka bergegas pamit untuk menyiapkan segalanya, karena untuk pertama kalinya Ryder membawa wanita berhijab untuk dipertaruhkan.
"Kenapa jantungku berdebar-debar?"
Ryder memegangi dadanya yang berdegup kencang, entah kenapa tiba-tiba dia merasa sesak dan takut akan sesuatu.
"Kau baik-baik saja?"
Ryder tersentak kaget saat mendengar suara seseorang, apalagi saat melihat wajah Yara yang sangat dekat dengan wajahnya.
"A-aku baik-baik saja." Ryder menganggukkan kepalanya membuat Yara bernapas lega.
Yara yang baru masuk ke dalam ruangan terkejut saat melihat laki-laki itu memegangi dada, dia berpikir mungkin dada Ryder sakit dan bergegas menghampirinya.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau gitu istirahatlah. Aku akan melanjutkan pekerjaanku," ucap Yara sambil tersenyum manis, dia lalu berjalan ke arah sofa dan akan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Seperti sapi yang dicucuk hidungnya, Ryder menganggukkan kepala dan segera berbaring di atas ranjang. Tanpa menunggu lama, kedua matanya langsung terpejam memasuki alam mimpi.
*
*
Tidak terasa, sudah seminggu lamanya Yara merawat Ryder sampai laki-laki itu kembali sehat seperti sedia kala. Kesabaran dan keuletannya benar-benar membuat kedua orangtua Ryder merasa sangat berterima kasih, bahkan Ryder sendiri juga sudah merasa jika hubungan mereka sangat dekat.
Setelah diperiksa oleh beberapa Dokter yang ada di rumah sakit itu, hari ini Ryder sudah diperbolehkan pulang. Yara meminta bantuan para Dokter ahli untuk memeriksa kondisi Ryder, dan hasilnya sangat baik.
Kedua orangtua Ryder mengucapkan terima kasih yang teramat dalam untuk Yara, dan juga untuk yang lainnya.
"Tante mengundangmu dan semua keluarga untuk makan malam di rumah tante, kau harus datang ya, Sayang."
Yara tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Insyaallah Tante, tapi maaf. Papa dan mama Via sudah kembali ke London, jadi aku akan datang bersama dengan papa Mahen dan mama Riani saja."
Tentu saja Vano harus segera pulang karena pekerjannya sudah menumpuk, apalagi anak-anaknya harus sekolah dan tidak bisa libur terlalu lama.
Namun, Zafran menolak untuk ikut pulang karena Yara belum bisa kembali bersama mereka. Dia hanya akan pulang jika sang kakak ikut bersamanya. Tentu saja semua itu karena perasaan khawatir pada kakaknya, apalagi melihat laki-laki yang bersama dengan sang kakak saat ini.
Setelah semua persiapan selesai, Ryder dan kedua orangtuanya bergegas keluar dari rumah sakit. Yara mengantar kepergian mereka sampai ke parkiran di mana mobil mereka berada.
"Nanti aku akan meneleponmu," ucap Ryder sebelum masuk ke dalam mobil, dan hanya dijawab dengan anggukan kepala Yara saja.
"Kami pergi dulu, Yara. Jangan lupa untuk makan malamnya." Adena melambaikan tangan dengan senyum cerah secerah cuaca hari ini.
"Insyaallah Tante, hati-hati di jalan."
__ADS_1
Eric membunyikan klakson mobilnya sekali lalu beranjak pergi dari tempat itu, sementara Ryder terus menatap Yara dengan tajam seakan enggan untuk pergi dari sana..
"Kenapa? Kau ingin dirawat selamanya di rumah sakit?" ucap Adena tiba-tiba yang sadar jika putranya keberatan di bawa pulang.
"Bukan dirawat di rumah sakit, tapi dirawat oleh Yara," sambung Eric dengan nada mengejek, membuat Ryder membuang muka sebal.
Tanpa menanggapi ucapan kedua orang tuanya, Ryder menatap jalanan dan orang-orang yang sedang berlalu-lalang. Baru beberapa detik saja dia tidak melihat wajah Yara, tetapi sekarang rasanya dia sudah sangat merindukan wanita itu.
"Katakan sejujurnya pada mama, Ryder. Apa kau mencintai Yara?"
Adena kembali buka suara membuat Ryder melihat ke arahnya. "Kenapa Mama bertanya?" Ryder menatap dengan tajam.
"Yah karena mama ingin tahu. Jika kau benar-benar mencintainya, maka kami akan melamarnya untukmu. Tidak perlu menunda-nunda sesuatu yang baik, atau akan terjadi sesuatu yang tidak baik," ucap Adena dengan cepat membuat Ryder menghela napas kasar.
"Aku harus memastikan sesuatu dulu," jawab Ryder sambil kembali memalingkan wajahnya ke arah jalanan.
Jika ditanya apakah Ryder mencintai Yara atau tidak, jelas semua orang sudah langsung tahu hanya dari sorot matanya saja. Namun, bagaimana dengan Yara? Sampai hari ini dia bahkan tidak tahu bagaimana perasaan wanita itu terhadapnya.
Setelah kepergian Ryder, Yara kembali masuk ke dalam ruangan yang selama ini di tempati oleh laki-laki itu. Dia tersenyum simpul sambil mengusap ranjang, dan kembali mengingat saat-saat berdua dengan Ryder.
"Aku senang melihatmu sudah kembali sehat, Ryder. Tapi entah kenapa ada rasa sesak yang menyeruak dalam hati, mungkinkah aku menyukaimu?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1