Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 130. Dasar Posesif.


__ADS_3

Dion langsung beralih pada Hana saat mendengar ucapan Zafran. "Kau terluka?" Dia bertanya dengan wajah panik.


Hana mengangguk pelan. "A-aku tidak sengaja terpeleset, te-terus tuan Zafran yang membantuku."


Dion langsung berjongkok di hadapan Hana untuk melihat kaki wanita itu. Kedua matanya membulat sempurna saat melihat kaki Hana terluka cukup parah.


"Ayo, kita harus segara mengobatinya!" ajak Dion. Dengan cepat dia menggendong Hana ala bridal style membuat wanita itu terlonjak kaget.


"A-aku masih bisa berjalan."


Dion langsung membawa Hana masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan ucapan wanita itu, sementara Zafran hanya diam sambil menatap mereka dengan tajam.


Hana yang berada dalam gendongan Dion tidak bisa melakukan apa-apa. Dia lalu berbalik dan melihat ke arah Zafran yang juga sedang melihat ke arahnya.


"Terima kasih, terima kasih banyak." Hana mengucapkannya tanpa suara sambil menganggukkan kepala, dia berharap Zafran bisa mengerti dengan apa yang dia ucapkan walau hanya dari gerak bibir saja.


Zafran menghela napas kasar. Dia mengulas senyum tipis saat melihat mulut Hana komat-kamit saat melihat ke arahnya.


"Apa dia sedang mengucapkan terima kasih?" gumam Zafran sambil menggelengkan kepalanya. "Laki-laki itu terlihat mencintainya, tapi kenapa aku merasa ada yang aneh?" Dia merasa ada sesuatu yang mengganjal saat melihat perlakukan laki-laki itu terhadap Hana. "Cih, memang apa peduliku!" Dia kembali menggelengkan kepalanya.


Apapun yang terjadi dan bagaimana pun laki-laki itu, semua tidak ada hubungan dengannya. Lagi pula Zafran tidak mengenal dua orang itu, dan dia sama sekali tidak peduli.


Setelah mengantar Hana, Zafran beranjak pergi menuju rumah kepala desa. Untung saja dia ingat di mana letak rumah itu, karena semalam sempat dilewati saat mengemudikan mobil, dan Ryder memberitahukannya.


***

__ADS_1


Tepat pukul dua siang, semua pemeriksaan sudah selesai dilakukan. Yara dan rekan-rekannya tampak sedang meluruskan kaki dan tubuh mereka, karena merasa pegal setelah melakukan banyak pemeriksaan.


"Apa semuanya sudah selesai?" tanya Ryder yang baru kembali ke tempat itu.


Setengah jam yang lalu, Ryder diusir paksa oleh Yara untuk keluar dari tempat itu setelah membuat keributan. Bagaimana tidak, laki-laki itu merasa tidak suka jika Yara memeriksa laki-laki. Hingga membuat kesabaran Yara benar-benar habis.


Yara mendengus sebal saat melihat kedatangan Ryder, sementara yang lain tampak menahan senyum karena mengingat kejadian pengusiran beberapa waktu yang lalu.


Jangankan mereka, para pekerja yang melihat kejadian tadi juga menundukkan kepala sambil menahan kelucuan. Mereka tidak menyangka jika Ryder akan sangat pesesif seperti itu pada Yara, bahkan bos mereka itu sama sekali tidak merasa malu melakukannya di hadapan mereka semua.


"Sudah, ini hasil pemeriksaannya," ucap Yara sambil memberikan laporan hasil pemeriksaan semua pekerja.


Ryder mengangguk lalu menerima laporan itu, dia membacanya sebentar kemudian menyerahkannya pada Bayu yang juga ada di tempat itu.


"Kalau gitu ayo kita makan siang bersama, saya sudah menyiapkannya!" ajak Ryder kemudian.


"Sama sekali tidak repot," bantah Ryder sambil menggelengkan kepalanya. "Kalian bisa pergi bersama dengan Bayu, karna saya ingin bicara sebentar dengan Dokter Yara."


Semua orang langsung mengangguk paham saat mendengar ucapan Ryder. Sebenarnya tanpa diberitahu pun, mereka sudah langsung paham dari sorot mata laki-laki itu.


Yara sendiri menghela napas berat. Dasar Ryder, tidak habis-habisnya menganggu sejak tadi. Lihat saja, dia akan memukul laki-laki itu karena sedang dalam mode sangat lelah.


"Ayo, kita pergi!" ajak Ryder sambil berbalik dan berjalan ke arah luar.


"Aku lelah, Ryder," ucap Yara sambil mengikuti langkah laki-laki itu. "Kau mau mengajakku ke mana?" Tanyanya dengan sebal.

__ADS_1


"Tidak jauh kok, ini bisa menjadi obat lelahmu juga," sahut Ryder.


Yara hanya bisa diam sambil mengikuti Ryder. Dia tidak punya tenaga lagi untuk berdebat dengan laki-laki itu, karena memang energinya sudah terkuras habis.


"Ayo naik!" tidak tahu dari mana Ryder mendapat sepeda motor berwarna merah itu, yang pasti dia sudah mendudukinya dengan nyaman.


"Kau bisa bawa motor?" tanya Yara dengan tatapan curiga.


"Tentu saja, memangnya siapa yang tidak bisa bawa motor?" sahut Ryder dengan kesal. Dia merasa sepertinya Yara sedang meremehkannya.


Yara mencebikkan bibirnya. "Iya-iya." Dia lalu naik ke atas motor itu sambil mengucap basmalah, berharap mereka baik-baik saja.


Setelah Yara naik, Ryder lalu melajukan motor itu dengan kecepatan sedang. Senyum senang terpancar jelas diwajahnya karena bisa menghabiskan waktu berdua dengan Yara, apalagi saat ini wanita itu sedang berpegangan pada ujung kemejanya. Walaupun tidak langsung melingkarkan tangan di perutnya.


"Pegangan dipinggangku, Yara. Nanti kau jatuh," ucap Ryder sambil menambah kecepatan motornya, sengaja agar Yara berpegangan padanya.


"Dasar. Mana boleh aku berpegangan seperti itu, kita belum halal, Ryder," sahut Yara sambil menggelengkan kepalanya.


Ryder mencebikkan bibir sebal. "Salah siapa gak mau cepat-cepat dihalalin." Dia menggerutu dengan pelan, tetapi masih bisa didengar oleh Yara hingga membuat wanita itu tergelak.


"Aku tidak mendengarmu, Ryder. Jadi teruskan saja gerutuanmu itu sampai kau lelah."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2